Coklat Van Andre
Dimas P. Muharam · · 10 menit baca
----------
VERY IMPORTANT ANNOUNCEMENT!
Buat yang nggak mbaca, dijamin nyesel tujuh turunan.
Menjelang hari Valentine, Gue andre cowo paling populer di sini menawarkan kebahagiaan yang tak ternilai.
Fasilitas :
- Minta maaf kepada seseorang.
- Ngerjain orang sampai nangis-nangis di depan kelas.
- Hadiah sekedar tanda pertemanan (teman tapi mesra).
- Nembak seseorang sampai tergila-gila (Yang ini khusus buat cewe doank!).
Keberhasilan : 100%, Guarantee from The Perfect Andre.
So, buat kalian yang sudah pasti tertarik. Hub Gue Andre di kelas IPA 3 or telp di 081312345678 buat jasa pengiriman Coklat Van Andre yang super dasyat ini!.
----------
“Wah ini promo dari Andre si anak tajir itu?”
“Iya tuh kayaknya, udah pake nyumpahin segala lagi!”
Riuh rendah siswa memperbincangkan iklan yang terpasang di mading sekolah pagi ini. Mereka awalnya tidak mempercayai iklan yang terlalu dibesar-besarkan oleh andre siswa paling keren di sini. Tapi setelah tanggal 14 Februari semakin dekat, mereka tak ada pilihan lain.
Bukti langsung pun sudah ada. Beberapa hari setelah iklan dipasang, tertera dua tanda tangan. Dari Aldy murid kutu buku anak IPA dan Cintia murid kelas IPS yang sexy abis. Menyatakan kalau mereka sudah menggunakan Jasa andre dan berhasil 200%. 200% karena mereka sudah jadian sebelum hari Valentine tiba.
Terus satu bukti yang paling sensasional lagi. Mira cewe anak IPS berhasil ngerjain Melo Cowo plonga-plongo yang sudah mutusin Mira dengan alasan kagak jelas. Saat pelajaran Ekonomi yang gurunya killer abis, Melo berulang kali minta izin untuk ke kamar kecil. Sampai sudah lewat dari 10 kali, kesabaran guru tersebut habis. Melo berusaha sekuat tenaga memohon izin sambil menahan perintah tak terbantahkan dari dalam perutnya. Guru Ekonomi tetap tidak mengizinkan Melo. Ia hampir menangis sekarang dengan rintihan yang terlihat konyol bagi yang tidak merasakan.
“Bu, tolong bu….”
Melo nekad setengah berlari menuju keluar kelas. Tapi masih 2,5 meter jaraknya dengan pintu keluar, bunyi tak mengenakkan keluar dari bagian belakang tubuhnya. Serempak semua anak tertawa apalagi Mira yang sampai histeris dibuatnya. Melo nangis bombay tak sanggup menahan malu. Pada intinya, semua penawaran The Perfect Andre, sukses besar!.
Propaganda Andre itu menyebar ke seluruh sekolah terutama anak-anak kuper yang tidak berani untuk nembak seseorang. Tidak terlewat Andre. Ini bukan The perfect andre yang kita bicarakan sedari tadi, tapi Andre cowo berkacamata tebal yang sebenarnya jika lepas kacamata tampangnya cukup lumayan. Ia selalu tidak pede dengan keculunanya itu. Sehingga kalau dekat dengan cewe, keringat dingin mengucur dari dahinya dan langsung salting. Walau begitu, Ia punya selera yang tinggi kalau masalah cewe. Ia sudah lama mengincar Vera teman sekelasnya. Tapi Vera si cewe cantik nan pintar ini, tidak pernah memandang Andre serius. Ia hanya berbicara dengan Andre jika ada perlu atau maksimal tergabung dalam satu kelompok belajar. Sehingga karena sudah tidak sabar menahan gejolak di dadanya, Andre nekad menggunakan jasa The Perfect Andre.
“Ndre, aku mau bicara”
The Perfect Andre menengok melihat siapa yang datang menghampirinya. Pria tampan bertubuh tegap itu menghentikan tulisannya di buku catatan dan menggeser sedikit posisi duduknya.
“Oh kamu Dre, ada apa?”
Andre cupu duduk di bangku kosong sebelah The Perfect Andre. Saat itu waktu istirahat, jadi suasana kelas lenggang.
“Aku butuh bantuanmu”.
The Perfect Andre tersenyum lebar. Seakan-akan faham bahwa orang seperti Andre cupu ini pasti akan bersujud meminta bantuannya.
“Biar gue analisis. Di sini gue punya tiga paket. Paket A, buat ngerjain orang sampe kapok. Ah lo kan engak punya musuh setahu gue”
Andre cupu hanya mengangguk-angguk setuju.
“Terus paket B, buat orang yang pengen balik sama pacarnya. Tapi, lo kan mana pernah pacaran sebelumnya. Sorry, bercanda. Hehehe”
Andre cupu terdiam, agak tersinggung.
“Terus. Ah ini dia. Paket C. Ini buat orang yang mau nembak cewe. Gue yakin lo pasti butuh ini!” Seru The Perfect Andre pada akhirnya.
Andre cupu tersenyum puas. Ia menatap wajah The Perfect Andre yang sangat berbeda nasib dengannya walau nama mereka sama.
“Dre, pokoknya lo harus bantu gue”,
“Terus siapa cewe yang mau lo tembak?”
Andre cupu diam sejenak. Ia takut jika jawabannya ini ditertawakan The perfect Andre.
“Fera”.
Ekspresi wajah The Perfect Andre berubah serius. Lama Ia berfikir sebelum akhirnya berkata
“Hmmm, berat juga ya. Tapi tenang aja. Dengan sedikit golden touch dari gue, semuanya beres. Mungkin perlu ada sedikit modifikasi dari lo”
The perfect Andre membuka kacamata tebal yang dikenakan Andre Cupu. Lalu diambilnya Handphone plus kamera digital dan memotret close up wajah Andre Cupu tanpa kacamata.
“Coba lihat nih muka lo sendiri. Cukup keren kan, jadi lo harus pede ok!”
Andre cupu melihat sendiri wajahnya di screen handphone. Tapi sayang tak terlihat jelas olehnya. Diminta kembali kacamatanya dan sekarang Ia dapat melihat wajahnya sendiri yang ternyata cukup ok.
“Terus buat kacamata pantat botol lo itu, gue bakal bantu nanti cari kontak lense”,
“Tapi benar kan, lo mau bantu gue dre?” tanya Andre Cupu saat mengembalikan Handphone.
“Begini deh, lo kenal Nero kan teman sekelas lo itu. Dia itu gue yang buat balik lagi sama cewenya si Resty. So you must trust me!”
Andre cupu sekarang tersenyum yakin dengan indoktrinasi The Perfect Andre. Ia teringat dengan Nero teman sebangkunya di kelas. Setelah balikan lagi dengan Resty, dia selalu sibuk ngetik sms buat cewenya itu. Padahal sebelumnya setiap hari Nero curhat di sela-sela jam belajar. Oleh karena itu, motifasinya semakin tinggi untuk bisa bersaing di percaturan cinta.***
Tepat saat gerbang sekolah baru dibuka, Andre sudah menyeruak masuk. Hari tanggal 14 Februari ini akan dijadikan moment paling bersejarah dalam hidupnya. Dia orang pertama yang tiba di sekolah. Tegang bercampur gairah mengiringi langkah cepatnya menuju kelas. Dilintasinya ruang kelas yang terasa pengap karena AC yang belum menyala. dihampiri meja Vera dan menjejalkan sebuah kotak kecil ke dalamnya. Beban dalam dirinya terasa lepas setelah misi pertamanya sukses. Ia menghela nafas lega dan segera keluar seakan belum hadir di kelas.
Satu jam kemudian Andre berjalan tenang ke toilet dari arah kantin. Ia menuju was taffle untuk cuci muka. Di cermin, Ia melihat wajahnya yang tegang. Teringat akan sesuatu, Ia mengeluarkan sebuah bungkusan yang berisi kontak lense. Benda itu Ia beli saat jalan-jalan di mall bersama The Perfect Andre untuk make over.
The Perfect Andre merasa semua sudah siap. Ia kemudian memberikan sentuhan terakhirnya di sebuah cafe.
“Dre, ini dia senjata pamungkas kita”
The perfect andre menyodorkan sebuah kotak kecil kepadanya.
“Sampai di sini semua tugas gue selesai. Sekarang tinggal bagaimana niat dan keberanian lo buat ndapetin tuh cewe”.
Andre cupu meraih kotak tersebut. Di atas kotak itu ada sebuah amplop kecil.
“Lo enggak usah mikirin isi tuh surat. Yang penting lo harus ada di tempat ini lagi sebelum jam 8 besok malam” Intruksi the perfect Andre sambil menyeruput habis minumannya.
“Thanks Ya ndre!”
The Perfect Andre yang sudah berlalu hanya mengacungkan ibu jarinya mendo’akan kesuksesan Andre Cupu.
Bunyi bel masuk membuyarkan lamunan Andre. Ia meraih tas dan berjalan tegap menuju kelas yang terletak di seberang jauh dari toilet. Ia masuk ke kelas dan melihat Vera sudah duduk di kursinya. Andre duduk di tempatnya sendiri dan mulai mengamati gerak-gerik Vera. Belum ada reaksi. Andre cukup bersabar hingga saat guru Fisika datang, Vera memasukan tangan putihnya ke dalam laci meja. Terlihat ada ekspresi keterkejutan saat Vera membuka bungkusan yang ada di tangannya kemudian membaca surat yang terlampir. Andre sangat puas melihat mimik muka Vera yang bahagia. Walau tak sekalipun Vera menoleh padanya, Ia sudah cukup senang dan tak sabar menanti malam ini.***
Di salah satu sudut Café yang sudah diintruksikan The Perfect Andre, Andre duduk menunggu. Baru jam 8 kurang 10 menit. Ia sudah menghabiskan 2 gelas lemon tea karena saking tegangnya. Sebenarnya ia tak boleh merasa seperti sekarang ini. Ia sudah melihat wajahnya sendiri di cermin. Kacamata yang biasanya menggantung kaku di atas hidungnya, sekarang sudah digantikan 2 kontak lense yang indah. Di benaknya berputar pilihan kata-kata apa saja yang akan dikatakannya kepada Vera. Ia membuka kembali catatan yang sudah dibuatnya dari rumah.
Selagi Andre menghafalkan kalimat demi kalimat dalam catatannya, seorang pemuda tampan masuk ke café. Ia mengambil tempat yang strategis sehingga mudah terlihat oleh orang yang baru datang.
Bunyi bip terdengar dari arloji Andre saat jam menunjukan tepat pukul 08:00 PM. Ia berhenti menghafal dan menanti siapa yang akan muncul dari balik pintu. Beberapa menit serasa bagai setahun hingga Vera muncul di sana. Ia terlihat cantik sekali menggunakan blus warna biru dan rok panjang hitam. Vera melayangkan pandangan pada seseorang dan Ia tersenyum. Bagai terhujam bayonet Andre mengetahui bahwa bukan dirinya yang dilihat Vera. Vera tersenyum pada pemuda tampan yang ada di tengah-tengah cafe. Hatinya semakin hancur setelah mengenali siapa pria yang ada di hadapan Vera sekarang. Dia adalah The perfect Andre. Diremasnya kertas catatan yang sekarang hancur di dalam genggamannya. Tanpa fikir panjang, Ia ngeloyor ke toilet untuk mengenyahkan pemandangan perih di hadapannya.***
“Hai Ver, bagaimana tadi perjalanannya, lancar?” tanya The Perfect andre saat Vera tiba di depannya.
Ia berdiri dan mempersilakan Vera untuk duduk.
“Thanks ya ndre, kamu sudah…”
“Oh ya, kamu mau pesan apa?” potong The Perfect Andre.
“Terserah kamu saja,”
The perfect Andre memesan makanan pada pelayan yang kebetulan lewat. Beberapa saat kemudian, pelayan datang dengan membawakan tiga porsi makanan.
“Loh kok tiga sih ndre?” Vera kelihatan bingung.
Semuanya semakin membingungkan Vera saat seorang cewe berwajah khas eropa timur datang menghampiri The Perfect Andre. Ia berdiri dan memeluk perempuan itu.
“Vera, kenalin. Ini Nadya, pacar gue yang baru datang dari Ceko”
Nadya menjulurkan tangan untuk bersalaman dengan Vera. Tapi Vera tidak menanggapinya dan masih terpaku menatap Nadya.
“Ndre, sorry ya. Aku mau ke toilet dulu”
Vera tergesa-gesa berjalan meninggalkan The Perfect Andre yang tak sempat mencegahnya.***
Di depan cermin toilet, Andre Cupu menyeka wajahnya yang habis menangis. Ia tak percaya bahwa The Perfect Andre orang yang dipercayainya ternyata mengambil Cewe incarannya. Memang Ia sadar diri akan kemalangannya selama ini.
‘Apa sih yang bisa dibanggain dari Andre yang cupu dengan seorang The Perfect Andre!’ jerit Andre dalam hati.
Dari pintu yang terbuka, Andre mendengar ada seseorang yang masuk. Orang itu berdiri di depan cermin di sebelahnya beberapa meter. Ia tak dapat melihat lebih jelas siapa orang itu karena belum menggunakan kontak lense. Tapi yang pasti, Ia wanita dan sedang menangis. Andre tanpa pikir panjang mendekati wanita itu.
“Maaf mbak, kenapa kok nangis?”
Tak ada jawaban dari perempuan itu, malah Ia semakin hebat nangisnya.
“Pasti mbak habis dibohongi seseorang ya mbak, sama dong seperti saya!”
Tiba-tiba tangisan perempuan itu berhenti. Andre tidak dapat melihat jelas apa yang terjadi. Ia merasa telah membuat perempuan itu marah terhadapnya. Diambilnya kacamata dari dalam saku. Saat ia sudah dapat melihat jelas, ternyata perempuan itu sedang memandanginya dalam-dalam.
“hah itu kamu Vera?”
Andre terkejut mengetahui siapa yang berada di hadapannya sedari tadi.
“Ver, apa yang kamu lakuk…”
perkataan Andre terputus saat Vera meraih kacamata Andre dan melepasnya. Kemudian memasangkannya kembali.
“Ndre, kamu kelihatan berbeda sekali jika tidak pakai kacamata. Tapi aku lebih suka tatapan tulus dari balik benda bening itu”,
“Walaupun aku terlihat cupu karenanya?”,
“Tak ada Andre yang cupu atau apapun, Kamu lah satu-satunya Andre yang selama ini tidak ku sadari”
Mereka berdua saling menukar senyum. Andre terbius dalam tatapan Vera yang menyejukan sampai matanya menangkap satu simbol di dinding. Andre menepuk dahi dan berkata
“Aduh gawat, ini kan toilet khusus buat pria. Kenapa kamu ada di sini sih!”
Vera tertawa menyadari kecerobohannya itu. Ternyata pandangan mata tidak selamanya benar. Mereka pun keluar dari toilet sebelum ada yang memergoki.***
Di sebuah sudut yang tak terlihat, sepasang mata sedang mengamati. Andre dan Vera baru saja keluar bergandengan tangan dari dalam Café. Pemilik sepasang mata itu mengulam senyum dan mengeluarkan buku catatannya. Di sana Ia menulis:
-----
Klien terakhir Coklat Van Andre.
14 Februari 2006
Nama : Andre dan Vera.
Status : Sudah Jadian.
Rekor keberhasilan : 100%.
-----
Tentang Penulis
Peneliti di Pusat Riset Pendidikan BRIN
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
Di Tengah Kisah
Cerpen cinta yang manis. Kelanjutan dari kisah sebelumnya "Bermula dari Kasih" yang menengahkan konflik untuk menguji kesetiaan. Selamat membaca.
The Secret Admirer
Kisah seorang pemuda yang menjadi pemuja rahasia seorang gadis di sekolahnya. Hingga pada suatu saat ia memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya. Selamat membaca.