Skip to Main Content

Belajar Arti Kehilangan, Perjuangan, dan Penerimaan Bersama Game A Space for the Unbound

Orang dewasa berbicara dengan anak muda yang sedih
Orang dewasa berbicara dengan anak muda yang sedih
Published date
Estimated reading time
5 min read
Views count
27 kali dibaca
WhatsApp X

Category: KARFIKSI

Di balik pesona grafis pixel art yang begitu manis dan balutan nuansa nostalgia era 90-an di sebuah kota kecil fiktif di Indonesia, A Space for the Unbound menyimpan kedalaman emosional yang luar biasa. Karya brilian dari studio indie asal Surabaya, Mojiken Studio, yang berkolaborasi dengan Toge Productions ini telah membuktikan diri bahwa mereka bukan sekadar menciptakan game petualangan biasa. Game ini hadir layaknya sebuah cermin yang memantulkan sisi paling rapuh dari jiwa manusia. Melalui perjalanan dua remaja SMA, Atma dan Raya, pemain diajak untuk perlahan menyusuri lorong memori tentang isu kesehatan mental, trauma masa kecil, serta proses pendewasaan yang sering kali menyakitkan. Dalam durasi permainannya, kita akan menyelami tiga fase krusial yang pasti dialami oleh setiap manusia dalam siklus kehidupannya, yakni proses merasakan kehilangan, hebatnya perjuangan, hingga akhirnya mencapai titik penerimaan.Pada awalnya, pesona game ini terasa seperti sebuah kisah fiksi remaja yang ringan dan sangat menenangkan hati. Pemain disuguhi rutinitas masa SMA yang begitu lekat dengan keseharian kita di masa lalu. Imajinasi kita diajak bernostalgia melalui kegiatan membolos sekolah untuk pergi ke bioskop, mengumpulkan tutup botol, menebak teka-teki dari warga sekitar, hingga sekadar mengelus kucing jalanan dan binatang-binatang lain yang tersebar di berbagai sudut kota Loka yang damai. Gemuruh suara kendaraanyang melintas sesekali, dipadukan dengan alunan musik yang menenangkan, seolah meninabobokan kita dalam kenyamanan yang paripurna. Namun, game ini tidak membiarkan kita terlena terlalu lama, karena di balik langit sore yang jingga tersebut, awan mendung secara perlahan mulai menutupi kota, menandakan sebuah badai emosi yang siap menerjang kehidupan para karakternya.Seiring berjalannya cerita, tema tentang kehilangan mulai terasa begitu pekat menyelimuti keseluruhan narasi. Karakter Raya diceritakan memiliki kekuatan supernatural yang luar biasa untuk memanipulasi realitas di sekitarnya. Namun, yang membuat kisah ini tragis adalah kenyataan bahwa kekuatan tersebut tidak digunakan untuk menjadi pahlawan super yang menyelamatkan dunia, melainkan lahir sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri, sebuah pelarian putus asa dari realitas yang terlalu brutal untuk dihadapinya sendirian. Lewat perspektif Raya, game ini memotret dengan sangat tajam bagaimana kepolosan masa muda dapat terenggut secara paksa oleh ekspektasi lingkungan yang menyesakkan, kasus perundungan yang mengikis habis harga diri, serta masalah kekerasan dalam keluarga yang menghancurkan satu-satunya ruang aman bagi seorang anak. Akibatnya, karakter-karakter di dalam dunia ini digambarkan kehilangan kendali atas hidup mereka sendiri, merasa sangat kecil dan tidak berdaya saat harus berhadapan dengan dunia orang dewasa yang sering kali tidak adil dan keras. Untuk mempertahankan sisa-sisa kewarasan, mereka akhirnya menciptakan dunia fiktif, menyangkal kenyataan, dan bersembunyi dari rentetan trauma masa lalu yang terus menghantui.Dari titik nadir rasa kehilangan tersebut, narasi perlahan beranjak menuju fase perjuangan yang direpresentasikan dengan sangat brilian dan metaforis melalui sebuah mekanik bernama Spacedive. Dengan berbekal sebuah buku merah ajaib, Atma sebagai protagonis dianugerahi kemampuan khusus untuk menyelami alam bawah sadar, membaca pikiran, dan menyentuh hati orang-orang di sekitarnya. Namun, hal yang paling menonjol dari mekanik ini adalah bahwa perjuangan di dalam ruang pikiran ini sama sekali bukan tentang mengalahkan monster raksasa menggunakan pedang, senjata api, atau sihir. Perjuangan di sini murni merupakan sebuah upaya psikologis yang melelahkan untuk mengurai benang kusut kecemasan, ketakutan, dan depresi yang bersarang kuat di benak seseorang. Monster-monster mengerikan yang harus dilawan oleh Atma adalah wujud nyata dari rasa tidak aman, tuntutan orang tua yang terlalu membebani hingga mencekik leher, serta bayang-bayang penyesalan masa lalu yang menolak untuk pergi. Melalui proses peleburan jiwa ini, pemain diajarkan bahwa perjuangan untuk menyembuhkan luka batin tidaklah instan, dan Atma pada akhirnya menyadari bahwa ia tidak bisa sekadar memperbaiki Raya hanya dengan sihir pengubah pikiran. Perjuangan sejati untuk menyelamatkan seseorang justru bertumpu pada besarnya rasa empati, yakni tentang bagaimana kita bersedia untuk hadir seutuhnya, mendengarkan keluh kesah tanpa menghakimi, dan mendampingi orang terkasih yang sedang bertarung melawan iblis di dalam kepala mereka sendiri.Puncak dari seluruh rangkaian perjalanan emosional dan spiritual ini akhirnya bermuara pada satu tahapan yang paling sulit diwujudkan oleh manusia, yaitu penerimaan. Game ini dengan sangat jujur menyampaikan realitas bahwa manusia tidak memiliki kuasa apa pun untuk memutar kembali waktu. Kita tidak bisa menghapus kenyataan pahit yang sudah terlanjur terjadi, dan kita tidak bisa memaksa dunia untuk terus berjalan sesuai dengan skenario indah di imajinasi kita. Segala upaya Raya untuk memanipulasi realitas dan menolak rasa sakit pada akhirnya justru menjadi bumerang yang menghancurkan dunianya sendiri, membuat ruang dan waktu di sekitarnya runtuh berkeping-keping. Kehancuran ini menjadi pembuktian yang menyakitkan bahwa kesembuhan sejati tidak akan pernah datang dari sebuah pelarian, melainkan hanya bisa diraih melalui keberanian untuk berdiri tegak dan menghadapi kenyataan itu sendiri, betapapun kelam realitas tersebut. Akhir cerita dari game ini diracik sedemikian rupa hingga terasa manis namun getir, mengajarkan kita sebuah pelajaran hidup yang sangat esensial untuk menerima ketidaksempurnaan dunia, memaafkan kelemahan diri sendiri, dan merelakan masa lalu. Pada akhirnya, pengalaman bermain yang luar biasa ini membuktikan bahwa kehilangan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan, perjuangan adalah bukti nyata bahwa kita masih bernapas, dan penerimaan adalah satu-satunya kunci agar jiwa kita bisa kembali tersenyum lega.Bagi gamer tunanetra yang ingin memainkan A Space for the Unbound, komunitas membuat mod aksesibilitas untuk game ini. Dengan mod ini, Screen Reader dapat berinteraksi penuh dengan hampir segala aspek yang ada. Tahap pemasangannyapun cukup mudah, gamer hanya perlu mengunduh Melon Loader, memasangnya ke folder pemasangan game, mengunduh mod ini yang bernama A Space For The Unbound accessibility, dan mengekstraknya sesuai petunjuk yang disediakan."Kehadiran mod aksesibilitas ini seolah menyempurnakan pesan utama yang ingin disampaikan oleh A Space for the Unbound. Game ini tidak hanya menyediakan 'ruang' untuk menyembuhkan luka batin bagi para karakter di dalamnya, tetapi melalui dukungan komunitasnya, ia membuka pintu selebar-lebarnya bagi setiap pemain—tanpa terhalang oleh keterbatasan fisik—untuk ikut menyelami perjalanan emosional yang magis ini. Pada akhirnya, mahakarya dari Mojiken Studio ini layaknya sebuah pelukan hangat dalam bentuk video game; mengingatkan kita semua bahwa betapapun hancur dan kelamnya realitas yang harus dihadapi, kita tidak pernah benar-benar sendirian untuk merengkuh luka dan menemukan kedamaian."

EASTER EGG FOUND!

Type the code KARYA-BERKARYA-1782

in the Inclusive Game Menu (opens in a new tab) to claim 10 Coins!

Hurry! Only 15 quota left.

Browse other interesting articles in the topics of game, aksesibilitas, disabilitas, petualangan, and emosional.

Contribute to Kartunet: Have a story, opinion, or interesting experience regarding disability and inclusion? We would love to publish your work! Submit your writing via email to redaksi@kartunet.com. You can read the complete guidelines on the Writing Guide page.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika