Lompat ke Konten Utama

Friendship

Dimas P. Muharam · · 21 menit baca

Kategori: KARFIKSI

Tag: cerpen

Aku tiba di kota Kembang ini kira-kira 3 tahun yang lalu. Tujuanku datang ke kota ini adalah untuk melanjutkan studi tehnik elektroku ke salah satu universitas negeri yang semua orang pasti sudah tahu namanya. Aku bisa meneruskan studi ini karena mendapatkan beasiswa yang ku dapatkan dari prestasiku selama berada di SMA. Aku bersekolah di salah satu SMA favorit di Jakarta yang di sana aku mendapatkan prestasi terbaik sehingga dapat meneruskan cita-citaku studi di institut itu. Aku berasal dari keluarga yang bisa bibilang pas-pasan. Dibilang kaya tidak banget, dan jika dibilang kekurangan ya tidak juga. Oleh karena aku senang sekali mendapatkan beasiswa itu karena jika tidak, mungkin cita-citaku akan pupus di tengah jalan.

Karena tempat tinggalku cukup jauh yaitu di kota Jakarta, aku memutuskan untuk kost di Kota Bandung ini. Aku dari kota Jakarta pergi ke Bandung naik kereta api karena itulah angkutan yang paling murah biayanya. Nanti di sana aku akan mencari kos-kosan yang letaknya paling dekat dengan kampus dan kalau bisa paling murah sewanya. Di dalam kereta, aku mengambil tempat duduk di barisan yang tengah karena kata orang tuaku itulah tempat duduk yang paling aman jika sedang ada di dalam kendaraan. Setelah aku memilih tempat duduk yang dekat jendela, aku merasa sangat senang sekali. Karena selain bisa melihat-lihat pemandangan di luar, nanti juga akan mendapat banyak angin saat kereta berjalan, maklum saja kereta kelas ekonomi kalau lagi jalan anginnya banyak banget malah bisa bikin enter wind (masuk angin), tapi kalau lagi berhenti panasnya minta ampun. Aku merogoh ke dalam tas bawaanku untuk mengetahui apa saja yang dimasukan oleh Ibuku ke dalamnya. Di dalamnya ada tasbih yang pasti diselipkan ayahku di dalamnya. Mungkin agar aku tetap ingat berdo’a dan shalat di sana. Walaupun pengetahuan agamaku tidak terlalu bagus, tapi untuk do’a dan shalat lima waktu aku tidak pernah meninggalkannya. Aku berkata dalam hati “Tenang aja pak!, aku akan tetap seperti Sahrul yang sekarang”. Lalu di dalamnya ada bekal makan dan minuman untuk di perjalanan, uang selama aku di sana, dan foto keluargaku. Foto ini akan ku simpan untuk mengobati rindu selama di sana, “Thanks mom!”. Tepat sebelum kereta itu berangkat, ada seorang laki-laki yang mendekati, kemudian ia duduk di tempat duduk sebelahku yang masih kosong. Aku sepintas mengamati laki-laki itu. Sepertinya umur laki-laki itu sebaya denganku, lalu tampangnya agak awut-awutan dan kelihatan seperti anak berandal. Tapi kalau dilihat dari pakaiannya, sepertinya bajunya itu harganya mahal dan kopernya juga bermerek. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke luar berharap bisa menghirup segarnya udara pagi yang belum terpolusi di kota Jakarta dan terus mengamati perubahan suasana yang terjadi saat kereta mulai melaju.

Saat aku mulai terpana dengan pemandangan indah hamparan persawahan daerah Jawa Barat dan mulai mengantuk, laki-laki di sebelahku itu menepuk pundakku dan berkata “Hai, kamu mau ke Bandung juga?”. Aku menjawab dengan setengah terkejut “Iya!”. “Iya lah!, massa udah tahu kereta jurusan ke Bandung gini mau ke mana lagi!” aku menambahkan dalam hati. Lalu ia bertanya lagi “Di Bandung kamu mau ngapain?”. Aku menjawab “Mau nerusin studi”. “Oh gitu, sama dong!” ia menambahkan. Lalu kami saling mengobrol dan bertukar pengalaman selama perjalanan menuju Bandung. Ternyata orang itu asyik diajak ngobrol. Dari tampangnya yang agak menyeramkan, ternyata hatinya itu baik. Ini membuat aku lega, karena tadinya aku merasa orang ini akan berbuat jahat padaku. Setelah tahu itu, jadinya aku mulai bisa mengajukan pertanyaan padanya. Yang tadinya hanya dia terus yang bertanya padaku sedangkan aku hanya bisa menjawab saja. Dari pembicaraan kami, aku tahu bahwa ia bernama Soni dan di sana akan melanjutkan studinya ke institut yang sama denganku. Tetapi dia berbeda jurusan yaitu ia ke Tekhnik mesin.
***
Tanpa terasa, 1,5 jam telah berlalu perjalanan antara Jakarta-Bandung. Kereta telah tiba di stasiun Kota Bandung. Aku berkata dalam hati “Hallo kota Bandung, ibukota priangan. Tempatku menuntut ilmu dan mengadu nasib nanti. Semoga aku kerasan di kota ini”. Saat kereta berhenti, Soni mengajakku untuk keluar dari kereta untuk turun ke stasiun. Aku membantu Soni yang sepertinya agak kesusahan membawa koper-kopernya yang lumayan banyak. Aku bertanya “Son, kok kamu enggak naik pesawat aja sih?”. Ia menjawab dengan ekspresi sedang keberatan beban “Ah ini semua karena Mamaku, ia pengen agar aku jadi mandiri nanti di kota baru ini”. “Oh begitu!. Memang bagus sih inisiatif dari Ibumu itu”. Aku ikut memasukan koper-koper Soni ke bagasi taksi yang sudah menunggu di depan stasiun. Soni berkata “Thanks ya, by the way kamu mau nyari kos-kosan kan?. Bareng aja sama gw nyarinya pake taksi”. “Ah tidak usah terima kasih. Aku mau nyari sendiri aja. Nanti ngerepotin!”. “Ah enggak kok, tapi kalau kamu mau nyari sendiri ya udah. Good luck ya!”. “Trims!” aku menjawab sambil melambaikan tangan melepas kepergian Soni dengan taksinya. Aku langsung menuju ke terminal terdekat untuk naik bus yang akan mengantarkanku ke daerah dekat kampus baruku.

Seperti biasa aku langsung memilih tempat duduk di barisan tengah dan dekat jendela agar bisa merasakan udara pagi di kota Bandung yang sangat sejuk. Berjalan kira-kira beberapa menit, bus itu berhenti kembali untuk mengambil penumpang. Aku melihat ada seorang pemuda yang umurnya kira-kira sebaya denganku yang mendekati tempat dudukku yang masih kosong. Aku mengamati wajah pemuda itu, wajahnya memancarkan kesejukan dan sebelum duduk ia mengucapkan salam dan tersenyum padaku. Aku membalas salam tersebut dan mengajaknya untuk berjabat tangan. Dari kelihatannya sih pemuda ini orang yang agamanya bagus dan sopan pula. Kami mulai berkenalan dan bercakap-cakap. Percakapan kami tidak terlalu rame seperti aku mengobrol dengan Soni di kereta tadi. Orang ini berbicara dengan logat Sunda kental dan tutur katanya sangat sopan. Tidak seperti Soni yang kalo udah ngomong nyerocos terus. Dari percakapan kami, aku tahu bahwa nama pemuda itu Armand dari Tasik. Ia ternyata juga mau melanjutkan studinya di institut yang sama denganku. Tapi dia beda jurusan dengan aku lagi, dia jurusannya Tehnik Sipil. Tanpa terasa kami telah sampai di terminal tempat kami harus turun. Aku turun bersama Armand. Pada saat aku turun, aku disambut dengan sejuknya udara Bandung walaupun saat itu mulai banyak orang di terminal itu dan matahari mulai meninggi. Aku berpisah dengan Armand setelah kami saling mengucapkan salam dan berjabat tangan.

Aku mulai bergegas untuk mencari-cari tempat kost yang cocok dengan kriteriaku selagi matahari Bandung belum begitu menyengat. Setelah beberapa kali aku ke tempat kos-kosan, ternyata tempat itu tidak ada yang cocok denganku, yang sudah penuh lah, harganya terlalu mahal, atau terlalu jauh dan susah transportasinya dengan kampusku. Selagi aku masih berjalan di bawah teriknya Matahari Bandung dengan perasaan yang sedikit gusar, aku mendengar suara adzan di kejauhan dan memutuskan untuk Shalat Dzuhur dahulu baru mulai lagi melanjutkan pencarian. Aku menuju ke masjid terdekat dan setelah shalat aku berdo’a “Ya Allah, izinkanlah aku untuk menuntut ilmu di kota ini. Engkaulah tuhan yang mengetahui segalanya. Berilah aku yang terbaik untuk tinggal di kota ini. Maka terimalah do’a ku”. Setelah shalat dan berdo’a, aku merasa lapar dan memutuskan untuk mengganjal perut dulu di warung makan dekat masjid. Pada saat aku sedang makan, si penjaga warung bertanya padaku.

Penjaga warung : “Ujang orang baru ya di sini?”.
Aku berkata : “Iya mang, saya mau kuliah di sini. Saya dari Jakarta”.
Penjaga warung : “Oh begitu, tinggal di mana ujang di sini?”.
Aku berkata : “Belum ada mang, saya sedang mencari-cari tempat kost yang cocok dengan saya”.
Penjaga warung : “Oh kalau itu ada di sini. Itu kostnya Pak Rusli. Yang di belakang Masjid itu. Di sana yang tinggal anak-anak kuliahan semua. Harganya tidak terlalu mahal dan mudah transportasinya”.
Aku berkata dalam hati : “Terima kasih Ya Allah, Engkau telah memberikan petunjuk padaku”. Lalu aku berkata “Terima kasih ya mang atas informasinya.

Aku langsung menghabiskan sisa makananku dan membayarnya dengan lebih karena saking senangnya dan juga sekaligus sebagai tanda terima kasih pada si Emang. Aku langsung mencari tempat kos-kosan itu seperti yang telah diinformasikan si Emang. Tempat itu akhirnya ketemu dan aku masuk ke dalamnya untuk ketemu dengan Pak Rusli si empunya kost. Aku bertemu dengan Pak Rusli dan langsung akrab dengannya karena ia orang yang sangat ramah dan bersahabat. Aku berkeliling untuk melihat keadaan tempat kost itu kemudian langsung menanyakan harga sewa untuk sebulannya. Kata pak Rusli Rp 150.000,00. Aku langsung setuju karena itulah harga termurah yang aku temui selama aku mencari tempat kost di kota ini dan juga karena tempat kostnya yang cukup bagus dan terawat. Aku langsung meletakan barang-barangku ke dalam kamar yang akan menjadi kamarku untuk kira-kira beberapa tahun. Aku langsung merebahkan diri ke tempat tidurku. Ternyata kasurnya cukup empuk dan aku langsung terlelap karena kelelahan setelah seharian berkeliling mencari tempat kost.

Aku terbangun ketika mendengar adzan ashar telah berkumandang di masjid dekat tempat kost baruku. Aku langsung berganti pakaian dan bergegas menuju masjid untuk Shalat. Setelah Shalat, aku agak kaget karena aku diajak bersalaman dengan orang yang sepertinya pernah kutemui sebelumnya. Ah!, Arman ternyata. Aku menanyakan mengapa ia berada di daerah ini. Katanya ia kost juga di kos-kosan yang sama denganku. Dan ia ternyata sudah berputar-putar mencari tempat kost yang cocok sebelumnya seperti aku. Dan ia tiba setelah aku masuk ke kos-kosan itu. Aku menjadi sangat senang. Karena aku sudah mempunyai teman di kota ini yang satu kost denganku dan satu kampus pula. Pada saat aku kembali dari Masjid bersama Arman, aku melihat di dekat pintu masuk kost ada seorang pemuda yang wajahnya agak tidak menyenangkan. Lalu pemuda itu berkata “Hai rul, kok kamu ada di sini?”. Aku baru teringat, ternyata dia itu Soni pemuda yang kutemui di kereta menuju Bandung. Aku menjawab “Seharusnya aku yang bertanya begitu. Ngapain kamu ada di sini.”. Soni menjawab “Aku mau kost di sini”. “Hah mau kost di sini?. Enggak salah. Ini kan tempat kost yang enggak level sama uang kamu!”. Ia menjawab “Aku dikasih sedikit uang aja sama Mama. Katanya biar bisa mandiri. Jadinya cari yang murah-murah juga deh!”. Aku merasa lebih senang. Karena aku dapat teman satu lagi di kota yang baru sekali bagiku. Aku tidak lupa mengenalkan Arman kepada Soni. Armand sepertinya agak tidak suka melihat Soni, mungkin karena tampang Soni yang tidak meyakinkan. Aku dan Armand meninggalkan Soni yang juga mau menuju ke kamar kostnya sendiri. Setelah jauh dari Soni Armand berkata “Rul, kamu harus hati-hati dengan si siapa namanya?, oh iya Soni itu!”. “Emangnya kenapa?”. Soalnya kelihatannya Soni itu anak yang enggak bener”. “Ah tidak juga. Aku sudah kenal dia di kereta. Memang tampangnya itu agak sedikit berandal, tapi hatinya itu baik banget kok!”. “Oh begitu ya, aku coba bersahabat dengan dia deh” Armand masih berbicara dengan nada yang tak yakin.
***
Awal-awal kuliahku di kampus baru berjalan dengan lancar. Prestasiku lumayan bagus di kelas. Aku juga dapat kerja sambilan di kota ini sebagai guru privat untuk anak-anak SD dan SMP yang mengajari ilmu-ilmu eksakta. Aku selalu belajar bersama dengan Soni dan Armand walaupun kami berbeda jurusan. Armand itu mahasiswa yang cukup cerdas. Ia sering membantuku walaupun mata kuliah kami berbeda. Lah beda lagi dengan Soni, dia ini orangnya kalau lagi belajar kebanyakan mainnya dari pada belajar dan banyak bercanda pula. Oleh sebab itu Armand sampai sekarang masih sedikit tidak suka dengan Soni. Soni itu orangnya beridiologi radikal sayap kiri. Jadi orangnya tidak mau tunduk dengan peraturan-peraturan kapitalis selama ini. Apa lagi setelah ia disuruh mandiri oleh orang tuanya, rasa persamarataan derajat dan sosialis dari Soni itu semakin besar karena ia sekarang tahu bagaimana rasanya jadi orang yang pas-pasan. Soni itu anaknya sangat gaul, bisa menempatkan diri di mana aja dan suka banget sama musik rock dan metal gitu. Oleh karena itu tampang dari Soni agak awut-awutan karena katanya biar merakyat gitu. Biar bisa diterima di manapun dia menclok. Berbeda sekali dengan Armand, ia sangat religius, tidak mau membantah kaidah-kaidah yang sudah tercipta di dunia selama ini. Dia itu orangnya beridiologi moderat sayat kanan. Jadi enggak mau segala sesuatu yang serba radikal dan aneh-aneh. Dia beranggapan segala sesuatu yang sudah ada selama ini harus diikuti sebagai pandangan hidup masyarakat. Perilaku yang berbeda dengan pandangan umum masyarakat itu adalah sesuatu yang aneh dan harus dihindari. Ia suka musik-musik yang berbau Islami seperti nasyid, musik-musik klasik, dan paling tidak suka dengan musik-musik keras dan memekakan telinga. Oleh sebab itu Armand sampai sekarang masih berkonfrontasi dengan Soni. Begitupun Soni yang agak tidak menyukai Armand karena dia anggap Armand itu terlalu kolot dan sok suci banget. Tapi di belakang semua perbedaan dan konfrontasi itu, mereka berdua bersahabat dengan baik walau kadang-kadang sering terjadi perbedaan pendapat. Lalu aku ini, aku ini orangnya netral. Tidak terlalu religius dan tidak terlalu funky banget. Jadi aku bisa menengahi mereka berdua dan oleh sebab itu kami bertiga menjadi sahabat yang akrab. Ke manapun kami pergi, kami selalu bersama. Kami saling nasehat-menasihati antar sesama. Walau tetapi Armandlah yang paling banyak menasihati kami. Tapi kalau soal teman, Sonilah yang mempunyai paling banyak. Oleh sebab itu kami pun juga memiliki banyak teman. Karena teman Soni, adalah teman kami pula.

Setahun telah berlalu, hubungan persahabatan kami semakin erat. Pada liburan akhir semester, kami sama-sama merencanakan untuk pulang ke rumah orang tua masing-masing. Aku mengusulkan bagaimana agar kita sama-sama bertiga pergi ke rumah masing-masing bergantian. Maksudnya adalah untuk minggu pertama, kita bertiga menginap di rumahku, minggu kedua di rumah Soni, dan minggu ketiga di rumah Armand. Bagaimana mau enggak?. Soni dan Armand setuju dengan rencana dariku itu. Kami bertiga naik kereta ke Jakarta untuk menuju ke rumahku. Orang tuaku sudah kuberitahu sebelumnya bahwa aku liburan akan membawa dua temanku. Sebelumnya juga dalam surat-suratku, aku pernah menceritakan tentang dua sahabatku itu. Sebenarnya aku agak malu kepada Soni dan Armand karena rumahku sangat sederhana sekali. Tapi karena kami sahabat, jadi hal itu bukan masalah. Aku datang ke rumah dan orang tuaku menyambut kami dengan hangat. Aku melepas rindu kepada kedua orang tuaku yang sudah setahun tidak bertemu. Beberapa hari di rumahku, Soni dan Armand kelihatannya tidak ada ekspresi kecewa. Tapi mereka malah senang karena sering ku ajak jalan-jalan silaturahmi ke tempat saudara-saudaraku. Kemudian tibalah gilirannya Soni untuk mengajak kami menginap ke rumahnya. Rumah Soni terletak di bilangan Pondok Indah dan rumahnya itu sangat besar dan mewah. Orang tua Soni walaupun kaya, tetapi mereka tidak sombong dan sederhana sekali. Selama berada di rumah Soni, aku dan Soni mengajak Armand untuk berjalan-jalan berkeliling Jakarta. Karena inilah kali pertama Armand berkunjung ke Jakarta. Kami mengajak Armand berkunjung ke tempat-tempat hiburan di Jakarta seperti ke ancol, dufan, TMII, dan pernah juga ke luar Jakarta yaitu Anyer. Setelah beberapa hari di rumah Soni, kami bertolak ke rumah Armand di Tasik. Sebenarnya aku agak berat meninggalkan rumah Soni, karena fasilitas di rumah itu lengkap sekali. Kami pergi ke Tasik naik kereta api. Sesampainya di rumah Armand, aku sangat terkesan dengan pemandangan di sana. Daerahnya masih alami, banyak sawah, ada danau, dan sungainya pun masih bersih. Tempat Armand memang pedesaan dan orang tua Armand juga seorang petani. Tapi aku sangat kerasan di sana sebab mana ada pemandangan seperti ini di Jakarta. Di sana aku dan Soni diajaknya berjalan-jalan keliling kampung, melintasi hutan, berjalan di persawahan, memancing ikan di sungai, bersantai di danau, dan membantu orang tua Armand memanen padi karena pada waktu itu sedang musim panen. Aku dan Armand melakukan hal itu dengan tanpa rasa kesulitan, tapi Soni yang dibesarkan di keluarga kaya dengan fasilitas lengkap, terlihat agak kesulitan. Tapi Soni sangat antusias melakukannya. Kemudian tibalah waktunya kami kembali ke Bandung untuk menuntut ilmu lagi. Sebenarnya aku sangat malas untuk kembali ke kota itu, karena suasana di daerah Armand sangat indah dan mempesona. Ya akhirnya, dengan berat hati kami berangkat untuk kembali ke Bandung. Sepulangnya dari tempat Armand, kulitku agak gelap karena terlalu sering main-main di sawah dan sungai.

Tahun keduaku di kuliah, ada sesuatu yang mengganggu konsentrasiku. Saat hari pertama masuk kuliah setelah liburan, aku secara tidak sengaja menabarak seorang wanita dan menumpahkan air mineral yang sedang ku bawa di tangan ke pakaiannya. “Maaf, Maaf, enggak sengaja. Boleh saya bantu ngelapnya?”. “Enggak-enggak usah, terima kasih!” jawabannya dengan nada marah sambil meninggalkanku. Aku berkata dalam hati “Ah cantik benar perempuan itu, apa lagi kalau sedang marah”. Di kelas, aku terus membayangkan wajah perempuan itu. Aku berfikir, sepertinya dia itu anak baru di sini. Akan ku cari dia nanti dan ku tanyakan namanya. Sesampainya di kos-kosan, aku langsung mengadakan rapat dengan Soni dan Armand tentang kejadian yang baru saja ku alami.

Aku berkata : “Bagaimana pendapatmu man?. Sepertinya gw suka banget sama tuh cewe!”.
Armand : “Ah hati-hati rul, kamu harus yakin dulu apakah kamu itu cinta benaran sama tuh cewe”.
Aku berkata : “Ah masih enggak jelas sih, tapi kayaknya sih iya, abis tuh cewe cantik banget sih!”.
Armand : “Kalau begitu, kalau kamu mau pacaran sih boleh-boleh saja, tapi jangan sampai melupakan studi kamu di sini. Ingat, kamu di sinikan buat kuliah kan, bukan buat pacaran!”.
Soni : “Ah kamu man, nyantai aja. Hidup ini kalau tanpa wanita kagak lengkap rasanya. Apa lagi tuh cewe cantik, sikat aja Rul!”.
Armand : “Eh aku tidak setuju, kita ini kan sebenarnya di sini untuk belajar bukan?”.
Soni : “Iya sih, tapi….”.
Aku berkata : “Sudah-sudah, jangan ribut dong!. Kebiasaan banget deh. Aku bakalan nerima usul kalian berdua. Tapi besok kayaknya aku mau nyari tuh cewe buat PDKT”.
Armand : “Ya sudah, tapi hati-hati ya!”.
Soni : “Itu baru friend gw!”.

***
Aku terbangun dari tidur pagiku setelah semalam aku memimpikan kejadian bertemu dengan perempuan cantik itu. Aku langsung bergegas dari tempat tidurku untuk mandi kemudian segera melaksanakan Shalat subuh berjamaah. Sesampainya di kampus, aku melihat berkeliling seipa tahu bisa menangkap sekelebat wajah cantik itu. Akhirnya aku menemukannya sedang membaca buku di kursi kantin kampus. Aku ikut memesan makanan dan duduk satu meja dengan perempuan itu. Aku mengajaknya mengobrol tapi sepertinya perempuan itu agak acuh tak acuh entah karena memang begitu atau masih marah karena tidak sengaja aku siram kemarin. Setelah lama bercakap-cakap, akhirnya aku berhasil mengetahui namanya. Namanya Dina. Dia orang asli dan tinggal di Bandung ini. Dia mahasiswi yang baru masuk institut tahun ini. Sehingga ia adalah adik kelasku. Setelah lama mengobrol, akhirnya sikapnya lumer juga dan mulai ramah terhadapku. Kemarahannya kemarin sepertinya sudah mulai hilang dengan obrolan yang kusisipkan lelucon di dalamnya. Sebulan berlalu, hubungan kami semakin dekat. Yang pada akhirnya aku putuskan untuk menembaknya jadi pacarku. Waktu itu dengan banyak trik dan intrik aku menembaknya untuk jadi pacarku. Sehingga penembakan itu berkesan di hatinya. Seperti yang kuharapkan, ia menerimaku untuk jadi pacarnya.

Semakin lama, intensitas pacaranku semakin tinggi. Hampir-hampir studiku terbengkalai karenanya. Dan karena hal itu, cadangan uangku juga sudah mulai menipis. Yang lebih parahnya lagi, hubungan persahabatan aku dengan Soni dan Arman menjadi agak renggang. Sekarang ini Kami jadi jarang ketemuan bareng karena sibuknya aku berpacaran dengan Dina yang maunya jalan-jalan terus. Di saat itu, pernah aku bertemu dengan Soni dan Armand yang pertemuaan itu sangatlah jarang terjadi setelah kedatangan Dina.

Armand : “Rul, sepertinya persahabatan kita sekarang ini sudah tidak seakrab dulu lagi?”.
Soni : “Iya tuh my friend, kita sekarang jarang ketemuan lagi bareng”.
Aku berkata : “Ah massa ah, sorry deh, soalnya aku terlalu sibuk kuliah sih!”.
Armand : “Ah kuliah?, sepertinya yang aku tahu kuliah kamu sekarang ini mulai terbengkalai. Malah aku pernah lihat kamu lagi jalan bareng pas jam kuliah sama cewe di Mall”.
Soni : “Iya tuh, pasti kita sekarang begini gara-gara kamu terlalu sering pacaran deh. Sama si Dina itu!”.
Aku berkata : “Ah kalian ikut campur aja, itukan urusan pribadi gw!”.
Armand : “Iya saya tahu, tapi ingat, kami ini sahabat kamu”.
Soni : “Kami siap membantu elu kapan pun dimana pun”.
Aku berkata : “Gw tahu itu, kita memang sahabat. Tapi tolong jangan campurin urusan pribadi gw, please!”.
Soni : “Aku berharap hubungan persahabatan kita kayak dulu lagi Rul!”.

Tanpa berkata apa-apa lagi, aku langsung pergi meningalkan Soni dan Armand. Langsung kunyalakan sepeda motorku yang ku dapatkan dari hasil kerja sampinganku di kota ini. Ku susuri jalan-jalan di kota Bandung ini, bergegas menuju ke rumah Dina untuk menjemputnya shopping ke mall. Di perjalanan, aku terus terbayang peristiwa pertengkaran antara aku, Soni, dan Armand. Aku mulai menyadarinya bahwa hubungan persahabatan kami mulai renggang selama aku berpacaran dengan Dina. Dulunya kami selalu kemana-mana dan sering bertemu bersama. Aku juga mulai ragu, apakah aku sebenarnya mencintai Dina atau tidak. Karena sejak pertama kali bertemu tidak ada rasa yang istimewa terhadapnya. Yang kurasakan hanyalah aku suka Dina karena dia cantik, menarik, dan sexy. Selama aku berpacaran dengan Dina, aku hanya seperti pelayannya saja. Mengantarnya ke mana pun dia mau, menemaninya belanja, dan tak ada kasih sayang yang ku dapatkan dari Dina. Sepertinya hubungan kami ini tidak di dasari oleh cinta, tetapi hanyalah nafsu belaka. Pikiran-pikiran itu membuatku tidak berkonsentrasi dalam menyetir sepeda motorku. Sehingga hal terakhir yang ku ingat adalah aku melihat mobil dengan kecepatan tinggi tepat berada di hadapanku dan hanya teriakan tak bersuara yang terdengar dalam kepalaku.

Di rumah sakit, aku terbaring lemas tak berdaya mencoba untuk membuka mata dalam kepenatan yang membebani kepalaku. Saat aku membuka mata dan mengfokuskan pandangan, orang yang pertama kali ku lihat adalah Soni dan Armand sahabatku. Sekali lagi bukan Dina. Ya, bukan Dina, perempuan yang selama ini ku kira mencintaiku dan aku berharap bisa mencintainya. Tapi ternyata para sahabatku yang sebelum ini aku kecewakan dengan sikapku. Aku melihat tampang Soni dan Armand kelihatannya seperti sangat sedih dan menyimpan sesuatu yang aku tidak tahu apa itu. Kata-kata yang aku katakan pertama kali kepada mereka adalah “Maaf…., Maaf…., maafkan aku sobat. Atas sikapku akhir-akhir ini. Sekarang aku sadar bahwa sahabat adalah segalanya”. Armand berkata “Jangan terlalu banyak bicara dulu rul, kami sudah maafkan semua kesalahanmu selama ini”. Soni juga berkata “Aku juga rul, aku juga sudah memaafkanmu. Kita kan sahabat, jadi harus saling memaafkan. Soal kejadian akhir-akhir ini, lupakanlah saja itu”. Aku masih curiga, apa yang sebenarnya di sembunyikan mereka berdua. Sepertinya ada ekspresi ngeri dari wajah mereka. Aku berkata “Trims sobat, sebenarnya apa yang terjadi denganku?”. Armand dengan getir menjawab “Kamu mengalami kecelakaan tabrakan motor dengan mobil di perapatan dekat kampus. Kamu salah jalur, motormu waktu itu berjalan di jalur kanan sehingga mobil yang dari arah berlawanan tak bisa menghindar menabrak motormu”. Aku berkata “Aku waktu itu sedang banyak pikiran, sehingga kurang berkonsentrasi. Tapi, mengapa aku tidak merasakan apa-apa pada kakiku?”. Soni menjawab dengan hati-hati “Kata dokter…., kaki kamu lumpuh…”.

Setelah kejadian itu, aku menggunakan kursi roda sebagai alat bantu berjalanku. Biaya alat dan perawatan selama ini di bayar oleh Soni karena cadangan uang Soni masih banyak. Sedangkan aku, uangku sudah terkuras habis untuk melayani Dina. Ya, Dina. Saat aku teringat olehnya, aku coba menghubungi ke handphonenya. Tetapi sepertinya Dina tidak mau menerima colling dariku dan selalu mereject panggilanku dan jika ku sms tidak pernah dibalas. Ku tanyakan pada Soni apakah dia pernah melihat Dina selama aku mendapat musibah, Soni menjawab ya dan ia tidak berkata apa-apa atau sesekali menanyakan keadaanku. Aku menjadi sangat kecewa dan tambah yakin bahwa persahabataan yang tulus tidak bisa dikalahkan oleh apapun. Mengenai kejadian ini aku melarang Soni dan Armand untuk memberitahukannya kepada orang tuaku. Karena jika mereka tahu, hal ini hanya akan menambah beban mereka.

Proses perawatan dan penyembuhanku terus dibantu oleh Soni. Selain itu Soni dan Armand terus memotifasiku bahwa aku akan sembuh dan jangan putus asa. Armand membantuku dengan mengajarkan do’a-do’a untuk memohon kesembuhan dan turut pula membantuku untuk melatih kaki-kakiku agar kuat kembali dan dapat digunakan untuk berdiri lagi. Kemudian kata dokter yang selama ini merawatku, bahwa aku akan sembuh dan dapat berdiri lagi dalam beberapa minggu. Ini dikarenakan perkembangan yang cukup pesat dari kaki-kakiku untuk sembuh dan juga karena aku sering latihan untuk berdiri. Yang pastinya juga karena do’a-do’aku dan orang yang mendo’akanku telah dikabulkan oleh Allah SWT.

Ahirnya, hal yang ku harap-harapkan tiba juga. Aku dapat berdiri dan berjalan walaupun masih belum sempurna. Pada saat hal itu terjadi, kami bertiga langsung berpelukan dan menangis karena terharu. Pada saat itu aku langsung bersyukur kepada Tuhan atas karunianya ini dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para sobatku itu. Kalianlah yang terbaik bagiku.
***
Setelah beberapa bulan mengalami proses penyembuhan, aku sudah bosan dan mulai masuk kuliah lagi. Kami berangkat ke kampus bertiga karena kedua sobatku itu masih khawatir jika aku kenapa-kenapa pada saat menuju kampus. Kami berjalan bertiga beriringan menyusuri lobi kambus. Di tempat itu mataku menangkap sesosok wajah cantik yang selama ini sudah kukenal tetapi ternyata tidak. Dina seperti kaget melihatku yang bisa berjalan lagi dan aku hanya menengok sebentar ke arahnya dan tersenyum ramah kepada Dina. Soni berkata kepadaku “Eh rul, cewe luh tuh!”. “Ah biarlah yang lalu tinggal kenangan, yuk jalan lagi!” aku menjawab sambil meneruskan langkah menuju kelas. Soni menepuk pundakku dan Armand hanya tersenyum yang membuat persahabatan kami semakin erat dan abadi untuk selamanya.
***
T A M A T

Tentang Penulis

Dimas P. Muharam

Peneliti di Pusat Riset Pendidikan BRIN

Website / Sosial Media

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

  • The Secret Admirer

    Kisah seorang pemuda yang menjadi pemuja rahasia seorang gadis di sekolahnya. Hingga pada suatu saat ia memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya. Selamat membaca.

    Dimas P. Muharam

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.