Abdul Hadi:
Catatan waktu tetiba rindu,
Sebut aku gila karena mencintai dia; Entitas tak terjamah yang sudah seharusnya berada di alam arwah.
Raganya telah lebur tertimbun tanah, akan tetapi jiwanya masih terjebak di dunia fana.
Cinta yang tak seharusnya ada, namun mekar dengan sempurna.
Bak renjana bertaut pada sebuah akara, mendekapnya adalah fatamorgana.
Dan memilih berkubang dengan cinta berbeda—melibatkan asmara dua dunia, tentu bersama bukanlah akhirnya, sebab alam kami tak lagi serupa.
Tetapi 'tuk memutus jalinan ini pun sukar rasanya.
Mengenang
Akbar AP:
Ketika dia telah menempuh rute baru,
Dan aku masih terpaku dengan skema fana yang menyelimuti sekitar pijakanku, Terjerembab oleh diri menyampaikan qoul selamat jalan,
Padahal ketidakrelaan sungguh terasa menyesakan dada.
Luka ini juga masih belum kering, justru membuatku terbaring gering.
Kemergianmu adalah salah satu pemberhentian dalam lembaran hidup rapuhku.
Semoga aku kuat,
Dengan mengenang meski harus berulang kali meneteskan air mata pada pusara yang telah lama belum tercerabut rumputnya.
Lantas ku tengadahkan tangan pada angkasa yang benderang,
Oleh sinar mentari dan sinaran kebaikanmu,
Semoga Tuhan menyayangimu dan apa-apa yang telah kamu tinggalkan.
Miftahul Hadi:
Ketika jari jemari lentik dan halus itu menuntunku untuk menggores tinta di atas kertas putih, aku hanya bisa berkata silakan apa yang ingin kau lakukan.
Akan tetapi kamu menggoreskan makna demi makna sajak yang ditulis oleh imam Malik dengan indahnya. Satu huruf yang kau goreskan di atas kertas yang kumiliki, seindah ribuan bunga yang mekar di taman yang luas.
Sekarang tinta itu masih melekat erat di atas kertas yang ku genggam seakan takut terjatuh ke tempat yang kotor. Meskipun jari jemari yang lentik itu telah pergi bersama jasad ke dalam bumi dengan damainya, aku tetap menghargai hasil karyanya seakan yang menciptakannya masih ada.
Masih kuingat huruf demi huruf yang tergores di sini, tak akan aku lupakan walaupun sampai akhir hayat nanti.
Untukku, untukmu, dan untuk kitab Alfiah karya Ibnu Maliki. Mungkin saksi mati akan selalu abadi, walaupun yang membutuhkan saksi telah kembali ke tangan ilahi.
Akbar AP:
Kini engkau telah menempuh perjalanan penantian akan hadirnya akhir hari yang entah kapan terjadinya.
Aku cemas sebetulnya akan kondisimu di sana.
Tetapi cukup yakin,
Karena teringat semasa engkau masih membersamai dalam mengeja sekalipun itu terbata.
Isyarat Ilahi yang tertuang dalam guratan tangan-tangan mulia yang mungkin telah engkau jumpai di sana.
Lantunan syurgawi yang barangkali dapat engkau nikmati keabadian harumnya di sana.
Sungguh, selamat jalan, selamat bahagia.
Semoga yang di sini, tidak terbenam dalam lumpur kepedihan.
Miftahul Hadi:
Bersama kenangan yang masih tersisa, aku sangat yakin kamu akan selalu baik-baik saja di sana.
Harum bunga mawar yang terakhir kuhirup dari tempatmu kini berada, menjadi kekuatan untuk aku tetap bertahan mengenang semua jasa-jasa yang pernah kau berikan.
Syair dan sajak yang masih tersimpan rapi di perpustakaan dalam dada,, kini menjelma menjadi lembaran demi lembaran puisi yang penuh motivasi.
Karena aku mengenalmu bukan hanya sekedar ilusi, akan tetapi kita saling mengenal bagaikan sepasang burung merpati.
Perihal aku dan kamu yang terikat oleh perjalanan cinta, masih ada abah yang menjadi orang ketiga di dalam hubungan pertemanan kita.
Antara kita bukan sekedar santri putri atau santri putra, akan tetapi dua insan manusia yang dapat saling menghargai karya.
Kini kesuksesanku masih di ambang jalan, sedangkan kesuksesanmu sudah mencapai titik kesempurnaan.
Aku hanya dapat berharap bahwasanya muhibah kita yang terakhir, tidak dijadikan oleh Allah sebagai musibah.
Akbar AP:
Allah lebih menyayangimu dengan mendamaikanmu di bawah muka bumi, Sedangkan aku masih diuji-Nya di bawah atap langit.
Tetapi perlahan aku mulai final merelakanmu, Dengan berusaha bangkit berdikari, Melanjutkan amanat perjuanganmu.
Kisah kebersamaan sepasang merpati dalam melukis hari dengan karya,
Memang hanya sampai sekian,
Namun, realita akan selalu mengulang dengan tasydid pengulangan yang sama,
Bahkan boleh jadi lebih dari sekedar hamzah madnya pengalaman.
Yang jelas,
Ku waqofkan untaian cerita membisu ini seiring larutnya malam.
Semoga aku kuasa menemukanmu di sana,
Dengan tertatihnya ikhtiar yang akan ku mulai dari detik ini.
Rute Rindu (Sebuah kolaborasi puisi asmara dari 3 sisi)
- Penulis
- Akbar Ariantono Putra
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 4 menit baca
- Jumlah pembaca
- 5 kali dibaca
Tentang Penulis
Putra kelahiran Bantul Yogyakarta pada 2 Februari 2003 serta lelaki tunanetra ini menggemari bacaan kritis bernuansa sosial budaya, sejarah, petualangan, dan fantasi. Dia tengah menyelesaikan studinya di S1 Ilmu kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sejak 2022. Bermodalkan pembaca layar yang menyuarakan teks di gadget, minat literasinya berkembang dan banyak sudah event sastra yang diikutinya, diantaranya Antologi Cerpen Museum (HUT Sastra Bulan Purnama ke-13) pada 2024, Antologi Puisi Bulan Kelahiran bersama Sastra Bulan Purnama pada 2025, dan Antologi Puisi Kebangsaan Sastra Bulan Purnama pada Mei 2026. Selain itu, sebagai lulusan angkatan pertama Sekolah Jurnalistik Disabilitas asuhan Agoes Wiedartono pada 2025, Akbar pernah mempublikasikan karyanya di sejumlah media, seperti KansNews, VartaDIY, NegriNews, dan Suara Anak Negri
Reaksi Artikel
Bagikan respon Anda setelah membaca artikel ini.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Suka artikelnya?
Bantu sebarkan agar makin banyak orang mendapatkan manfaatnya.
Artikel Terkait
Artikel Paling Direkomendasikan Pembaca
Artikel terpopuler berdasarkan jumlah pembaca dan reaksi positif komunitas.
