Kudengar bisikan angin yang mendayu,
Merayu pepohonan yang diam namun perlahan berdansa
Di tengah hutan yang setiap cabangnya bergemerisik sendu,
Bersama suara sungai yang mengalun merdu
Bak nyanyian dewi hutan yang pilu.
Tanganku terangkat menggapai bintang yang berkilauan bak permata,
Tapi bintang itu tak mudah kugenggam,
Ia bisa kugapai, iya,
Tapi tak mampu kumiliki seperti cincin di jemariku,
Bukan seperti kalung yang melingkar indah di leherku.
Oh, bisakah kau dengar, rembulan?
Ku ingin memiliki satu saja bintang di langit,
Tak untuk kugenggam selamanya,
Tapi daku ingin menyimpannya di hati,
Membawanya sepanjang hidupku.
Tak banyak permintaanku, hanya satu bintang,
Yang kan kujaga dalam dadaku, menjadi denyut jantungku,
Kan kupeluk ia selamanya, hingga denyutku berhenti,
Atau tubuhku tetap abadi dalam cahayanya,
Hingga dunia lupa padaku yang pernah mendamba.
Tiada ingin daku melepasnya, walau seribu bintang datang,
Tiada ingin daku menggantinya dengan kilau yang lain,
Maka berikanlah daku, oh rembulan,
Satu saja kawanan bintangmu untuk kupegang selamanya,
Jatuhkan ia ke dalam pangkuanku, dan kan kujaga ia.
Puisi: Ratapan Dewi Hutan
- Penulis
- nurulrahmah
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 1 menit baca
- Jumlah pembaca
- 28 kali dibaca
Kategori: KARFIKSI
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Suka artikelnya?
Bantu sebarkan agar makin banyak orang mendapatkan manfaatnya.
Artikel Terkait
Mewujudkan '7 Pilar Akomodasi Layak' Lewat Modifikasi Kurikulum di Sekolah Inklusif
Menerima siswa disabilitas saja tidak cukup! Pelajari bagaimana sekolah inklusif wajib mewujudkan 7 Pilar Akomodasi Layak melalui strategi modifikasi kurikulum seperti eskalasi, simplikasi, hingga substitusi agar pembelajaran benar-benar tepat sasaran.
Mengangkat 'Massase' dari Pekerjaan Tradisional Menjadi Profesi Tersertifikasi di Industri Formal
Lebih dari 70% tunanetra berprofesi sebagai pemijat di sektor informal. Pelajari bagaimana sinergi antara SLB, Kemendikdasmen, dan LSP Pertuni siap mensertifikasi profesi masseur agar tunanetra dapat bersaing menembus kuota tenaga kerja di industri formal dan perhotelan!