Lompat ke Konten Utama

Puisi: Jarak dan Kenangan

Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
1 menit baca
Jumlah pembaca
9 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: KARFIKSI

Kala pagi tiba, Kala mentari membiaskan cahayanya Menyinari bumi dengan senyumnya yang malu-malu. Semilir angin menyapaku, Bersama kenangan yang tak terlupakan. Bersamamu, segala yang terindah dalam hidupku. Di antara kau dan aku, ada sehelai benang tipis. Ataukah itu dinding kaca? Matamu dan mataku bertemu dalam pantulannya. Namun hati kita, lekat tak terlepaskan. Sayup kudengar suaramu, bercerita tentang musim semi yang indah. Namun samar kudengar tangismu, mengadu tentang musim dingin yang tak kunjung usai. Demikian pula aku. Kau adalah sandaran walau tak nampak. Jarak dan waktu memisahkan kita, Namun ragamu seakan nampak di depan mata. Rintik hujan jatuh melewati pipiku, saat rindu membelenggu. Kegersangan melanda jiwaku, saat cemas memburu. Namun senyummu hapuskan pilu. Kawan… Walau raga tak bersua, Namun hati saling bertaut. Dirimu yang paling berarti, Walau kita sebatas berkirim surat, Atau saling menatap lewat benda kotak hitam putih.

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik puisi.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.