Lompat ke Konten Utama

Pemberian Terakhir

Dimas P. Muharam · · 20 menit baca

Kategori: KARFIKSI

Tag: cerpen

“Assalamualaikum, Bu, Bu, Ibu di mana!”
Terlihat seorang pemuda dengan wajah yang bercahaya dan perawakannya yang tinggi serta tubuh yang berisi. Ia menggunakan celana panjang berwarna hitam dan kemeja putih yang semakin memperlihatkan wajah yang menyejukkan dan penuh optimisme. Saat Ia selesai membuka sepatu hitam yang terawat, Seorang wanita setengah baya yang masih menggunakan celemek masak menghampirinya.
“Wa alaikumsalam, ada apa Tri panggil-panggil Ibu sebegitu hebohnya”.
Tri segera menghampiri Ibunya dan sembah sungkem. Ibunya memegang tangan Tri dan menyuruhnya berdiri. Tri berdiri kemudian memeluk Ibunya dengan berlinang air mata. Tinggi mereka tidak seimbang, tinggi dari Ibunya Tri hanya mencapai dagu dari Tri sendiri.
“Alhamdulillah bu, Tri lulus SPMB dan diterima di Universitas impian Tri”,
“Kalau begitu Ibu ikut bersyukur. Selamat Ya nak!”.
Ibu Tri membelai kepala anaknya dengan sayang.
“Oh iya bu, Bapak di mana?”,
“Sepertinya bapakmu sedang di kebun tuh!”
Ibu Tri mengacungkan jari telunjuknya ke arah bagian belakang dari rumah yang sederhana itu.

Tri menuju ke arah yang ditunjukan Ibunya. Ia berdiri sejenak di ambang pintu yang di hadapannya terdapat sepetak kebun kecil 3X4 meter. Ia melihat Ayahnya masih menggunakan baju seragam kantor sedang duduk bersantai menghadap tanaman yang habis disiram. Moment ini adalah saat pavorit dari Ayah. Ia sangat senang memandangi tanaman obat-obatan dan buah yang segar setelah disiram. Di tangannya tergenggam segelas kopi yang terlihat uap kecil masih mengepul di atasnya. Ia tidak menyadari Kehadiran Tri di sebelahnya. Matanya terbius dengan keindahan sinar matahari sore kota Jakarta yang dipantulkan oleh tetes-tetes air.
“Pak, aku punya kabar gembira untuk kita semua”.
Tri mengejutkan ayahnya dengan menggenggam tangan ayahnya yang sudah mulai berkerut itu. Tri melakukan hal serupa yang Ia lakukan kepada Ibunya.

Sebelumnya, Tri bukanlah anak yang berbakti seperti sekarang.
Menjadi anak ketiga dari tiga bersaudara yang kedua kakaknya adalah perempuan, Ia sangat dimanja sekali oleh Ibunya. Tapi ayahnya malah sebaliknya, Ia menginginkan anak laki-laki satu-satunya itu menjadi Pria sejati dan bertanggung jawab. Ia mengharapkan agar Tri dapat menjadi penerus keluarga dan tulang punggung yang dapat menaikan derajat keluarga.

Ayahnya terus memaksa agar Tri mau belajar yang rajin agar nilai-nilainya baik di sekolah dan memperoleh sekolah negeri terus sampai kuliah. Maklum saja, keluarga mereka adalah keluarga yang sederhana jadi hanya mampu menyekolahkan di sekolah negeri. Jarak kelahirannya dengan kakak-kakaknya jauh sekali. Sehingga pada saat Tri masuk SMA kelas 1, kakak yang keduanya saja sudah semester akhir di kuliahnya. Lalu untuk kakak yang pertamanya, Ia sudah menikah dengan sesama rekan dokternya. Kemudian Tri yang masih ingin bebas, merasa tertekan dengan semua tuntutan dari ayahnya. Tri malas sekali belajar, Ia masih ingin banyak bermain bersama teman-temannya. Walau pun malas seperti itu, Ia tetap mendapat peringkat sepuluh besar dalam kela dan naik kelas tanpa ada masalah sedikitpun. Ya paling-paling merah-merah dikit pada pelajaran agama dan PPKN gitu deh!.

Di sekolah tri memiliki banyak teman. Terutama teman-teman yang minta bantuannya untuk diajari pelajaran di sekolah. Itulah tehnik yang dilakukan Tri dalam belajar. Sedikit sekali belajar, tapi pada saat mengajari teman-temannya Ia langsung paham dan seterusnya tidak pernah membukanya lagi. Oleh karena itu, Ayahnya memaksa Tri untuk lebih rajin lagi belajar agar nilai-nilainya dapat dimaksimalkan. Tri tidak menuruti nasihat itu, Ia sudah cukup puas dengan nilai-nilainya yang pas-pasan selama ini.

Lalu awal yang hampir merusak masa depan dan merenggut nyawa ayahnya terjadi. Ia terjerumus dalam penggunaan obat terlarang. Hal itu dilakukannya pada saat ia sedang belajar brsama di rumah temannya Derry yang anak orang kaya. Sehingga Ia selalu dapat gratisan saat menggunakan barang haram tersebut. Tapi setelah naik ke kelas 2 SMA, Derry beserta orang tuanya pindah ke luar negeri. Tri bingung bagaimana untuk memenuhi ketergantungannya itu.

Akhirnya Ia mulai nekad dengan mencuri barang-barang yang ada di rumahnya untuk dijual. Pada awalnya hal tersebut tidak ada yang mengetahui. Tapi setelah nilai-nilai Tri semakin anjlok dan gerak-geriknya yang mencurigakan, Ayah Tri mulai curiga. Lalu Tri ketahuan dan dengan paksaan dari Ayahnya Ia dimasukan ke pusat rehabilitasi.

Tri sangat kesal pada Ayah karena diperlakukan seperti sampah. Bahkan lebih parah lagi yaitu seperti pakaian robek yang bukannya diperbaiki tapi malah dibuang ke selokan…. Dendam itu akhirnya luntur setelah suatu pertemuan di pagi yang tak terduga.

“Siapa tuh yang datang?” tanya Tri yang matanya silau melihat cahaya masuk dari pintu kamarnya yang terbuka.
Dilihatnya orang yang masuk itu menutup kembali pintu dan berjalan menuju jendela untuk membuka tirai.
“Kamu ini tri, sudah siang masih tidur saja!” ucap orang itu akhirnya.
Tri mengenali siapa sumber suara itu. Semakin jelaslah saat tirai mulai terbuka dan seluruh isi kamar menjadi terang karenanya.
“Oh kakak, apa kabar kak, ada apa datang kemari?” tanya Tri yang sedang menggeliat malas di atas kasur.
Ternyata orang yang datang adalah Kak Eka, satu-satunya saudara yang paling baik menurut Tri. Kak Eka tinggal di Jakarta bersama suaminya sesama dokter mata.

“Kakak baik, tapi ayah tidak…” jawab Kak Eka setelah duduk di satu-satunya kursi dalam kamar.
“Memang ada apa kak?” Tanya Tri tanpa ekspresi.
“Tadi malam,”
Kak Eka berhenti sesaat untuk menhela nafas mencoba menenangkan dirinya sebelum berkata
“Ayah dapat musibah kecelakaan saat menyetir taksi semalam….”.
Mimik muka Tri terlihat aneh saat mendengar berita dari kakaknya. Raut wajahnya terlihat senang alih-alih sedih karena Ayahnya kecelakaan.
“Syukurlah, ini balasan atas perlakuannya padaku selama ini!”
Kak Eka terlihat tenang mendengar pernyataan Tri tadi. Ia sudah tahu pasti Tri akan berkata seperti itu dengan ketidaktahuannya sekarang.
“Kamu tidak boleh berkata seperti itu, Beliau itu Ayah kamu sendiri”,
“Hah Ayah?, mana ada ayah yang membuang anaknya sendiri ke tempat busuk seperti ini!” ujar Tri setengah teriak.
Kak Eka merangsek maju dan merangkul adiknya yang dikuasai emosi.
“Jika kamu mengerti Tri,”
“Mengerti apa!” sela Tri.
“Ayah selama ini sangat menyayangi mu” lanjut Kak Eka tidak mendengarkan rontaan Tri.
“Ia bekerja siang malam demi untuk membiayai rehabilitasimu di tempat ini. Ia ingin melihatmu cepat sembuh dan menjadi anak baik seperti dulu lagi. Lalu Ia juga sudah menyesali sikapnya yang mungkin terlalu keras selama ini terhadapmu”.
Terasa seperti baru saja seember air dingin yang mengguyur Tri dari kepala ke ujung kaki saat Kak Eka melepaskan pelukannya. Memang saat itu fikiran Tri sejuk dan jernih kembali menyadari semua yang terjadi. Tapi Ia juga merasa malu dengan buruk sangka terhadap ayahnya sendiri. Tri masih dalam ketertegunannya saat Kak Eka bangkit dari duduknya dan membelai rambut Tri lembut.
“Kakak pulang dulu ya. Tenanglah, keadaan Ayah tidak terlalu parah. Ingat, kami semua percaya padamu….”.
Mendengar kata ayah, Tri merasa semakin bersalah dan menundukan kepalanya dalam-dalam. Saat Ia menegakkan kepala dan ingin mengeluarkan beberapa patah kata dari dalam tenggorokan yang terasa kering, yang ia temukan hanyalah sisa cahaya semakin menghilang dari daun pintu yang tertutup.

Tri beranjak dari tempat tidurnya dan sekarang berdiri di balik jendela. Jendela itu menghadap ke kebun yang di tengah-tengahnya terdapat kolam ikan dengan air sangat jernih. Dilihatnya ada seekor ikan yang sedang berusaha melompat untuk keluar dari kolam. Setelah beberapa kali mencoba, ikan itu berhasil keluar dari kolam dan sekarang menggelepar-gelepar entah senang atau penyesalan di lantai batu. Beberapa menit ikan itu terus menggelepar-gelepar cepat, kemudian semakin lambat, lambat, lemas, dan diam kaku tak bergerak.
Ia berfikir bahwa dirinya seperti ikan tersebut. Ingin memperoleh kebebasan dari tekanan yang membatasi dirinya. Tapi Ia tidak tahu apakah dengan kebebasan itu akan berakibat baik atau buruk. Ia semakin teringat pada ayahnya yang keras untuk mendidiknya ke arah yang benar. Ternyata tidak semua kekangan akan berakibat buruk untuk seseorang. Malah peraturan sengaja dibuat untuk kemaslahatan hidup manusia sendiri. Di dalam tangis yang setetes demi setetes membasahi pipinya, Ia bersumpah dalam hati.
“Aku berjanji akan dapat memenuhi harapan keluarga, dan tidak ingin menjadi ikan yang mati itu!”….

*****

Seorang pemuda dengan langkah tegap berjalan menyelusuri gang sempit. Gaya rambutnya rapi dan licin khas orang kantoran. Ia hanya mengenakan kemeja putih yang ditutupi oleh jaket hitam yang tak dikancing. Bawahannya menggunakan celana hitam panjang yang disempurnakan dengan sepatu kerja hitam mengkilat. Ditangannya menjinjing tas berukuran sedang berisi Jas, Dasi, laptop, dan perlengkapan kerja lainnya. Ia adalah tri. Seorang eksekutif muda yang sudah tinggal selama 7 tahun di kota Bandung ini. Sebagai sarjana lulusan salah satu universitas ternama di kota ini, Tri berhasil menjadi seorang manager keuangan walau baru bekerja selama tiga tahun.

Kakinya mulai terasa letih ketika dilihatnya sebuah rumah kontrakan sederhana berdiri tepat di hadapannya. Rumah kecil itu yang ditinggali tri selama kurang lebih tiga tahun terakhir. Bukan karena kebetulan atau tidak mampu ia tinggal di rumah sederhana itu, tapi Ia memiliki impian tertentu di masa depan.

Saat ia menginjakan kaki di teras kecil rumahnya, hampir tak menyadari akan seseorang yang sedari tadi menunggu. Ia tak bisa mengenali siapa orang di hadapannya sekarang. Pandangannya masih kabur karena perubahan intensitas cahaya yang cepat.

“Ternyata, selama tiga tahun ini kamu menghilang ke tempat ini tri….”
Tri mulai mengenali siapa yang ada di hadapannya. Selain karena suara yang sudah sangat dikenalnya, pandangannya sudah mulai jelas sekarang.
“Oh kak Eka, dari mana kakak tahu alamat saya?”
“Kakak tak sengaja menemukan majalah yang berisi tentang profil kamu. Jadi ya memang sulit ya buat profesional muda berprestasi di sebuah perusahaan terkenal untuk menyembunyikan keberadaannya!”
Tri sudah membuka kunci pintu dan mempersilahkan Kakak tercintanya itu untuk masuk. Sebenarnya Ia tidak keberatan sama sekali kedatangan keluarganya. Karena Ia yakin impiannya sebentar lagi akan terwujud.
“Bagaimana kabar ayah ibu kak, mereka tidak marah kan selama tiga tahun ini pada saya?”
“Ya mereka tidak marah, tapi sangat rindu sekali dengan anak laki-laki satu-satunya yang bandel itu, terutama Ayah”
“Ayah?…”
Tri merasa seperti ada pedang yang baru menusuk dadanya. Kekhawatiran itu kembali melandanya. Ia takut jika kembali menyakiti hati ayahnya.
“Ya ayah. Kamu tahu kan beliau sudah tidak bekerja selama beberapa tahun ini. Jadi mungkin ia ingin melihat hasil pekerjaannya selama ini. Atau….”
“Atau apa kak?” desak Tri cepat.
“Atau Ia masih merasa kalau kamu masih marah terhadapnya”
Terdengar desahan nafas panjang dari Kak Eka yang masih terlihat cantik. Tri tahu, pasti ada sesuatu yang serius di balik semua ini. Tapi Ia tetap tidak bisa pulang sekarang.
“Tapi Aku tetap tidak bisa bertemu mereka sampai aku benar-benar sukses. Oh iya, kakak mau minum apa?” tanya Tri mencoba mencairkan suasana.
“Tak usah, waktu kakak sedikit.”
Kak Eka menyelipkan tangan halusnya ke dalam tas bahu bawaannya untuk mengeluarkan sesuatu. Ia meletakan selembar kertas dengan logo salah satu maskapai penerbangan lokal di meja tepat di bawah hidung Tri.
“kakak sudah harus ke bandara sekarang untuk penerbangan beberapa menit lagi. Tapi ini sudah ku persiapkan tiket untuk penerbangan esok hari.”
Tri terpaku menatap lembaran kertas yang ada di hadapannya. Ia tak tahu harus berbuat apa dengan benda itu.
“Pokoknya kamu harus pulang secepatnya, ayah menunggumu!” ujar kak Eka yang sudah berdiri di ambang pintu.
Saat Tri menatap ke arah kakaknya, pintu sudah tertutup dan sosok Kak Eka tak terlihat lagi.

Ditatapnya kembali tiket pesawat dari Kak Eka. Tangannya meraih lembaran kertas itu, dan merobeknya menjadi empat bagian.
“maaf ayah, aku tidak bisa pulang sekarang. Impian kita sebentarlagi akan terwujud”

Kenangan 12 tahun yang lalu mengalir deras di benak Tri. Saat itu, Ia diajak oleh ayah ke tempat kerjaan. Tri duduk di bangku mobil sebelah tempat ayahnya menyetir. Ayahnya memang bekerja sebagai supir kantor. Itulah satu-satunya keahlian yang Ia miliki. Walaupun begitu, Ia merasa bahagia karena sudah cukup untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya. Bahkan dapat menyekolahkan sampai masuk perguruan tinggi.
“Nah nak,” berkata Ayah kepada tri.
“Sekarang kamu sudah tahu bagaimana pekerjaan ayah sehari-hari. Ayah tak ingin kamu bernasib seperti ayah yang berpendidikan rendah ini. Tapi ayah ingin kamu mendapatkan pekerjaan yang baik untuk dirimu sendiri dan keluarga di kemudian hari. Oleh karena itu, kamu harus belajar yang baik setinggi-tingginya. Ayah berjanji untuk kerja keras sampai semua anak ayah lulus sekolahnya!”
Tri hanya mengangguk-angguk tidak memperhatikan. Ia sibuk memandang pemandangan di kiri jalan. Sampai pada saat mobil itu berhenti di trafick light dan mata Tri mengarah ke sebuah show room mobil.
“Tapi ada satu lagi impian ayah, suatu hari nanti ayah ingin mobil sendiri”
Kata ayah dengan lirih. Tapi cukup jelas didengar Tri. Tri beralih menatap ayahnya. Ternyata Ia juga sedang memandang ke arah show room mobil yang berada persis di sebelah mobil mereka berhenti. Tatapan mata ayah jauh menerawang. Sepertinya Ia sedang melihat jauh ke masa depan yang belum pasti adanya.
Tri menunduk dan berkata dalam hati,
“Aku janji yah….”.
*****

Hari-hari menjelang idul fitri kira-kira empat bulan setelah pertemuan terakhir Tri dengan Kak Eka, Ia sudah mempunyai cukup uang untuk membeli mobil. Ia berencana untuk membeli mobil dan di tempat yang pernah ditunjukan oleh ayahnya di Jakarta.
“Semoga saja tempatnya belum tutup” Ucap Tri saat Ia baru saja keluar dari stasiun gambirr.
Selama menjadi manager, Ia beberapa kali berkunjung ke Jakarta untuk tujuan bisnis. Tapi sekarang berbeda. Ia merasa seperti anak SMP lagi yang sedang berjalan-jalan bersama ayahnya.
Di dalam bis kota, Ia melihat sekeliling di jalan yang sama seperti 12 tahun yang lalu. Tapi bangunan yang berada di pinggirnya sudah banyak yang berbeda. Sekarang tak ada lagi jalur hijau dan terisi oleh gedung-gedung tinggi. Kekhawatiran mulai menyergapnya jika tempat itu sudah tak ada lagi. Saat bus kota berhenti di trafic light, Ia menoleh ke sebelah kiri dan terlihat show room yang sama dengan kenangannya 12 tahun yang lalu. Segera Ia turun sebelum lampu berubah dari kuning ke hijau. Ia mengangkat sedikit daun topi yang ia kenakan untuk dapat melihat lebih jelas bangunan yang ada dihadapannya sekarang. Show Room itu sudah lebih luas dan bagus. Kemudian setelah benar-benar yakin, Ia masuk ke tempat itu.

Tampa berlama-lama, Ia langsung memesan mobil Kijang keluaran tahun 2000 seperti apa yang diinginkan ayahnya. Karena ingin membayar cash, ia harus mengambil uang terlebih dahulu di bank. Untunglah bank tersebut letaknya persis di sebelah show room.

Beberapa menit kemudian, ia sudah mengambil uang beberapa puluh juta dari tabungannya.
“Ayah, aku berhasil mewujudkan impianmu” ucap syukurnya dalam hati.
Tri menerima amplop itu dan ingin mengucapkan terima kasih ketika Ia tak sengaja melihat name tag yang ada di dada pegawai wanita bank itu. “Indah Rosalia” nama yang tertulis. Otaknya bekerja untuk mengingat arsip nama yang ada di sana. Tapi ternyata hatinya lebih cepat mendeteksinya. Seperti ada aliran kecil listrik saat pandangan mereka bertabrakan. Wajah cantik dihadapannya juga terlihat ekspresi tidak percaya sama sepertinya.
“Indah, itu benar kamu?”
“Maaf, mungkin saya salah orang. Benar mas Tri Kusumo teman saya sewaktu SMA?” Jari Indah menunjuk ke nama yang ada di buku tabungan.
“Iya ini Aku Tri teman kamu. Kok kamu bisa ada di Jakarta dan apa kamu sudah tidak….”
“Hai mas, kalo mau pacaran jangan di sini dong, banyak yang ngantri nih!” Tegur seorang ibu-ibu dari belakang Tri.
“Ceritanya panjang, nanti aku ceritakan” jelas Indah singkat.

Tri meninggalkan loket dan meminta maaf pada orang yang menegurnya tadi. Ia duduk di salah satu kursi panjang dan sesekali melirik ke arah Indah yang sedang bekerja. Indah pun sesekali memberi senyum manis. Wajah Indah sekarang sangat berbeda sekali dengan 7 tahun yang lalu. Kalau masalah cantik, itu sih tak berubah sedikitpun. Tapi auranya sekarang kelihatan lebih cerah dan penuh optimis.

Kenangan 7 tahun lalu menghujani fikirannya. Saat itu perpisahan yang tidak mengenakan setelah mereka lulus SMA.
“Aku tak mau kamu tinggalkan”
kalimat pertama yang diucapkan Indah setelah setengah jam hening. Mereka sedang berada di salah satu sudut kantin sekolah. Tri duduk dihadapannya memandangi lekat-lekat sepiring sio may yang belum disentuhnya.
“Keputusanku sudah bulat untuk melanjutkan pendidikan di Bandung.” jawab Tri dengan tidak memandang mata Indah yang sudah mulai berkaca-kaca.
“Tapi aku mencintaimu….”
“Tidak, aku tidak bisa menerimamu jika kamu belum mengikuti langkahku. Selamat tinggal”

Tri berdiri dan meninggalkan Indah masih dengan tidak memandang matanya. Ia berjalan cepat keluar dari kantin. Setelah beberapa langkah di tempat yang tak terlihat oleh Indah, Ia berhenti dan berbalik. Dari kejauhan Indah terlihat sedang merunduk dan sepertinya sedang menangis. Tri tidak tega melihat orang yang dicintainya menangis, apalagi itu karenanya.
“Maaf in, aku tetap pada prinsipku sebelum kamu melepaskan diri dari barang haram itu…”.*

Jarum pendek jam dinding hampir menyentuh ke angka empat. Bertepatan dengan itu Indah mendekati Tri yang masih duduk menunggu.
“Kamu tinggal di Jakarta?” tanya Indah setelah menutup tas perginya.
“Tidak, aku di sini mau…”
Tri langsung teringat dengan apa tujuannya di kota ini. Ia bangkit dan memberi isyarat pada Indah untuk mengikutinya.
Untung saja Show room itu belum tutup. Tri mendatangi manager show room yang kelihatan sudah bosan menunggu sambil menimang-nimang kunci.
“Ah, I kira you mau tipu I,” kata manager itu saat melihat Tri datang.
Manager menghitung ulang uang yang disodorkan oleh Tri. Setelah deal, Tri menerima kunci mobil dan surat-suratnya. Tri memandang mobil baru untuk hadiah Ayahnya yang sudah bernomor kendaraan. Untuk masalah plat yang biasanya membutuhkan waktu beberapa hari, dengan sedikit uang pelicin semuanya jadi sangat cepat.
“Kamu mau pulang kan, bagaimana jika aku antar?” kata Tri ketika melihat Indah yang baru masuk.
Indah mengangguk pelan. Mereka masuk dan langsung melesat.

Di dalam mobil suasana terasa hening. Tak ada yang berani memulai terlebih dahulu pembicaraan. Sesekali Tri melirik ke kaca spion depan untuk melihat wajah Indah. Semuanya menjadi lebih baik dari terakhir mereka bertemu. Kecuali pada tatapan matanya. Dahulu tatapan mata yang begitu penuh cinta kepadanya, sekarang hambar, tak ada yang spesial. Setelah beberapa menit, Indah mulai bicara. Itu pun hanya untuk memberi tahu arah jalan menuju rumahnya. Ia sama sekali tak bertanya bagaimana kabarku, atau apalah tentang aku. Seperti ada hijab antara kami berdua yang tak terlihat.

Mereka tiba di rumah Indah. Indah tinggal bersama Ibunya yang seorang janda. Tri dipersilakan masuk dan duduk di sova. Setelah beberapa menit menunggu, seorang perempuan tua mendatanginya. Ibu Indah yang sudah mengenal Tri menyambut dengan hangat. Rupanya dia hanya tahu bahwa Tri kuliah di Bandung tanpa mengetahui hubungan mereka. Tri lama mengobrol dengan Ibu Indah sampai Indah datang dan Ia mohon diri. Indah sekarang sudah berganti pakaian santai. Kulitnya yang putih bersih dan rambutnya yang hitam panjang membuat pakaian apa saja yang dikenakan semakin mempercantik dirinya.
“Aku turut senang dengan prestasimu sebagai manager keuangan di Bandung” kata Indah membuka percakapan setelah duduk di sova.
‘Ah pasti dia tahu dari majalah brengsek itu!’ umpatnya dalam hati.
“Thanks, tapi yang lebih penting, bagaimana kabarmu selama ini. Terus apa kamu masih….”
“ternyata kamu masih seperti dulu Tri, selalu lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri” senyum Indah yang tidak menatap Tri sama sekali.
‘Apakah Ia ingin membalas perlakuanku waktu itu?’ tanya Tri dalam hati.
“Aku sudah tidak nge-drugs” lanjut Indah.
“Ini semua karena kamu”
“Aku, kok bisa?”
“well, aku berusaha untuk menjadi apa yang kamu inginkan. Aku berusaha keras melepaskan diri dari jeratan barang haram itu. Sambil terus memotivasi diriku bahwa suatu hari nanti pria yang dulu aku cintai akan melihatku berubah dan kembali”
Tri tak mengerti dengan kata dulu itu. Tapi semua itu terjawab saat Ia melihat setumpuk kertas undangan yang ada di meja. Ia mengambil salah satunya yang ternyata berisi surat undangan pernikahan antara Indah dengan pria yang tidak dikenalnya.
“Itu undangan pernikahanku dengan Rendy teman satu kantor” kata Indah setelah melihat Tri memegang selembar dari tumpukan surat undangan.
Entah mengapa Tri tidak merasa cemburu atau tidak suka. Mungkin memang Ia adalah orang yang dulu Indah Cintai dan sekarang pun Ia sudah mengikhlaskan kebahagian Indah untuk orang lain. Kebahagian yang lebih utama lagi adalah karena Indah sudah tidak kecanduan lagi sehinga dapat hidup dengan normal.
“OH, congratulation ya!. Tapi boleh kan aku ambil satu?”
Indah sekarang menatap mata bahagia dari Tri dan Ia tersenyum.
“Thanks ya, aku pasti datang ke moment bahagia dari sahabat terbaikku ini. By the way, boleh kan aku menginap di Sova ini semalam?” pinta tri dengan nada yang dimanja-manjakan.
“Oh kalau buat anak manja seperti kamu sih pantasnya di kandang ayam sebelah!”
Mereka pun tertawa terbahak-bahak. Tri menikmati saat-saat ini. Mereka seperti dua sahabat yang lama tidak bertemu. Tak ada dendam, tak ada amarah.

Sebenarnya Tri dipersilahkan oleh Ibu Indah untuk tidur di kamar tamu. Tapi Ia tertidur karena kelelahan setelah membantu menulis nama-nama teman SMA yang akan diundang. Pada tepat jam 2 dini hari, Handphone tri berdering. Tri terbangun malas dan saat ingin mengangkat panggilan itu baterainya habis dan pangilan terputus. Tri tertidur kembali pulas tak perduli.*

Teriakan anak-anak mengajak sahur membangunkannya. Ia bangun dengan perasaan yang tidak enak.
“Ada apa ya, sepertinya ada yang tidak beres. Ah, mungkin ini hanya perasaan saja”
Saat mentari pagi sudah agak tinggi, Tri pamit kepada Indah dan Ibunya. Ia janji akan menemui Indah untuk bantu-bantu mempersiapkan acara pernikahan setelah pulang dari Solo.

Di perjalanan ia bersyukur tidak menemui halangan yang berarti. Karena jalur pantura yang Ia lalui macet di hari-hari menjelang Idul Fitri ini. Sehingga perjalanan yang normal dapat ditempuh selama 12 jam, bisa molor menjadi 18 jam lebih. Saat sedang beristirahat mengisi bensin di Cirebon, Ia menemui handphonenya tidak aktif karena baterainya habis. Ia lupa tidak mengisinya sebelum berangkat tadi. Merasa memang Ia tak ingin diganggu, Ia memasukannya kembali ke dalam saku.

Tepat sehabis sholat subuh, Mobil Tri memasuki kawasan kota Solo. Masih satu jam lagi untuk mencapai ke rumah orang tuanya.
“ayah pasti akan senang melihat apa yang aku bawa”.

Sinar mentari tua perlahan tapi pasti berhasil menerangi kota yang sudah siap untuk beraktifitas. Mobil Tri tiba di depan halaman rumah kuno peninggalan kakek neneknya. Ia berjalan santai menuju ke pintu rumah dan terlihat Ibu Tri keluar dari dalamnya. Tampak senyum dari wajahnya yang lesu ketika melihat Tri yang datang. Tri langsung memeluk Ibunya itu dan bertanya di mana ayah. Tapi Ibu tidak menjawab malah memalingkan wajahnya ke arah Kak Eka yang muncul di ruang tamu bersama Fika dan Fiko anak kembarnya. Tri memeluk Kak Eka dan kedua keponakannya yang lucu-lucu itu.
“Kak Eka, ayah di mana?” Tanya Tri kembali.
Kak Eka mematung tak bicara. Ia dan Ibu menukar pandang tak bersuara.
“Loh om Tri aneh sih, kakek kan sudah…” ucapan Fika terputus saat Kak Eka menyuruh anaknya diam.
Tri merasa ada kejanggalan di antara mereka semua. Ia berkeliling rumah untuk mencari keberadaan Ayah. Tapi saat melihat ke kamar Ayah yang dilihatnya terakhir 5 tahun yang lalu, perubahan terjadi di sana. Kamar itu kosong dari perabot. Pakaian dan semua barang-barang pribadi ayah tak terlihat di seluruh sudut kamar. Tri mulai merasa tidak enak. Kak Eka muncul di belakang dan memberi isyarat untuk mengikutinya. Tri mengikuti Kakaknya tanpa protes. Ia berjalan ke luar rumah dan setelah sepuluh menit, Kak Eka menghentikan langkahnya di depan pemakaman umum.

Tri tidak percaya dengan apa yang dimaksudkan Kak Eka, tapi Ia berusaha mengerti. Spontan Tri berlari ke tengah kompleks pemakaman. Ia berhenti dan berteriak kepada Kak Eka yang masih berada jauh di belakang.
“Di mana Kak!!”
Kak Eka menunjuk ke satu arah dan Tri menuju ke sana. Serasa jantungnya naik ke leher, Ia melihat batu nisan yang bertuliskan nama ayahnya. Ia pun berlutut dan tak tertahan lagi air mata yang segera membanjir keluar.

Semua sudah terlambat
Tak ada lagi cinta dari seorang ayah
Mencoba menantang kasih mentari
Tak terbalaskan semua pedih dan beri.

Satu jam Kak Eka menunggu Tri yang menangis dan berdo’a di atas makam ayah. Saat hari mulai terik, Kak Eka menyentuh bahu Tri mengajaknya pulang. Tri menuruti ajakan kakaknya. Sambil mengelap Air mata di pipi, Tri mulai bangkit berdiri.
“Oh iya, tunggu kak!” cegah Tri ketika Kakaknya sudah mulai berjalan.
Tri kembali berlutut di pinggir makam ayahnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku. Di ambilnya salah satu kunci cadangan mobil yang bermaksud sebagai hadiah untuk ayah. Kunci itu Ia genggam dan berbisik di tangannya.
“Ayah, maafkan aku belum sempat membalas kasihmu. Semoga Allah membalas kebaikanmu yang tak ternilai”
Tri membuat sedikit celah di tanah makam. Kemudian dipendamnya kunci itu dalam-dalam.

Tentang Penulis

Dimas P. Muharam

Peneliti di Pusat Riset Pendidikan BRIN

Website / Sosial Media

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

  • The Secret Admirer

    Kisah seorang pemuda yang menjadi pemuja rahasia seorang gadis di sekolahnya. Hingga pada suatu saat ia memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya. Selamat membaca.

    Dimas P. Muharam

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.