Penyandang Disabilitas sering Diabaikan di Kereta Api
- Penulis
- Dimas P. Muharam
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 3 menit baca
- Jumlah pembaca
- 5 kali dibaca
Kategori: Opini
Tag: disabilitas, kereta api, #BerbuatBaikItuSulit, transportasi umum
"Banyak orang naik KRL sekarang cuek saja lihat penumpang hamil atau bawa anak. Nggak ada empatinya sama orang cacat. Padahal pada sehat, tapi tetep aja duduk di kursi prioritas. Banyak yang pura-pura tidur, biar nggak disuruh pindah," curhat Ratna seorang penumpang Commuter Line.
Ratna menyesalkan tindakan seperti itu. Sayangnya lagi hal ini dilakukan orang-orang berpendidikan.
"Jangan dikira orang kantoran yang rapi itu toleran. Mereka juga nggak tahu aturan. Duduk santai sambil baca koran, main smartphone. Sayang kan orang berpendidikan kelakuannya seperti itu," keluhnya.
Jessie (29), seorang pengguna KRL Bogor-Jakarta punya kenangan buruk saat meminta kursi prioritas pada seorang laki-laki. Saat itu Jessie sedang hamil 7 bulan.
"Saya minta tempat duduk. Laki-laki itu bilang kalau hamil jangan naik KRL dong. Saya juga bayar," tutur Jessie menceritakan hal itu kepada merdeka.com.
Tapi tak selamanya penumpang kurang ajar seperti itu. Ryan, seorang warga Bojong Gede mengaku selalu memberikan kursi jika lihat ada seorang penumpang tunanetra. Dia malu duduk kalau ada lansia, ibu-ibu atau wanita hamil berdiri.
"Nggak semua penumpang menyebalkan kok. Banyak yang masih toleran. Cuma yang menyebalkan dan tak tahu diri memang makin banyak," kata Ryan.
Andi, seorang petugas keamanan Commuter Line mengakui personel yang berjaga di atas rangkaian KRL memang kurang. Dulu saat masih ada pembagian KRL ekonomi dan CL, memang petugas selalu berkeliling untuk menanyakan karcis. Tapi sekarang tidak ada, karena PT KCJ menerapkan sistem tap in tiket pada pintu di stasiun.
"Saya sih masih keliling gerbong. Memang banyak nggak tahu aturan. Mungkin dari manajemen bisa disosialisasikan lagi kesadaran untuk kursi prioritas," kata Andi.
Memang kesadaran perlu digalakkan oleh pihak-pihak yang mengatur sarana transportasi publik. Tanpa adanya teladan baik daripemimpin dan penegakkan aturan yang tegas, maka mustahil rakyat dapat mengatur dirinya sendiri. Kursi prioritas memang dialokasikan bagi kategori-kategori yang memerlukan. Ketika penumpang umum mempersilakan penyandang disabilitas untuk duduk di kursi tersebut, seharusnya itu bukan karena rasa kasihan belaka, tapi karena sadar bahwa kursi itu bukan haknya. Jadi, diperlukan perhatian dari pemerintah agar masyarakat tidak semakin kehilangan empati pada sesama.
sumber: Merdeka.com
Tentang Penulis
Editor-in-chief Kartunet.com. Hobi baca, menulis, dan mendengarkan audiobook.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.