Bencana Bisa Datang Kapan Saja (Bagian 2)
- Penulis
- dwityasobat
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 6 menit baca
- Jumlah pembaca
- 3 kali dibaca
Kategori: Opini
Berita bencana alam di televisi mungkin hanya akan dikalahkan oleh berita korupsi atau para aktivis yang sedang berdemo. Hal ini jelas, negeri kita tercinta ini memang rawan bencana! Mulai dari banjir, gunung meletus, longsor, gempa bumi, sampai peristiwa yang paling konyol: serbuan ulat bulu di Bekasi. Entahlah, mungkin Tuhan memang menganugerahkan negeri ini dengan banyak masalah agar semakin kreatif. Tapi kenyataannya tidak demikian. Banyak difabel netra yang malah semakin merana karena sedikit orang yang peduli. Tampaknya serius, ya!
Baiklah, apa sih yang tebersit dalam pikiran kamu saat mendengar kata difabel netra? Orang yang malang dan selalu bergantung pada orang lain? Atau mungkin pihak yang harus mendapat santunan dan bernyanyi-nyanyi di pingir jalan? Wah, kamu ketinggalan jaman! Banyak kok dari difabel netra yang berprestasi. Tapi memang harus diakui banyak orang yang berkata seperti itu. Sebabnya jelas: akses para difabel untuk dapat mengembangkan diri yang berorientasi pada prestasi sangat minim. So, memandirikan difabel netra merupakan hal yang tidak bisa ditawar lagi. Jika difabel netra mampu mandiri di masyarakat, maka citra positifakan terbangun sehingga pandangan miring dapat diminimalisasi.
Mandiri bagi difabel netra mungkin tak hanya mandi sendiri atau paling tidak bisa menjaga agar cabe yang baru dimakan tidak nyelip di gigi. Mandiri bagi difabel lebih dari itu jika kita tinggal di Indonesia. Kalian tahu maksudnya kan? Coba pikir sekali lagi. Hmm...begini: Apa yang bisa kalian bayangkan jika ada difabel netra yang terjebak dalam situasi gempa? Menjerit-jerit, heboh, tampak galau, risau? Jangan menghakimi, tapi ada juga yang seperti itu.
Ya, mari berbicara masalah solusi, teman! Kejadian heboh itu sebetulnya bisa diminimalisasi jika difabel netra punya kemampuan menyelamatkan diri. Ini penting. Kebanyakan dari difabel belum mengetahui apa yang harus dilakukan ketika gempa berlangsung. Sedikit merefleksi gempa Jogja lalu, tak sedikit korban yang merupakan difabel usia sekolah. Maka untuk menjawab tantangan tersebut diperlukan pelayanan yang mengarah pada pengembangan aksi tanggap darurat yang menitikberatkan pada kemandirian difabel saat gempa terjadi.
Tapi, sebetulnya sebaik apapun tutor melatih aksi tanggap dadurat, akan jadi sia-sia jika kemampuan Orientasi dan Mobilitas (O&M) difabel belum matang. Jadi memang hal pertama yang harus dilatih adalah kemampuan O&M-nya. Melatih kemampuan O&M merupakan upaya untuk mengenalkan dan memberikan akses yang lebih memfasilitasi untuk dapat menyelamatkan diri ketika bencana tiba.
Difabel seringkali terlupakan saat gempa melanda. Oleh karena itu tujuan akhir dalam training O&M adalah membuatnya mampu memasuki setiap lingkungan yang dikenal maupun tidak dikenal dengan aman dan efisien. O&M mengajarkan difabel netra untuk dapat bergerak dan menyelamatkan diri ketika orang-orang melupakannya. Adapun tujuan meningkatkan kemampuan O&M adalah agar difabel netra dapat bergerak dengan selamat, bergerak dengan mandiri, dan dapat bergerak secara efektif serta efisien.
- A. Bergerak dengan selamat
[1]Puthut (ASB Indonesia). 10 Saran Keselamatan Menghadapi Gempa Bumi. Sahabat. Edisi 3, April 2011.
[2]Irham Hosni. (1996). Buku Ajar Orientasi dan Mobilitas. Jakarta: Departemen Pendidikan danKebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi.h.59.
[3]Horton, J. K.. (1986). Community Based Rehabilitation of The Rural Blind (A Training Guide for Field Workers). New York, USA: Helen Keller Internasional, Inc.h.9.
[4]Saru Arifin. (2008). Model Kebijakan Mitigasi Bencana Alam Bagi Difabel (Studi Kasus di KabupatenBantul, Yogyakarta). Jurnal Fenomena Volume 6-Nomor 1-Maret 2008. http://www.uii.ac.id ; http://dppm.uii.ac.id.
[5]ASB. (2009). AHA, Sekarang Aku Bisa. ASB Indonesia. h. 11.
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.