Salah Sangka
- Penulis
- riqo
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 2 menit baca
- Jumlah pembaca
- 2 kali dibaca
Kategori: KARFIKSI
Tag: Disabled Undercover
Kendaraan umum memang menyusahkan. Disamping panas, sumpek, banyak peraturan "yang tidak tertulis" yang harus dipatuhi. Seperti kisah teman tunanetra kita berikut ini:
Sebut saja namanya Pasto. Pria yang bekerja di sebuah perusahaan terkemuka ini selalu menggunakan kendaraan umum untuk pulang-pergi. Karena jarak yang ditempuh cukup jauh, ia sering menggunakan gadget accessible-nya baik itu untuk Facebooking, sms, atau sekedar brousing.
Pada suatu hari, kendaraan umum yang ditumpanginya sangat berisik. Karena ia sudah memiliki kebiasaan main gadget di jalan, ia pun kini melakukannya, walaupun harus dengan volume yang agak keras. Mungkin merasa terganggu dengan aktivitas Pasto, seorang ibu menghampirinya dan berkata judes, "Mas, main radionya pelanin, donk! ganggu tahu!"
Mendengar itu, Pasto pun menghentikan aktivitasnya sejenak dan berkata spontan, "Maaf, bu, saya ga kedengaran soalnya, jadi volume-nya agak keras. Lagi pula ini handphone, bukan radio." Mungkin dalam hatinya Pasto bergumam, "Yang tunet gue apa dia, sih? kok handphone di bilang radio?" entahlah.
Untuk lebih meyakinkan, Pasto pun mengeluarkan tongkat putihnya yang sedari tadi di simpan, agar ibu itu mengetahui bahwa ia seorang tunanetra.
Pasto pun menunggu reaksi dari si ibu, tetapi tak ada feedback yang ia terima. Dalam hati mungkin ia merasa lega bisa meng-advokasi seorang yang masih minim pengetahuan tentang dunia disabilitas. Padahal mungkin saja menurut saya, ibu itu tak bereaksi dan ngeloyor pergi karena takut dipukul oleh tongkat yang dikeluarkan oleh orang aneh tersebut :D Yeah, mungkin saja.
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
Belajar dari Certificate of Visual Impairment untuk Tata Kelola Layanan Disabilitas di Inggris
Birokrasi layanan disabilitas di Indonesia masih rumit dan sering kali salah sasaran. Pelajari bagaimana sistem Certificate of Visual Impairment (CVI) di Inggris mengintegrasikan data rumah sakit langsung ke layanan sosial, dan mengapa sistem ini penting diadopsi untuk memperbaiki pendataan disabilitas (DTKS) di Indonesia.
Pentingnya Profesi Pendamping Klinik Mata (ECLO): Menjembatani Pasien Tunanetra dari Rumah Sakit ke Layanan Sosial
Setelah didiagnosa kehilangan penglihatan, pasien kerap bingung mencari rehabilitasi. Kenali profesi Eye Clinic Liaison Officer (ECLO) dari sistem CVI Inggris yang bertugas menjembatani medis dan layanan sosial, serta pentingnya adaptasi peran ini di rumah sakit Indonesia.