Lompat ke Konten Utama

Puisi: Seutas Rindu

Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
2 menit baca
Jumlah pembaca
4 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: KARFIKSI

Unduh Artikel PDF

Untuk hati yang sepi,

Izinkan daku membelitkan seutas tali rindu.

Izinkan daku menggantungkan benang-benang harapan.

Pada hati yang ingin kuhalalkan.

Kujemput cinta, seperti janji untuk bersama.

Tetap kubawa seutas rindu dalam jemariku,

Kuketuk pintunya, membujuk mendayu

Dengan angan-angan pintu itu dapat terbuka.

Sayup kudengar langkahnya,

Dan aku berdiri,

Menunggu dengan tangan terbentang,

Bersiap menyambutmu dalam pelukan,

Dengan seutas tali rindu masih dalam genggaman.

Kasih, riak air seolah memantulkan wajahmu.

Jangan! Tolong jangan kaugoda aku lagi!

Aku bersumpah akan menarikmu dengan belenggu rindu,

Dan kita akan merindu bersama.

Di antara utas rindu yang membelit dan merajut sendiri.

Setiap pagi kau dan aku terbangun,

Merasakan hangat yang sama

Dalam belenggu dari utas benang rindu

Yang telah kupintal namun tak menghasilkan apa-apa.

Tapi aku masih yakin

Bahwa utas rindu ini akan membawaku padamu.

Oh, ampunilah.

Berilah aku kesempatan itu.

Beri daku kesempatan tuk rasakan manisnya rindu.

Walau aku takut, rindu itu akan menjadi terlalu berat.

Ringan seperti benang,

Namun berat seperti kumpulan batu yang mengikatku erat.

Tapi seutas rindu akan mengikat kita berdua

Dalam ikatan suci di bawah naungan ridha Tuhan.

Bersama seutas tali rindu, kau dan aku bersatu

Menjadi sepasang buluh perindu yang terikat

Membentuk simpul baru yang tak akan pernah putus

Walau utas lain mencoba menarik rajutan kita.

Tapi aku percayakan takdir kita,

Pada seutas rindu yang menjadi pengikat kuat.

Tentang Penulis

nurulrahmah

Bio penulis belum tersedia.

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Suka artikelnya?

Bantu sebarkan agar makin banyak orang mendapatkan manfaatnya.

WhatsApp X
  • Lembaran Kegelisahan Hari Ini, Kumpulan Puisi

    Empat puisi dalam Lembaran Kegelisahan Hari Ini membedah dinamika batin manusia dari sudut yang berbeda. Menambang Teori menyoroti pencarian pengetahuan, Telinga yang Gelisah mempertanyakan cara memahami realitas, Paradox Berdikari mengulas ketangguhan dan kemandirian, sedangkan Menyimpan Senyumanmu merekam jejak kenangan yang memberi kekuatan dalam menjalani kehidupan.

    Akbar Ariantono Putra
  • Merah Matahari #3

    Tidak semua keraguan lahir dari kebohongan atau pertengkaran. Kadang, ia datang diam-diam lewat jeda yang terlalu panjang, suara yang terdengar berbeda, atau perasaan ganjil yang tak bisa dijelaskan. Dan malam itu, Senja mulai merasakannya.

    fMahardini

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.