Pada jiwa mana kau harus berteduh
Tak ada lain jalan
Memang itu yang seharusnya
Mana kala gumpal telah mencair
Tetespun bisa saja menjadi embun
Kadang pemuda itu rindu akan buih
Mana kala ia telah menenang
Berhambur ranju pada pita-pita satu ketukan
Tapi, pemuda tetaplah manusia
Jika temannya cerita elok rinjani
Maka aku bisa lebih dari everest
Jika sudah,
Maka lengkap sudah muka pendosa muda
Hawa....
Lagoon dari kisah yang disengaja
5 persen yang mengatakan aku tulus
Pelengkapnya, semua pemuda sama saja
Makanya, aku tak suka pemuda-pemuda itu
Manamacam tyas 10 Kilo meter
Bisa mengasuh paruh baya pelengkapnya
Bukan salah,
Menang adalah keinginan yang menderu
Tipis antara deru mesin dan kocaknya rantai
Sak kan badai menuju hitam beraroma rindu
Bernama Hawa lain yang malam pasti tahu akan pembeda dari balik selimut yang menderu
PranataWahyu
Pemuda Berkalung Hawa
- Penulis
- dwiwahyu@rocketmail.com
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 1 menit baca
- Jumlah pembaca
- 1 kali dibaca
Kategori: KARFIKSI
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Suka artikelnya?
Bantu sebarkan agar makin banyak orang mendapatkan manfaatnya.
Artikel Terkait
Lembaran Kegelisahan Hari Ini, Kumpulan Puisi
Empat puisi dalam Lembaran Kegelisahan Hari Ini membedah dinamika batin manusia dari sudut yang berbeda. Menambang Teori menyoroti pencarian pengetahuan, Telinga yang Gelisah mempertanyakan cara memahami realitas, Paradox Berdikari mengulas ketangguhan dan kemandirian, sedangkan Menyimpan Senyumanmu merekam jejak kenangan yang memberi kekuatan dalam menjalani kehidupan.
Merah Matahari #3
Tidak semua keraguan lahir dari kebohongan atau pertengkaran. Kadang, ia datang diam-diam lewat jeda yang terlalu panjang, suara yang terdengar berbeda, atau perasaan ganjil yang tak bisa dijelaskan. Dan malam itu, Senja mulai merasakannya.
