Lompat ke Konten Utama

Estetika Rabaan Rumah: Membaca Ulang Rutinitas Harian yang Sering Diremehkan Orang Awas

Rumah dengan desain dan tata letak yang elegan
Rumah dengan desain dan tata letak yang elegan
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
3 menit baca
Jumlah pembaca
4 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: Isu Disabilitas

Kalau ngomongin soal penyandang disabilitas, orang-orang biasanya langsung loncat ke urusan besar: trotoar jalan yang hancur lebur, susahnya cari kerja kantoran, atau debat soal aplikasi canggih. Padahal, ada ruang paling jujur dan intim yang jarang banget disentuh orang: dapur, ruang tamu, dan kesibukan remeh-temeh di rumah setiap hari. Buat orang normal yang matanya awas, kerjaan rumah kayak masak, nyapu, melipat baju, atau nata piring kelihatan cuma kayak aktivitas otomatis tanpa otak. Padahal, di balik kesahihan rutinitas harian itu, ada kerja otak dan taktik bertahan hidup yang rumit minta ampun—sebuah seni meraba yang nolak tunduk sama anggapan kalau orang tunanetra itu pasti tak berdaya di rumah sendiri.

Coba deh kita lihat dapur, tempat yang paling akrab di dalam rumah. Buat orang awas, dapur itu ruang visual yang diatur berdasarkan warna cerah, tulisan merek di kemasan, atau tombol digital dengan lampu warna-warni. Buat tunanetra, dapur dikuasai lewat peta dalam kepala yang dibangun dari rabaan dan pendengaran tingkat tinggi. Suhu wajan yang dirasa lewat punggung telapak tangan, beda tekstur butiran garam sama gula pasir, suara minyak goreng yang mulai mendesis, sampai bunyi ketukan sendok di pinggir panci buat ngetes air udah mendidih apa belum—semuanya jadi alat navigasi tanpa butuh bantuan cahaya lampu sama sekali. Tapi pas orang normal lihat tunanetra masak, reaksinya sering bikin jengkel: ngeri setengah mati, takut kecipratan minyak panas atau tangannya tersayat pisau. Ketakutan sok ngelindungin ini sebenarnya cuma bentuk remeh-temeh dari budaya kita yang hobi nyamain "gak bisa lihat" sama "gak punya akal sehat".

Lebih dari sekadar urusan cari makan, cara orang tunanetra nata rumahnya sendiri sebenarnya adalah bentuk perlawanan diam-diam buat ngelawan dunia luar yang seenaknya. Di luar sana, dunia dirancang mentah-mentah sama orang normal—mulai dari trotoar ngawur sampai barang-barang umum yang sering dipindah posisinya tanpa permisi. Tapi pas di dalam rumahnya sendiri, tunanetra ngerebut balik hak mutlak atas ruang hidupnya. Letak kursi, arah buka pintu, sampai tumpukan gelas di meja diatur pakai logika rabaan yang presisi banget. Makanya, kalau ada tamu datang terus seenaknya mindahin letak sapu atau vas bunga cuma alesan "biar kelihatan rapi", tindakan sepele itu sebenarnya lagi ngerusak peta ruang yang udah dibangun susah payah pakai tenaga. Di sinilah urusan rumah tangga berubah jadi politik kecil-kecilan: rumah bukan cuma tempat buat tidur, tapi benteng pertahanan terakhir di mana mereka bikin aturan mainnya sendiri.

Sayangnya, kerjaan domestik dan kebiasaan harian ini sering banget direndahkan sama keluarga atau tetangga lewat label kasihan yang bikin risih. Waktu ada tunanetra bisa beresin rumah atau bikin teh manis tanpa tumpah, orang-orang di sekitar langsung memuji berlebihan: "Wah, hebat banget ya, padahal matanya gak nampak." Pujian manis di mulut itu sebenarnya bau busuk merendahkan—seolah-olah kemandirian harian mereka itu mukjizat aneh, bukan keterampilan dasar manusia biasa. Akibatnya, kemerdekaan di rumah sendiri sering dikebiri secara halus; keluarga dilarang megang pisau dapur atau kompor dengan dalih "sayang anak", yang ujung-ujungnya malah bikin mental mereka down dan terpaksa bergantung sama orang lain.

Udah saatnya kita berhenti ngerendahin rutinitas harian kaum tunanetra di dalam rumah. Ngenalin estetika rabaan di rumah berarti paham kalau kemandirian itu gak diukur dari seberapa terang mata memandang, tapi dari seberapa tajam seseorang ngerajut ruang hidupnya sendiri. Di balik dinding rumah yang sunyi dan langkah kaki yang pelan meraba tembok, kaum tunanetra sebenarnya lagi ngerayain kemerdekaan yang paling utuh—sebuah kemenangan kecil yang mereka rebut tiap hari dari dunia yang terlalu bising dan gampang mangkir.

EASTER EGG DITEMUKAN!

Ketik kode BRAILLE-INOVASI-1794

pada Menu Game Si Paling Inklusif (membuka tab baru) di WA Avika untuk mengklaim 10 Koin!

Buruan! Sisa kuota hanya untuk 19 orang tercepat.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik kemandirian tunanetra, ruang hidup, disabilitas, penyandang, rumah, tunanetra, masak, dan estetika rabaan.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Anda dapat mengirimkan tulisan dengan mudah serta membaca panduan selengkapnya di halaman Kirim Naskah.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika