Lompat ke Konten Utama

Di Balik Mimpi Kuliah di Arab Saudi: Tantangan Tunanetra Internasional Mengakses Informasi

Seorang wanita tunanetra sedang membaca buku di kampus
Seorang wanita tunanetra sedang membaca buku di kampus
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
9 menit baca
Jumlah pembaca
81 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: Info & Peluang

Di Balik Mimpi Kuliah di Arab Saudi: Tantangan Tunanetra Internasional Mengakses Informasi Pendidikan

Ketika informasi pendidikan mudah ditemukan oleh sebagian orang, bagi penyandang tunanetra, mencari satu jawaban sederhana tentang kesempatan kuliah di luar negeri terkadang bisa berubah menjadi perjalanan panjang yang penuh ketidakpastian.

Arab Saudi merupakan salah satu negara yang memiliki daya tarik besar bagi pelajar Muslim dari berbagai penjuru dunia. Selain menjadi tempat berdirinya dua kota suci, Makkah dan Madinah, negara ini juga memiliki sejumlah perguruan tinggi yang menjadi tujuan mahasiswa internasional.

Bagi sebagian pelajar Indonesia, kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Arab Saudi bukan sekadar persoalan memperoleh gelar akademik. Ada yang ingin memperdalam ilmu agama, mempelajari bahasa Arab, atau menuntut ilmu di lingkungan yang selama ini hanya mereka kenal melalui buku, kajian, dan berbagai media.

Namun, bagi calon mahasiswa penyandang tunanetra dari luar Arab Saudi, perjalanan menuju kesempatan tersebut ternyata memiliki persoalan tersendiri.

Bukan semata-mata karena tidak adanya keinginan untuk belajar.

Bukan pula karena tidak adanya kemampuan.

Salah satu persoalan yang justru cukup mendasar adalah sulitnya memperoleh informasi yang jelas mengenai mekanisme penerimaan mahasiswa internasional penyandang disabilitas.

Mencari Informasi dari Media Sosial hingga Grup Percakapan

Saya sendiri mengalami hal tersebut.

Ketika mulai mencari informasi mengenai kemungkinan melanjutkan pendidikan di Arab Saudi sebagai penyandang tunanetra dari Indonesia, saya menyadari bahwa informasi yang saya butuhkan tidak selalu tersedia secara jelas di halaman resmi universitas.

Saya kemudian mencoba mencari informasi melalui berbagai jalur.

Salah satunya adalah mengikuti akun Instagram Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Arab Saudi. Saya berharap dapat memperoleh gambaran teknis dari mahasiswa Indonesia yang sudah berada di sana, terutama mengenai proses pendaftaran, kehidupan mahasiswa, serta kemungkinan adanya layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Saya juga bergabung dalam sebuah grup percakapan khusus akhwat atau perempuan. Di dalam grup tersebut terdapat anggota dari berbagai latar belakang, dengan dua orang admin laki-laki yang mengelola grup.

Saya mencoba bertanya secara langsung mengenai kemungkinan penerimaan mahasiswa penyandang disabilitas, khususnya tunanetra.

Namun, pertanyaan tersebut tidak memperoleh jawaban.

Saya kemudian mencoba menghubungi pihak terkait secara pribadi melalui WhatsApp. Saya juga mengirimkan pesan melalui direct message Instagram kepada pihak PPMI Arab Saudi.

Tetap tidak ada jawaban yang saya dapatkan.

Bagi sebagian orang, mungkin tidak mendapatkan balasan pesan hanyalah persoalan kecil. Tetapi bagi seseorang yang sedang mencari informasi pendidikan di negara lain, tidak adanya jawaban bisa berarti kehilangan satu-satunya jalan untuk mengetahui langkah berikutnya.

Mencoba Jalur PPMI Raidah

Saya tidak berhenti di sana.

Saya kemudian mengikuti akun PPMI Raidah, yang secara khusus berkaitan dengan pelajar dan mahasiswa Indonesia perempuan di Arab Saudi.

Setiap kali akun tersebut mengunggah informasi, saya berusaha memperhatikan dan mencari kesempatan untuk bertanya. Saya bahkan beberapa kali memberikan komentar dan melakukan mention pada akun mereka dengan harapan pertanyaan mengenai pendidikan bagi penyandang disabilitas dapat memperoleh perhatian.

Namun, lagi-lagi saya belum mendapatkan jawaban yang saya harapkan.

Pengalaman tersebut membuat saya menyadari satu hal: memiliki akses ke media sosial tidak selalu berarti memiliki akses terhadap informasi.

Kita bisa menemukan akun Instagramnya.

Kita bisa mengirim pesan.

Kita bisa menuliskan pertanyaan.

Tetapi apabila tidak ada respons, calon mahasiswa tetap tidak mengetahui harus melangkah ke mana.

Ketika Keinginan untuk Kuliah Justru Berhadapan dengan Penolakan

Dalam proses pencarian informasi tersebut, saya juga pernah mencoba menghubungi sebuah komunitas belajar yang berkaitan dengan pendidikan di Timur Tengah.

Saya menjelaskan bahwa saya adalah penyandang tunanetra dari Indonesia yang memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan di Arab Saudi, khususnya di Umm Al-Qura University di Makkah.

Harapannya sederhana: saya ingin mengetahui bagaimana cara menghubungi pihak universitas dan apakah terdapat kemungkinan bagi mahasiswa tunanetra internasional untuk mendaftar.

Namun, saya mendapatkan jawaban bahwa mereka tidak dapat membantu.

Yang membuat saya semakin bingung bukan hanya jawabannya, tetapi karena tidak ada penjelasan yang cukup mengenai alasan mengapa mereka tidak dapat membantu menghubungkan atau memberikan informasi kepada saya dan teman-teman tunanetra lainnya.

Di titik tertentu, pengalaman seperti ini bisa membuat seseorang bertanya dalam hati:

Apakah kesempatan itu memang tidak ada, atau kami hanya belum menemukan pintunya?

Pertanyaan tersebut terus mendorong saya untuk mencari sendiri.

Mencoba Masuk dari Pintu Resmi Universitas

Setelah berbagai upaya melalui komunitas dan jaringan mahasiswa Indonesia belum membuahkan hasil, saya kemudian mencoba mencari jalur resmi universitas.

Salah satu universitas yang saya hubungi adalah Umm Al-Qura University atau UQU di Makkah.

Dari situs resminya, saya menemukan bahwa calon penanya dapat diarahkan ke bagian yang berkaitan dengan penerimaan mahasiswa. Terdapat pula formulir yang memungkinkan seseorang mengisi data diri, seperti nama, kewarganegaraan, alamat email, serta pertanyaan yang ingin disampaikan.

Setelah mengirimkan pertanyaan, seseorang akan mendapatkan nomor registrasi atau nomor antrean yang kemudian diinformasikan melalui email. Jawaban dari pihak universitas juga seharusnya dikirimkan melalui jalur tersebut.

Bagi saya, keberadaan sistem seperti ini sebenarnya merupakan sesuatu yang positif.

Setidaknya ada sebuah pintu resmi.

Ada formulir.

Ada nomor registrasi.

Ada mekanisme untuk menyampaikan pertanyaan.

Namun, persoalannya belum selesai.

Sampai tulisan ini disusun, saya masih belum memperoleh jawaban resmi yang saya harapkan mengenai mekanisme penerimaan mahasiswa internasional penyandang tunanetra.

Di sinilah saya kembali menemukan persoalan yang lebih besar: setiap universitas memiliki kebijakan dan kondisi yang bisa berbeda.

Informasi mengenai satu universitas tidak dapat begitu saja dianggap berlaku untuk universitas lainnya.

Pengalaman Seorang Teman: Hampir Menyerah Mencari Jawaban

Pengalaman tersebut ternyata bukan hanya saya yang mengalaminya.

Saya memiliki seorang teman, sebut saja L, yang juga merupakan penyandang tunanetra dan memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan di Arab Saudi.

Ia ingin mengetahui bagaimana cara menghubungi pihak Taibah University di Madinah Al-Munawwarah.

Dalam proses mencari informasi, ia merasa mendapatkan respons yang kurang baik ketika mencoba bertanya melalui pihak PPMI Raidah. Ia sebenarnya hanya membutuhkan arahan sederhana: bagaimana cara menghubungi universitas yang dituju?

Namun, ketika jawaban yang dibutuhkan tidak kunjung diperoleh, ia sempat berada pada titik hampir menyerah.

Karena kami sama-sama memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan dan sama-sama memahami sulitnya mencari informasi tersebut, saya mencoba membantunya sebisa mungkin.

Untungnya, perkembangan teknologi membuat pencarian kontak resmi menjadi sedikit lebih mudah.

Akun media sosial universitas dapat ditemukan. Alamat email juga dapat dicari. Dari sana, kami mencoba melewati jalur mahasiswa dan komunitas, lalu langsung bertanya kepada pihak universitas.

Beberapa waktu kemudian, saya mendapatkan kabar dari L bahwa ia telah berhasil berkomunikasi langsung dengan pihak Taibah University.

Jawaban yang diperolehnya justru membuka persoalan baru.

Pihak universitas menyampaikan bahwa mereka saat ini belum begitu mengetahui secara jelas mekanisme penerimaan mahasiswa penyandang disabilitas internasional. Menurut informasi yang diterima L, Taibah University juga belum memiliki pengalaman menerima mahasiswa penyandang disabilitas internasional.

Hal ini menjadi temuan yang cukup penting.

Artinya, persoalannya bukan sekadar calon mahasiswa tidak tahu harus mendaftar ke mana. Pihak institusi pendidikan pun mungkin masih perlu mempersiapkan mekanisme yang lebih jelas apabila ingin membuka akses bagi calon mahasiswa penyandang disabilitas dari luar negeri.

UMM Al-Qura dan Taibah University: Dua Situasi yang Berbeda

Pengalaman saya dengan UMM Al-Qura University juga menunjukkan kondisi yang sedikit berbeda.

Di UMM Al-Qura, terdapat jalur layanan yang memungkinkan seseorang mengakses bagian yang berkaitan dengan penerimaan mahasiswa. Namun, untuk memperoleh akses tertentu secara lebih lanjut, terdapat kondisi yang mengharuskan seseorang telah memiliki status mahasiswa atau akun dalam sistem universitas.

Bagi calon mahasiswa internasional yang bahkan belum diterima, kondisi seperti ini tentu menjadi tantangan tersendiri.

Salah satu kemungkinan lainnya adalah meminta bantuan seseorang yang sudah menjadi mahasiswa di universitas tersebut.

Masalahnya, saya sendiri sampai saat ini belum menemukan mahasiswa yang dapat membantu menghubungkan saya secara langsung dengan pihak terkait.

Dari sini terlihat bahwa persoalannya bukan hanya soal ada atau tidaknya fasilitas bagi penyandang disabilitas.

Ada persoalan lain yang tidak kalah penting: bagaimana calon mahasiswa tunanetra dari luar negeri bisa menemukan pintu masuknya?

Sementara itu, untuk Taibah University di Madinah, terdapat kemungkinan bahwa ke depan akses pendidikan bagi mahasiswa penyandang disabilitas internasional dapat semakin terbuka. Namun, pada saat ini terdapat pula tantangan lain, termasuk belum tersedianya program beasiswa umum yang biasanya dapat diakses melalui portal Study in Saudi pada periode yang sedang saya cari informasinya.

Dengan demikian, calon mahasiswa tidak hanya perlu mencari informasi mengenai disabilitas, tetapi juga harus mengikuti perkembangan program penerimaan dan beasiswa yang dapat berubah dari waktu ke waktu.

Ketika Informasi Menjadi Bagian dari Aksesibilitas

Pengalaman ini membuat saya melihat bahwa aksesibilitas pendidikan seharusnya tidak hanya dibicarakan dari sisi fasilitas fisik.

Ketika membicarakan mahasiswa tunanetra, kita sering membayangkan akses terhadap Braille, pembaca layar, buku digital, atau pendampingan di dalam kampus.

Semua itu memang penting.

Tetapi ada satu bentuk aksesibilitas yang sering terlupakan:

akses terhadap informasi sebelum seseorang menjadi mahasiswa.

Bagaimana seorang tunanetra mengetahui bahwa sebuah universitas membuka pendaftaran?

Bagaimana ia mengetahui apakah universitas tersebut menerima mahasiswa internasional dengan disabilitas?

Kepada siapa ia harus bertanya?

Apakah ada jalur khusus?

Apakah dokumen disabilitas diperlukan?

Apakah proses seleksinya berbeda?

Apakah tersedia layanan pendukung setelah diterima?

Dan yang tidak kalah penting, apakah informasi tersebut dapat diakses menggunakan pembaca layar?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya memiliki jawaban yang mudah ditemukan.

Bukan Meminta Perlakuan Khusus

Keinginan mahasiswa tunanetra untuk memperoleh informasi bukan berarti meminta perlakuan istimewa.

Yang dibutuhkan adalah kesempatan untuk mengetahui prosedur yang sama dengan calon mahasiswa lainnya, dalam bentuk informasi yang dapat diakses dan dipahami.

Seorang calon mahasiswa tunanetra mungkin tidak membutuhkan jalan yang berbeda untuk mencapai kampus.

Ia hanya membutuhkan pintu yang dapat ia temukan.

Dan ketika pintu itu ada, ia membutuhkan informasi mengenai cara membukanya.

Bagi calon mahasiswa internasional, persoalan ini menjadi semakin kompleks karena mereka harus menghadapi perbedaan bahasa, sistem pendidikan, persyaratan dokumen, budaya, serta regulasi imigrasi dan penerimaan mahasiswa asing.

Jika ditambah dengan minimnya informasi mengenai disabilitas, perjalanan tersebut menjadi jauh lebih panjang.

Harapan untuk Pendidikan yang Lebih Terbuka

Saya tidak menulis pengalaman ini untuk menyalahkan universitas, organisasi mahasiswa, komunitas, ataupun pihak tertentu.

Justru sebaliknya, saya berharap pengalaman ini dapat menjadi gambaran mengenai tantangan yang mungkin dihadapi calon mahasiswa penyandang disabilitas dari negara lain.

Arab Saudi memiliki banyak institusi pendidikan yang menjadi impian pelajar internasional. Karena itu, informasi mengenai kesempatan belajar bagi penyandang disabilitas juga perlu semakin terbuka dan mudah ditemukan.

Universitas dapat menyediakan halaman khusus yang menjelaskan layanan bagi calon mahasiswa penyandang disabilitas.

Organisasi mahasiswa Indonesia di Arab Saudi dapat menjadi jembatan informasi bagi calon mahasiswa dari Indonesia.

Komunitas pendidikan juga dapat membantu mengarahkan calon mahasiswa kepada kontak resmi universitas, tanpa harus menjanjikan sesuatu yang berada di luar kewenangannya.

Dan yang paling penting, calon mahasiswa tunanetra tidak seharusnya dipaksa mencari informasi melalui puluhan pintu hanya untuk mendapatkan satu jawaban sederhana.

Karena pada akhirnya, akses terhadap pendidikan dimulai dari akses terhadap informasi.

Mimpi untuk belajar di Arab Saudi mungkin masih panjang bagi saya dan teman-teman tunanetra lainnya.

Tetapi kami tidak ingin berhenti hanya karena belum menemukan jalannya.

Kami akan terus mencari.

Menghubungi.

Bertanya.

Dan mencoba lagi.

Sebab terkadang, yang dibutuhkan untuk membuka sebuah kesempatan bukanlah jalan yang lebih mudah, melainkan sebuah informasi yang jelas tentang di mana pintunya berada.

 

EASTER EGG DITEMUKAN!

Ketik kode SAHABAT-PEDULI-1765

pada Menu Game Si Paling Inklusif (membuka tab baru) di WA Avika untuk mengklaim 10 Koin!

Buruan! Sisa kuota hanya untuk 14 orang tercepat.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik kebijakan pendidikan, aksesibilitas pendidikan, pendidikan inklusif, arab saudi, beasiswa, disabilitas netra, penyandang tunanetra, dan dunia kampus.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Anda dapat mengirimkan tulisan dengan mudah serta membaca panduan selengkapnya di halaman Kirim Naskah.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika