Lompat ke Konten Utama

Hanya Seorang Pecinta

Dimas P. Muharam · · 19 menit baca

Kategori: KARFIKSI

Tag: cerpen

‘Warnet High Speed on-line 24 Jam non stop’. Tulisan hitam tebal yang tertera pada papan yang sudah agak kusam yang ku lihat saat Aku menengok ke sebuah bangunan kecil di pinggir jalan yang senggang. “Jadi kita ke warnet itu, beneran cepet enggak kayak tulisannya?” kata seorang perempuan cantik yang sejak tadi jalan bersamaku.
Sesaat ku pandangi dulu wajah oval yang dihiasi oleh alis tebal dan mata yang cemerlang itu yang kelihatan tetap menarik walaupun butir-butir keringat membasahinya di bawah terik matahari pukul satu siang. “Kayaknya sih begitu, udah cepet yuk, panas banget nih!” kataku segera bergegas menyeberang jalan menuju ke warnet itu.

Ku buka pintu kaca warnet dan angin sejuk dari Air Conditioner menyapu wajahku ketika ku langkahkan kaki masuk ke dalamnya. “Silakan masuk” kataku basa-basi kepada Fira yang mulai memasuki ruangan tersebut.

“Ada yang kosong mas?” kataku kepada seorang pria tengah baya yang kelihatannya sedang antusias sekali dengan layar komputernya. Sampai-sampai Ia berkeringat di suasana dingin ruangan ini. “Tuh yang ujung!” jawabnya dengan kesal. Sepertinya Aku telah menganggu konsentrasinya. Sebenarnya itu adalah pertanyaan yang tidak seharusnya ku tanyakan, karena ini sudah warnet langgananku dan tinggal pakai saja yang mana sedang tidak terpakai. Siang ini suasananya sepi dari 5 unit komputer hanya dua yang terpakai. Memang warnet ini pada waktu apapun selalu sepi karena tempatnya yang tidak strategis. Tapi aku suka di sini, karena kerahasianku dapat terjaga walaupun koneksinya tidak seperti yang tertera di plang nama. Fira menempati komputer di sebelahku dan tidak lama kemudian Ia berkata sedikit kesal. “Ah apaan, katanya high speed. Tapi nyatanya lemot abis nih!” ujarnya padaku. “Abis mau bagaimana, inikan satu-satunya warnet yang dekat dengan sekolah!” kataku menjelaskan. “ Sudahlah, just kidding kok!” katanya manis. “Ah nih guru Bahasa Indonesia pake suruh-suruh nyari atau bikin cerpen segala lagi, udah tahu gue paling kagak suka mbaca!. Eh Frans, gimana dong cara nyarinya!”, “Udah kalo gitu, elu buka aja http://www.google.co.id, terus ketikin kriterianya cerpen terus klik cari deh!, gampang kan?” kataku yang pada saat ku lihat ternyata dia sedari tadi bukannya mencari buat tugas malah buka-buka Friendster. Agak lama setelah aku memberikan petunjuk pada Fira, selama itu aku mengisi kekosongan dengan mengetik sebuah cerpen yang akan kujadikan tugas Bahasa Indonesiaku.

Konsentrasiku dalam menulis pecah ketika ku dengar ada suara yang memanggilku. “Frans, hei coba lihat sini dong!”, ternyata itu suara Fira yang mengejutkanku. “Ada apa, komputernya error?”, “Enggak, coba lihat cerpen-cerpen karya penulis ini. Coba baca, keren-keren banget deh!”. Aku menutup tulisanku sebelum menggeser tubuh untuk melihat layar komputer yang sedang digunakan oleh Fira. “Keren apanya?” kataku setelah beberapa lama membaca cerpen-cerpen tersebut. “Ah kamu itu memang enggak punya cita rasa seni tinggi ya, cerpen-cerpen ini keren-keren banget. Isinya nyentuh perasaan banget dan memberitahu tentang manusia yang dilihat dari berbagai sudut pandang serta berbagai seluk beluk kehidupan masyarakat!” jelasnya seperti menggurui. “Terus, kalo yang cerita cintanya nama cewenya pakai namaku lagi. Nih orang tahu aja kalau aku ini cantik. Memang betul sih!” katanya ke G-R an. “Ah, you are so narsis ya!, Aku rasa biasa-biasa saja dan kalau tentang nama Fira di situ, mungkin itu kebetulan aja kok!. Terus pake bilang kalo gw tidak punya cita rasa tinggi segala lagi, lah kamu sendiri gimana!” kataku menjatuhkan Fira yang sedang terbang. “Eh ini bukan narsis, jadi kamu enggak tahu ya kalau selama ini aku memang cantik, kasian deh!. Sudahlah, cuman bercanda lagi kok!” kata Fira cengar-cengir. “Terus…, kamu mau ambil tuh cerpen?”, “Untuk sekarang sepertinya iya, tapi berikutnya aku akan membuatnya sendiri. Oh iya, cara savenya di internet gimana nih?” Fira agak sedikit kebingungan. Aku membantunya untuk menyimpan cerpen tersebut ke disket dengan senang hati.

*****
Setelah sepuluh menit, Ia keluar dari kamar mandi. “Ah hari sabtu lagi, nanti malam minggu, waktu yang paling ku benci!” katanya menggerutu sambil mengenakan pakaian. Ia memang sangat membenci malam minggu, karena Ia beranggapan bahwa waktu itu adalah waktunya untuk bersenang-senang keluar rumah tapi Ia tidak dapat menikmati moment tersebut. Ia tak punya pacar, dan teman-temannya pada waktu sibuk dengan pacar-pacarnya masing-masing sehingga tidak ada orang yang dapat diajaknya untuk pergi keluar. Sehingga malam Minggunya hanya bisa Ia habiskan di rumah atau pergi keluar sendirian lontang-lantung kagak jelas gitu. Entah mengapa Ia sampai sekarang masih belum punya pacar, sebetulnya tampangnya cukup lumayan dan berprestasi di sekolahnya. Tapi tidak ada wanita yang cukup dekat olehnya dan memang Ia juga tidak berusaha untuk mendekati seorang wanita.

“Ini punya romi!”, “Enggak, ini punya Romi. Balikin sekarang!” terdengar suara dari adik laki-laki kembarnya yang sedang berkelahi di ruang depan. Ia merasa sangat terusik sekali dengan keributan tersebut. Di saat waktu yang paling dibencinya Ia mau segera tidur untuk beristirahat agar cepat-cepat waktu itu berlalu. “Romi, Roni, jangan berisik dong!, kakak mau tidur nih!” katanya sedikit membentak. Seperti tidak mendengar perkataannya, Romi dan Roni adiknya terus saja berisik berebut mainan di depan. “Diam dong, kakak mau tidur nih!”, “Mas, kok masih sore gini tidur sih?, keluar aja sini main sama adik-adikmu!” terdengar suara Ibunya berkata dari dapur. Ia merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk bangkit dari tempat tidurnya. Diambilnya jaket pergi dan tidak lupa sebatang pensil dan buku kecil catatannya yang selalu setia menemaninya kemanapun Ia pergi. “Aku pergi keluar dulu ya Ma!” katanya kepada Ibunya sambil melewati adik-adiknya yang masih berkelahi. “Jangan malam-malam ya pulangnya!” setengah berteriak Ibunya dari arah dapur sepertinya sedang mencuci piring.

Suasana masih ramai di rumah-rumah yang Ia lewati ketika Ia keluar rumah pada pukul 7 malam. Terlihat banyak anak-anak yang berlari-larian dan sebagian lagi ada yang bersama-sama orang tuanya menonton televisi di ruang depan. Ia terus berjalan mengikuti langkah kakinya yang entah akan membawanya kemana. Tiba-tiba langkah kakinya menghentikannya di daerah yang di sana terdapat masjid yang cukup kecil dan di sebelahnya terdapat pusat perbelanjaan yang biasa disebut Mall. Kemudian Ia melangkahkan kakinya ke masjid yang sangat sepi tersebut dan duduk di salah satu anak tangganya. Ia mengeluarkan buku kecilnya dan mulai menggores-goreskan pensil di salah satu halaman buku tersebut. Nalurinya menyuruhnya untuk mulai menulis sebuah esei tentang kota Jakarta ini. Kota seribu adzan tetapi juga adalah kota seribu kemaksiatan. Banyak sekali masjid tempat beribadah di sini, tetapi tetap masih ramai Mall yang penuh dengan perangkap setan dari pada memakmurkan masjid. Sebenarnya tiket untuk menuju surga itu sangatlah murah, tetapi malah tiket menuju neraka yang harganya mahal banyak sekali orang yang mengejarnya. Bertepatan saat Ia menyudahi ceritanya, adzan memanggil umat untuk shalat Isya berkumandang dari masjid kecil di mana Ia duduk sekarang. Hanya ada beberapa orang saja yang melaksanakan shalat di masjid tersebut, di mana suasana tetap ramai di Mall sebelah.

Setelah melaksanakan shalat Isya, Ia kembali mengikuti langkah kakinya yang akan membawanya ke suatu tempat. Ia terus melangkahkan kakinya dan tibalah Ia di taman dengan banyak kursi-kursi di dalamnya. Ia mendudukan dirinya di salah satu kursi dan memandangi sekeliling yang pada waktu itu suasananya remang-remang karena hanya diterangi oleh lampu penerangan yang kecil-kecil serta berjauhan. Samar-samar pandangannya menangkap beberapa pasangan muda yang tengah memadu kasih di kursi-kursi taman tersebut. Di taman itu semuanya duduk berpasang-pasangan, kecuali dirinya sendiri. “I love you Honey”, “I love you too”, “We’ll life together forever”. Terdengar sayup-sayup kata-kata tersebut dari belakang kursi yang tengah didudukinya. Ia memalingkan pandang dari hal-hal di sekitarnya, dan tangannya refleks mengeluarkan buku catatan untuk menulis sebuah cerita lagi tentang sebuah kisah cinta suci tanpa di nodai oleh hal-hal yang tidak pantas. Ia menulis tentang kebalikan daripada keadaannya pada saat ini. Ia membenci orang-orang yang sedang berpacaran dan kata-kata cinta yang keluar dari mulut mereka. Ia benci dengan kesepiannya ini sehingga Ia menulis tentang seorang pria yang sangat sempurna dan memiliki banyak pacar. Dengan cara itu Ia dapat melupakan kekesalahnya untuk sementara. Setelah selesai menulis, ia segera bangkit dari kursinya. Ia melewati pasangan yang sedang berjalan sambil bergandengan tangan mesra. “Aku mencintaimu sepenuh hidupku sayang!”, “Kita akan saling mencintai sehidup semati!”. Kata-kata itu membuat telinganya panas dan Ia mempercepat langkah meninggalkan tempat tersebut, sehingga berakhirlah tugas Sang Pecinta.

*****
“Sudah selesai kan tugasnya?, Jadi sekarang kita pulang…” kataku setelah membantu Fira mensave cerpen-cerpen dari internet ke disket. “Nanti dulu dong, aku masih mau mbaca cerpen-cerpen Pecinta yang lainnya nih!”, “Udah aja, nanti mbayarnya mahal lho!”, “Enggak apa-apa, ceritanya lagi seru nih!”. Aku melihat Fira membaca cerpen-cerpen itu di internet sepertinya seru sekali. Bola matanya yang indah bergerak dari kiri ke kanan dengan cepat. “Sudahlah, memangnya apa sih istimewanya dari cerita-cerita itu. Biasa-biasa saja kok!” kataku berusaha membuatnya selesai. “Sudahlah kamu tidak tahu, nanti dulu aku mau catat dulu alamat e-mail dari si Pecinta ini” Fira mulai mengeluarkan secarik kertas dari tasnya. “ pecinta_sejati@yahoo.com “ ucapnya lirih sambil menulis alamat e-mail itu dengan jari-jarinya yang lentik. “buat apa kamu catat alamat e-mail itu?” kataku memancing. “Aku ingin memberinya tanggapan dan juga kenalan. Sepertinya dia seumuran dengan kita deh kalau dilihat dari ruang lingkup ceritanya. Tapi kamu jangan cemburu ya!, nanti jealous lagi!”, “Enak saja, memangnya aku siapanya kamu!, pake jealous-jealous segala!” kataku berlagak sedikit tersinggung. “Sorry deh, cuman bercanda lagi kok. Segitu aja marah. Oh iya, kamu enggak ikut ngambil cerpen-cerpen itu? Aku kan tahu kamu enggak bisa sastra sama sekali!” kata Fira sedikit mencibir. “Sudah ada kok!” kataku menyakinkan. Aku memandangi Fira yang sedang memasukan kertas bertuliskan alamat e-mail tersebut ke dalam tasnya. Saat itu aku berfikir bahwa ia akan sangat terkejut jika tahu Siapakah Pecinta yang dikaguminya itu!. Kami berjalan ke arah mas-mas yang tadi sedang konsentrasi sekali dengan komputernya. Sekarang Ia tengah memandangi gambar-gambar hasil print outnya. “berapa mas semuanya?” tanya Fira kepada orang itu. “15.000 rupiah” kata Mas itu cuek. “Kok mahal banget sih!” Fira kaget. “Tuh apa kan aku bilang, makanya jangan lama-lama!” kataku menyalahkan. Kemudian Fira membayar tagihan tersebut dan bergegas menuju keluar. Sebelum pergi aku bicara dengan mas-mas tersebut. “Mas, ngeliatin apaan sih kayaknya seru banget?” tanyaku meledek. “Ah kamu anak kecil, mau tahu aja urusan orang dewasa!. Tuh cewenya udah keluar nanti ditinggal lho. Eh ngomong-ngomong, cewe kamu itu cantik juga, sexy lagi!” kata mas itu sambil memandangi Fira yang sudah berada di luar warnet. “Ah mas bisa saja, besok saya ke sini lagi ya!” kataku sambil lalu menuju keluar. Ku rasakan cuaca yang sudah mulai sejuk ketika aku keluar warnet kira-kira pukul 4 sore. “Kita mau naik atau jalan nih?” tanya Fira padaku ketika aku sampai di luar. “Jalan aja dulu ya, sambil nungguin ada angkot yang lewat”.

*****
Ia berjalan-jalan di suasana sore hari pada trotoar jalan yang sedang ramai. Langkah kakinya menyuruhnya untuk menuju ke rumah dengan cepat. Tapi tiba-tiba langkah kaki itu berhenti dan Ia menoleh ke seberang jalan. Di sana pandangannya menangkap ada seorang tunanetra yang kira-kira sebaya dengannya berdiri di pinggir jalan sambil mengacung-acungkan benda putih panjang yang dipegangnya. Nurani menyuruhnya untuk menyeberang jalan dan menghampiri tunanetra tersebut. “Kamu mau nyeberang atau nyegat angkot?” katanya ketika dekat dengan tunanetra tersebut. Ia melihat bahwa tunanetra tersebut masih mengenakan seragam sekolah dan menggendong tas punggung yang sepertinya baru pulang sekolah. “Mau nyeberang!” kata tunanetra tersebut dengan nada kelegaan. “Kalau begitu bareng saya saja ya!” katanya sambil mengandeng tangan tunanetra tersebut.

Setelah menyeberang, Ia berjalan beriringan bersama tunanetra tersebut karena ternyata tujuannya sama. Dalam perjalanan Ia berkenalan dengan tunanetra tersebut yang bernama Fatir. Lalu Ia teringat dengan temannya Riza. Riza juga seorang tunanetra dan tinggal dekat dengan rumahnya serta satu sekolah pula. Riza sering bercerita padanya tentang bagaimana perasaannya sebagai seorang tunanetra. Katanya bahwa Ia sebenarnya pada saat menyeberang atau berjalan misalnya, Sebenarnya Ia dapat melakukannya sendiri. Tetapi Ia akan sangat merasa lega jika ada seseorang yang membantunya dalam berjalan. Ia juga ingin mengetahui seberapa kepedulian orang-orang di sekitarnya terhadap kekurangan yang dimilikinya. Ia sudah sangat menerima dengan kekurangan yang diberikan Tuhan terhadapnya. Karena di balik kekurangan tersebut, pasti terdapat hikmah dan kelebihan yang tidak semua orang memilikinya. Tapi Ia tidak menyerah dengan kekurangan yang dimilikinya sekarang ini, Ia malah terus bersemangat untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, agar mendapatkan keterampilan dan pekerjaan yang layak di kemudian hari. Lalu Ia bilang bahwa pasti ada orang yang mengatakan tentang dirinya ‘buat apa sekolah tinggi-tinggi, toh nanti tunanetra akan jadi tukang pijat juga!’. Hal itulah yang ingin dia rubah, bahwa seorang tunanetra tidak hanya bisa jadi tukang pijat saja, tetapi dapat menjadi transleter, jurnalis, ahli komputer, programming, ekonom, sejarawan, dan lain-lain yang dapat dilakukan orang yang tidak memiliki kekurangan. Kemudian bila ada orang yang mencela dirinya pada saat dirinya lewat secara terang-terangan atau bisik-bisik, Ia hanya berkata dalam hati agar Tuhan tidak membuat orang yang telah mencemoohnya itu seperti dirinya. Karena belum tentu orang itu dapat menjalani cobaan yang sekarang Ia jalani ini. Semangat, kebesaran hatinya, dan ikhtiarnyalah yang sangat mengagumkan.

“Mas, terima kasih ya udah mau nolongin saya. Jarang-jarang lho ada orang yang mau nolongin kami” ucap Fatir. Kata-kata Fatir memecah ingatannya tentang Riza, dengan terkesiap Ia menjawab. “Kita sebagai manusia kan harus saling tolong menolong, apa lagi saya yang diberi sedikit kelebihan oleh Tuhan” katanya kepada Fatir. Ia jadi teringat lagi dengan kata-kata Riza, Bahwa misalnya di sekolah jarang banget ada orang yang nolongin buat jalan nyeberang gitu misalnya. Banyak alasannya ada yang takut merusak image lah, gengsi, dan alasan lainnya yang sebenernya tidak rasional. “Terima kasih ya mas, rumah saya di situ!” kata Fatir ketika Ia tiba-tiba berhenti di depan rumah yang berpagar besi. “Benar di sini rumahnya?”, “Ia bener kok mas, saya tidak salah lagi. Sudah biasa kok. Terima kasih ya sekali lagi” kata Fatir sambil masuk ke dalam rumah. “Iya sama-sama, saya juga ingin menjadi golongan orang-orang yang sedikit itu kok!” katanya masih memperhatikan Fatir yang sedang melangkah ke dalam rumahnya. Kemudian Ia berjalan meninggalkan tempat tersebut sambil berfikir dalam perjalanan. Ia sebetulnya tidak perlu lagi meragukan kemampuan tunanetra tersebut untuk mendeteksi sesuatu. Karena mereka memang diberi kekurangan tidak bisa melihat dengan mata, tetapi mata hati mereka terbuka yang dapat merasakan sesuatu di sekitarnya dengan lebih peka.

Sudah mendekati jalan dekat rumahnya, tiba-tiba kakinya menyuruhnya untuk berhenti di samping pohon yang rindang. Ia menuju ke bawah pohon tersebut dan duduk di kursi bersantai yang tersedia. Sambil menikmati sejuknya udara sore dan melihat sunset, dikeluarkannya buku catatannya seperti biasa dengan pensil yang selalu setia menggores lembar demi lembarnya, dan kembali menjadi seorang Pecinta.
*****

Aku berada di dalam kelas pada saat jam istirahat. Duduk tertegun menopang dagu menatapi kerumunan anak-anak perempuan yang sedang ngerumpi seperti biasa. Sebenarnya bukan kerumunan itu yang ku lihat, tetapi ada seorang gadis yang sangat menarik perhatian hatiku di sana. Perempuan berambut hitam panjang, berwajah oval yang menjadi lebih cantik lagi dengan alisnya yang indah dan matanya yang cemerlang sempurna. ‘Hanya di sini, di dunia hayalku aku bisa memilikinya. Hanya di dalam lamunanku aku bisa mewujudkan angan-anganku. Inilah aku, hanya bisa berharap sesuatu yang tidak akan tercapai dan hanya bisa menguburnya dalam-dalam di sini’.

“Woy, ngelamunin apaan nich?, pasti lagi ngelamunin yang enggak-enggak ya!”. Tepuk Fira di pundakku. Lamunanku buyar, dan segera ku palingkan pandangan kepadanya. “Eh kamu, enggak kok aku lagi mikirin pelajaran matematika nanti!” kataku menyangkal sambil tergagap. “Oh gitu, aku kira mikirin aku!” kata Fira bercanda sembari mengambil tempat duduk di hadapanku. “Ada apa sih pake ngagetin segala?” kataku sedikit kesal dengan kenarsisannya itu, yang pada kenyataannya benar juga. “hai jangan marah gitu dong, just kidding kok!. Oh iya, nanti pulang sekolah temenin aku ke warnet lagi ya!. Itu warnet high speed yang ternyata lemot abis itu” katanya dengan menunjuk-nunjukan jari telunjuknya ke arah luar. “Emang kenapa mau ke situ lagi, kangen sama mas-mas yang jaga warnet ya!” kataku meledek. “Ah sama mas-mas yang suka ngeliatin gambar gituan itu, sorry aja ya!” kata Fira dengan ekspresi jijik. “Terus” kataku dengan sedikit tertawa. “Ya pengen buka internet aja di sana. Kan yang tempatnya deket dan cukup murah di mana lagi!. Aku pengen mbaca cerpen-cerpennya si Pecinta lagi nih. Dan juga mau kirim e-mail biar saling kenal” kata Fira bersemangat. “Ah ngapain sih cerpen-cerpen cupu gitu di baca. Nanti si siapa tuh namanya, Pecinta , jadi ke G-R an lho!” kataku meremehkan. “Udah, nanti pokoknya kamu temenin aku ke sana ya!. Pasti bisa kan?” Fira berkata sambil berjalan menuju ke mejanya. Aku hanya bisa menganggut kecil menyetujui sambil berkata dalam hati “Andai kamu tahu siapa orang yang kamu maksud…”.

Seperti biasa, di warnet ketika kami baru sampai aku melihat mas-mas yang sedang seru sekali dengan layar komputernya. Aku memilih salah satu komputer di sebelah Fira yang seperti biasa jarang ada yang memakainya karena kecepatannya yang bikin ngantuk. Fira tampak anteng aja dengan komputer yang ada di sebelahku. Sesekali ku intip komputernya sedang membuka apa Dia. Saat ku intip, kulihat Ia sedang membaca cerpen-cerpen dari Pecinta yang edisi berikutnya dan Fira kelihatan sangat serius sekali. Lalu pada saat ku intip berikutnya, ku lihat layar itu memaparkan tampilan ketika mau menulis e-mail. Ia menulis bahwa Ia sangat suka sekali dengan karya-karya dari Pecinta, dan mengajaknya untuk berkenalan lebih jauh.

Setelah dua jam Fira berkutat dengan komputer di depannya, Fira mengajakku untuk pergi dari warnet tersebut. Seperti biasa, Aku menemui mas-mas itu sedang melihat-lihat hasil print out yang baru keluar dari printernya. Kelihatannya di kepalanya tersimpan sejuta pikiran tentang gambar yang sedang dilihatnya. Setelah membayar tagihan internet, Fira langsung keluar warnet meninggalkanku di belakang. “Semakin hari, cewe elu itu makin sexy aja Frans!” komentar mas-mas penjaga warnet itu. Aku tidak memperdulikan komentar tersebut dan langsung keluar menyusul Fira.

*****
Di malam hari, warnet itu masih tetap saja lenggang pengunjung. Ia masuk ke dalam warnet itu dengan penjaga warnet yang sudah agak terkantuk. “Mas jangan tidur, nanti kalau tidur saya enggak mbayar lho!” katanya meledek. “Coba aja kalau berani!” ancam mas itu yang kepalanya masih tertunduk di atas meja.

Dipilihnya salah satu komputer yang tersedia, segera Ia aktifkan browser internet explorer. Lalu dihubungkannya flash disk ke CPU yang di dalamnya terdapat karya-karya terbarunya untuk dipublish di internet. Untuk beberapa saat Ia sibuk mengklak-klik mouse dan memindahkan teks yang ada dalam file ke browser. Setelah semuanya beres, dikliknya ‘Publish button’. Ia sudah mengetahui kecepatan koneksi internet di warnet itu, disandarkannya kepala di atas meja komputer. Mencoba untuk menghilangkan sedikit rasa kantuk yang sudah menyerangnya sedari tadi.

Setelah beberapa menit, Ia terbangun dari tidur ayamnya di atas meja komputer. Ia melihat halaman konfirmasi yang menyatakan bahwa karyanya telah terkirim. Kemudian tanpa ragu ia tutup internet explorer dan segera bangkit dari tempat duduknya. Saat itu, Ia merasa seperti ada sesuatu yang terlupa. Dilihatnya sekeliling, hanya ada dua orang di warnet itu selain dirinya. Mas penjaga warnet yang sedang tertidur di mejanya, dan ada seorang anak remaja yang sedang asyik bermain game on-line. Kemudian Ia duduk kembali dan membuka situs webmail dirinya. Di kotak user name, ia mengetikan alamat e-mail, kemudian memasukan passwordnya. Setelah e-mail itu terbuka, Ia melihat ada satu e-mail baru. Ia buka e-mail tersebut, membaca sekilas, dan menuliskan beberapa kalimat. Setelah selesai, surat itu Ia tutup dengan kata-kata “Nice to meet you, From Sang Pecinta”, kemudian klik ‘send’.

*****

Fira duduk manis di deretan depan kursi-kursi pada sebuah gedung pertemuan. Ia memenuhi undangan dari sang Pecinta untuk hadir di acara peluncuran buku novel perdananya. “Ah enggak enak juga datang sendirian ke sini. Tapi nanti kalau ngajak frans, dia pasti bisa jealous abis. Lagi pula dia kan enggak suka sama karya-karya dari pecinta. Beruntung banget gw bisa dapat special invatation dari Sang Pecinta pujaan gw!” kata Fira dalam hati sambil senyum-senyum simpul.

Kursi-kursi di gedung itu sudah penuh terisi. Hanya beberapa saja yang masih kosong dan satu di antaranya terletak tepat di samping Fira. Hampir semua dari tamu-tamunya adalah remaja. Mereka semua mempunyai tujuan yang sama seperti Fira, penasaran seperti apa sosok penulis muda berbakat yang menggunakan nama Sang Pecinta itu.

“Sesaat lagi kita akan bertemu dengan seorang Penulis Muda berbakat yang telah menulis banyak cerpen sebelumnya” kata-kata itu terdengar dari seorang MC acara tersebut. “Sekarang penulis ini akan meluncurkan novel pertamanya. Novel ini pasti sudah kita tunggu-tunggu. Karena adalah puncak dari semua cerita-cerita menyentuh hati yang telah Ia buat sebelumnya” lanjut MC itu lagi. “Baiklah kalau begitu, tanpa kita tunggu lama lagi. Kita sambut penulis muda berbakat, Sang Pecinta!” kata MC itu diiringi dengan tepuk tangan riuh dari hadirin.

Fira melihat seorang pria sebaya dengannya melangkah di atas panggung tepat dihadapannya. Pria itu menatap, dan tersenyum padanya. Paras pria itu cukup lumayan, prilakunya bersahaja, dan kelihatan sangat simpatik. “Kok sepertinya orang itu mirip sama orang yang aku kenal ya?. Oh iya, dia mirip sekali dengan Frans!” bisik Fira dalam hati.

Sang Pecinta mengambil Microphone yang diberikan oleh MC dan mengucapkan sepatah-dua patah kata.
“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pembaca yang telah membaca karya-karya saya sebelumnya. Semua karya itu berasal dari hati, merupakan ungkapan perasaan mengenai segala sesuatu yang saya alami sebagai manusia”. Sang Pecinta menghentikan kata-katanya sejenak dan tersenyum ke arah fira. Fira merasa semakin tersanjung sehingga Ia melupakan keragu-raguannya tentang Sang Pecinta.

“Sebenarnya buku perdana saya ini saya persembahkan buat seseorang.” Sang Pecinta melanjutkan kata-katanya. “Karya ini saya persembahkan untuk seorang wanita, yang sangat saya kagumi selama ini, yang sangat sempurna, dan menjadi seluruh inspirasi dari karya-karya saya. Oleh karena itu, sebagai bentuk penghormatan saya kepadanya, dengan penuh kerendahan hati, saya mohon perempuan yang sangat saya kasihi itu, untuk bersama saya ada di panggung meluncurkan buku perdana saya ini.” Sang Pecinta kembali menghentikan kata-katanya dan tersenyum ke arah Fira. Fira sudah sangat yakin dan ingin berdiri ketika ia melihat ada seorang perempuan cantik sebaya dengannya melangkah menuju panggung di gang antar kursi di sebelahnya.

Kemudian di tengah rasa kehancurannya itu, Ia mendengar ada suara laki-laki berbicara di kursi sebelahnya. “Ra, kamu di sini rupanya. Aku diberitahu Ibumu bahwa kamu datang ke acara peluncuran buku si Pecinta aneh ini. Kok kamu enggak bilang sebelumnya sih, kan kita sudah janji sebelumnya!” kataku agak tersengal-sengal. Fira menatapku dengan ekspresi yang masih penuh tanda tanya. Aku yang baru datang dipandanginya bergantian dengan Sang Pecinta itu. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang baru saja Ia alami sekarang.

Tentang Penulis

Dimas P. Muharam

Peneliti di Pusat Riset Pendidikan BRIN

Website / Sosial Media

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

  • The Secret Admirer

    Kisah seorang pemuda yang menjadi pemuja rahasia seorang gadis di sekolahnya. Hingga pada suatu saat ia memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya. Selamat membaca.

    Dimas P. Muharam

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.