"Tidak, Ma, hargai pilihan Kakak."
Halus mengucap bibir manis itu.
Atas ketidakmengertian dan ketidakpahaman pada ragam situasi sulit mencekik.
Menjadi sebuah keterkejutan bagimu, lagi dan lagi.
Sebab masa-masa itu, krisis moneter mengintai horor.
Radio demi radio, koran demi koran, rumah demi rumah.
Sekalimat itu tidak berhenti pada permintaan,
Agar kamu merelakan sebuah keputusan dan perjalanan si sulung menempuh segunung bara jelaga yang diciptakannya.
Tetapi supaya kamu ikhlas memutar roda kehidupan menjadi jelata.
Lepas dari segala gelimang emas, perak, dan berlian yang menyilaukan nurani sulungmu selama ini.
Merdeka leluasa mengisi hidup dengan kemudi kebajikan bagi sesama.
Andai nanti penjara jenuh menempanya.
Jika waktunya tiba kembali padamu, pada masyarakat sekitarnya.
"Tidak, Ma, hargai pilihan Kakak!"
Kalimat yang tidak pernah menyalahkanmu, sungguh!
Bukan pula membantah marwahmu sebagai ibu.
Namun, tentang si bungsu yang ingin kamu sadar atas apa yang pernah kamu ajarkan.
Menghargai orang lain, artinya lapang bagaimanapun dampak dari perbuatan orang lain itu.
Barangkali dari sederet nama pada daftar hitam buku koruptor,
Nama si sulung hadir, baru, di sudut akhir.
Namun, catatan itulah yang semoga menerangi jalan kehidupannya ke depan.
Diadili semestinya, dipenjara sebaiknya, dan dibebaskan ketika cahaya sanubari kembali terbuka.
Karanglo, 12 Juli 2026
Sudut Lain Kehidupan Koruptor
EASTER EGG DITEMUKAN!
Ketik kode LITERASI-KONEKSI-1727
Buruan! Sisa kuota hanya untuk 20 orang tercepat.

