Lompat ke Konten Utama

CATATAN PERJALANAN SPIRITUAL

Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
21 menit baca
Jumlah pembaca
1 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: Inspirasi

Tag: tanah suci, umroh

"Para penumpang yang terhormat, selamat datang di penerbangan Saudi Air dengan tujuan Madinah. Penerbangan ke Madinah akan kita tempuh dalam waktu
kurang lebih 8 jam dan 40 menit, dengan ketinggian jelajah 36.000 kaki di atas permukaan air laut. Perlu kami sampaikan bahwa penerbangan Saudi Air ini adalah tanpa asap rokok, sebelum lepas landas kami persilahkan kepada anda untuk menegakan sandaran kursi, menutup dan mengunci meja-meja kecil yang masih terbuka dihadapan anda, mengencangkan sabuk pengaman, dan membuka penutup jendela. Atas nama Saudi Air kapten Fulan dan seluruh awak pesawat yang bertugas mengucapkan selamat menikmati penerbangan ini, dan terima kasih atas pilihan anda untuk terbang bersama Saudi Air".

Klasik mungkin instrupsi awak kabin itu, tapi ini perjalanan berbeda yang entah berapa kali dalam seumur hidup akan terjadi.
Dek-dekan? ya, itu jelas, Meskipun bukan penerbangan pertama,, tapi lebih karena tempat yang jadi tujuan kemana pesawat ini akan mendarat.
Beruntung setelah suara instrupsi itu selesai, muncul seseorang masih dari pengeras suara yang membacakan beberapa doa, membuat hati ini lebih tenang.
"Mahasuci Engkau Ya Allah, sesungguhnya aku telah mendzalimi diriku sendiri, berilah ampunan kepadaku. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa
kecuali Engkau."
"Maha Suci Rabb yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, sedang sebelumnya kami tidak mampu. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami pada hari kiamat."

Kemudian perjalanan panjang itupun dimulai.
Aku yang duduk entah di bagian mana dari pesawat, di barisan kursi ke berapa atau sekedar mengetahui nomor urut kursinya, hanya duduk santai sambil erat memeluk bantal.
Masa paling menegangkan sebanarnya bukan jelang take off atau seperti orang-orang yang tengah memperhatikan demo pelampung oleh kru kabin, tapi karena tas kabin yang terpisah saat melewati metal detector tadi masih belum ada kabarnya.
"Ah! awal yang kurang baik", keluhku.
Meskipun duduk di dekat jendela, aku tak bernafsu sedikitpun untuk melihat apa yang ada di luar, entah itu awan, atap-atap atau permukaan laut. Bukan apa-apa, tapi memang tak ada gunanya sebab tetap takkan terlihat oleh mataku hehe.

Tak perlu diceritakan panjang lebar malah kali tingginya, karena dalam pesawat tak ada banyak cerita jikalau memang tak ada kendala teknis yang bisa membuat kisah ini terbalik 180 derajat.
Selama 9 jam dalam pesawat, yang dilakukan hanyalah duduk manis. Kegiatan biasa kalau tidak tidur ya ngobrol atau seperti penumpang lain, yakni khusuk tilawah. Selain itu beberapa jam sekali akan disatroni Kru kabin untuk makan dan minum.
Itu saja, kalau tidak percaya boleh tanya yang lain, yah?
Ternyata 9 jam itu kalau dilewatkan dengan tidur apa lagi diiringi mimpi indah shalat dan berdoa di Multazam, amat singkat yah! karena tiba-tiba saja jiwa kembali terkumpul tepat saat mendarat di Prince Mohammad bin Abdul Aziz , Madinah.
"Allahumma solli ala Muhammad",
Duhai Kekasih Allah, kekasih kami semua, akhirnya dapat pula aku menginjakan kaki penuh dosa ini di atas tanah yang engkau doakan, yang Engkau muliakan.
Airmata tak terasa meneteskan rasa haru dan ungkapan rindu kala sepoy angin madinah mengusap wajahku.

Seperti biasa, kejadian menjenuhkan kembali terjadi di bandara. Baik di Soekarno Hatta atau Madinah, birokrasi tak pernah ada yang longgar, tentu saja ini atasnama keselamatan, keamanan, kenyamanan dan ketertiban!
Itu kata Petugas asli timur tengah yang membereskan antrian Imigrasi.
"Tunjukkan paspornya! pegang masing-masing"! Terdengar suara AA Gim di belakang petugas. Ketika di tanah air beliau sangat berjarak dengan kami, di sini malah turut sibuk membantu kepentingan jamaahnya.

Entah satu atau dua jam kami harus menyelesaikan birokrasi, yang pasti rasa lelah dan ingin segera menuju masjid Nabawi membuat detik seolah jadi jarum pendek.

Beruntung di bandara ini tak ada barangku yang dilibas petugas. Tidak seperti waktu di Soekarno Hatta, jarum dan pin jilbab, beberapa make up sampai gunting untuk tahallul, ludes tak tersisa.
Sambil menunggu koper bagasi lengkap, kami mencoba mengaktifkan telepon seluler untuk memberi kabar ke tanah air.
Kudengar sudah banyak HP para jama'ah lain yang aktif, mereka memberi kabar, mananyakan kabar sampai pencatatan oleh-oleh, riuh terdengar memenuhi ruang lobi bandara.
"Sudah aktif belum Nensi"? Tanya temanku yang sedang asyik ber-SMS.
"Belum niih! kenapa yah"? Aku gatal menekan-nekan tombol BB kesayanganku.
Sayangnya, sampai aku keluarkan batrai dan kartu, HP tetap dalam keadaan disconnect.
"Ah! mesti ganti provider inimah"! Aku kembali menggerutu.

"Kang! bisa minta satu saja SMS? tolong kasih kabar ke keluarga saya kalau sudah sampai, yah"? Pintaku dengan nada putus asa.
Hampir dua jam menunggu, akhirnya semua perlengkapan jamaah Umroh MQ travel tuntas.
Kami lalu memasuki bis sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan sejak di tanah air.
"Dalam perjalanan menuju hotel, kami diperkenalkan kepada seorang Mutowif bernama pak Abdul Rahman.
Mendengar logat bicaranya yang sudah seperti Penduduk asli pribumi, aku yakin bahwa beliau sudah cukup lama tinggal di Arab Saudi.
Pak Abdul Rahman orangnya sangat menyenangkan, dia ramah dan cukup piawai menjelaskan apa-apa yang dilewati sepanjang jalan, terlebih dipasangkan dengan Karom kami bernama pak Wagi yang lembut, membuat perjalanan spiritual ini sungguh luar biasa.
Pukul 11 waktu Madinah, kami tiba di hotel Al Eiman, 100 Meter di sebelah barat Nabawi.

Mungkin ini yang tengah diucapkan Rasullullah pada kami, saat mulai melangkah di pelataran masjid indah ini.
"Selamat datang duhai umatku, selamat menikmati jamuan berupa limpahan rahmat dan syafaat, dan engkau adalah umat yang selalu kurindu".
Kalau mereka orang-orang berpenglihatan khusuk bertasbih atas keindahan masjid, aku dan teman-teman merasakan syahdu dan haru karena antara tubuh ini dengan tubuhnya berada hanya dalam hitungan langkah saja.



Di Masjid nabawi, sesuai instrupsi karom, kami melaksanakan shalat dzuhur dijama dengan ashar karena harus segera kembali ke hotel untuk cek in kamar.
"Sebelum maghrib, aku akan kembali"! Janjiku dalam hati, sambil berusaha menyelinap di antara tubuh besar milik orang-orang Pakistan.
Hal pertama yang cukup membuatku tercenung, ketika shalat di Masjid Nabawi adalah banyaknya wanita yang membawa bayi/balita dan meninggalkannya begitu saja dalam roda-roda di halaman masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah.
Disinilah keutamaan shalat di Nabawi terlihat, ketika semua orang berharap nnilai ibadah seribu kali lipatnya.

Saat shalat, kontan bayi-bayi itu menangis kencang dalam kurun waktu 10 sampai 15 menit. Di Indonesia, bukankah kalau ada bayi menangis sebaliknya di gendong dan didiamkan?
Ah, entah lah, yang pasti tangis anak-anak suci itu sedikitpun tidak mengganggu jalannya shalat.
Katanya, masjid Nabawi itu sangat indah.
Lampu-lampunya terbuat dari kristal, tiang-tiang menjulang tinggi, serta arsitekturnya yang bergaya eropa, membuat lamunan ini melayang pada sekian ratus abad lalu.
Bagaimana wujud sebenarnya dari masjid ini saat Rasulullah masih hidup dan memakmurkannya? sebanyak inikah umat yang datang bersuci di dalamnya? seperti apa mereka menjaga ketertiban dan kesantunannya? karena ribuan orang di sini masih terasa kental sifat egonya.
Di Toilet tadi perempuan Hindi dan Pakistan menyerobot antrian tanpa permisi, di pintu masuk, Askar galak itu hampir mengusir kami karena masih membawa beberapa barang bawaan.
Subhanallah, cukup menguras emosi dan kesabaran teruji.

Kamar ini bernomorkan 6.12. Berada di lantai 6 dari belasan lantai yang ada.
MQ travel memang selalu mendapat banyak jamaah, untuk rombongan kali ini saja sampai menumpangi 2 pesawat. Satu pesawat Saudi Air disewakan khusus karena 400 penumpangnya keseluruhan adalah jamaaah MQ.
Satu Pesawat lagi menggunakan Garuda yang transit di Jeddah, tersisa kurang lebih 50 orang jamaah.
Perjalanan umroh memang berbeda dengan ibadah haji. Jika seluruh jamaah terdiri dari orang-orang dewasa dan lanjut usia, untuk ibadah umroh usia tidak jadi batasan. Terbukti dari banyaknya jama'aah yang membawa anak-anak, bahkan ada remaja yang berangkat tanpa didampingi orangtuanya.
Pantas saja panitia itu kesibukannya berlipat dengan membagi-bagi kamar yang harus sesuai dengan anggota keluarga masing-masing.
Seorang ibu terdengar bicara dengan suara tinggi di pintu kamar kami, katanya dia tidak mendapat kamar yang sama dengan anak lelakinya.
Banyak lagi masalah-masalah teknis yang mungkin dialami panitia travel. Syuqur Alhamdulillah, aku dan 2 temanku yang memang sudah memesan kamar agar selalu bersama tidak mengalami kendala yang berarti, sebab Dalam kamar selama di Madinah kami akan tinggal bertiga saja, tentu itu membuat jauh lebih nyaman.
7 orang yang merupakan utusan kantor dalam ibadah umroh ini yaitu aku bersama 3 kariawan yang menjadi pendamping, dan 3 peserta audisi baca Quran Braille yang semuanya adalah disabilitas Netra.

Selesai melakukan cek in kamar dan membereskan barang-barang, 1 jam menjelang maghrib kami sudah kembali ke Nabawi. Sengaja datang lebih awal dikarenakan semakin mendekat waktu shalat masjid akan semakin penuh sehingga kami khawatir tidak mendapat duduk di karpet.
Benar saja, selama di madinah Masjid Nabawi tak pernah sepi. Beberapa waktu shalat aku malah tak kebagian duduk di karpet, hanya menggelar sajadah di lantai yang dingin.
Hari kedua di madinah, yaitu tanggal 13 Februari, kami berkesempatan mengunjungi Raudhah.
Tak dapat digambarkan suasana yang amat padat dengan ribuan orang di sana. Berdesakan dengan satu tujuan mendapat beberapa menit saja untuk bersujud di taman syurga tersebut.
Beberapa puluh meter di dekat Raudhah, kami masih harus duduk menunggu antrian. Askar-askar wanita dengan bahasa pribumi mengatur ketat agar para jamaah bisa masuk teratur.
Untuk jamaah wanita khusus dari Indonesia sengaja diberi waktu terpisah dengan jamaah dari timur tengah dan Eropa. Untuk menghindari kecelakaan akibat benturan fisik yang jelas jauh berbeda.
Setelah menunggu antrian selama hampir 4 jam, akhirnya aku, manusia tak tahu diri dan penuh hina ini dapat pula menginjak karpet yang katanya berwana hijau 'Raudhah'.
Meski keadaan yang bising dengan teriakan para askar dan ribuan orang, aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menguntai beberapa do'a sambil meneteskan airmata.
Jujur kala itu yang sangat ingin aku sampaikan adalah, Allah Subhanahuata'ala memberikan nikmat kubur dan hadiah syurga bagi ayah dan ibuku tercinta.
Siapapun yang berdoa khusuk di sana, dia takkan peduli dengan apapun lagi baik suara orang berteriak atau malah tubuh yang terinjak-injak.
Mungkin memang begitu yah fenomena jama'ah tanah air, para askar itu harus pula menjaga ketat kesucian Raudhah agar tidak dijadikan ladang musrik oleh orang-orang yang kurang ilmu.

Keluar dari Nabawi, sambil menunggu shalat dzuhur, kami seperti biasa ber-tilawah sambil menikmati Zamzam yang tersedia di setiap pintu.
Air zamzam memang berasal dari Mekah, namun untuk Nabawi, air yang konon penuh khasiat obat itu selalu disuplai oleh teng-teng besar dari kota Mekah. Itu kata Ustadz Abdul Rahman.

Hari ketiga di Madinah, yaitu tanggal 14 Februari.
Seluruh jamaah diajak berziarah ke beberapa tempat bersejarah di Madinah.
Tempat tersebut adalah Masjid Quba, Kebun kurma, Jabal Uhud dan masjid Kiblat Tain.
Setelah shalat 2 rakaat di masjid Quba, kami duduk-duduk di beranda masjid sambil mendengarkan tausiah dari AA Gim. Suasana Jumat yang sejuk, ditambah semilirnya angin Madinah membuat hati dan fikiran ini seakan lebih terang benderang.
Di Jabal Uhud kami hanya turun sekedar mengambil gambar, begitupun di Masjid Kiblat tain.
Sedangkan di kebun Kurma banyak jamaah yang menyempatkan berbelanja.
"Sayang bulan Februari ini belum masanya kurma berbuah, jadi kita tidak bisa memakan kurma sepuasnya seperti saat panen tiba". Itu kata Pak Abdul Rahman saat kami kembali ke dalam bis.
Di Madinah ini ada satu jenis kurma bernama Ajwa. Kurma ini sering pula disebut kurma Nabi, karena Nabi Muhammad SAW hanya memakan kurma ini.
Kurma yang bentuknya kecil kering kurang menarik ini, justru kurma yang paling baik khasiatnya.
Selain untuk konsumsi makanan, kurma ini dapat menawar racun dalam tubuh, menyembuhkan penyakit dan menghindarkan dari sihir.
Hal ini tertera pada hadits Nabi:
Dalam Shahih Buhari dan Muslim, diriwayatan oleh Saad bin Abi Waqash, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam beliau bersabda "Barangsiapa mengkonsumsi kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun atau sihir".



Hari keempat di Madinah, Sabtu 15 Februari.
Ini hari terakhir kami di kota Nabi, Madinah Al Munawarah.
Setelah memuaskan diri ber-i'tikaf dan shalat di masjid Nabawi, akhirnya Sabtu siang dimana kali terakhir kami menginjakkan kaki di kota sejuk nan damai ini.
Dengan pakaian lengkap ihram berwarna putih, kami melambaikan tangan untuk Madinah.
"Sampai jumpa kota mulia, aku berharap tak lama lagi dapat melepas rindu kembali".

***

Masjid anggun ini bernama Bir Ali.
Salahsatu tempat yang dijadikan tempat Miqot oleh Rasulullah untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh.
Waktu yang ditempuh dari madinah dengan bis adalah satu setengah jam. Kami turun untuk melaksanakan shalat sunnah ihram.
Kemudian niat ihram bersama dipimpin karom di dalam bis. Dengan demikian terhitung sejak niat itulah larangan ihram itu berlaku.
Larangan tersebut diantaranya, tidak memakai wangi-wangian, tidak mencukur bulu/rambut, tidak membunuh binatang, dan tidak melanggar pakaian ihram yaitu untuk pria hanya dua helai kain ihram yang sudah ditentukan batas-batasnya, sedangkan wanita hanya boleh membuka wajah juga telapak tangan.
Begitu Selesai niat, artinya kami sudah melakukan rukun pertama dari 4 rukun bagi umroh wajib.
Rukun selanjutnya yaitu Tawaf, Sa'i dan Tahallul di Masjidil haram setibanya nanti di kota Mekah.

Sepanjang jalan menuju kota mekah kami dipimpin untuk terus menyerukan talbiyah.
"Aku memenuhi panggilanMu ya Allah, aku memenuhi panggilanMu. Aku memenuhi panggilanMu tiada sekutu bagiMu, aku memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya pujian dan nikmat adalah milikMu, begitu juga kerajaan tiada sekutu bagiMu".

Tiba Di kota Mekah.
Dengan tetap menjaga larangan Ihram, kami langsung memasuki hotel untuk cek in kamar selama di kota Mekah.
Pukul 23.00, kaki ini kembali melangkah menuju satu kiblat 'Baitullah'.
Kali ini jarak dengan berjalan kaki dari hotel menuju Masjidil Haram tidak sedekat waktu ke Nabawi. Namun dengan semangat yang memuncak, jarak berapa puluh kilo pun sepertinya terasa pendek saja.
Di sini lebih terasa kental suasana Arabnya, sepanjang jalan orang berkerumun, melakukan tran saksi jual beli.
Malam atau siang kota Mekah tetap hidup, aktifitas ibadah dan perniagaan terus berjalan seolah tiada detik berhenti.
Berjuta-juta manusia dari belahan dunia datang ke titik ini, kudengar pula ribuan macam bahasa yang diucapkan saat mereka bersama menuju Masjid.
Tiba Di Masjidil Haram, kami menyelesaikan Umroh dengan melakukan tawaf, yakni berjalan memutari Ka'bah sebanyak 7 putaran.
Jangan tanyakan suasana atau keadaan di seputar kotak batu yang menjadi kiblat shalat tersebut, karena sudah pasti padat, riuh, dan bagi yang tidak cukup mental akan dekat dengan stres.
Ini memang bukan Haji, tetapi tidak dalam musim haji atau umroh, orang-orang takkan ada yang berhenti tawaf di sini.
Jangankan yang disabilitas Netra, yang berkursi roda atau yang kurang sehat, yang normal dan sehat wal afiat saja akan menjadikan tempat ini titik yang paling berhati-hati.
Tapi bukan berarti konsentrasi di tempat ini harus lengah, sebab dalam tawaf pun ada aturannya.

Rangkaian tawaf ditutup dengan melaksanakan shalat sunnah 2 rakaat dan berdoa di Multazam serta Makom Ibrahim.

Kemudian kami melaksanakan Sa'i, yakni berjalan 7 kali bolak-balik dari bukit Shofa ke bukit Marwah.
Jika di tanah air yang kubayangkan berjalan di sana itu ibarat benar-benar di atas bukit pasir, jangan harap itu akan terjadi,
sebab tempat sya'i hanyalah sebuah pelataran dalam sebuah ruangan panjang berlantai kramik dan beratap lampu-lampu sepanjang 800 meter dengan galon-galon Zamzam di kanan kirinya.
Kedua bukit yakni Shofa dan Marwah akan ditandai oleh undakan mendatar yang lantainya akan terasa kasar karena dibuat dari marmer kotak-kotak timbul.
Jangan lupa untuk menghitung putarannya yah! jangan sampai kurang dari 7 putaran loh?
Jangan pula sampai kelebihan jadi 8 atau 9, sebab 7 putaran saja sudah membuat betis ini ngilu dan kaku.
Bagi Disabilitas netra sepertiku, tempat Sya'i itu cukup Aksesibel sebab ukurannya yang luas dan datar, tapi jangan coba-coba berjalan sendiri, sebab khawatir mengganggu orang lain yang juga sedang Sya'i.
Kita cukup berjalan santai, tanpa harus selalu bergandengan dan khusuk memanjatkan doa atau berdzikir.
Rumus untuk menghitung bilangan Sya'i yang diperoleh saat manasik adalah, hitungan dimulai saat kaki sudah naik ke bukit Marwah. Selanjutnya hitungan ketiga ketika tiba di Marwah lagi, sampai pada hitungan ketujuh. Jadi, hitung saja
angka ganjilnya saat berada di Marwah.
Begitu Sya'i selesai kami akan melakukan rukun akhir yakni Tahallul.
Akupun berpisah dengan rombongan pria dan memasuki tempat khusus tahallul wanita. Kami akan saling menggunting sedikit rambut sebagai tanda rangkaian Umroh telah selesai.
Beruntung banyak jamaah yang membawa gunting, sehingga aku tak kerepotan meminjam karena gunting yang disita petugas di bandara.

Esok harinya Ahad, 16 Februari di kota Mekah.
Akibat kelelahan dengan perjalanan dan ritual Umroh sehari sebelumnya, para jamaah pun tidak diberi jadwal yang ketat oleh travel. Kami memanfaatkan waktu untuk beristirahat sambil menyiapkan tenaga untuk kegiatan selanjutnya.
Ahad Sore menjelang maghrib, aku dan jamaah lain kembali melangkahkan kaki menyusuri jalanan sepanjang hotel menuju Masjidil Haram.
Di Mekah tentu sudah tak kaget lagi dengan prilaku orang-orang sedunia yang aneh dan kadang membuat geli.
Jika saat tiba di Madinah panggilan 'Haji' itu membuat sedikit riskan, lama-lama akhirnya dapat dimengerti juga.
Orang-orang di sini, memang akan selalu memanggil dengan sebutan 'Haji, wal Hajah' kepada siapa saja untuk berkomunikasi.
Ya, sebenernya cuma rasa GR saja karena di tanah air panggilan 'Haji' itu lumayan terhormat.
Ada yang berbeda antara Masjid Nabawi dengan Masjidil Haram yang aku rasakan.
Masjidil Haram yang tak kulihat jelas bagaimana bentuk rupanya, menyiratkan rasa sedikit tak nyaman karena di sini laki-laki dan perempuan seakan tidak ada hijabnya.
Dari mulai menginjakkan kaki di pelataran sampai karpet shalat, aku masih mendengar suara ribut kaum Adam.
Biarlah, toh mereka semua datang ke tempat ini jauh-jauh dari pelosok dunia memang hanya untuk beribadah. Itu fikirku.
Anehnya, di Masjidil Haram aku malah kesulitan mendapat air Zamzam, meskipun jelas di sinilah sumbernya.
Mungkin karena bentuk Masjid yang terlalu luas berlantai-lantai, sehingga letak air Zamzam agak sulit ditemui.
Kami malah pernah salah mengambil air yang dikira itu Zamzam padahal air minum biasa yang juga disediakan di luar masjid.
Ssetelah sampai di dalam baru kami tahu sebab pada tempat air zamzam ada tulisan Zamzam water sedangkan air sebelumnya katanya hanya bertuliskan Drinking water.
Saat Shalat berjamaah fenomena di Nabawi juga terjadi di sini, yaitu setiap habis shalat selalu disusul shalat Jenazah.
"Lumayan, menambah celengan nilai shalat yang memang di sini adalah 10.000 kali lipat". Kata teman di sebelahku.
Sambil menunggu shalat Isha, kami ber-tilawah tentu dengan media Al-quran Braille.
Seperti yang sudah-sudah di Nabawi, orang-orang di sekitar banyak yang melirik bahkan ada pula yang mengambil gambar.
Tak sedikit dari mereka yang bertanya dan mengajak berkenalan. Tentu saja hanya dari Indonesia atau Malasia yang bisa mengobrol. Sedangkan yang dari negara lain cukup melirik-lirik saja.
Hari kedua di kota Mekah, tanggal 17 Februari.
Waktunya berziarah ke tempat-tempat hebat di kota Mekah + Jeddah.
Tempat pertama adalah Jabal Nur. Dimana tempat inilah yang pertama menjadi saksi Rasul menerima wahyu.
Sayangnya kami tidak diizinkan untuk mendaki terlalu jauh dengan alasan keamanan. Wal hasil hanya berfoto ria saja di bawah bukit pasir tersebut.
Tempat kedua adalah Jabal Rahmah.
Ini dia yang konon katanya menjadi tempat pertemuan ayahhanda Adam dan Ibunda Siti Hawa.
Katanya juga, jika berdoa di sini perbanyaklah mendoakan pasangan atau memohon jodoh. Pantas saja orang betah berlama-lama di tempat ini, barangkali doanya sangat khusuk yah?

Tempat selanjutnya adalah Jeddah.
Di Jeddah pun kami mengunjungi beberapa tempat seperti Masjid terapung, laut merah, masjid Qisas dan pasar khas Indonesia Ali Murah.
Saat melewati Masjid Qisas inilah uraian mendirikan bulu roma diceritakan pak Abdul Rahman.
Kenapa masjidnya bernama Qisas, karena di sinilah para pidana penggal akan di-eksekusi.
Setiap Minggunya selalu ada yang dapat giliran.
Sang pidana akan diikat tangan kakinya ke sebuah tiang, kemudian duduk posisi tasyahud awal, kedua mata ditutup kain hitam, selanjutnya,
"Krek"! pedang algojo memisahkan kepalanya.
Begitu kepala terputus langsung dibawa oleh ambulan ke rumah sakit untuk dijahit kembali. Setelah itu dishalatkan dan dimakamkan seperti jenazah lainnya.



Menjelang Maghrib, Kami tiba di Hudaibiyah.
Kami kembali turun untuk mengambil Miqot kedua dalam umroh sunnah. Setelah shalat 2 rakaat, kami menutup perjalanan dengan mengunjungi peternakan unta.
Sayang, cita-cita memegang unta tak kesampaian karena para unta hanya boleh dilihat dan tak boleh diraba-raba. Hehe.

Tiba kembali di Mekah aku langsung melanjutkan Umroh sunnah dengan tawaf, sya'i dan tahallul.
Tak banyak lagi kegiatan selain shalat di Masjidil haram pada hari ketiga di Mekah. Kami hanya berkumpul dan mendengar tausiah dari AA.
Hingga Selasa malam pukul 2 dini hari waktu Mekah, kami berpamitan pada pribumi dengan melakukan tawaf Wada.
Pukul 7.00 pagi, kami sudah melambaikan tangan pada kota Mekah Al Mukaromah.

FOOTNOTE:
1. Masjid Nabawi.

Masjid Nabawi dengan kubah hijau diatasnya, dimana persis dibawah kubah adalah kuburan Nabi Muhammad saw
2. Raudhah.

Secara bahasa, “Raudhah” berarti taman. Raudhah merupakan salah satu ruangan di Masjid Nabawi yang banyak dimasuki jamaah untuk memanjatkan doa. Ia terletak
di antara kamar Nabi dan mimbar untuk berdakwah.
Luas Raudhah dari arah Timur ke Barat sepanjang 22 m dan dari Utara ke Selatan sepanjang 15 m . Luasnya yang hanya 144 meter persegi tak sebanding dengan
jutaan jamaah yang berebut ingin masuk ke sana.
Jamaah haji atau umroh yang berada di Madinah, biasanya akan menyempatkan berdoa di Raudhah. Tempat ini tak pernah sepi, menjadi tempat yang paling afdhal
untuk memanjatkan doa.
Seperti sabda Rasulullah Saw, “Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah di antara taman-taman surga” (HR. Bukhari no. 1196) .

3. Masjid Quba
Masjid Quba adalah sebuah masjid yang terletak di daerah Quba, ± 5 km sebelah Barat Daya Madinah. Disinilah Kaum Anshar menyambut kedatangan Rasulullah
SAW saat beliau berhijrah pada hari Senin, 12 Rabi'ul Awal tahun 13 kenabiannya, atau tahun 53 dari kelahiran beliau. Di Quba inilah beliau mendirikan
Masjid diatas tanah milik Kalsum bin Hadam. Masjid Quba adalah masjid yang pertama kali didirikan oleh Nabi Muhammad SAW Dan beliau setiap hari Sabtu mendatangi
masjid ini dan juga mengajurkan para sahabat untuk mengunjunginya.

4. Jabal Uhud
Jabal Uhud adalah nama sebuah bukit terpanjang di Madinah. Letaknya ± 5 km dari pusat kota Madinah, membentang dari Timur arah Timur ke Barat sepanjang
6.000 meter. Di lembah bukit ini pernah terjadi perang dahsyat antara kaum muslimin dengan pasukan 700 orang melawan kaum musyrikin Makkah dengan pasukan
3000 orang. Perang ini terjadi pada tahun ke-3 H. Pada awalnya kaum mjslimin mendapat kemenangan yang gemilang sehingga kaum musyrikin lari kocar-kacir.
Mengira perang sudah usai, maka sebagian pasukan pemanah yang semula ditempatkan diatas bukit yang sekarang dikenal dengan sebutan 'Jabal Rumaat', meninggalkan
pos pertahanannya tersebut untuk turut mengambil bagian dari barang-barang yang ditinggalkan oleh kaum musyrikin terebut. Melihat pos pemanah diatas bukit
yang sudah kosong, Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam), komandan pasukan berkuda kaum musyrikin, menggerakannya pasukannya kembali menyerang kaum muslimin,
sehingga dalam peperangan ini mengalami kekalahan dengan gugurnya 70 orang syuhada, antara lain Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW Nabi
Muhammad SAW sendiri mendapat luka-luka yang cukup parah. Setelah perang usai, maka Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar para syuhada yang gugur dimakamkan
di tempat mereka roboh. Kuburan Uhud sekarang ini dikelilingi tembok. Dan jamaah haji atau umroh yang ziarah ke Madinah dianjurkan untuk menziarahi Uhud
serta memberi salam kepada sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib serta para syuhada Uhud lainnya.

5. Masjid Qiblatain
Masjid ini mula-mula dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun diatas tanah bekas rumah Bani Salamah. Letaknya di tepi jalan
menuju kampus Universitas Madinah. Disinilah turun wahyu surat Al Baqarah ayat 144, yaitu perintah Allah untuk mengalihkan arah kiblat dari masjid Al-Aqsha
di Palestina ke Masjidil Haram di Makkah. Ayat ini turun saat Rasulullah SAW tengah shalat Zuhur di masjid Bani Salamah ini, pada hari Senin, bulan Rajab,
tahun ke-2 H.

6. Bir Ali.
Masjid Bir Ali adalah satu Masjid yang sangat penting. Mengapa? Masjid Bir Ali adalah tempat Miqot bagi penduduk Madinah yang akan ber-umroh atau berhaji,
seperti yang dicontohkan pula oleh Nabi. Masjid ini tidak terlalu jauh dari Madinah, mungkin sekitar 15-20 menit dari kota Madinah, sedangkan dari Masjid
ini ke Mekkah sekitar 5 jam perjalanan.

7. Multazam.
Multazam merupakan dinding Ka'bah yang terletak di antara Hajar Aswad dengan pintu Ka'bah. Tempat ini merupakan tempat utama dalam berdoa, yang dipergunakan
oleh jamah Haji dan Umroh untuk berdoa/ bermunajat kepada Allah SWT setelah selesai melakukan Tawaf.
Saat bermunajat di depan Multazam ini, Jarang orang tidak meneteskan air mata di sini, terharu karena kebesaran Illahi.Multazam ini insya Allah merupakan
tempat yang mustajab dalam berdoa, insya Allah doa dikabulkan oleh Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda, "Antara Rukun Hajar Aswad dan Pintu Ka'bah, yang disebut Multazam. Tidak seorangpun hamba Allah yang berdoa di tempat ini tanpa
terkabul permintaannya"

8. MAQAM IBRAHIM
Maqom Ibrahim bukanlah kuburan Nabi Ibrahim sebagaimana dugaan atau pendapat sebagian orang. Maqom Ibrahim adalah batu pijakan pada saat Nabi Ibrahim membangun
Ka'bah. Letak Maqom Ibrahim ini tidak jauh, hanya sekitar 3 meter dari Ka'bah dan terletak di sebelah timur Ka'bah.
Saat ini Maqom Ibrahim seperti terlihat pada foto di atas. Di dalam bangunan kecil ini terdapat batu tempat pijakan Nabi Ibrahim seperti dijelaskan di
atas. Pada saat pembangunan Ka'bah batu ini berfungsi sebagai pijakan yang dapat naik dan turun sesuai keperluan nabi Ibrahim saat membangun Ka'bah. Bekas
kedua tapak kaki Nabi Ibrahim masih nampak dan jelas dilihat.
9. HAJAR ASWAD
Hajar Aswad adalah “batu hitam” yang terletak di sudut sebelah Tenggara Ka’bah, yaitu sudut darimana Tawaf dimulai. Hajar Aswad merupakan jenis batu ‘RUBY’
yang diturunkan Allah dari surga melalui malaikat Jibril.

Hajar Aswad terdiri dari delapan keping yang terkumpul dan diikat dengan lingkaran perak. Batu hitam itu sudah licin karena terus menerus di kecup, dicium
dan diusap-usap oleh jutaan bahkan milyaran manusia sejak Nabi Adam, yaitu jamaah yang datang ke Baitullah, baik untuk haji maupun untuk tujuan Umrah.

 

Tentang Penulis

nens.nur@gmail.com

Bio penulis belum tersedia.

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.