Pada jiwa mana kau harus berteduh Tak ada lain jalan Memang itu yang seharusnya Mana kala gumpal telah mencair Tetespun bisa saja menjadi embun Kadang pemuda itu rindu akan buih Mana kala ia telah menenang Berhambur ranju pada pita-pita satu ketukan Tapi, pemuda tetaplah manusia Jika temannya cerita elok rinjani Maka aku bisa lebih dari everest Jika sudah, Maka lengkap sudah muka pendosa muda Hawa.... Lagoon dari kisah yang disengaja 5 persen yang mengatakan aku tulus Pelengkapnya, semua pemuda sama saja Makanya, aku tak suka pemuda-pemuda itu Manamacam tyas 10 Kilo meter Bisa mengasuh paruh baya pelengkapnya Bukan salah, Menang adalah keinginan yang menderu Tipis antara deru mesin dan kocaknya rantai Sak kan badai menuju hitam beraroma rindu Bernama Hawa lain yang malam pasti tahu akan pembeda dari balik selimut yang menderu PranataWahyu
Pemuda Berkalung Hawa
- Penulis
- dwiwahyu@rocketmail.com
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 1 menit baca
- Jumlah pembaca
- 8 kali dibaca
Kategori: KARFIKSI
Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik puisi, filosofi, curahan hati, dan refleksi.
✨ Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.
