Di pesisir pantai,
Aku tenggelam dalam lamunan.
Lamunan tentang hatiku
Yang terombang-ambing ombak,
Ombak rasa yang kadang menenggelamkanku,
Hingga aku megap-megap kehabisan napas.
Atau kadang membuatku terapung,
Tak berdaya ingin meraih daratan.
Di dalam lautan aku memandangmu,
Kau, yang selama ini kucoba lupakan.
Namun nyatanya kau tetap di sana.
Di atas air kupandang lagi dirimu,
Samar namun aku tahu kau tetap di sana.
Kucoba menyingkirkanmu,
Namun aku tak berdaya.
Kucoba mencari bayangan lain,
Sempat bertahan sekian lama,
Tapi bayanganmu mengembalikanku ke bawah lautan.
Saat kucoba selami rasaku,
Aku sadar, aku merindukanmu.
Aku sadar aku masih mencintaimu.
Aku sadar betapa kuatnya cintaku padamu.
Aku sadar betapa rasa ini tak mampu kuhapuskan,
Apalagi dalam sekejap mata.
Rindu ini tak dapat kupungkiri,
Ternyata masih kekal seperti sebelumnya.
Aku menyesal karena mengabaikan rindu ini.
Maafkan aku.
Aku terlalu bodoh untuk melupakanmu.
Aku yang sekian lama memeluk tulang rusuk,
Yang kujaga untukmu.
Tapi aku mencoba melepaskan tulang rusuk ini,
Untuk bayangan lain yang baru kutemui.
Maafkan aku.
Aku mengingkari janjiku.
Tapi aku kan berusaha,
Untuk menjaga tulang rusuk ini
Hanya untukmu,
Hanya untuk kauluruskan seperti seharusnya.
Puisi: Tulang Rusuk
- Penulis
- nurulrahmah
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 1 menit baca
- Jumlah pembaca
- 7 kali dibaca
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Reaksi Artikel
Bagikan respon Anda setelah membaca artikel ini.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Suka artikelnya?
Bantu sebarkan agar makin banyak orang mendapatkan manfaatnya.
Artikel Terkait
Artikel Paling Direkomendasikan Pembaca
Artikel terpopuler berdasarkan jumlah pembaca dan reaksi positif komunitas.