Duduk di KRL itu tidak benar-benar menyenangkan
Tidak Selamanya Duduk di Kereta Menyenangkan Buat Orang Buta
Bagi disabilitas seperti saya, duduk di KRL adalah suatu hal yang biasa. Ini karena memang dalam kereta listrik atau KRL itu tersedia tempat prioritas. Namanya tempat prioritas, pasti untuk orang-orang prioritas seperti disabilitas, ibu hamil, ibu dengan balita dan lansia.
Suatu ketika, dalam perjalanan saya ke kantor, dengan KRL, secara kebetulan saya bertemu dengan teman satu kantor, sebut saja Mawar, yang kebetulan sedang mengandung. Karena sama-sama prioritas, dia langsung menawarkan kursi sebelahnya untuk sya duduki.
“Enak ya, sekarang dapat tempat duduk di krl,” katanya setelah saya duduk dam menempatkan posisi yang tepat di sebelahnya. Entah maksudnya apa, tapi mungkin Mawar hanya ingin membuka obrolan, atau hanya sedang menkspresikan rasa senangnya kalau dia hamil dan dapat tempat duduk. Padahal yang Mawar tidak tahu, tidak selamanya dapat tempat duduk di KRL itu menyenangkan. pengalaman saya, tempat duduk yang diberikan sama penumpang lain malah seperti jebakan.
Ceritanya begini, saya pernah diberi tempat duduk oleh kakak yang baik hati. Dengan sopan dan lembut dia mempersilahkan saya untuk duduk. Tangannya mmeraih siku saya, kemudian menggiring ke tempat duduk yang dia tempati sebelumnya.
Masalahnya, pas sudah duduk, hidung saya langsung disambut oleh bau ketek yang sangat pekat dan tajam. Entah bakteri jenis apa yang sudah berkumpul dan sepakat untuk membuat suatu negara di ketiak itu, tapi yang jelas, “Saya terjebak.”
Saya meyakini bahwa kakak yang baik hati itu, sedang mengirup udara segar, dan menahan tawanya. Meski begitu, saya tidak menyerah dengan situasi sulit ini. walau terkadang menempelkan jari ke lubang hidung untuk menahan agar tidak muntah., saya tahu bahwa saya harus tetap tenang, sembari berharap, jika bau itu akan hilang di stasiun berikutnya.
Sayangnya, harapan tinggal harapan. Bau yang saya kira hilang di stasiun berikutnya, tetap ada hingga di stasiun tempat saya harus menyelesaikan perjalanan. Bahkan rasa-rasanya setelah keluar stasiun dan sampai rumah bau itu seakan menempel di hidung saya.
Ini baru satu soal tentang tidak enaknya duduk di kereta. Soal lainnya, kadang tempat duduk yang dikasih tidak proposional.
Proposional artinya pas dengan bagian bawah tubuh. Maksudnya, duduk nyaman tanpa ada upaya untuk mendorong karena sering melorot akibat dari posisi pantat yang kurang pas. Jadi Cuma separuh saja dari bagian tubuh bawah kita yang nempel. Selebihnya kita harus menahannya. Saya tidak perlu memperjelas menahan tubuh bagian bawah yang pas hanya separuh kursi rasanya seperti apa,pasti semua pernah merasakannya.
Kasus yang ketiga ini bikin keringetan. Gimana tidak buat keringat, orang AC KRL tidak dapat menjangkau orang yang duduk, lantaran ketutup sama sesaknya orang berdiri.
Biasanya ketika saya duduk itu, ada orang yang nentengin sentrongan AC atau kipas di KRL. Itu buat saya gerah. Kalau sudah engga betah sangking kepanasannya, saya coba cari momen biar saya bisa berdiri dan kena hembusan angin dari pendingin.
Jika sudah seperti itu, saya menunggu kalau ada prioritas lain masuk dan cari tempat duduk. Seringnya mereka akan teriak-teriak,
“Permisi, tempat duduknya untuk ibu hamil.”
“Ada yang gak hamil?”
“Mas, mas, masnya hamil ya?”
Kalau yang terakhir itu, saya yang kena. Dikiranya saya bukan tunanetra. Dan, dalam pandangan hampir setiap ibu hamil yang naik KRL, pasti yang duduk adalah ibu hamil juga.
Balik lagi ke cerita. Nah, kalau ada yang seperti itu, langsung saja saya coba berdiri dan menawarkan kursi priority. Namun, orang-orang di sekitar saya, malah mencegah dan menyuruh prioritas yang lagi cari kursi itu untuk cari tempat lain. “Jangan mas! Biar dia cari tempat lain aja.” Begitulah kira-kira bunyinya.
Padahal niat saya berdiri itu, biar dapat sedikit merasakan udara segar. Tapi, masyarakat dalam KRL menolak. Bukannya saya tidak mau ngomong kalau kepanasan. Tapi terlanjur sungkan. Dan, nanti ketahuan kalau saya kasih tempat duduk ke prioritas yang lain adalah jebakan kursi panas.
Kalau mau ditarik kesimpulan, jadi orang buta dan dapat duduk di KRL itu tidak selamanya enak. Mulai dari bau semerbak ketiak, posisi duduk pantat yang Cuma sebelah, hingga kepanasan gara-gara orang-orang berjubel dalam kereta, adalah pengalaman yang bisa terjadi pada setiap orang. Makanya, sehari sebelum tulisan ini dibuat, dalam perjalanan pulang, saya mencoba berdiri. Tiap orang yang menawari kursi, saya abaikan.
Saya tetap berdiri, hingga stasiun demi stasiun terlewati. Sampai akhirnya, posisi yang tadinya tegak sempurna, sambil memegang pegangan, kini mulai goyah. Dengkulku bergetar, kaki yang mulai tidak nyaman, dan rasanya dunia seperti berputar cepat. Kalau sudah seperti itu, meski belum sampai stasiun tujuan, langsung saja saya teriak, “Prioritas mas. Masnya hamil ya?”
Tak Selamanya Duduk di Kereta itu Menyenangkan Bagi Tunanetra
EASTER EGG DITEMUKAN!
Ketik kode KARTUNET-PEDULI-1820
Buruan! Sisa kuota hanya untuk 18 orang tercepat.

