Kembali lagi di segmen adu banding aplikasi dan teknologi! Daripada repot-repot membandingkan pencapaian diri sendiri dengan kesuksesan anak tetangga yang ujung-ujungnya cuma bikin overthinking, asam lambung naik, dan stres berlebihan di malam hari, lebih baik kita membedah sesuatu yang jelas-jelas bermanfaat: aplikasi dan teknologi. Jauh lebih aman untuk kewarasan batin kita semua, bukan?
Perkenalkan, bersama aku di sini, Celine. Si gadis matahari kalian yang selalu ceria, energinya tidak pernah habis, dan tentu saja super ramah. Dan tepat di sebelahku saat ini, sedang duduk bersandar dengan sangat santai, seorang "narasumber kelas teri" andalan kita: Riyan. Sekadar informasi untuk kalian yang baru pertama kali mampir ke catatan ini, sahabat baikku yang super menyebalkan ini sedang menjalani babak baru dalam hidupnya setelah kehilangan penglihatannya secara permanen hampir setahun yang lalu.
"Apaan nih, Cel? Tiba-tiba buka opening pakai suara presenter televisi gitu. Lagi main wartawan-wartawanan kah kita sekarang?" protes Riyan dengan nada malas yang sudah sangat aku hafal. Kepalanya menoleh sedikit ke arahku, mengandalkan pendengarannya yang kini menjadi radar utamanya untuk merespons keadaan sekitar.
"Heh, profesional dikit dong! Ini demi konten edukasi yang berfaedah buat umat manusia tahu," balasku cepat.
Suasana sore ini sebenarnya cukup santai. Kami sedang duduk berdua, menikmati angin sepoy-sepoy. Namun, aku terus memperhatikan gerak-gerik Riyan sedari tadi. Tidak biasanya dia diam seribu bahasa. Dia tampak begitu tenang, anteng duduk mematung dengan sebelah earphone menempel di telinga kirinya, sementara kepalanya sesekali mengangguk-angguk kecil mengikuti sebuah ritme.
"Kamu lagi apa sih, Yan? Kok dari tadi anteng banget gitu kayak orang lagi semedi nungguin wangsit?" tanyaku, memecah keheningannya.
"Oh, ini? Lagi dengerin musik aja," jawabnya singkat tanpa beban, jemarinya lincah meraba dan menyapu layar ponsel pintar di pangkuannya. Sayup-sayup terdengar suara screen reader (pembaca layar) dari gawai miliknya bergumam dengan ritme bicara yang sangat cepat—khas kecepatan dengar teman-teman tunanetra yang sering kali bikin orang awam pusing mendengarnya—sedang menavigasi antarmuka sebuah aplikasi.
Mendengar kata "musik" dan melihat interaksinya dengan ponsel, sebuah lampu pijar imajiner seolah menyala terang benderang di atas kepalaku. Insting penulisan dan jiwa rasa penasaranku langsung meronta-ronta minta disalurkan.
"Wah, kebetulan banget nih! Pas banget momentumnya. Kalau begitu, hari ini kita berdua akan membahas tuntas: di antara dua raksasa streaming audio saat ini, mana sih aplikasi musik yang paling ramah untuk disabilitas!" seruku penuh semangat, mendekatkan wajahku agar suaraku terdengar lebih dominan dari musik di telinganya.
Riyan tersentak pelan, raut wajahnya seketika berubah bingung. "Lah... kok mendadak banget? Perasaan tadi di jalan janjinya cuma mau traktir jajan, nggak ada agenda disuruh mikir dan bedah aplikasi begini."
Tanpa memberikan ruang untuk protes lebih lanjut, jemariku langsung mendarat mulus dan mencubit pinggangnya dengan gemas.
"Aduh!" Riyan mengaduh kaget sambil mengusap pinggangnya yang menjadi korban cubitan mautku.
"Udah, nurut aja dan ikutin alurnya," bisikku sambil tertawa penuh kemenangan. Jadi, mari kita mulai pembedahan ini. Kalau bicara soal musik digital, dua nama besar pasti langsung muncul di kepala kita...
Ya, betul sekali yang ada di pikiranmu itu. Spotify dan YouTube Music.
Kedua platform musik ini sudah sangat dihafal di luar kepala oleh masyarakat Indonesia, terutama buat kita-kita yang napasnya bertumpu pada playlist harian. Memang sih, di luar sana ada banyak nama lain yang berseliweran seperti Apple Music, Joox, Resso, atau Amazon Music. Tapi jujur saja, mari kita realistis. Buat rata-rata orang Indonesia, aplikasi-aplikasi itu rasanya kurang relatable atau kurang merakyat. Entah karena harganya, ekosistemnya yang kelewat eksklusif (uhuk, Apple Music), atau pamornya yang perlahan meredup tergusur zaman. Jadi, panggung pertarungan sesungguhnya di negara kita saat ini ya cuma dikuasai oleh dua raksasa tersebut.
Untuk memahami seberapa besar mereka, mari kita berkenalan sebentar.
Pertama, mari kita bahas sang jawara bertahan: Spotify. Sama halnya seperti ChatGPT yang meledak dan mendefinisikan apa itu AI di kepala masyarakat, Spotify adalah pionir revolusioner yang mengubah total cara kita mendengarkan musik. Lahir di Swedia sekitar tahun 2008, aplikasi berlogo hijau-hitam ini perlahan tapi pasti sukses mematikan era pembajakan MP3 ilegal yang dulu sering kita unduh diam-diam. Mereka datang membawa keajaiban: jutaan lagu legal di dalam sakumu, siap diputar kapan saja.
Spotify sukses besar membangun top of mind. Kalau orang mau streaming lagu atau podcast, nama pertama yang refleks terucap pasti Spotify. Ia ibarat "Indomie"-nya atau "Aqua"-nya aplikasi musik. Dialah yang menetapkan standar bagaimana sebuah algoritma harus bekerja merekomendasikan lagu, dan dia pulalah yang menciptakan tren budaya pop tahunan yang selalu ditunggu-tunggu netizen: Spotify Wrapped.
Lalu, di sudut ring yang lain, berdirilah sang penantang: YouTube Music.
Kalau Spotify adalah profesor tunggal yang fokus mendedikasikan hidupnya hanya untuk audio, YouTube Music ini persis seperti Gemini—produk raksasa dengan banyak tentakel yang lahir dari ekosistem Google. Menggantikan pendahulunya (Google Play Music), YouTube Music dirilis dengan membawa "senjata nuklir" yang tidak dimiliki platform mana pun: database raksasa YouTube itu sendiri.
Jangan remehkan aplikasi yang terhubung langsung dengan ekosistem Google! Kekuatan utama YouTube Music terletak pada kelengkapannya yang kadang tidak masuk akal. Lagu resmi dari label? Ada. Video cover akustik dari musisi jalanan di Jogja? Ada. Rekaman live concert buram dari tahun 90-an? Ada. Sampai lagu-lagu indie underground hasil remix DJ antah berantah pun semuanya tersedia di sana. Mereka menyatukan pengalaman menonton video dan mendengarkan musik dalam satu atap.
"Nah, pertanyaannya sekarang," ujarku kembali beralih menatap Riyan yang perlahan mulai bisa menerima nasibnya sebagai narasumber dadakanku hari ini. "Sebagai seseorang yang meraba dunia digital menggunakan screen reader setiap hari, di antara dua raksasa ini, mana yang antarmuka aplikasinya paling ramah buat teman-teman tunanetra? Mana yang tombolnya jelas, dan mana yang bikin jari keriting saking berantakannya?"
"Tentu saja YouTube Music," jawab Riyan cepat, nyaris tanpa jeda untuk berpikir.
"Oh ya? Menang telak nih?" balasku memancing, agak terkejut karena kupikir ia akan memilih Spotify yang notabene lebih populer.
"Menang telak kalau urusan ramah disabilitas," Riyan mengangguk mantap. Ia lalu meraba ponselnya, menunjukkan layar hitam yang langsung merespons dengan ocehan screen reader saat jemarinya menyentuh kaca. "Desain User Interface (UI) alias antarmuka YouTube Music itu sangat teratur, rapi, dan nggak berantakan. Simpel banget."
Riyan mulai menjelaskan layaknya seorang reviewer gawai profesional. "Google tampaknya benar-benar memikirkan letak tombol agar mudah dijangkau. Bahkan, pembaruan desain mereka bikin aplikasinya makin aksesibel. Kamu sadar nggak, dulu fitur 'Pencarian' (Search) itu nyempil di pojok kanan atas layar? Nah, sekarang dipindah menjadi tombol menu navigasi utama yang letaknya berjajar di bawah, sejajar dengan tab 'Beranda' dan 'Koleksi'. Buat pengguna tuna netra, perubahan yang kelihatannya sepele ini justru ngebantu banget! Jari kita nggak perlu repot-repot meraba jauh ke pucuk layar cuma buat nyari lagu."
Aku mengangguk-angguk paham, takjub dengan betapa detailnya Riyan memperhatikan tata letak menu. "Masuk akal. Terus, gimana nasibnya si raja streaming, Spotify?"
Riyan menghela napas pelan, seolah baru saja ditanya soal revisi skripsi yang ditolak dosen. "Jujur aja nih ya... untuk Spotify, ini agak menyedihkan. Aplikasi ini kurang ramah buat aksesibilitas pembaca layar. Letak tombol dan menunya, dari kacamata screen reader, terasa sangat berantakan dan tumpang tindih. Kalau aku mau mencari lagu spesifik atau sekadar menyetel playlist andalan, aku harus bekerja ekstra keras menyapu layar ke sana kemari. Navigasinya sering kali bikin jari keriting."
Namun, ekspresi wajah Riyan mendadak berubah. Senyum tipis yang sarat akan nostalgia muncul di bibirnya.
"Tapi Cel, meski sekarang aku sering menggerutu kalau pakai Spotify, aku paham betul kenapa mereka mendesain aplikasinya seperti itu," lanjut Riyan, suaranya sedikit melembut. "Kalau kita adu visual dengan YouTube Music, Spotify itu jelas juara estetika. Desain UI-nya sangat memanjakan mata, elemen visualnya stand out, dan vibe-nya itu sangat masuk ke selera Gen Z. Intinya, instagramable banget lah! Aku masih ingat betul... sewaktu mataku masih bisa melihat, buka Spotify itu rasanya keren dan kekinian banget."
Kami berdua terdiam sejenak. Angin sore berhembus menyapu wajah kami, sementara dari ponsel Riyan, alunan musik pelan masih mengalun.
"Tapi..." Riyan kembali bersuara, kali ini dengan nada yang membuat dadaku tiba-tiba terasa agak sesak. "Apa artinya semua estetika itu saat matamu sudah tidak bisa lagi melihatnya, Cel?"
Aku menatapnya lekat-lekat, kehabisan kata-kata.
"Di keadaanku yang sekarang, visual yang instagramable itu sudah tidak ada harganya. Ketika kamu kehilangan penglihatan, prioritasmu berubah total. Aku sekarang jauh lebih mementingkan kemudahan penggunaan, aksesibilitas, dan seberapa cepat aplikasi itu bisa membantuku memutar lagu yang kumau, ketimbang seberapa aesthetic animasi yang diputar di layarnya."
Perkataan Riyan sukses membungkamku. Aku merenung. Betul juga. Sesuatu yang selama ini kita (yang bisa melihat) anggap sangat keren dan memanjakan mata, rupanya bisa menjelma menjadi tembok pembatas yang menyulitkan bagi teman-teman yang memiliki keterbatasan visual.
"Lalu, dari segi kualitas audio dan koleksi lagu, apa YouTube Music juga bisa mengalahkan Spotify?" tanyaku mencoba mengalihkan suasana agar tidak terlalu melankolis.
"Untuk pertanyaan yang satu ini, jawabannya agak ribet, Cel," Riyan membetulkan posisi duduknya. Tangannya bertumpu pada lutut. "Karena dua raksasa ini hidup di ekosistem yang benar-benar berbeda."
"Beda ekosistem gimana maksudnya?" tanyaku menuntut penjelasan.
"Gini, YouTube Music itu ibarat kebun binatang atau pasar malam. Koleksi lagunya benar-benar di luar nalar, saking bebasnya! Kamu mau cari musik remix DJ kekinian ala angkot? Ada. cover akustik dadakan musisi jalanan? Banyak. Bahkan nih, yang terbaru dan belakangan lagi aku suka... YouTube Music juga nyediain musik-musik buatan AI." Riyan terkekeh geli sebelum melanjutkan, "Dan entah kenapa, kadang hasil generate AI ini suaranya malah lebih bagus dari penyanyi aslinya!"
Aku ikut tertawa pelan. "Wah, agak jahat ya. Tapi masuk akal sih, YouTube kan memang dari dulu tempatnya konten bebas dari siapa saja."
"Tepat! Nah, kalau Spotify itu ibarat restoran fine dining yang punya penjaga pintu super ketat," lanjut Riyan, kali ini nadanya terdengar lebih berwibawa. "Mereka menang telak di urusan eksklusivitas. Spotify nggak sembarangan merilis lagu ke dalam platform mereka. Kamu bakal susah nemuin audio yang nggak jelas. Jangankan musik aneh-aneh, lagu cover pun jumlahnya sangat dibatasi dan jarang ditemui."
"Tapi, ada satu hal dari Spotify yang rasanya sulit banget dikalahkan platform mana pun, Cel: Algoritma mereka yang sangat jenius," puji Riyan sambil mengacungkan jari telunjuknya. "Spotify itu kayak cenayang. Misalnya kamu lagi dengerin satu lagu yang selera kamu banget. Saat lagu itu habis, di putaran selanjutnya algoritma mereka akan menyodorkan daftar lagu lain yang vibe-nya sama persis dengan seleramu. Transisi mood-nya itu mulus banget, nggak ada yang melenceng."
"Wah, kalau YouTube Music kan mesinnya dari Google tuh, masak algoritmanya kalah pintar?" pancingku.
Mendengar itu, Riyan malah membuang napas panjang. "Nah, ini dia masalah utamanya. Algoritma YouTube Music itu tergolong... agak kacau dan sering bikin mood swing dadakan."
"Kacau gimana tuh?"
"Gini ya, bayangin aja. Aku lagi asyik-asyiknya dengerin lagu upbeat yang penuh semangat. Eh, tiba-tiba di putaran otomatis selanjutnya, lagu yang keputar malah lagu galau yang sedih banget. Belum selesai aku menyesuaikan emosi, di putaran ketiga yang muncul malah musik jedag-jedug! Hancur lebur kan perasaanku?" keluh Riyan dengan wajah nelangsa yang dibuat-buat. "Kuping dan kepalaku rasanya kayak diajak naik rollercoaster emosi."
Aku tak sanggup lagi menahan tawa. Membayangkan Riyan yang sedang mellow mendadak dihentak dentuman bas jedag-jedug sungguh membuat perutku kram.
"Sumpah, fitur putar otomatis ini aja sih yang paling sangat menggangguku selama pakai YouTube Music," tambah Riyan menggerutu. "Karena itu, kalau kamu nanya saranku sebagai pengguna setia, aku lebih menyarankan kamu buat meracik playlist-mu sendiri dulu sebelum menekan tombol putar. Jangan pasrahin nasib mood kamu ke algoritmanya YouTube Music, kecuali kamu siap jantungan."
"Lalu, kalau kita bahas soal harga, mana yang lebih ramah di dompet?" tanyaku beralih ke pertanyaan yang paling realistis. Uang, tentu saja.
Riyan memperbaiki posisi duduknya. "Sebenarnya, harga dasar kedua aplikasi ini mirip-mirip saja. Tapi, ada trik khusus kalau kamu mau masuk ke ekosistem Google. Kalau kamu mau berlangganan YouTube Music, saranku jangan pernah beli langganannya dari dalam aplikasi YouTube Music itu sendiri."
Aku mengernyitkan dahi. "Loh, kenapa?"
"Rugi bandar!" Riyan tertawa kecil. "Lebih baik kamu berlangganan YouTube Premium langsung lewat aplikasi YouTube biasa. Dengan harga yang masih cukup terjangkau, kamu otomatis dapat akses video tanpa iklan dan YouTube Music sekaligus. Sambil menyelam minum air. Apalagi, ada opsi paket Pelajar dan Keluarga yang bisa dibagi-bagi. Jauh lebih cuan."
"Lalu, Spotify gimana?"
"Spotify harganya standar sih. Ada versi Standar dan ada juga versi Platinum. Bedanya, di versi Platinum kamu bisa mengundang dua akun lainnya, jadi total ada tiga pengguna dalam satu paket berbayar. Selain itu, versi Platinum ini menawarkan fitur audio lossless."
"Wah, lossless tuh kualitas suaranya jernih banget dong?" pancingku.
Riyan mengangguk, tapi jemarinya mengetuk earphone di telinganya. "Iya, tapi fitur audio lossless ini menurutku agak mubazir kalau kamu cuma pakai headset standar. Fiturnya baru benar-benar terasa perbedaannya kalau kamu pakai In-Ear Monitor (IEM) atau headset mahal yang kualitasnya sangat tinggi. Kalau alat dengarmu biasa saja, ya perbedaannya nggak akan terasa."
"Oke, masuk akal. Nah, berhubung Spotify sering banget pamer soal Podcast mereka, menurutmu itu nilai plus nggak buat milih Spotify?"
Riyan mencibir pelan. "Agak disayangkan sih. Buatku, podcast di Spotify itu nggak terlalu spesial. Kenapa? Karena mayoritas podcast yang ada di Spotify, pada akhirnya tersedia juga di YouTube. Kamu bisa mengaksesnya di channel-channel kreator tersebut dalam bentuk video. Memang ada beberapa yang dilabeli eksklusif hanya di Spotify, tapi jumlahnya sedikit sekali."
"Terus, kalau kita bahas skenario terburuk nih... gimana kalau kita lagi bokek dan terpaksa pakai versi gratisan? Iklannya seganas apa?"
Kali ini Riyan tersenyum miris. "Di sinilah letak perbedaannya, Cel. Kalau nggak berlangganan, keduanya pasti merepotkan karena masalah iklan. Tapi, iklan di Spotify gratisan itu masih cukup bisa ditoleransi. Biasanya cuma muncul di beberapa lagu sekali, misalnya setelah lima lagu baru ada satu iklan. Tapi kalau YouTube Music gratisan?"
Riyan menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis. "Itu bencana. Setiap satu lagu selesai, iklan muncul! Dan kalau nggak di-skip—yang mana agak merepotkan buat pengguna screen reader karena harus meraba mencari tombol lewati—iklannya bisa berlangsung menit-menitan. Makanya, kurasa YouTube Music itu wajib kamu beli langganannya kalau ingin menikmati."
"Tapi tunggu, Spotify juga punya kekurangan yang sangat menjengkelkan akhir-akhir ini," Riyan tiba-tiba merengut, nada suaranya berubah kesal. "Ini cukup mengganggu sih buatku yang terbiasa pakai In-Ear Monitor atau headset. Kamu tahu kan, biasanya kita bisa mengetuk tombol di headset dua kali untuk memutar lagu sebelumnya (previous track)?"
"Iya, tahu! Aku juga sering gitu," sahutku cepat.
"Nah! Entah kenapa, saat aku menekan dua kali tombol itu di Spotify, lagunya nggak mau mundur! Padahal seingatku dulunya bisa. Aku sampai gonta-ganti beberapa headset dan hasilnya tetap sama. Kamu sendiri tadi juga bilang ke aku kalau kamu nggak bisa pakai fitur itu lagi, kan?"
Aku mengangguk heboh. "Iya! Sempat kupikir earphone-ku yang rusak!"
"Bukan alatmu yang rusak, aplikasinya yang aneh. Jadinya, memutar lagu sebelumnya lewat ketukan dua tombol headset nggak berlaku lagi. Kamu harus mengetuk layarnya secara manual pakai pembaca layar. Ribet! Parahnya lagi, kalau kamu pakai Spotify versi gratisan, fitur kembali ke lagu sebelumnya itu memang dikunci. Musik akan terus dipaksa maju ke depan."
Melihat Riyan yang mulai terbawa emosi merutuki tombol headset-nya, aku tersenyum dan mencoba beralih ke hal lain. "Eh, ngomong-ngomong bentar lagi akhir tahun nih. Biasanya kan ramai orang pamer Spotify Wrapped atau YouTube Music Recap. Buat kamu—"
"Aku nggak akan bahas rekap atau rewind musik akhir tahun," potong Riyan tegas, melambaikan tangannya santai. "Karena menurutku itu nggak penting dan nggak ada gunanya juga."
Aku tertawa pelan. Mengingat kondisinya, visualisasi grafis rekap akhir tahun yang aesthetic itu memang tidak memberikan value apa-apa untuk sistem pembaca layarnya.
"Oke, oke. Kalau gitu, sampailah kita di pertanyaan terakhir dan pamungkas!" seruku. "Setelah semua keluh kesah dan adu mekanik ini... kalau aku paksa kamu untuk menghapus salah satu aplikasi dari ponselmu sekarang juga, siapa yang bakal kamu hapus? Spotify atau YouTube Music?"
Riyan tersenyum. Senyum yang sangat lebar. Bukannya menjawab, ia meraba layar ponselnya, membuka kunci, dan menyodorkan layarnya ke arahku.
Aku melongok. Di layar berandanya, tidak hanya ada ikon Spotify dan YouTube Music. Tepat di sebelah mereka, ada ikon Apple Music.
"Tiga-tiganya?!" pekikku kaget.
"Tentu saja tidak ada yang aku hapus," jawab Riyan santai. "Aku berlangganan semua aplikasi. Bahkan, coba lihat, aku juga berlangganan Apple Music."
Ia lalu menarik napas panjang, senyumnya melembut, menyatu dengan hembusan angin sore yang sedari tadi menemani obrolan kami.
"Cel, karena keseharianku sekarang mengandalkan indera pendengaran, mendengarkan musik sudah jadi duniaku. Jadi, nggak masalah bagiku untuk menggunakan YouTube Music, Spotify, atau aplikasi musik lainnya."
Riyan menoleh ke arahku, seolah mata itu masih bisa menatapku dengan jelas. "Karena memang, itulah salah satu hiburan terbesarku saat ini."
Aku terdiam, meresapi kalimat penutupnya yang begitu sederhana namun menancap erat di ingatan. Di balik antarmuka aplikasi yang rumit, tombol yang rusak, atau rentetan iklan yang menjengkelkan, teknologi tetap memiliki satu tujuan mulia: menemani manusia dan memberi warna, bahkan di tempat yang tak lagi tersentuh oleh cahaya.
EASTER EGG DITEMUKAN!
Ketik kode KOLABORASI-BERDAYA-1812
Buruan! Sisa kuota hanya untuk 17 orang tercepat.

