Lompat ke Konten Utama

Lebih dari Sekadar Pijat Tradisional: Mengungkap Sisi Ilmiah Profesi Pijat Tunanetra

Dimas P. Muharam · · 3 menit baca

WhatsApp X

Ketika mendengar kata "pijat tunanetra", apa yang pertama kali terlintas di pikiran Anda? Sebagian besar masyarakat mungkin membayangkan layanan pijat tradisional atau pijat urut yang keahliannya didapatkan secara turun-temurun atau sekadar sugesti. Namun, tahukah Anda bahwa profesi pemijat (masir) tunanetra sebenarnya memiliki landasan sejarah yang sangat panjang dan disiplin ilmu medis yang ketat?

Mari kita bongkar fakta-fakta ilmiah di balik profesi pijat tunanetra yang jarang diketahui publik.

Sejarah Panjang yang Lebih Tua dari Usia Republik Ini

Profesi pijat tunanetra bukanlah hal baru di Indonesia. Jauh sebelum Indonesia merdeka, pendidikan atau pelatihan pijat untuk tunanetra sudah dimulai sejak tahun 1901 di Bandung oleh seorang dokter berkebangsaan Belanda. Lembaga pendidikan yang memulainya kini dikenal luas sebagai Sentra Wiataguna.

Karena didirikan oleh dokter Belanda, kurikulum pelatihan yang diterapkan pun sangat terstruktur dan mengadopsi metode pelatihan dari Eropa. Ini membuktikan bahwa dari segi historis, pijat tunanetra adalah profesi yang usianya bahkan lebih tua dari negara kita sendiri.

Belajar Anatomi Langsung dari Tenaga Kesehatan

Menjadi seorang pemijat tunanetra yang profesional tidaklah mudah. Mereka tidak asal menekan atau memijat tubuh klien. Di pusat-pusat rehabilitasi, siswa tunanetra harus melewati saringan pendidikan yang sangat ketat.

Memasuki tahun kedua pelatihan, mereka dibebani dengan materi ilmu kedokteran dasar seperti anatomi tubuh manusia, fisiologi, hingga patologi. Mereka harus menghafal anatomi otot (termasuk kepala dan ekor otot), anatomi saraf, tulang, hingga sistem cairan tubuh. Bahkan, materi-materi rumit ini diajarkan langsung oleh tenaga kesehatan profesional, seperti suster atau perawat, bukan sekadar pekerja sosial biasa. Tak heran, banyak siswa yang bertumbangan atau tidak lulus jika tidak mampu mengikuti standar keilmuan ini.

Pendekatan Ilmiah: Dari Titik Refleksi hingga Segment Massage

Selain mempelajari 60 titik refleksi pada telapak kaki yang mewakili organ-organ dalam tubuh, tunanetra juga mempelajari metode penyembuhan berbasis sains. Salah satu metode ilmiah yang dipelajari adalah teori segment massage.

Melalui teori ini, para tunanetra mempelajari sistem saraf tepi yang keluar dari ruas-ruas tulang punggung (vertebra) yang terkoneksi langsung dengan organ-organ tubuh tertentu. Pendekatan neurologi ini memungkinkan pemijat tunanetra untuk merangsang atau memberikan stimulus mekanikal pada tubuh guna menguatkan metabolisme dan fungsi organ klien.

Tantangan Stigma dan Regulasi Saat Ini

Sayangnya, tingginya disiplin ilmu yang dipelajari belum sejalan dengan pengakuan regulasi di Indonesia. Profesi ini sempat mengalami penurunan permintaan yang drastis pasca krisis moneter tahun 1998, ketika banyak pekerja yang terkena PHK beralih membuka usaha pijat refleksi berbekal buku panduan singkat dan alat pijat. Situasi ini menggeser pasar pemijat tunanetra yang kala itu tidak memiliki strategi promosi visual yang kuat.

Lebih ironis lagi, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan saat ini masih menempatkan pemijat tunanetra ke dalam kategori "penyehat tradisional" dengan Surat Tanda Penyehat Tradisional (STPT). Label ini membuat parameter keilmuan ilmiah (anatomi, fisiologi, neurologi) yang mereka pelajari dengan susah payah menjadi kabur, dan disamakan dengan metode pijat tradisional yang mengandalkan sugesti atau cara turun-temurun.

Kesimpulannya, saat Anda menggunakan jasa pijat tunanetra yang terlatih, Anda sebenarnya sedang ditangani oleh seorang terapis yang memahami anatomi dan sistem saraf tubuh Anda. Sudah saatnya kita menghargai profesi ini bukan karena belas kasihan, melainkan karena kualitas, kompetensi, dan ilmu pasti yang mereka miliki.


Referensi:

  • Kanal YouTube Persatuan Tunanetra Indonesia, "Eka Setiawan: Masa Depan Profesi Pijat Tunanetra: Mengapa Harus Ada LSP Pertuni?"

Tentang Penulis

Dimas P. Muharam

Peneliti di Pusat Riset Pendidikan BRIN

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.