PELANGI DAN CINTA
- Penulis
- fidirukmana
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 18 menit baca
- Jumlah pembaca
- 1 kali dibaca
Kategori: KARFIKSI
Tag: cerpen, #KisahKlasikMasaLampau
Tanggal 9 Desember 1988. Di Kabupaten Sleman Yogyakarta, ratusan tunanetra berkumpul di Gedung Gelanggang Pemuda (Youth Center Yogyakarta). Tampak kesibukan di pagi itu sudah semakin ramai. Beberapa mitra bakti (relawan dan relawati) berkumpul di depan gedung pertemuan. Di samping mereka tampak tumpukan snek dan minuman siap dibagikan.
“Dengan demikian, sidang ini saya nyatakan ditutup!” kata Andri lantang di tengah-tengah sidang organisasi yang ramai itu.
“Alhamdulillah….” Gumam seluruh peserta sidang bersyukur atas selesainya sidang yang melelahkan itu.
sebuah persidangan telah selesai dari semua persidangan Musyawarah Dewan Pleno Nasional organisasi tunanetra tersebut. Ya, sebuah organisasi yang mungkin tidak begitu terkenal di kalangan masyarakat umum. Organisasi yang memiliki anggota para tunanetra . Mungkin terkesan aneh dan agak asing di telinga masyarakat umum. Apakah tunanetra juga bisa berorganisasi? Apakah bisa seorang tunanetra juga bisa menyelenggarakan sebuah acara? Mungkin terselip pertanyaan-pertanyaan tersebut di hati masyarakat awam. Namun, itulah yang terjadi…. Ternyata mereka para tunanetra juga bisa berorganisasi, mereka juga bisa menyelenggarakan sebuah acara yang dinamakan Musyawarah Dewan Pleno Nasional. Sebuah acara yang membahas banyak hal. Di antara pembahasan yang diadakan di Musyawarah Dewan Pleno Nasional tersebut adalah masalah kemurtadan yang terjadi di kalangan Umat Islam khususnya di kalangan para tunanetra, masalah pemberdayaan ekonomi yang masih lemah di kalangan Rakyat Indonesia, masalah pemberdayaan para tunanetra di tengah-tengah masyarakatt awam dan masalah-masalah lain yang sedang menghangat di kalangan masyarakat luas. Mereka menyelenggarakan kegiatan itu direncanakan selama tiga hari tiga malam yang bertempat di Gedung Gelanggang Pemuda Youth Center Sleman Jogjakarta.
Setelah membubarkan persidangan, Andri salah seorang pengurus dari organisasi tunanetra tersebut tampak bergegas keluar dari ruang sidang. Di luar ruangan tersebut tampak berjajar para Mitra bakti yang membantu pelaksanaan acara tersebut sibuk membagi-bagikan snek dan minuman. Para relawan dan relawati ini adalah para pendamping tunanetra yang dibutuhkan setiap saat untuk membantu hal-hal yang tidak dapat dikerjakan oleh para tunanetra secara mandiri seperti membaca dokumen dalam bentuk visual, membagi-bagikan makanan kepada semua peserta musyawarah dan hal-hal lain yang tidak mungkin dilakukan oleh tunanetra.
“Mau kemana bang? Ini snek dan minumannya.” Tegur seorang mitra bakti kepada Andri yang baru keluar dari ruangan.
Ya, Andri tahu betul siapa pemilik suara itu. Dia adalah Dini Sarwani Hasibuan, salah seorang mitra bakti yang berasal dari Sumatra Utara yang berkenan membantu acara Musyawarah Dewan Pleno Nasional tersebut. Perkenalannya dengan Dini adalah ketika organisasinya membuka stand di salah satu perguruan tinggi di Jogjakarta untuk merekruit para relawan untuk menjadi mitra bakti atau pendamping para tunanetra dalam organisasi tunanetra tersebut. Organisasi tunanetra itu membutuhkan banyak relawan karena organisasi akan menyelenggarakan kegiatan Musyawarah Dewan Pleno Nasional untuk para tunanetra.
Akan tetapi, sebelum para relawan itu diterjunkan dalam kegiatan musyawarah, mereka wajib menerima trainning yang dilaksanakan oleh organisasi. Dan sebagai instruktur bagi para relawan dan relawati adalah mereka para pengurus tunanetra yang langsung membimbing mereka. Para instruktur tunanetra itu akan memberi tahu bagaimana cara mendampingi dan memperlakukan para tunanetra dalam kehidupan sehari-hari.
“Untuk kegiatan sekarang adalah kegiatan empati game. Pada saat inilah para relawan akan mensedekahkan matanya bagi teman-teman tunanetra.”
“Bah, bagaimana pula itu bang? Masa kami harus mensedekahkan mata kami untuk tunanetra? Takutlah bang kalau harus mata kami dicopot dan disedekahkan kepada tunanetra.” Teriak salah seorang gadis dengan logat Batak yang kental memotong penjelasan Mas Yudi ketua dari training relawan itu.
“Hahaha….”
seketika tawa buncah dari semua peserta trainning yang hadir. Sebagian tertawa karena mendengar gadis itu berbicara dengan logat Batak yang menurut mereka lucu, sebagaian lagi tertawa karena mengetahui gadis itu salah paham dengan penjelasan Mas Yudi.
“Bukan begitu maksud saya mbak. Maksudnya mensedekahkan mata adalah kalian para relawan harus menjelaskan segala benda dan apa saja yang kalian lihat kepada teman-teman tunanetra. Dengan begitu kalian dapat berbagi kepada tunanetra apa saja yang kalian lihat kepada tunanetra.” Jelas Mas Yudi sambil masih tersenyum geli.
“Oh, aku kira mata kami harus dicopot dan disedekahkan untuk tunanetra.” Jawab gadis itu malu.
“Enggaklah mbak, mereka para tunanetra tidak perlu diberi donor mata kok. Mereka masih punya mata yang normal kok. Betulkan An?” tanya Mas Yudi kepada Andri.
“Betuuul. Mata yang normal itu ya mata kaki maksud Mas Yudi iya kan mas?” jawab Andri sambil tertawa karena tahu kemana maksud pembicaraan Mas Yudi.
“hahaha….” Kembali para peserta trainning tertawa mendengar kelakar Mas Yudi dan jawaban Andri.
Akhirnya oleh Mas Yudi para relawan disuruh mendampingi para tunanetra dan berkeliling di sekitar Gelanggang Pemuda Youth Center tersebut. Mereka disuruh mendeskripsikan semua yang mereka lihat kepada tunanetra.
“Bang, ayo kita jalan. Kata Mas Yudi aku bagian mendampingi abang.” Kata gadis yang tadi ditertawakan oleh peserta kepada Andri.
“Oh, rupanya mbak yang kebagian dampingi saya. Oklah, ayo kita jalan.” Kata Andri sambil berdiri dari duduknya.
Andri sendiri tidak begitu mengira bahwa yang akan mendampinginya dalam trainning relawan ini adalah gadis yang tadi bertanya kepada Mas Yudi.
“Bentar ya bang, aku mau ambil foto dulu…,” demikian kata Dini gadis yang tadi bertanya dan sekarang mendampingi Andri itu.
Sebetulnya Andri sedikit kesal kepada Dini gadis dari Sumatara Utara itu. Dalam berkeliling Gelanggang Pemuda itu Dini jarang sekali mendeskripsikan keadaan di sekeliling mereka. Dia malah sibuk memfoto benda-benda disekitarnya dengan tustel barunya. Katanya pemandangannya indah untuk difoto. Akan tetapi Andri tidak tahu sama sekali benda-benda apa saja yang disebut indah itu karena Andri tidak dijelaskan sedikitpun.
“Din, kan kata Mas Yudi kamu disuruh menjelaskan apa yang kamu lihat kepada saya. Kok malah sibuk dengan foto-foto sih.” Sergah Andri mengingatkan.
“Gampang bang, nanti aku jelasin setelah aku foto. Tunggu ya.” Jawab Dini santai sambil terus menjepretkan tustelnya.
“Emang yang kamu foto apa sih? ?” tanya Andri agak kesal karena tidak dijelaskan sedikitpun.
“Aku lagi foto pelangi bang. Indah banget lho pelanginya.” Kata Dini polos.
“Walah, disuruh mendeskripsikan alam sekitar kok malah memfoto pelangi. Ini nih, kayaknya gadis ini perlu diberi pelajaran.” Gumam Andri dalam hati agak jengkel.
Bagaimana tidak jengkel, Andri yang dari tadi berjalan bersamanya jarang dideskripsikan pemandangan sekitar. Eh sekarang dia malah memfoto pelangi yang bagi Andri pelangi itu hanya sebuah ketiadaan karena dari dia lahir dahulu, dia tidak pernah mengetahui bentuk dan warna pelangi yang katanya indah itu.
“Din, pelangi itu seperti apa sih? Apa dia panjang seperti ular atau kasar seperti batu karang atau seperti apa?” tanya Andri kepada Dini dengan menganalogikan pelangi seperti benda-benda yang bisa diraba.
Yah, pertanyaan Andri ini pasti akan timbul pula di hati-hati para tunanetra yang mengalami ketunanetraan dari sejak lahir. Mereka tidak akan tahu putih itu bagaimana, hitam itu seperti apa, yang mereka tahu ya benda-benda yang dapat mereka raba.
“Bah, pelangi itu ya tidak kasar atau panjang seperti ular bang. Pelangi itu indah berwarna-warni. Ada yang hijau, ada yang kuning, ada yang merah ya pokoknya mejikuhibiniu seperti pelajaran kita di SD itulah.” Jawab Dini menjelaskan sebisanya.
Pikir Andri, gadis ini memang sepertinya belum bisa menjelaskan sesuatu hal yang dilihatnya secara detail kepada tunanetra. Dalam penjelasannya dia ingin padat jelas singkat. Demikian pikiran Andri.
“Tapi Din, warna hijau itu, merah, kuning itu seperti apa? Saya kan tunanetra sejak lahir. Jadi sebetulnya warna merah itu sepeti apa? Apakah warna merah itu kasar seperti karang di tepi pantai itu? Atau bagaimana?” pancing Andri agar Dini bisa menjelaskan kepada tunanetra.
Sejenak, suasana menjadi hening. Dini tampak terdiam sesaat. Dia merasa bingung bagaimana menjelaskan macam-macam warna yang dilihatnya itu. Dia tidak menyangka kalau ternyata tunanetra sejak lahir untuk tahu warna saja sampai tidak terbayang seperti itu. Dini memasukan kamera tustelnya ke dalam saku. Dia memandangi wajah Andri sejenak. Terbayang olehnya, betapa kasihannya tunanetra di hadapannya itu. Warna saja dia tidak tahu.
“Ma maaf bang, Dini tidak bisa menjelaskan warna itu seperti apa. Tapi yang jelas warna-warni yang terjadi pada pelangi itu indah sekali.” Jawab Dini perlahan karena takut menyinggung perasaan Andri.
“Bagi kami Din, pelangi itu seolah tidak ada. Kamu mau bercerita tentang indahnya pelangi itu seperti apa juga saya tetap tidak akan tahu hadirnya pelangi itu di langit sana. selamanya pelangi itu takan dapat saya raba. Maka selamanya pelangi itu bagi saya tidak ada.” Jelas Andri yang benar-benar mengungkapkan perasaannya karena sejak dulu dia selalu kecewa mendengar adiknya berbicara tentang pelangi yang tidak pernah ia rasakan keberadaannya.
Kembali keduanya terpekur dalam diam. Dini kembali tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada Andri tentang keindahan pelangi.
“Oh betapa kasihannya tunanetra di depanku ini. Oh betapa beruntungnya aku yang masih diberi kenikmatan memandang pelangi yang indah itu. Oh ingin rasanya aku bercerita tentang indahnya pelangi itu kepadanya. Tapi bagaimana mungkin.” Begitulah gumam Dini dalam hati.
“Din, kalian dapat melihat berbagai macam kenikmatan Allah sebanyak-banyaknya. Tapi kami, kami hanya terbatas dalam indra-indra kami yang masih dikaruniakan kepada kami. Seharusnya kalian mensyukuri kenikmatan Allah yang dianugarahkan kepada kalian.” Kata Andri pelan namun menghunjam tajam ke dalam hati Dini.
“Iya bang, aku baru sadar ternyata betapa besar Allah menganugrahkan kenikmatan kepada kami. Saat ini aku belum tahu caranya menghadirkan pelangi ciptaan Allah itu di hatimu. Tapi aku punya tekad bang, suatu saat aku pasti bisa menjelaskan kepadamu tentang pelangi itu. Aku yakin suatu saat kamu akan betul-betul merasakan indahnya pelangi itu dalam hatimu.” Jelas Dini dengan tekad yang kuat.
Dari saat itulah Dini dan Andri mulai dekat. Empatinya mulai terbangun dari saat itu. Sejak saat itu pula kecuekan Dini mulai hilang. Setiap mendampingi para tunanetra, sebisa mungkin dia akan menjelaskan apa yang dilihatnya.
***
<
“Saya mau ke toilet dulu. Taruh aja snek dan minumannya di kursi. Nanti saya ke sini lagi.” Jawab Andri sambil terus berjalan ke arah toilet.
“Ternyata ramai juga ya pertemuan tunanetra seperti ini. Aku malah jadi terpekuk-pekuk melihat acara seperti ini. Kok bisa ya acara tunanetra seramai ini?” tanya Dini kepada Andri yang sedang memakan snek sambil duduk di depannya.
“Kenapa harus heran? kami yang tidak bisa melihat ini kan cuman matanya yang enggak berfungsi. Anggota badan kami yang lain masih berfungsi dengan baik, kami pun juga bisa berpikir dengan normal. Kenapa sekedar menyelenggarakan acara seperti ini kami tidak mampu?” Andri justru bertanya balik kepada dini.
Entahlah, kalau Andri menceritakan tentang tunanetra kepada seseorang, dia merasa ingin menguraikan sejelas-jelasnya bahwa tunanetra itu cuman kehilangan penglihatannya saja. Sedangkan untuk anggota lainnya masih lengkap dan bisa seperti layaknya manusia biasa. Tak terkecuali juga kepada Dini, sosok gadis yang baru dikenalnya beberapa bulan yang lalu itu.
“Bukan begitu bang, aku sih juga biasa aja melihat tunanetra bisa beraktifitas. Sudah sering aku lihat kok banyak tunanetra yang masuk acara tv karena kemampuannya. Maksudku, kok banyak juga rupanya kalau berkumpul seperti ini.” Jelas Dini kepada Andri sambil tersenyum.
“Tapi bang, di Sumatra Utara sana, sungguh masih sangat memprihatinkan. Kalau yang pernah saya lihat di sana, para tunanetra itu banyak meminta-minta bang. Mereka banyak yang berada di jalan-jalan sambil minta-minta sedekah. Beda dengan di sini yang kelihatan bahwa tunanetra itu bisa mandiri. Baik itu mandiri dari sisi mobilitasnya, maupun mandiri dari sisi ekonominya.” Lanjut Dini menjelaskan.
“Heee…,” desah Andri perlahan.
“Itulah Din, yang pertama yang harus kamu sadari adalah bahwa tunanetra itu adalah manusia sama seperti manusia-manusia pada umumnya. Mereka itu ada juga yang pandai, ada juga yang bodoh, ada yang kaya, ada juga yang miskin, ada yang sekolah, ada juga yang tidak sekolah, ada yang rajin, ada juga yang malas, ada yang mendapat kesempatan, ada juga yang terkadang tidak mendapat kesempatan. Mungkin yang Dini pernah temui di sana adalah mereka yang belum pernah mendapat pendidikan, atau mungkin juga mereka itu adalah tunanetra yang kurang beruntung karena tidak mendapat pekerjaan. Tetapi banyak juga tunanetra yang diberikan kelebihan oleh Allah. Mereka ada yang hafal Quran, ada juga yang menjadi penyanyi terkenal seperti Ramuna Purba. Kalau kita mau berpikir, bukankah sama sebetulnya kami para tunanetra ini dengan manusia yang lain? Bukankah kita juga sering menjumpai para orang yang mereka itu normal secara fisik akan tetapi mereka juga minta-minta di jalan? Bukankah kita juga sering menjumpai banyak orang yang normal secara fisik yang menjadi glandangan? Nah, kalau kita pikir, bukankah sama mereka itu dengan para tunanetra keadaannya?”
“Iya bang, aku paham kok dengan apa yang abang katakan. Kalau aku sih Cuma pingin tahu lebih mendalam saja tentang tunanetra,” ucap Dini sambil membetulkan kerudungnya.
Andri dan Dini pada hari itu banyak sharing tentang tunanetra. Keinginan Andri untuk menjelaskan kepada semua orang tentang keadaan para tunanetra yang sesungguhnya, dan keinginan tahu Dini yang merasa awam tentang ketunanetraan membuat mereka tampak akrab pada hari itu. Mitra bakti yang lain tampak sibuk membagi-bagikan snek dan minuman namun Andri dan Dini tampak asyik ngobrol tentang ketunanetraan.
***
“Assalamu alaikum. Masih ingat dengan suara saya?” tampak seseorang menyapa Andri dari arah depan.
“Oh…, ya pasti ingat mas. Ini kan suara Mas Ruri. Enggak akan lupalah mas, kan setiap hari selalu yang nyuruh-nyuruh kita jamaah di Mushola asrama,” jawab Andri sambil tersenyum dan segera mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Yah, orang yang menyapa Andri adalah Mas Ruri. Dia adalah bapak asrama di sebuah yayasan tunanetra. Dulu Andri ketika masih kuliah dia tinggal di asrama tunanetra itu dan Mas Rurilah yang menjadi bapak asramanya. Mas Ruri inilah yang selalu telaten mendampingi para murid tunanetra yang berada di asrama. Mas Ruri datang bersama Mas Yitno adalah untuk menghadiri undangan organisasi tunanetra tersebut.
“Sama siapa ke sininya mas? Mana Ibu Ruri kok enggak diajak?” tanya Andri basa-basi.
“Sama Mas Yitno. Bu Ruri lagi sibuk di asrama. Biasalah, kan di asrama banyak yang harus dikerjakan,” jawab Mas Ruri hangat.
“Oh…, Mas Yitno juga datang toh. Enggak kedengeran sih suaranya jadi enggak tahu.”
Yah, Yitno inipun adalah kakak kelas Andri dahulu waktu di asrama. Inilah yang Andri maksud seperti yang Andri ungkapkan di atas bahwa tunanetra itu terkadang malah diberikan kelebihan oleh Allah. Contohnya saja Mas Yitno ini. Dia adalah salah seorang Hafidh Quran dan sekarang mengajar di Asrama Tunanetra di Jogjakarta ini. Yah, sungguh, kalau kita mau bersyukur maka nikmat Allah akan semakin ditambah. Mungkin inilah wujud dari kesyukuran yang diikrarkan oleh Mas Yitno, oleh karenanya dia mendapat anugrah dapat khatam menghafalkan Al-Quran.
“Sudah nikah belum?” tanya Mas Ruri kepada Andri dengan nada berseloroh.
“Belum Mas. Masih mencari nih,” jawab Andri pendek sambil bergurau.
“Lo, saya pikir yang ngobrol dengan kamu tadi adalah istrimu. Mbok cepet nikah, enggak baik sendirian terus.” Kata Mas Ruri setengah menasehati.
“Iya An, mbok cepet nikah. Riski itu sudah diatur Allah kok. Asal kita berniat untuk beribadah masa Allah akan melupakan ciptaan-Nya. Bukankah Allah itu telah menciptakan kita itu dengan riski, jodoh dan maut kita?” tukas Mas Yitno yang pendiam itu.
Yah, Mas Yitno adalah tipikel orang yang pendiam. Akan tetapi kalau sudah berbicara, pasti perkataannya senantiasa berbau nasehat dan motivasi.
“Ya doanya saja mas, mudah-mudahan saya segera dipertemukan dengan jodoh saya,” jawab Andri santai.
***
(baca bagian selanjutnya dengan klik next)
“Boleh saya bilang sesuatu Din?” tanya Andri ketika selesai acara pertemuan sore itu.
Mereka tampak berjalan-jalan di sepanjang Jalan di depan Youth Center lokasi pertemuan Musyawarah Dewan Pleno Nasional itu dilaksanakan. Sesekali tampak kendaraan dan orang berlalu-lalang di pinggir jalan tersebut.
“Boleh bang. Mau bilang apa gitu?”
“Kita sudah banyak berbicara tentang tunanetra. Nah, yang saya ingin tahu bagaimana pendapat Dini sendiri tentang tunanetra?”
“Pendapat apanya? Kalau menurutku ya sama seperti yang abang bilang kemarin itu. Tunanetra itu juga manusia biasa kok. Sama dengan manusia pada umumnya,” kata Dini lugas.
“Kalau begitu boleh saya…, saya…, saya … meminangmu menjadi istriku?” tanya Andri dengan ragu-ragu dan dengan muka tersipu malu.
Sejenak tiada suara yang terucap. Tampak rona wajah Dini agak merona merah mendengar perkataan Andri tadi.
“Mungkin Dini terkejut dengan perkataan saya ini. Tapi saya berharap apa yang Dini katakan tadi adalah hal yang setulusnya dari hati Dini. Tadi Dini bilang kalau tunanetra itu adalah sama seperti manusia pada umumnya. Itu berarti, seharusnya Dini juga memandang saya sama seperti manusia pada umumnya. Oleh karena itu, saya mencoba bertanya kepada Dini. Bagaimana seandainya saya meminang Dini untuk menjadi istri saya. Bukankah tunanetra juga punya hak untuk menikah? Bukankah tunanetra juga berhak untuk menyempurnakan Agama Allah itu dengan menikah? Oleh karena itu, kalau misalkan Dini menolak saya untuk meminang Dini, saya hberharap penolakan itu tidak dikarenakan ketunanetraan saya,” jelas Andri tandas.
“Aku tulus mengatakan bahwa tunanetra di mataku adalah sama dengan manusia pada umumnya. Namun tentang masalah menikah. Aku ini masih kuliah bang,” jawab Dini dengan suara santai.
“Pertanyaan saya, bukan masalah masih kulaiah atau enggak Din. Kalau seandainya Dini sudah selesai kuliah maukah Dini saya ajak nikah?” tanya Andri lagi dengan tersenyum.
“Kalau nanti kita memang sudah ditentukan oleh Allah untuk berjodoh, aku tentu berserah kepada kehendak Allah bang.”
Untuk sesaat Andri terpaku, jawaban Dini yang lugas dan jelas itu sama sekali tidak diperkirakan Andri. Perkataan Dini tampak tersirat dengan jelas bahwa Dini menerima seandainya Andri meminangnya. Sungguh, Andri tak mengira akan semudah ini perkataannya akan direspon.
“Namun sebelumnya aku ingin menjelaskan kepada Bang Andri. Aku memilih calon suami itu tidak berdasarkan kekayaannya, ketampanannya, kepintarannya. Yang aku pilih untuk menjadi imamku nanti adalah dia yang bisa membimbingku nanti ke Surga Allah bang. Orang yang aku pingin jadikan imam adalah dia yang bisa mewujudkan keingiananku untuk mendidik anakku kelak menjadi cahaya Agama Allah ini. Dan kalau memang Allah menentukan Bang Andri untuk dapat membimbing dan menuntunku ke Surga Allah, aku sami’na wa’atha’na bang.”
Kembali Andri termenung dengan perkataan Dini tersebut. Sungguh, kalau dipikir apa yang dikatakan Dini itu adalah merupakan sebuah tanggungjawab yang berat. Namun, terselip kebanggaan Andri kepada Dini yang memiliki cita-cita yang luhur itu.
“Din, saya berharap, saya akan dapat mewujudkan kesemuanya itu. Hanya modal doa saya kepada Allahlah semua harapan itu akan saya wujudkan. Mudah-mudahan cita-cita mulia itu akan saya raih,” tukas Andri mencoba menyampaikan isi hatinya.
“Yang jelas, kalau kita memang jodoh, pasti nanti ketika aku sudah selesai kuliah, kita akan menikah bang,” kata Dini kembali memecah kesunyian.
“Iya Din, saya juga berkeyakinan demikian. Kalau kita jodoh, pasti kita akan menikah. Meski saya tidak tahu bagaimana caranya dan bagaimana skenario Allah Swt. Terus terang, untuk modal nikah saja saat ini saya belum ada. Gaji dari honor saya di SLB tidak cukup untuk modal nikah kita. Namun saya yakin, kalau Allah sudah memberi jalan pasti hal itu tidak sulit bagi Allah Swt yang maha segalanya.
“Iya Bang, kita untuk saat ini hanya mampu berdoa saja. Mudah-mudahan Allah mengqabul segala doa-doa kita.”
Andri berpikir, inilah sisi baik dari orang Batak. Meskipun dialek bahasanya agak ceplas-ceplos seperti waktu trainning dengan Mas Yudi beberapa bulan yang lalu. Namun hatinya tulus dan tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan.
***
(Baca bagian selanjutnya dengan klik next)
Tanggal 27 Juni 1989. Tampak Andri tergesa-gesa menekan tombol-tombol telepon di wartel. Dia tampak tergesa-gesa menghubungi sebuah nomor.
“Assalamu alaikum…, Din, kini… kini… kini tercapai sudah cita-cita kita. Tercapai Din tercapai…,” kata Andri sambil berteriak kegirangan sambil menelepon Dini yang ada di seberang sana.
“Ada apa gitu bang? Ada apa kok sampai teriak-teriak begitu,” tanya Dini yang malah kaget karena teriakan Andri tadi.
“Kepala sekolah tadi bilang, berkas pengusulan pegawai negeri untuk para guru honorer sudah disetujui. Itu artinya, saya akan jadi pegawai negeri Din. Alhamdulillah…,” jerit Andri kembali sambil tak terasa dia jatuh tertelungkup di meja telepon wartel itu.
“Alhamdulillah…,” suara Dini di sebrang mengucap syukur.
Dan tak terasa, air mata kebahagiaan mendengar berita gembira dari Andri itu membuat air mata Dini luruh.
“Aku…, aku…, aku sudah mengira pertolongan Allah ini akan turun bang. Allah tidak akan mungkin melupakan hamba-Nya,” lanjut Dini sambil menghapus air mata kebahagiaan itu.
“Betul Din, betul, Allah bersama orang yang sabar. Sungguh, Allah bersama orang yang sabar,,” ucap Andri dengan suara bergetar.
Kini terjawablah semua keraguan yang selama ini menghantui mereka. Setelah selesainya kuliah Dini beberapa bulan yang lalu. Pertanyaan keluarga Dini kepada Andri adalah bagaimana nanti Andri memberi nafkah kepada Dini? Berapa emangnya gaji Andri? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang belum bisa dijawab Andri dengan pasti. Andri sadar berapa gajinya satu bulan hanya cukup untuk dia hidup. Itupun dengan pas-pasan.
***
Tanggal 27 Desember 1989. Andri berdiri di pinggir sungai ditemani istrinya Dini Sarwani Hasibuan. Mereka berdiri menghirup segarnya bau tanah yang tersirami rintik hujan.
“Kamu sedang melihat apa istriku?” tanya Andri lembut sambil menggandeng tangan istrinya.
“Bang, aku sedang melihat indahnya pelangi di atas sana. kini aku bisa menjelaskan kepadamu bagaimana menghadirkan pelangi itu dalam hatimu.” Kata Dini seraya meremas tangan Andri pelan.
“Betulkah itu istriku? Betulkah kau bisa menghadirkan pelangi itu di hatiku?”
“Bang, bagaimanakah perasaanmu ketika dekat bersamaku? Bagaimanakah rasa hatimu ketika mengandengku seperti ini?” tanya Dini lagi tak menghiraukan pertanyaan Andri tadi.
“Aku merasa tenang, aku merasa tentram. Sejuta cinta seakan bergejolak di dadaku saat aku bersamamu seperti ini.” Jawab Andri sambil tetap menggenggam tangan istrinya.
“Terus, apakah engkau pernah meraba bagaimana bentuk cinta itu bang? Bagaimanakah kasar atau halusnya cinta itu dalam indra perabaanmu bang? Apakah kau juga bisa merasakan adanya cinta dalam hatimu?”
Andri tampak tercenung sejenak, tanpa sadar dia tersenyum.
“Din, aku tidak pernah tahu bentuk cinta itu seperti apa. Namun aku bisa merasakan bahwa cinta itu hadir dalam hatiku. Cinta itu tidak perlu diraba tapi pasti aku yakin ada dalam hatiku.” Jawab Andri sok puitis.
“Begitulah keindahan pelangi bang. Mungkin selamanya engkau tidak akan pernah melihat indahnya pelangi. Tapi rasakanlah indahnya ciptaan Allah itu dalam hatimu. Rasakanlah indahnya pelangi itu dari cerita indahku yang akan terus kubisikan kepadamu.”
***
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
Cinta dan persahabatan
Remaja itu kelihatan menyedihkan; Lihat tubuh yang berbalut jaket tebal itu; kecil, kurus, dan Nampak rapuh. Lihat kerutan didekat bibir ceri yang mempesona, Nampak bekas senyum senduh yang dipaksakan. Lihat airmata ddipipi tirusnya, airmata yang terus menetes semenjak dia kecil. Dan lihat mata sayu dibalik lensa kacamata itu, semua emosi terterah disana. Sedih, lukah, kesal, semuanya campur-aduk jadi satu. #Cerpen #KisahKlasikMasaLampau
PERANG BATIN JEJAKA ANAK PAK LURAH
Sambil senyum-senyum, Ayu mencoret-coret Kawruh Basa Jawa milik kang masnya itu. Digambarinya bagian kosong buku tebal itu dengan sketsa perawakan Bagus dengan perwujudan mirip tokoh pewayangan petruk dan ditambahi kata-kata “Jelek tapi ngangeni”. Kebiasaaan meninggalkan coretan gurauan di kertas kosong itu memang sudah jadi tabiat anak muda zaman dulu. Walau rumah mereka berdekatan, Bagus dan Ayu tak jarang juga menuliskan surat sebagai media komunikasi. Isinya hanya hal sepele, misal pantun atau rayuan gombal saja. #Cerpen #KisahKlasikMasaLampau