Lompat ke Konten Utama

Siapa Sahabat Terbaik Kita? Gemini atau ChatGPT?

Orang-orang dewasa berbicara dengan senyum di kantor
Orang-orang dewasa berbicara dengan senyum di kantor
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
5 menit baca
Jumlah pembaca
4 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: Opini

Pernah nggak sih kalian kepikiran, siapa sih orang di zaman sekarang yang nggak tahu soal Artificial Intelligence (AI)? Kalau kamu punya smartphone atau sering pakai komputer, AI pasti sudah jadi makanan sehari-hari. Bahkan, aku berani taruhan, sebagian masyarakat di pedesaan pun mungkin sudah pernah dengar soal AI. Awalnya aku sempat mikir, "Jangan-jangan mereka pakai AI buat memantau pergerakan kurs dolar?" Haha, lupakan saja. Aku tahu kok penduduk desa nggak mungkin bertransaksi di pasar pakai dolar—kayak yang sempat disinggung sama salah satu pemimpin negara kita di pidatonya itu lho.

Tokoh & Masyarakat

Terus aku jadi nanya-nanya sendiri di dalam hati, kalau bukan buat dolar, apa kemungkinan besarnya mereka pakai AI untuk bantu produktivitas pas lagi bertani atau beternak ya? Entahlah, teknologi bisa sampai sejauh itu sekarang.

Tapi tenang saja, halo, aku Celine! Di sini aku tidak sedang membahas hal itu. Ada hal yang menurutku jauh lebih menarik, lebih dekat, dan sangat personal: Di antara Gemini dan ChatGPT, mana sih yang lebih bersahabat untuk teman-teman Tunanetra?

Untuk menjawab ini, aku tidak sendirian. Aku akan menceritakannya bersama Riyan, sahabat baikku yang belum lama ini mengalami kondisi kebutaan permanen. Kebetulan sekali, tadi dia sempat mengirim pesan panjang soal pengalamannya berinteraksi dengan kedua AI ini.

Sebentar ya, aku buka dulu pesannya. Aduh, di mana ya obrolannya tadi? Perasaan baru saja dibaca. Nah, ini dia ketemu! Oke, aku bacain ya poin-poin analisis dari Riyan.

Analisis dari Riyan

**Pertama, Siapa yang Paling Cepat Muncul di Kepala?**

Riyan bilang, saat kita sedang membahas AI, nama apa yang pertama kali terlintas di pikiran kamu? Pastinya ChatGPT, kan? Tentu saja. ChatGPT ibarat sebuah ledakan besar di akhir tahun 2022 yang mendobrak pintu dan memperkenalkan chatbot berbasis AI ke masyarakat luas. Mereka berhasil membangun top of mind. Sama seperti orang Indonesia yang terbiasa menyebut semua air mineral kemasan sebagai "Aqua" atau pasta gigi sebagai "Odol", ChatGPT kini identik dengan kata AI itu sendiri.

Sedangkan Gemini, yang sebelumnya lahir dengan nama Bard, adalah produk yang dirilis oleh Google sebagai langkah adaptasi cepat—atau mungkin kepanikan—melihat dominasi tersebut. Jadi, dalam pertanyaan "siapa yang lebih dulu menempel di ingatan?", ChatGPT jelas pemenangnya. Dia adalah pionir yang membentuk kebiasaan pengguna, menetapkan standar bagaimana sebuah chatbot seharusnya merespons, dan karena dia yang datang lebih awal, dialah penguasa persepsi publik saat ini.

**Kedua, Kalau Bicara Kecanggihan, Menang Mana?**

Tentu saja jawabannya bisa sangat subjektif, tergantung siapa yang memakai dan untuk kebutuhan apa. Namun secara objektif, Riyan yakin ChatGPT terasa lebih matang dan canggih dibandingkan Gemini, terutama dalam urusan logika bahasa dan pemrograman. Apa alasannya?

Salah satu faktor terbesarnya adalah OpenAI memusatkan seluruh tenaga, dana, dan riset mereka hanya untuk memoles model AI ini. Fokus yang tajam ini membuat ekosistem OpenAI sangat kuat. Mereka menjual "mesin" pintar ini ke banyak perusahaan startup lewat API (Antarmuka Pemrograman Aplikasi). Makanya, jangan heran kalau banyak alat bantu produktivitas kantor, aplikasi belajar, fitur pendukung content creator, sampai chatbot karakter fiksi yang seru banget seperti Character.ai, semuanya berjalan menggunakan otak dari OpenAI. ChatGPT terasa seperti profesor yang berdedikasi pada satu bidang ilmu dan menguasainya hingga ke akar.

Di sisi lain, Google adalah raksasa dengan banyak tangan. Mereka harus membagi fokus dan sumber daya untuk mengembangkan YouTube, Play Store, Android, Google Maps, dan mesin pencarian Chrome. Tapi tunggu dulu, justru di situlah letak kengerian Gemini. Jangan pernah meremehkan produk yang terhubung dengan ekosistem sebesar Google!

Gemini tidak hanya dilatih untuk mengobrol, tapi dia diproyeksikan sebagai asisten serba bisa yang terintegrasi langsung dengan kehidupan digital kita. Gemini memiliki fitur lintas media (multimodal) yang sangat ambisius. Dalam satu platform, kamu bisa meminta AI ini untuk menyimpulkan isi email di Gmail, merangkum dokumen di Google Docs, membuat gambar, hingga menciptakan video dan musik karena mereka ditenagai oleh mesin canggih buatan Google sendiri, yaitu Veo dan Lyria. Dengan satu produk, kamu mendapat kunci ke banyak ruangan sekaligus. Bahkan, dalam waktu dekat, Gemini kabarnya akan merilis fitur generator suara yang diklaim sangat natural layaknya ElevenLabs, yang tentu akan menjadi penantang berat bagi Advanced Voice Mode milik ChatGPT. Persaingan mereka benar-benar membuat penggunanya untung.

**Ketiga, Mana yang Lebih Aksesibel untuk Tunanetra?**

Teknologi yang Membantu

Nah, ini bagian yang paling krusial dan bermakna bagi Riyan. Sebagai seseorang yang mengandalkan indera pendengaran dan teknologi pembaca layar (screen reader) seperti TalkBack di Android atau VoiceOver di iOS, antarmuka aplikasi adalah segalanya. Sebuah aplikasi yang canggih akan menjadi tidak berguna bagi tunanetra jika tombol-tombolnya tidak memiliki label yang bisa dibaca oleh sistem. Jawabannya? Keduanya sama-sama sangat aksesibel dan ramah disabilitas.

Baik ChatGPT maupun Gemini memiliki tampilan antarmuka (UI) yang sangat minimalis, bersih, dan fungsional. Tidak banyak menu pop-up bertebaran, iklan yang mengganggu, atau animasi visual tidak penting yang sering kali membuat kursor pembaca layar kebingungan. Bagi pengguna tanpa penglihatan, aplikasi ini terasa seperti ruangan yang rapi. Riyan bisa dengan mudah menyapu layar ponselnya, dan screen reader akan langsung membacakan area penting: mulai dari kotak edit teks untuk mengetik prompt, tombol kirim yang dilabeli dengan jelas, hingga struktur teks jawaban AI yang rapi dan mudah dinavigasi. Semuanya efisien dan simple.

Bahkan, kecanggihan keduanya kini melampaui sekadar teks.

EASTER EGG DITEMUKAN!

Ketik kode LITERASI-NETRA-1770

pada Menu Game Si Paling Inklusif (membuka tab baru) di WA Avika untuk mengklaim 10 Koin!

Buruan! Sisa kuota hanya untuk 20 orang tercepat.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik tunanetra, gemini, dan chatgpt.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika