Saat tertidur pulas, tiba-tiba kamu merasakan ada sesuatu yang menggeliat di kaki, dan ternyata itu adalah kecoa. Apa yang akan kamu lakukan? Pilihan pertama: kamu akan berteriak dan melompat. Pilihan kedua: kamu bergegas bangun, lalu mengambil semprotan atau alat pemukul. Pilihan ketiga: kamu tetap tidur dan tidak menghiraukannya.
Tentu saja, jika kamu memilih pilihan ketiga, kewarasanmu patut dipertanyakan. Kecoa adalah hewan yang sangat mengganggu dan menjijikkan. Sekarang, coba bayangkan situasi ini dari perspektif seorang tunanetra. Saat sedang bersantai dan tiba-tiba ada serangga semacam itu, bisa dibayangkan ia akan melompat dan lari terbirit-birit karena tidak bisa melihat pelakunya. Namun, tahukah kamu bahwa bagi seorang tunanetra, kehadiran serangga sering kali terdeteksi lebih dulu lewat indra lain? Kecoa, misalnya, memiliki bau yang khas. Bau amis dan menyengat ini sangat ikonik dan mudah dikenali. Baunya bahkan akan semakin menyebar dan menempel kuat saat kecoa tersebut merasa terancam.
Selain penciuman, indra pendengaran menjadi radar utama. Tentu saja, kita mungkin jarang atau bahkan tidak pernah mendengar suara kecoa terbang. Namun, coba bayangkan suara lain. Dengungan tajam lalat hijau besar yang berputar-putar tak tentu arah di dekat wajah, atau dengungan seekor tawon yang entah dari mana asalnya. Atau yang jauh lebih meresahkan, suara gesekan halus—kresek, kresek—di atas tumpukan kertas, kardus, atau lantai kayu saat kelabang atau kumbang besar sedang merayap perlahan di dalam ruangan. Suara-suara kecil yang mungkin diabaikan oleh orang dengan penglihatan normal ini menjadi alarm peringatan yang sangat bising dan mengganggu bagi seorang tunanetra.
Lalu, mari beralih pada indra peraba. Di sinilah letak kengerian yang sesungguhnya. Ketika mata tidak bisa memvalidasi wujud suatu makhluk, sensasi rabaan menjadi berlipat ganda mengerikannya. Bayangkan saat kamu sedang berbaring, lalu tiba-tiba merasakan sesuatu yang merayap di kulit. Sentuhan puluhan kaki kecil yang tajam dari seekor kelabang, atau bulu-bulu gatal yang menusuk dari ulat bulu. Kamu mencoba menyingkirkannya, dan jari-jarimu secara tak sengaja merasakan bentuk ganjil yang tidak beraturan, berbulu, atau menyentuh tekstur kenyal dan dingin dari lendir siput yang tertinggal di benda sekitarmu. Kengerian saat meraba dan merasakan makhluk asing tanpa tahu pasti wujud aslinya ini benar-benar bisa memicu kepanikan yang luar biasa.
Mari membahas lebih jauh tentang moluska. Siapa yang tidak geli atau takut dengan siput dan sejenisnya? Manusia dengan penglihatan normal saja sering kali merasa jijik saat mendapati ada siput yang merayap di dalam rumah. Lalu, apa yang terjadi jika siput itu masuk ke dalam ruangan seorang tunanetra dan perlahan menjalar ke kakinya? Lendirnya yang menempel basah akan meninggalkan sensasi yang sungguh mengerikan.
Bahkan, ada ancaman yang jauh lebih berbahaya, yaitu hewan seperti kaki seribu, kelabang, siput tanpa cangkang (lintah), hingga kalajengking. Saat hewan-hewan ini berada di dekat seorang tunanetra, risikonya sangat tinggi. Kelabang memiliki gigitan beracun yang bisa membuat kulit iritasi hingga infeksi parah. Kalajengking memiliki bisa yang sangat mematikan bagi manusia. Di sisi lain, meskipun siput mungkin tidak berbisa, sensasi rabaan pada tubuh yang ditempeli lendir dapat menimbulkan trauma batin yang hebat. Seekor cacing saja sudah cukup menakutkan saat tersentuh secara tiba-tiba, apalagi lintah yang bisa menempel di kulit dan mengisap darah tanpa bisa dilepas dengan mudah.
Lantas, apa yang bisa dilakukan seorang tunanetra untuk menghadapi ancaman serangga dan moluska?
* Menjaga Kebersihan Ruangan: Pastikan ruangan seperti kamar tidur pribadi, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi dibersihkan secara rutin. Jika tidak bisa membersihkannya sendirian, mintalah bantuan orang lain. Jika memiliki pasangan, tentu akan lebih mudah. Kamu juga bisa mengandalkan orang tua, saudara, atau teman baik. Pastikan rumah tetap steril dan bersih agar serangga, moluska, maupun semut merah tidak tertarik untuk masuk.
* Siapkan Semprotan Serangga: Ini adalah benda wajib untuk mengatasi serangga tersesat yang masuk ke dalam rumah. Kamu cukup menyemprotkan cairan pembasmi ini ke arah target dengan berpatokan pada sumber suara atau tempat terakhir kamu merasakannya. Namun ingat, berhati-hatilah dengan arah moncong semprotan. Sangat berbahaya jika tanpa sengaja kamu menyemprotkannya ke wajah sendiri.
* Gunakan Alat Pemukul dan Sarung Tangan: Sediakan alat pemukul atau sarung tangan karet untuk membuang bangkai serangga dan moluska yang sudah dibasmi. Jika berani, kamu memang bisa menggunakan tangan kosong. Namun, jika merasa jijik karena bau lendir atau takut akan duri dan bulu beracun yang wujudnya tidak diketahui, sangat disarankan untuk menggunakan alat bantu demi membuang mereka jauh-jauh.
Mengapa serangga dan moluska sangat berbahaya bagi tunanetra? Alasan utamanya adalah karena tunanetra tidak tahu bentuk fisik dan arah pergerakan hewan-hewan tersebut secara visual, ditambah lagi ukuran mereka yang umumnya kecil. Bahkan orang yang bisa melihat pun sering kali kecolongan oleh gigitan semut api.
Berikut adalah beberapa jenis bahaya utama dari serangga dan moluska bagi tunanetra:
* Bisa dan Racun: Sangat berbahaya bagi kesehatan karena dapat menyebabkan keracunan, memicu penyakit, atau menimbulkan infeksi kulit jika bersentuhan.
* Bentuk Fisik dan Kengerian Rabaan: Hewan seperti kaki seribu atau ulat bulu memiliki tekstur yang bisa menusuk kulit dan sulit dikeluarkan. Saat tersentuh, bentuk mereka terasa sangat tidak wajar. Membayangkan meraba tekstur makhluk sekecil itu saja sudah mengerikan, apalagi jika membayangkan hewan-hewan ini memiliki ukuran sebesar hewan mamalia darat.
* Masuk ke Lubang Tubuh: Serangga atau moluska bisa menyusup ke dalam anggota tubuh seperti lubang telinga, hidung, atau bahkan mulut saat seseorang tertidur pulas. Sangat mengerikan jika sampai mulut kemasukan makhluk seperti mereka.
* Menimbulkan Trauma Psikologis: Kehadiran hewan-hewan ini bisa memicu rasa waswas dan trauma. Walaupun hewannya sudah dibuang, seorang tunanetra mungkin akan terus bertanya secara berulang, "Apakah masih ada serangga di kasurku?" Kamu menjawab tidak. Beberapa waktu kemudian, ia akan bertanya lagi. Bahkan saat ingin mandi, ia akan meminta, "Tolong cek, apakah ada hewan di kamar mandi?" dan kamu harus menjawab dengan berteriak, "Tidak ada!" Kondisi ini seolah memunculkan krisis kepercayaan yang cukup menggelitik sekaligus melelahkan.
Jadi, kunci utamanya adalah memastikan kebersihan rumah. Seorang tunanetra beserta anggota keluarga dan teman-temannya wajib menjaga agar rumah tetap bersih dan steril dari hewan-hewan pengganggu. Siapkan selalu semprotan serangga untuk berjaga-jaga, serta alat pemukul dan sarung tangan untuk membuang bangkainya. Ingat, meskipun ukurannya tergolong kecil, serangga dan moluska tidak hanya bisa membahayakan tubuh secara fisik, tetapi juga mampu meneror indra dan kondisi psikologis seseorang.
EASTER EGG DITEMUKAN!
Ketik kode PEDULI-SETARA-1789
Buruan! Sisa kuota hanya untuk 20 orang tercepat.

