Kalau ada pertanyaan, hal sulit apa yang pernah saya lakukan sebagai orang tunanetra, maka jawabanya adalah berjalan di ubin pemandu di antara ramainya pedagang kaki lima. Ramai sebetulnya tidak jadi perkara, banyak pedagang yang jualan artinya secara fiskal ekonomi lagi berkembang. Masalahnya, pedagang-pedagang ini mengambil hak akses orang tunanetra, lantaran berdagang di jalur ubin pemandu guiding block.gudi
Ubin pemandu atau “Guiding-Block” adalah jalur kuning yang biasa ditemui pada tempat umum kayak stasiun, kantor pemerintah dan jalan pedistrian. Jalur kuning itu berfungsi untuk menjaga lalu lintas orang tunanetra yang berjalan. Meski Ridwan Kamil sempat bilang kalau ada Ubin yang dipasang salah, saya tetap berjalan pakai ubin itu.
Biasanya kalau ke kantor, keluar dari kereta saya akan dibantu petugas sampai ketemu abang ojol di depan sebuah toko donat di daerah tersebut. Tapi, kalau pulang, saya harus turun di depan toko donat itu, dan mencari ubin pemandu yang mengarah ke stasiun. Jangan kira mencari ubin pemandu itu mudah. Saya masih butuh bantuan orang lain untuk sampai di ubin pemandu.
Untungnya ketika berjalan di atasnya, Saya tidak pernah tabrakan dengan tunanetra pengguna ubin pemandu lainnya. Tapi, saya sempet rame sama pedagang tua yang buka lapaknya di atas ubin pemandu.
Mungkin, nenek itu merasa terancam gara-gara saya berjalan tepat lurus mengarah ke dagangannya. Ssebagai pedagang yang baik, pasti dia berusaha melindungi dagangannya segenap jiwa raga. Maka, auman singa itu menerpa saya. Padahal ubin itu yang menuntun saya mendekatinya.
Tak terima dengan bentakannya, saya membalas dengan keras pula, “Ini jalannya, BU!” “Bukan, sono tuh jalannya! Lu dikasih tahu juga bantah!” Seru inenek itu dengan trengginas.
Daripada nantinya viral dan ditulis diberita dengan judul, “Adu mulut antara tunanetra dan nenek tua.” Akhirnya, saya arahkan tongkat keluar dari ubin pemandu dan mulai berjalan dengan mengandalkan perasaan.
“Awass mas. Di sini ada dagangan saya.” lepas dari mulut singa malah masuk ke mulut buaya. Bukannya bebas dari pedagang, malah saya nabrak pedagang lainnya. Namun, pedagang kali ini masih baik. Ketimbang saya nabrak-nabrak pedagang sepanjang jalan, dia membantu saya sampai di tujuan.
Dari situ masalah selesai. Saya bisa bergandengan aman. Naik kereta dengan nyaman, dan pulang dengan selamat. Bertemu istri dan anak yang menunggu berjam-jam di rumah.
Namun, sepertinya ada hal yang agak mengganjal. Memang saya bisa pulang. Tapi semisal saja saya menabrak salah satu lapak pedagang, lalu barangnya jadi berantakan, dan tidak layak jual, “Apakah mereka bisa pulang dengan tenang seperti saya?”
Jawaban pastinya, saya tidak tahu. Ini cuma bayangan saya ketika mereka pulang tapi tidak ada penghasilan yang mereka bawa ke rumah. Tentu, sama seperti diriku, anak istri atau mungkin kerabat yang lain, bakalan kecewa. Hanya saja saya bagaimanapun tetap tiap bulan, walaupun di rumah saja, akan ada uang transferan yang masuk. Dengan begitu, saya masih bisa beli jajan untuk anak, dan bayar cicilan rumah. Sedangkan mereka, para pedagang kaki lima, kalau tidak membawa uang, maka keluarganya ada potensi tidak makan.
Sebetulnya harus ada jalan tengah untuk mengatasi hal itu. Akses untuk orang buta harusnya tak menghambat hak ekonomi orang lain. Begitu pula sebaliknya, tentu dalam mencari mata pencaharian, janganlah pula menghalangi akses untuk disabilitas.
Saya tahu bahwa makan adalah cara manusia untuk bertahan hidup. Baik saya dan para pedagang kaki lima yang ada di trotoar juga butuh asupan nutrisi agar tetap semangat menjalani hari-hari. Tapi, kalau enggak ada yang ngomelin para pencuri suaka orang buta, maka, hal ini akan terus terjadi.
andai kata pedagangnya membantu saya, itu tidak akan jadi masalah. Saya pasti tidak bakalan nabrak rombong bakso, misalkan. Tapi, kalau yang saya hadapi adalah pedagang tukang ngomel dan tidak mau bantu, harusnya ada perlawanan. Dan, kalau bisa saya dibantu SATPOL PP, kan mereka penegak Perda.
Sebagai penegak perda, pasti menertibkan pedagang nakal adalah hal yang mudah. Jelas dalam aturan manapun, pasti ubin pemandu yang kuning atau apalah warnanya itu, digunakan seluas-luasnya untuk akses orang buta. Untuk itu pedagang nakal perlu ditindak. Entah dengan diberikan pemahaman, lapak baru atau ya mengangkut mereka dan dilatih menjadi pedagang baik hati dan berakhlak mulia.
EASTER EGG DITEMUKAN!
Ketik kode BERKARYA-LITERASI-1838
Buruan! Sisa kuota hanya untuk 20 orang tercepat.

