Lompat ke Konten Utama

Lembaran Kegelisahan Hari Ini, Kumpulan Puisi

Ilustrasi gambar: adegan magis dan misterius yang berpusat pada dua buku terbuka di atas permukaan yang menyerupai tanah atau pasir. Salah satu buku menampilkan api berwarna-warni yang menyala dari halamannya, menunjukkan kekuatan atau sihir yang terlibat. Di dekatnya, sebuah kaca pembesar diletakkan di atas buku lain, mengisyaratkan fokus atau penelitian. Di latar belakang, terlihat aliran partikel atau cahaya berwarna oranye yang turun, seperti hujan digital atau energi yang mengalir. Keseluruhan pemandangan itu diperkuat oleh pencahayaan dramatis, menciptakan suasana misteri dan daya tarik.
Ilustrasi gambar: adegan magis dan misterius yang berpusat pada dua buku terbuka di atas permukaan yang menyerupai tanah atau pasir. Salah satu buku menampilkan api berwarna-warni yang menyala dari halamannya, menunjukkan kekuatan atau sihir yang terlibat. Di dekatnya, sebuah kaca pembesar diletakkan di atas buku lain, mengisyaratkan fokus atau penelitian. Di latar belakang, terlihat aliran partikel atau cahaya berwarna oranye yang turun, seperti hujan digital atau energi yang mengalir. Keseluruhan pemandangan itu diperkuat oleh pencahayaan dramatis, menciptakan suasana misteri dan daya tarik.
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
3 menit baca
Jumlah pembaca
18 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: KARFIKSI

Tag: puisi

Unduh Artikel PDF

Empat puisi dalam Lembaran Kegelisahan Hari Ini membedah dinamika batin manusia dari sudut yang berbeda. Menambang Teori menyoroti pencarian pengetahuan, Telinga yang Gelisah mempertanyakan cara memahami realitas, Paradox Berdikari mengulas ketangguhan dan kemandirian, sedangkan Menyimpan Senyumanmu merekam jejak kenangan yang memberi kekuatan dalam menjalani kehidupan.

Menambang Teori

Mendulang pasir pengetahuan dalam larik bebatuan teori.
Pasir itu kasar menempel pada dengkul akal diri.
Sedang mulut-mulut terlalu penuh menjaring embun demi embun referensi.
Kaki tidak selalu sejalan dengan tangan mencapai matangnya penggalian tambang akademi.

Jam seakan mematikan hidup jika berpihak pada kesinambungan disiplin.
Hari membeku oleh bertubi berita-berita sidang.
Bulan tajam menatap penuh menuntut kelulusan.
Bertahan tanpa jeda adalah budaya kita?

Padahal saat fokus riset diruncingkan,
Kutipan cerdas digembalakan,
Metodologi berselancar di medan dialog yang terjal,
Niscaya semesta logika mengawani setiap diksi penuh setia.

Bantul, 9 Juni 2026

Telinga Yang Gelisah

Telingaku melayari lembaran lisan bermakna pengetahuan.
Rangkaian huruf yang membangun peradaban.
Rangkaian kalimat yang membangkitkan kemanusiaan.
Rangkaian paragraf yang menjaga nilai seiring deru mesin-mesin pabrik berbahasa baku.

Telingaku mendengar fakta-fakta yang dibumikan.
Melalui detak setiap detik.
Satu persatu warta, gulir balada dalam runtut kata-kata.
Menghadirkan pemahaman yang hidup memanaskan akar pemikiran.

Telingaku meraba frasa pahit dari sebuah realita.
Statistik lebih meyakinkan daripada barisan aksara berbentuk cantik.
Kuitansi lebih mudah dimengerti daripada gelapnya sajak-sajak yang berpuisi.
Epilognya seperti apa?

Matahari tetap terbit dan tenggelam.
Gemintang tetap bergelombang menyala dan bersembunyi.
Planet mengorbit isi bumi.
Namun, mengapa manusia enggan keluar dari cangkang egonya?

Karanglo, 8 Juni 2026

Paradox Berdikari


Aku Adalah Riuh Di Antara Sepi Di Malam Hari.
Sementara siang menjadikanku sepi di antara ramai yang semu.
Aku merupakan air kesabaran yang hanya sepercik di sela-sela gejolak bara amarah.
Sedangkan api amarah tidak sedikitpun mampu menangkap lincahnya air yang mengisi rongga-rongga bebatuan sungai kehidupan.

Aku adalah kerasnya teriakan perjuangan di tengah-tengah senyap penghianatan.
Kendatipun senyap itu pasti membunuh, teriakanku akan disambung mulut-mulut jamur yang bertumbuhan kala musim hujan tidak menyegarkan isi bumi.
Biarpun habis gelap terbitlah terang,
Tanpa menyala nyali berdikari, niscaya hanya lebih besar tiang daripada pasak.

Langkah ini tidak beddanya dengan mencari jarum harapan di ddalam lautan.
Setiap genggaman tangan, bisa jadi gugur sebelum berbunga.
Bahkan diibaratkan air susu dibalas air tuba.

Namun, begitu nyata genggaman tangan dan ayunan langkah itu.
Kemerdekaan beratus persen, iklas sepenuh rela dituju dengan pengorbanan.
Keabadian inspirasi sebaik balasan bagi jasa.
Kasih Tuhan senantiasa menyelimuti.
Supaya mereka lebih merdeka sepulang dari gempita perjuangan yang fana.

Bantul, 6 Juni 2026

Menyimpan Senyumanmu

Selayang pandang ku temukan tawamu bersama lampu-lampu jalanan.
Di sela-sela kemacetan, senyumanmu masih membayang nyata.
Meskipun hujan seakan berupaya menyapunya.
Meskipun dolar semaunya melemahkan asa rupiah.

Tawa dan senyummu waktu itu tidak berhenti.
Ternyata langkah kakiku membawanya.
Tas dan dompetku menyimpannya.
Bahkan saham berhargaku mencatatnya.

Kadang membuatku menangis sebab tidak berdayanya diri menjaga.
Lain masa membuatku tertawa sejenak, menjeda letih hadapi gelombang tujuan hari-hari yang panjang.

Senyumanmu tidak seindah merekah bunga.
Jauh dari kata sejernih telaga.
Justru lebih dingin daripada hangat purnama.
Namun, setapak pemahamanku menjamah senyumanmu,
Sebagai tanah perdikan orang-orang pelarian dari jalanan keras kehidupan.

Bantul, 25 Mei 2026

Tentang Penulis

Akbar Ariantono Putra

Putra kelahiran Bantul Yogyakarta pada 2 Februari 2003 serta lelaki tunanetra ini menggemari bacaan kritis bernuansa sosial budaya, sejarah, petualangan, dan fantasi. Dia tengah menyelesaikan studinya di S1 Ilmu kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sejak 2022. Bermodalkan pembaca layar yang menyuarakan teks di gadget, minat literasinya berkembang dan banyak sudah event sastra yang diikutinya, diantaranya Antologi Cerpen Museum (HUT Sastra Bulan Purnama ke-13) pada 2024, Antologi Puisi Bulan Kelahiran bersama Sastra Bulan Purnama pada 2025, dan Antologi Puisi Kebangsaan Sastra Bulan Purnama pada Mei 2026. Selain itu, sebagai lulusan angkatan pertama Sekolah Jurnalistik Disabilitas asuhan Agoes Wiedartono pada 2025, Akbar pernah mempublikasikan karyanya di sejumlah media, seperti KansNews, VartaDIY, NegriNews, dan Suara Anak Negri

Komentar (1)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Anda sedang membalas komentar dari Idsam.

  1. Idsam

    Menarik. sudah waktunya puisi kembali mengisi ruang-ruang perjuangan.

    Balas

Suka artikelnya?

Bantu sebarkan agar makin banyak orang mendapatkan manfaatnya.

WhatsApp X
  • Forgiveness

    Dimas P. Muharam
  • Untitled

    Dimas P. Muharam

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.