Lompat ke Konten Utama

Shalienne

Putri menghadapi pilihan sulit di dunia imajinatif
Putri menghadapi pilihan sulit di dunia imajinatif
Penulis
Phoenix10
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
5 menit baca
Jumlah pembaca
5 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: KARFIKSI

Aku hanya ingin menenangkan diri sesaat saja. Itu yang kupikirkan saat melangkahkan kaki ke taman tengah Istana Phoenix yang sunyi. Langit jingga berpendar di balik sayap-sayap emas burung phoenix yang sedang bertengger tinggi di menara utama. Di sinilah biasanya aku, Princess Zhizie, duduk diam, jauh dari keramaian aula, tempat para kakak-kakakku sibuk dengan urusan kerajaan.

“Princess Zhizie... kamu lagi ngumpet, ya?” Suara lembut Kak Pita tiba-tiba terdengar dari balik semak lili merah.

Aku tersenyum lemah. “Cuma butuh waktu sendiri, kak.”

Dia duduk di sampingku, membiarkan sepotong cahaya senja menyinari wajahnya yang selalu hangat.

“Kalau Kak Lutfi tahu kamu kabur lagi dari latihan mantra api, bisa-bisa kamu disuruh jaga menara selama seminggu,” canda Kak Pita.

Aku tertawa kecil. “Lebih baik jaga menara daripada harus mendengar ceramah tentang ‘tanggung jawab pewaris kekuatan api phoenix’ itu lagi.”

Di kejauhan, tampak Alif dan Arian tengah bermain pedang kayu di pelataran. Cintia dan Hafizah sibuk membaca naskah kuno di perpustakaan terbuka, sementara Kak Ofi—si tertua dan paling bijak—berjalan perlahan di antara tiang-tiang batu.

“Ada sesuatu yang aneh hari ini,” gumam Kak Pita, tiba-tiba serius. “Kamu nggak merasa... angin di istana ini berubah?”

Aku mengangkat alis. “Maksud Kakak?”

“Sorot mata para penjaga. Dan burung phoenix peliharaan kita tadi pagi... mereka tidak menyanyi seperti biasanya.”

Sebelum aku sempat menjawab, gemuruh menggetarkan tanah. Kami berdiri bersamaan. Dari arah utara, kilatan biru muncul di langit. Tak lama, suara keras terdengar:

“Tameng perlindungan Istana Phoenix telah ditembus!”

Suasana istana berubah mencekam. Langit jingga perlahan memudar menjadi kelam, seperti tertelan oleh awan gelap yang menggulung dari utara.

Kak Ofi berdiri di tengah halaman utama, tatapannya tajam menembus langit.

“Segera kumpulkan semuanya ke aula utama! Ini bukan latihan!” serunya.

Kami semua berlari ke dalam, suara langkah kaki berpadu dengan dentingan lonceng siaga yang meraung di seluruh penjuru Istana Phoenix.

“Apa yang sedang terjadi?” tanya Hafizah, menggenggam erat kitab mantra di dadanya.

“Ada kekuatan luar yang berhasil menembus tameng pelindung kita,” jawab Kak Lutfi cepat. “Dan ini bukan kekuatan biasa. Aku bisa merasakannya—dingin dan liar.”

Cintia menoleh padaku. “Kak Zhizie, kamu tahu sesuatu tentang ini?”

Aku menggeleng cepat. “Aku nggak tahu apa-apa. Tadi aku cuma…”

“…menenangkan diri sebentar, ya, kami tahu,” sela Alif sambil mengatur napas. “Kali ini kamu benar-benar punya waktu yang buruk untuk menyepi.”

“Cukup!” bentak Kak Ofi. “Pertengkaran tidak akan membantu menyelesaikan apapun. Justru kita harus bersatu. Phoenix tertua, Shaiel, sudah turun dari Menara Api. Itu pertanda... akhir mungkin lebih dekat dari yang kita kira.”

Semua terdiam.

Arian, yang sedari tadi hanya menggenggam pedang kayunya, tiba-tiba bersuara, pelan namun mantap, “Jadi kita akan bertarung, kak?”

Kak Pita berjalan mendekatinya, meletakkan tangan di bahunya. “Bukan bertarung. Bertahan. Kita lindungi satu sama lain, apapun yang datang.”

Saat itulah suara jeritan memecah udara. Phoenix muda yang bertengger di menara timur jatuh ke tanah, terbakar oleh api biru yang aneh.

“Tidak! Itu... bukan api kita!” teriak Kak Lutfi, matanya membelalak.

Aku menatap api itu. Api biru, dingin, membekukan, namun membakar. Dan entah kenapa, dalam nyalanya... aku merasa ada sesuatu yang familiar.

“Princess Zhizie...” Kak Ofi mendekat. “Kamu harus ceritakan apa pun yang kamu rasakan. Ini bukan waktu untuk menyimpan rahasia, sayang.”

Aku menarik napas panjang. “Semalam... aku bermimpi, kak.”

Semuanya menatapku.

“Dalam mimpiku, seekor phoenix dengan sayap es datang padaku. Ia bicara dalam bahasa yang nggak kupahami sepenuhnya, tapi, aku tahu satu hal,ia bilang waktuku untuk memilih akan datang. Dan api... bukan satu-satunya warisan.”

Kak Pita menatapku dalam. “Kamu yakin itu cuma mimpi?”

Aku diam.

Karena dalam hatiku, aku tahu—phoenix itu bukan mimpi. Dan api biru itu... berasal dari dalam diriku juga.

“Apa maksud kakak, api biru itu berasal dari kakak?” tanya Cintia, langkahnya goyah, seolah tak percaya pada apa yang baru kudengar dari mulutku sendiri.

Aku memandangi tanganku—panas dan dingin sekaligus. “Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi setiap kali api biru itu muncul... aku merasa sebagian dari diriku bangkit.”

Kak Ofi mengambil alih. “Phoenix bersayap es yang kau lihat dalam mimpi... itu bukan makhluk sembarangan. Itu bagian dari keseimbangan yang selama ini dijaga oleh Istana Utara, mereka menjaga es, kita menjaga api, Princess.”

Kak Lutfi menatap kak Ofi dengan alis berkerut. “Kau bilang dulu mereka sudah lenyap.”

“Ya,” desah Kak Ofi. “Tapi rupanya tidak sepenuhnya.”

Jeritan lain terdengar, kali ini lebih dekat. Di gerbang barat, sosok besar muncul,seekor phoenix raksasa dengan bulu putih kebiruan, matanya bercahaya dingin. Di punggungnya berdiri seorang gadis berselubung jubah abu.

“Namaku Shalienne,” serunya. “Dan aku datang menjemput warisan yang telah disembunyikan terlalu lama.”

Aku melangkah maju, napasku gemetar. “Apa maksudmu... warisan?”

Shalienne menatapku. “Kau, Princess Zhizie. Kau adalah titisan dari dua garis warisan. Api dan es. Keseimbangan yang seharusnya tak pernah dipisahkan.”

Semua orang terdiam. Aku bisa merasakan sorot mata mereka, terutama Kak Pita, Kak Lutfi, bahkan Arian dan Hafizah. Mata mereka bukan hanya bingung, ada luka yang tersirat di sana.

“Lalu... aku harus ke pihakmu?” tanyaku pelan.

Shalienne mengangguk. “Atau tetap di sini dan melihat istana ini hancur oleh kekuatan yang kau sendiri tak mampu kendalikan.”

Aku menoleh ke Kak Ofi. “Kakak... apa yang harus aku lakukan?”

Ia mendekat, memegang pundakku erat. “Kamu pilih, Princess Zhizie. Bukan karena darah. Bukan karena warisan. Tapi karena siapa dirimu sebenarnya.”

Suara gemuruh datang lagi, api biru menyebar lebih luas. Aku tahu... waktu hampir habis.

“Aku...” Lidahku kelu, tapi hatiku jelas. Aku memutar tubuhku menghadap keluarga.

“Aku, aku akan pergi bersama Shalienne.”

Teriakan tertahan meluncur dari mulut Cintia. “Kak Zhizie, tidak!”

“Tolong percaya padaku,” bisikku, menatap mereka satu per satu. “Kalau aku tetap di sini, semuanya akan terbakar. Tapi kalau aku pergi, mungkin... mungkin aku bisa menemukan cara untuk menyatukan kembali api dan es. Tanpa harus menghancurkan.”

Kak Pita memelukku, erat, matanya basah. “Kamu akan kembali, kan?”

Aku ingin bilang ya. Tapi aku tak bisa menjanjikan sesuatu yang tak kutahu.

TAMAT...

EASTER EGG DITEMUKAN!

Ketik kode KARYA-KONEKSI-1826

pada Menu Game Si Paling Inklusif (membuka tab baru) di WA Avika untuk mengklaim 10 Koin!

Buruan! Sisa kuota hanya untuk 20 orang tercepat.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik cerpen, warisan, fantasi, disabilitas, petualangan, dan phoenix.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Anda dapat mengirimkan tulisan dengan mudah serta membaca panduan selengkapnya di halaman Kirim Naskah.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika