Untuk hati yang sepi,
Izinkan daku membelitkan seutas tali rindu.
Izinkan daku menggantungkan benang-benang harapan.
Pada hati yang ingin kuhalalkan.
Kujemput cinta, seperti janji untuk bersama.
Tetap kubawa seutas rindu dalam jemariku,
Kuketuk pintunya, membujuk mendayu
Dengan angan-angan pintu itu dapat terbuka.
Sayup kudengar langkahnya,
Dan aku berdiri,
Menunggu dengan tangan terbentang,
Bersiap menyambutmu dalam pelukan,
Dengan seutas tali rindu masih dalam genggaman.
Kasih, riak air seolah memantulkan wajahmu.
Jangan! Tolong jangan kaugoda aku lagi!
Aku bersumpah akan menarikmu dengan belenggu rindu,
Dan kita akan merindu bersama.
Di antara utas rindu yang membelit dan merajut sendiri.
Setiap pagi kau dan aku terbangun,
Merasakan hangat yang sama
Dalam belenggu dari utas benang rindu
Yang telah kupintal namun tak menghasilkan apa-apa.
Tapi aku masih yakin
Bahwa utas rindu ini akan membawaku padamu.
Oh, ampunilah.
Berilah aku kesempatan itu.
Beri daku kesempatan tuk rasakan manisnya rindu.
Walau aku takut, rindu itu akan menjadi terlalu berat.
Ringan seperti benang,
Namun berat seperti kumpulan batu yang mengikatku erat.
Tapi seutas rindu akan mengikat kita berdua
Dalam ikatan suci di bawah naungan ridha Tuhan.
Bersama seutas tali rindu, kau dan aku bersatu
Menjadi sepasang buluh perindu yang terikat
Membentuk simpul baru yang tak akan pernah putus
Walau utas lain mencoba menarik rajutan kita.
Tapi aku percayakan takdir kita,
Pada seutas rindu yang menjadi pengikat kuat.
Puisi: Seutas Rindu
- Penulis
- nurulrahmah
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 2 menit baca
- Jumlah pembaca
- 4 kali dibaca
Kategori: KARFIKSI
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Suka artikelnya?
Bantu sebarkan agar makin banyak orang mendapatkan manfaatnya.
Artikel Terkait
Lembaran Kegelisahan Hari Ini, Kumpulan Puisi
Empat puisi dalam Lembaran Kegelisahan Hari Ini membedah dinamika batin manusia dari sudut yang berbeda. Menambang Teori menyoroti pencarian pengetahuan, Telinga yang Gelisah mempertanyakan cara memahami realitas, Paradox Berdikari mengulas ketangguhan dan kemandirian, sedangkan Menyimpan Senyumanmu merekam jejak kenangan yang memberi kekuatan dalam menjalani kehidupan.
Merah Matahari #3
Tidak semua keraguan lahir dari kebohongan atau pertengkaran. Kadang, ia datang diam-diam lewat jeda yang terlalu panjang, suara yang terdengar berbeda, atau perasaan ganjil yang tak bisa dijelaskan. Dan malam itu, Senja mulai merasakannya.
