Tuan, dengarlah gemuruh yang bergolak di dalam dada yang terbelenggu ini! Untuk apa hamba harus mengangkat jemari dan memekikkan tembang merdeka ke udara, jikalau bendera kebebasan itu hanya berkibar di atas tanah yang menolak pijakan kami? Merdeka milik siapa, Tuan, bila sangkakala kemenangan hanya nyaring bagi mereka yang sempurna raga dalam penglihatan matamu?
Lihatlah gulungan kitab bertinta emas, piagam tingginya keilmuan yang hamba perjuangkan hingga larut malam, kini hanya menjadi alas duka di tepi jalanan. Gelar luhur para cendekiawan itu lenyap tak berbekas, berganti menjadi petikan dawai sumbang demi sesuap nasi di bawah debu bala tentara Tuan. Apa gunanya mahkota pengetahuan, jika pada akhirnya jemari ini hanya dibiarkan menadah belas kasihan di kaki lima?
Bahkan ketika pundi-pundi negeri ini beralih rupa menjadi cermin gaib berlayar kaca, pintu-pintunya justru terkunci rapat bagi kami. Cermin itu menuntut ketepatan garis paras dan kerdip mata yang tak sanggup kami persembahkan ke hadapannya. Kami terhalang di depan gerbang bentengmu sendiri, seolah-olah urat rezeki di tanah ini hanya diciptakan untuk mereka yang sanggup menatap bayangan tanpa celah.
Namun, yang paling merajam sukma, Tuan, adalah tatkala engkau dan rakyatmu memahkotai kami dengan dongeng-dongeng keliru. Engkau sebut kami 'pemberi ilham', engkau agungkan kami sebagai penakluk takdir, seakan-akan duka ini adalah tontonan megah yang layak diberi tepuk tangan panggung. Kami bukan prasasti penampung decak kagum, Tuan! Kami adalah darah, daging, dan napas yang setara denganmu. Kami tidak butuh puji-pujian palsu yang menidurkan keadilan; yang kami tuntut adalah hak untuk berdiri seimbang di atas bumi yang sama!
Jika hak-hak kami terus engkau kubur di bawah megahnya tapak singgasana, maka ketahuilah, pekik merdeka yang engkau dengungkan saban tahun itu tak lebih dari igauan dusta di tengah malam yang kelam!
EASTER EGG DITEMUKAN!
Ketik kode EDUKASI-KARTUNET-1825
Buruan! Sisa kuota hanya untuk 19 orang tercepat.

