Minimnya Kepedulian pada Penyandang Disabilitas
- Penulis
- yolandasimbolon
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 1 menit baca
- Jumlah pembaca
- 0 kali dibaca
Kategori: Opini
Sekitar bulan November 2013, pukul 12.30 saya pulang sekolah dan naik sebuah angkot yang terbilang cukup penuh penumpangnya. saya duduk di paling belakang dengan sangat berdesak-desakan.
Pada saat angkot yang saya tumpangi berhenti di depan pasar, 2 penumpang turun, dan seorang penyandang downsyndrom berseragam SD naik ke angkot ini bersama ibunya. karena kondisi angkot sangat penuh, jadi penyandang downsyndrom tersebut duduk di paling depan, sedangkan ibunya duduk di belakang sopir. namun sayangnya, kursi yang diduduki penyandang downsyndrom tersebut sangat sempit karena orang yang duduk melebihi kapasitas. Lalu ia berkali-kali mencoba memberi tahu ibunya dengan berkata ''sempit..sempit'', dia berulang kali merengek. namun, ibunya justru memarahi dia dg berkata kurang lebih seperti ini "Diam! Mau diturunin apa!" Padahal ini tempat umum, tanpa rasa malu si ibu memarahi anaknya.
Ironisnya, kenapa ibu penyandang downsyndrom tersebut tidak tukar posisi duduk dengan anaknya supaya dia merasa nyaman? Jelas-jelas postur tubuh anaknya tersebut lebih besar dari ibunya dan tempat duduk si ibu lebih longgar atau knp orang yang duduk disamping penyandang downsyndrom itu tidak mengalah saja?
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
Belajar dari Certificate of Visual Impairment untuk Tata Kelola Layanan Disabilitas di Inggris
Birokrasi layanan disabilitas di Indonesia masih rumit dan sering kali salah sasaran. Pelajari bagaimana sistem Certificate of Visual Impairment (CVI) di Inggris mengintegrasikan data rumah sakit langsung ke layanan sosial, dan mengapa sistem ini penting diadopsi untuk memperbaiki pendataan disabilitas (DTKS) di Indonesia.
Pentingnya Profesi Pendamping Klinik Mata (ECLO): Menjembatani Pasien Tunanetra dari Rumah Sakit ke Layanan Sosial
Setelah didiagnosa kehilangan penglihatan, pasien kerap bingung mencari rehabilitasi. Kenali profesi Eye Clinic Liaison Officer (ECLO) dari sistem CVI Inggris yang bertugas menjembatani medis dan layanan sosial, serta pentingnya adaptasi peran ini di rumah sakit Indonesia.