Skip to Main Content

Merah Matahari #4

Published date
Estimated reading time
23 min read
Views count
2 kali dibaca
WhatsApp X

Category: KARFIKSI

"Senja sama Adri standby di kantor, ya? Kalian yang bakalan back up kalau sewaktu-waktu ada kebutuhan dokumen dan lain-lain dari kantor." Suara Mbak Adel terdengar jelas walaupun ada suara keramaian di latar belakangnya.

 

"Iya, Mbak." Aku dan Adri menjawab serempak.

 

"Standby sampai acara di sini selesai!"

 

"Iya, Mbak." Lagi, aku dan Adri menjawab bersamaan.

 

Sudah. Sambungan lantas dimatikan.

 

"Persiapan kita yang banyak ngerjain, giliran udah acaranya malah disuruh jaga kantor. Kalau emang kita nggak dibutuhin di kegiatan, ya udah sih, diliburin aja. Hari ini harusnya libur, loh. Sabtu ini."

 

Inginku tak menanggapi Adri, tapi aku tak bisa menahan tawaku sewaktu mendengar nada kesalnya. Entah mengapa.

 

"Kok malah ketawa sih? Nggak kesel kamu dikerjain kaya gini. Dulu rapat awal perencanaan kita ga diajak loh. Eh pas kerjaannya dapat banyak. Terus sekarang kaya gini."

 

"Ya kan namanya juga anak baru. Sabar aja lah, Dri."

 

"Stok sabarmu kebanyakan, Ja. Jangan-jangan nanti kalau diinjek-injek orang, kamu juga bakalan tetep sabar."

 

Aku berhaha-hehe saja menanggapi Adri, sedang tak mau memikirkan hal-hal tak penting seperti ini. Berusaha untuk tak memikirkan, melegakan hati.

 

"Kadang aku mikir. Kita ini sebenernya kerja apa dikerjain, sih?"

 

"Masih lanjut, Dri?" tanyaku.

 

Adri tak menjawab, mungkin dia semakin kesal dengan responku hingga akhirnya memilih untuk tak melanjutkan.

 

"Ja.. Ja. Cek grup panitia. Penting!" kata Adri.

 

Dengan cepat aku membuka pesan di grup panitia.

 

Pak Banu: Untuk kegiatan yang selanjutnya, tolong undangan dan surat permohonan membuka acara untuk pemkot maupun tamu yang lain jangan mepet.

 

Mbak Adel : Nggih, Pak. Maaf. Saya sebenarnya sudah sampaikan ke teman-teman sejak bapak minta minggu lalu, hari Kamis sudah saya tagih. Maaf undangan baru dikirim Jumat pagi.

 

Pak Banu : Ya, tidak apa-apa. Semoga yang kegiatan selanjutnya bisa lebih baik.

 

Apa? Aku membaca ulang dua pesan terakhir yang baru masuk ke grup itu. Bisa-bisanya Mbak Adel menjawab di grup begitu, padahal jelas-jelas dia baru memintaku membuat undangan dan surat permohonan Kamis malam kemarin, itu pun langsung kukirim. Aku tak menunggu Jumat untuk mengirimnya.

 

"Beneran kamu baru ngirim Jumat pagi, Ja?"

 

"Kamis malem udah ta email ke Mbak Adel."

 

"Tapi minggu lalu Mbak Adel beneran bilang ke kamu tentang ini? Soalnya aku malah nggak ngerti sama sekali tentang ini. Tahuku kan malah nggak pake pembukaan dari pemkot."

 

Aku menggeleng. "Dia baru ngasih tahu Kamis malam itu, Dri. Langsung ta bikin terus ta kirim ke dia."

 

"Waaa.. parah memang orang itu. Kamu harus klarifikasi ke Pak Banu, Ja. Masak iya kamu mau diam aja difitnah kaya gitu? Kalau aku sih nggak terima."

 

"Buat apa, Dri? Biar aja lah," jawabku sambil memasang headset dan meningkatkan volume musik yang kudengarkan.

 

Night, alunan piano Ludovico Einaudi mengalun di telingaku, sedikit bisa memberikan ketenangan. Sebentar saja, aku ingin mendengarkan lagu yang menenangkan ini.

 

Kalau kamu ada di sini dan tahu apa yang sedang terjadi, aku yakin kamu akan mengamuk padaku, lebih parah dari sekedar nada tak terima Adri barusan.

 

***

 

Kita duduk di salah satu kursi besi yang ada di trotoar jalan Ngarsopuro. Isakanmu masih terdengar walaupun tak separah sebelumnya. Beberapa orang sempat bertanya pada kita tentang apa yang terjadi sampai kamu menangis seperti ini. Kamu tak sanggup menjawab, aku tak tahu harus mengatakan apa karena otakku dipenuhi kekhawatiran sewaktu mendengarmu menangis. Jadi, Dewi, sahabatmu itu yang sibuk menjawabi, walaupun dia hanya menjawab dengan 'tak ada apa-apa'.

 

Aku tak tahu, benar-benar tak punya petunjuk mengapa kamu tiba-tiba menubruk tubuhku, memelukku erat dan menangis di tengah jalan tadi. Tak tahu juga harus melakukan apa selain balik memeluk dan mengelus punggungmu pelan. Masih kaget juga dengan semua hal yang baru saja terjadi. Dengan laki-laki yang tiba-tiba menabrak kita, tak sengaja menumpahkan minuman panas ke tubuhku, lalu membentak-bentakku. Dengan kamu yang tiba-tiba menumpahkan tangis.

 

"Aku carikan minum dulu, ya?" pamit Dewi sebelum akhirnya meninggalkan kita berdua saja.

 

"Tarik napas panjang," kataku, memberikan perintah sambil mengelus-elus punggungmu.

 

Kamu menurut, menarik napas terpanjang yang bisa kamu lakukan. Beberapa kali tarikanmu tersendat oleh isakan kecil hingga akhirnya isakanmu benar-benar berhenti.

 

"Udah lega?" tanyaku.

 

Tak ada jawaban. Semoga kamu sedang menganggukkan kepala sekarang.

 

"Kenapa nangis?" tanyaku begitu kamu benar-benar tenang.

 

"Kesel." Satu kata akhirnya kudengar darimu. Satu kata yang membuat dahiku berkerut.

 

"Kesel?" Aku bertanya heran. Kupikir kamu menangis karena sedih dan kasihan padaku. Kesal? "Sama siapa?" lanjutku bertanya.

 

"Kamu!"

 

Aku semakin heran. "Memangnya aku salah apa?"

 

"Habis kamu digituin orang diem aja. Kan dia yang salah. Dia itu jalan tapi sambil main hape, Ja. Dia yang nggak merhatiin jalan, dia yang nabrak kamu, kok dia yang ngamuk dan ngatain kamu nggak usah keluar rumah!" Suaramu sarat amarah.

 

Kali ini aku mendapatkan tangan kananmu. Dengan lembut aku menggenggamnya.

 

"Hei, sudah.. Kok malah jadi marah?"

 

Kamu tak melawan, membiarkanku menggenggam tanganmu, tak berusaha melepaskan diri.

 

"Masalahnya, aku kan nggak lihat kejadiannya kaya apa, Rekta. Daripada ribut kan mending diiyain aja. Cuma urusan kaya gini, kok."

 

"Tapi nanti kamu bakalan digituin terus, Ja."

 

"Memang kenapa? Kamu kasihan sama aku?"

 

Pertanyaan itu akhirnya meluncur juga dari mulutku. Biasanya tanpa mempertanyakan hal ini, aku sudah cukup tahu bahwa orang-orang mengasihaniku karena aku tak bisa melihat. Tapi, kali ini aku hanya penasaran saja. Aku ingin mendengar jawaban langsung darimu.

 

"Rekta?" panggilku karena tak segera mendengar jawaban.

 

"Kan aku sudah bilang, Ja. Aku kesel sama kamu. Aku kesel kalau ada orang yang nggak salah tapi terima-terima aja disalahin."

 

"Kan aku juga sudah bilang, masalahnya aku nggak lihat kejadiannya."

 

"Aku lihat. Jelas. Tapi kamu ngelarang aku buat..."

 

"Aku nggak butuh dibela, Rekta."

 

Tak ada jawaban lagi. Tak ada kata, tapi lantas kamu tiba-tiba menarik tangan dari genggamanku dan... PLAK! Pukulanmu cukup keras di lengan kiriku, tak terduga dan cepat sekali.

 

"Nyebelin!" bentakmu.

 

Kamu berdiri. Buru-buru aku berusaha meraih tanganmu lalu menahanmu.

 

"Apa?" tanyamu galak.

 

"Maaf." Satu kata itu terucap pelan. Baru kali ini aku menyadari bahwa yang baru saja kukatakan memang keterlaluan, bahwa selama ini yang kulakukan pada orang-orang yang peduli padaku sudah keterlaluan.

 

 ***

 

Duk! Lumayan keras wajahku membentur pinggiran pintu ruang pantry yang lagi-lagi dibiarkan setengah terbuka. Pasti akan membekas merah nanti. Harusnya tadi kupakai saja tongkatku karena walaupun sudah setengah tahun bekerja di sini dan hapal di luar kepala bentuk kantor ini, aku masih sangat sering menemukan pintu yang dibuka sebagian, perabot yang dipindah tanpa pemberitahuan, atau tumpukan-tumpukan dokumen yang diletakkan di lantai lorong yang siap kutabrak kapan saja.

 

"Nabrak pintu?" tanya Adri.

 

"Nggak."

 

"Itu dahimu merah panjang kaya tepian pintu." Adri melewatiku, menarik pintu agar terbuka lebih lebar.

 

"Oh. So you can see. Good." Aku mengikutinya memasuki pantri.

 

"Nggak usah lebay. Makanya, tongkatnya dipake. Sok-sok an sih. Lagian ini pintu aneh juga, kenapa ngebukanya ke arah luar, sih? Orang bagian dalam pantry masih cukup buat arah bukaan pintu ke dalam."

 

Manusia ini kadang memang bisa semenyebalkan ini. Tapi karena kami masuk di hari yang sama dan meja kami bersebelahan, tetap saja dia adalah manusia yang paling kukenal di sini.

 

"Dri, lihat gelasku?" tanyaku setelah beberapa menit tak juga menemukan gelas yang biasa kupakai setiap hari.

 

"Ini," katanya sambil meletakkan gelas di hadapanku. Entah dari mana dia mendapatkannya. "Tanganmu tadi kurang dalem nyarinya."

 

"Oh. Makasih. Kotak teh?" tanyaku lagi setelah tak juga menemukan stoples tempat penyimpanan teh celup yang biasanya ada di konter atas dekat wastafel.

 

"Di depanmu. Kebiasaan ya memang mereka ini. Males banget balikin barang ke tempatnya semula. Kan kasihan kamu harus nyariin. Mereka ini udah niat mempekerjakan pegawai berkebutuhan khusus kok ga ada usahanya buat bersikap lebih ngertiin gitu."

 

Entah apa lagi yang dikatakan Adri. Masih ada beberapa kalimat lagi, tapi aku mengabaikannya, lebih memilih membuka ponselku yang bergetar. Ada balasan pesan darimu. Tadi pagi aku sempat mengirimkan pesan, menanyakan apakah hari ini kamu akan pulang.

 

Red : Nggak tau. Hari ini ada presentasi kelompok telaah jurnal. Minggu depan ada jadwal terapi bermain. Proposalnya belum jadi.

 

Langit Senja: Yaudah gapapa. Aku hari ini bakalan lembur lagi kayanya. Mungkin besok aku ke jogja.

 

Red: Gausah ke sini dulu. Kamu beberapa hari lembur, kan. Weekend ini kita istirahat dulu aja.

 

"Ja?"

 

Aku menoleh pada Adri.

 

"Hapemu itu ngomong apa, sih? Cepet banget. Jadi kaya alvin and chipmunk."

 

"Sengaja, biar kamu nggak paham." Aku memasang senyuman lebar yang kata Arik terlihat super menyebalkan.

 

"Tapi kamu paham dia ngomong apa?"

 

"Paham."

 

"Berarti bener ya kalau tunet itu punya pendengaran super? Kaya Daredevil yak?"

 

"Iya. Makanya kamu nggak usah lagi nyayi-nyanyi nggak jelas di kamar mandi soalnya aku bisa denger dari meja."

 

"Yang bener, Ja? Padahal kamar mandi lumayan jauh loh dari meja kita."

 

Kali ini aku tak tahan untuk tak tertawa.

 

"Yang barusan itu kamu becanda, ya?" tanyanya dengan kesal.

 

"Nggak sesuper itu juga kali, Dri. Aku bisa paham hapeku ngomong apa cuma karena udah banyak latihan aja, dari dulu emang pake kecepatan pembaca layarnya ya segitu. Biar nggak makan waktu lama."

 

Adri mengangguk-anggukkan kepala. Atau, paling tidak, itu yang kubayangkan sedang dia lakukan sekarang karena dia tak mengatakan apa-apa untuk menanggapi.

 

Aku menyesap teh hangat yang mulai dingin.

 

"Ini udah deket jam makan siang kok nggak ada tanda-tanda bakal dikirimin makan siang ya, Ja?"

 

"Emang sekarang jam berapa?" tanyaku kemudian.

 

"Udah jam dua belas kurang sepuluh menit."

 

"Bentar lagi paling."

 

Aku meletakkan gelas ke atas meja makan kemudian mengeluarkan tempat insulin dari saku belakang celana jins yang kupakai. Kalau aku menyuntikkan insulinku sekarang, paling tidak aku tak perlu menunggu lagi sewaktu jatah makan siang datang.

 

"Dri, tolong liatin. Ini tanda panah kecilnya sudah di angka dua belas?" tanyaku sambil menyerahkan alat penyuntik insulinku padanya.

 

"Udah. Ini apaan, Ja?" Dia mengembalikan benda itu ke tanganku.

 

"Insulin."

 

Aku menarik kaosku ke atas, sedikit membuka bagian perutku.

 

"Hei.. hei.. aku masih normal!" katanya.

 

"Apa sih, Dri. Aku mau nyuntik insulin. Kalau ga mau lihat, keluar aja," kataku sambil membuat apusan kapas alkohol di kulit yang akan kutusuk.

 

"Kamu bisa sendiri? Nggak butuh bantuan?"

 

"Nggak. Udah biasa," jawabku.

 

Selesai. Sekarang hanya tinggal menunggu makan siang kami datang. Dengan cepat aku membereskan alat-alatku, memasukkannya ke dalam dompet penyimpanan kecil, lalu kembali menyelipkannya ke saku belakang celana.

 

"Kamu kenapa suntik insulin?"

 

"Iseng. Biar keren aja," jawabku asal.

 

"Yeee.. Aku nanya serius." Adri mendorong pintu dan menahannya sampai aku lewat.

 

"Biar bisa hidup lama, Dri. Masih pengen kawin."

 

"Bisa nggak sih Ja, sekali aja kamu serius jawabnya?" Adri terdengar mulai kesal.

 

"Hahahaha.. Sori, Dri. Diabetes."

 

"Kok bisa? Kan kamu masih muda?"

 

"Bisa. Aku diabetes dari kecil. Bisa-bisa aja."

 

Adri tak mengatakan apa-apa lagi. Aku kembali duduk di kursiku. Tak mengerjakan apa-apa, sama seperti sepagian ini. Hanya menunggu perintah sewaktu-waktu. Sesaat aku menunggu, kalau-kalau Adri kembali mengajakku mengobrol. Tidak. Dia benar-benar tidak mengajakku mengobrol lagi. Baguslah. Aku bisa berkonsentrasi menonton netflix. Lumayan membunuh waktu sambil menunggu makan siang datang.

 

Lumayan lama kemudian, aku merasakan tepukan pelan di bahu. "Tapi beneran kan kita dapat kiriman makan siang?" tanya Adri. "Ja?"

 

"Kata Mbak Adel kemarin sih gitu. Semua yang hari ini masuk dapet makan siang."

 

"Soalnya ini Mas Trias udah nyetatus makan siang dari jam setengah dua belas tadi. Harusnya punya kita juga udah sampe dong, Ja."

 

Oke. Sepertinya kekhawatiran Adri mulai masuk akal. Seharusnya jika semua mendapat jatah makan siang, kami akan mendapatkannya di waktu yang bersamaan atau paling tidak hanya berselang sedikit.

 

"Wah, nggak bener, nih!"

 

Aku menoleh. "Kenapa, Dri?"

 

"Parah ya memang bos yang satu itu. Aku barusan wa, nanyain makan siang. Dia bilang makan siangnya didrop di tempat pameran semua. Kalau mau, suruh ambil sendiri ke sana. Kalau mau." Adri memberikan tekanan pada dua kata terakhir.

 

"Yaudahlah. Pesen makan sendiri aja. Soalnya aku harus makan," jawabku sambil meraih ponsel dan membuka menu pemesanan makanan daring.

 

"Parah... parah..."

 

"Udah. Kamu mau ta pesenin apa?" tanyaku.

 

"Nggak, ah. Kesel aku, Ja. Jadi nggak laper. Kamu masih nafsu makan?"

 

"Harus nafsu, lah. Udah terlanjur suntik insulin, kok. Kalau nggak makan, nanti gula darahku ngedrop, bisa pingsan sampai mati," jawabku.

 

"Serius?"

 

Aku mengangkat bahu.

 

"Becandamu nggak lucu!"

 

Aku tertawa kecil. Aku tak bercanda. Tapi jika memang dia menganggapnya begitu, ya biar saja.

 

"Ta pesenin makan aja ya, Dri?" Akhirnya aku memutuskan, tak lagi menunggu persetujuannya.

 

Badanku rasanya sudah mulai sedikit gemetar, pertanda aku harus segera makan.

 

"Aku pesenin nasi ayam panggang," kataku.

 

"Iya. Terserah. Apa aja."

 

Salah. Seharusnya aku tak buru-buru menyuntikkan insulinku tadi dan menungu sampai makanan ada dulu. Terlalu yakin makanan akan datang tepat waktu. Aku juga dengan nekat menentukan dosis yang sama dengan tadi pagi tanpa mengecek kadar gula darahku. Maunya malas ribet, tapi jadinya malah begini.

 

"Dri?"

 

"Hmm.."

 

"Kamu liat mangkok permenku?" tanyaku sambil masih berusaha mencari mangkok plastik yang kugunakan sebagai tempat meletakkan permen di atas meja kerja.

 

"Nggak tuh, Ja." Suaranya terdengar dekat. "Di atas mejamu nggak ada."

 

"Ada yang ngambil lagi." Keluhan tak lagi bisa kututupi sekarang, nadanya pasti terdengar jelas.

 

"Kenapa emangnya, Ja?"

 

Jam berapa sekarang?" Aku tak menjawab pertanyaannya.

 

"Udah mau jam satu, sih."

 

Pantas. Insulinku sudah mulai bekerja. Tubuhku mulai terasa lemas dan gemetar karena gula darahku turun. Seharusnya sudah ada makanan yang masuk ke tubuhku sejak empat puluh lima menit lalu jadi ada gula yang masuk ke pembuluh darah dan dibiarkan masuk ke dalam sel-sel tubuhku oleh insulin tadi. Tapi karena tak ada yang masuk, dia akan memasukkan seadanya saja dan membuat gula darahku turun banyak.

 

"Ja? Kamu butuh permen?" tanya Adri sambil menepuk bahuku.

 

"Minuman manis juga boleh, Dri. Boleh minta tolong?" tanyaku.

 

"Oke.. oke. Bentar ya. Aku buatin dulu." Suara Adri semakin menjauh.

 

Rasanya mengantuk sekali. Beberapa kali aku tak bisa menahan diri untuk tak menguap.

 

"Ja, minum dulu." Adri menepuk bahuku pelan lalu menyerahkan segelas teh hangat.

 

Tanpa menunggu lagi, aku segera menghabiskan teh hangat manis yang dibuatkan Adri. Tubuhku masih sedikit gemetar saat meletakkan gelas ke atas meja. Masih akan butuh waktu beberapa menit sampai gejala ini hilang. Biasanya begitu. Untungnya, makan siang yang kami pesan datang.

 

Adri tak banyak bicara setelah makanan kami datang. Mungkin dia sebenarnya juga sudah sangat lapar, jadi butuh konsentrasi penuh untuk menikmati makan siangnya.

 

"Ja?" panggilnya setelah beberapa menit tidak ada obrolan di antara kami. "Yang kamu bilang tadi, soal kamu bisa sampai mati kalau nggak makan, itu nggak bercanda, ya?"

 

Aku tertawa kecil.

 

"Yaelah, malah ketawa. Aku serius nanya ini. Sport jantung aku tadi liat kamu tiba-tiba lemes gitu. Aku bikinin minum sambil merapal mantra tau!"

 

"Mantra?" Aku mengerutkan kening.

 

"Iya. Jangan mati dulu.. jangan mati dulu.. Takut aku kalau kamu mati."

Tawaku keras begitu mendengar jawaban Adri. Ah tapi aku tak bisa menceritakan ini padamu. Bukannya ikut tertawa, kamu pasti malah akan mengkhawatirkanku. Sama seperti selalu.

 

***

 

Aku ikut mendengarkan sewaktu umi mengajarimu cara menggunakan alat pengukur kadar gula darah dan pena penyuntik insulin yang biasa kupakai.

 

"Udah, Mi. Nanti Senja aja yang nyuntikin sendiri. Kasian Rekta, otaknya bisa overload kalau umi jelasinnya panjang banget gitu," kataku dari dapur sambil menahan senyuman.

 

"Tuh, nyebelin kan dia, Mi. Suka kaya gitu sama Rekta," adumu.

 

Langkahku kuhentikan begitu tanganku mendapatkan sandaran kursi makan yang sedang kamu duduki.

 

"Beraninya ngadu," godaku sambil mengacak puncak kepalamu pelan.

 

"Senja jangan gangguin Rekta dulu. Ini serius. Kamu tuh study tour-nya lama, loh. Tiga hari. Kamu belum pernah pergi sendirian selama itu."

 

"Kan ada Rekta. " Aku menyunggingkan senyuman lebar.

 

"Iya. Makanya Rekta harus tahu ini. Biar bisa bantuin kamu nyuntik sama ngecek gula darahmu besok."

 

Oke. Aku menyerah, tak berusaha membantah lagi, lebih memilih untuk meninggalkan ruang makan lalu menjatuhkan diri di kasur empukku di kamar.

 

Langkah kakimu yang cepat terdengar sangat jelas semakin mendekat.

 

"Kamu kemarin hipoglikemia lagi?" tanyamu begitu sampai di hadapanku. "Kok bisa? Kenapa?"

 

Aku segera bangun lalu duduk di tepi tempat tidur. Ah, pasti umi. Kenapa juga harus menceritakannya padamu padahal sudah tahu kamu mudah panik jika mendengar hal-hal seperti itu. Masih juga tak bisa menahan cerita.

 

"Ja!" tuntutmu.

 

"Biasa, nunda-nunda makan." Suara Arik terdengar jelas dari arah pintu.

 

"Kok aku nggak dikasih tau?" protesmu.

 

"Aku nggak papa, kok," kataku, berusaha menenangkanmu.

 

"Nggak papa soalnya ketahuan," kata Arik lagi.

 

"Tambahin aja terus, Rik. Bahagia banget bisa nyiram bensin ke bara api." Aku tak tahan untuk tak berkomentar balik padanya.

 

Tawa kemenangan Arik terdengar keras lalu menjauh. Dia sudah pergi.

 

"Ja!"

 

Senyuman terbaik yang kupunya sudah kupasang di wajah. Aku merentangkan kedua tangan ke depan, ke arahmu, berharap kamu menyambutnya. Dan ya, kamu menyambutnya. Jadi kutarik sedikit dan kuminta kamu ikut duduk atas tempat tidur, di sisiku.

 

"Aku nggak papa, Rekta. Beneran. Kemarin itu kan tugasnya banyak, kayanya nanggung gitu mau ta putus di tengah jalan. Jadi kuselesaiin sekalian," jelasku.

 

"Sampai lewat jam makan?" tanyamu, terdengar lebih pada khawatir, bukan menghakimi.

 

"Iya. Terus ya gitu, gemeteran aja sama lemes dikit. Habis makan udah, kok. Nggak papa. Udah, ya? Nggak usah khawatir." Aku tak melepaskan genggaman tanganmu.

 

"Lain kali jangan gitu lagi, ya? Kamu tahu kan kalau...."

 

Kepalaku terangguk cepat. "Iya, aku tahu," jawabku, masih mempertahankan senyum terbaikku.

 

Ya, aku tahu kamu tak mau kejadian tahun lalu terulang lagi. Aku tahu kamu tak mau harus melihatku tak sadar beberapa hari di ranjang rumah sakit lagi. Aku tahu kamu tak mau merasa kehilangan aku lagi. Aku tahu.

 

"Ja?"

 

"Hmm?" Kali ini aku menoleh padamu.

 

"Aku sayang kamu. Kamu tahu, kan?"

 

Kepalaku terangguk lagi. "Iya. Aku tahu. Makasih," jawabku.

 

Sebuah serangan cubitan mendadak mendarat di lengan kananku.

 

"Selalu deh kaya gitu! Nyebelin!" katamu sambil berdiri. "Orang ya kalau dibilang sayang tuh balesannya 'aku juga', bukan 'makasih'." Kamu melepaskan tanganku. "Senja nyebelin!" katamu lagi sambil melangkah pergi.

 

"Tapi kamu sayang, kan?" tanyaku.

 

"Tau! Umiiii.. Senja nyebeliin!!" teriakmu di luar kamar.

 

Senyumku melebar, tak bisa lagi kutahan.

 

***

 

Pukul enam. Aku baru saja menyelesaikan salat magrib dan sudah sangat bosan tak melakukan apa-apa di kantor. Laptop kumatikan dan segera kumasukkan ke dalam ransel.

 

"Pulang aja yuk, Dri!" ajakku.

 

"Emang udah boleh pulang, Ja? Kan kita disuruh nunggu sampai acara di sana selesai. Nanti kalau dicariin gimana?"

 

Aku sudah berdiri dan menggendong tas ransel di punggung.

 

"Nanti kalau ditanya, bilang aja aku yang maksa ngajakin kamu pulang," jawabku.

 

"Jangan dong, Ja. Bentar, aku pamit Mbak Adel aja dulu, ya? Siapa tahu boleh pulang duluan."

 

Kepalaku terangguk, mempersilakan Adri menghubungi Mbak Adel. Aku sendiri sudah malas sekali menghubunginya.

 

"Mbak, aku sama Senja boleh pulang duluan?"

 

"Pulang aja, Dri. Kan acaranya sudah selesai dari jam lima tadi," kata Mbak Adel dari pelantang suara ponsel Adri.

 

Sontak aku mengangkat wajah dan menegakkan tubuh, lalu menoleh ke arah Adri.

 

"Bukannya sesuai jadwal penutupan jam tujuh, Mbak?" tanya Adri.

 

"Kan udah ta revisi kemarin jadwalnya. Soalnya bapak minta sampai jam lima aja. Emangnya kalian ga tau tadi Pak Mamat udah nganterin perlengkapan ke gudang pabrik? Udah, pulang aja kalau mau pulang."

 

Dan seperti biasa, sambungan dimatikan secara sepihak.

 

"Di grup juga nggak ada info kalau acaranya udah selesai kan, Ja?" tanya Adri.

 

"Nggak ada, Dri," jawabku, berusaha terdengar tenang. "Yaudah, pulang, yuk!"

 

"Punya kenalan dukun santet nggak, Ja? Pengen banget nyantet orang satu itu. Untung cewek. Coba kalau cowok, udah ta ajak baku hantam!"

 

Aku masih berusaha menyunggingkan senyuman.

 

"Aah, bilang aja kalau kamu sebenernya nggak berani ngajak baku hantam. Pakai alasan jenis kelamin segala. Kamu paling dibentak Mbak Adel sekali juga langsung mengkeret," godaku.

 

"Sembarangan. Gini gini aku pernah juara Porseni waktu SMP," katanya. Dia sudah ada di depanku sekarang.

 

"Cabang beladiri apa?" Aku mengajaknya melangkah menuju tangga.

 

"Beladiri? Kok beladiri? Catur."

 

"Kok catur?"

 

"Ya emang catur, kok. Kenapa emangnya?"

 

"Ya kan jadi nggak nyambung sama rencana baku hantam tadi."

 

Adri tak langsung menanggapi.

 

"Oh, masih nyambung sama baku hantam tadi?"

 

"Embuh, Dri."

 

Ujung tongkatku mencapai lantai dasar. Aku kemudian mengarahkannya ke pintu utama lobi gedung kantor.

 

"Loh, Mas Senja sama Mas Adri masih ada?" sambut satpam yang bertugas jaga. Aku masih belum hafal benar suaranya karena ada dua orang yang suaranya berat seperti ini.

 

Aku menghentikan langkah. "Iya, Pak. Baru selesai kerjaannya."

 

"Untung belum saya kunci, Mas. Tadi pas Pak Mamat sama Mbak Adel ke sini katanya sudah nggak ada orang."

 

"Mungkin Mbak Adelnya ngira kami sudah pulang, Pak. Maaf lupa laporan ke satpam juga." Aku menyunggingkan senyuman.

 

Adri tak mengatakan apa-apa. Dia hanya ikut mengucapkan salam lalu keluar gedung bersamaku.

 

"Kamu pulang naik apa, Ja?" tanya Adri begitu kami sampai di halaman.

 

"Ojol aja paling. Habis ini aku pesen."

 

"Rumahmu daerah mana, sih?"

"Margoyudan, selatan SMA dua."

 

"Mau kuantar?"

 

"Nggak usah, Dri. Rumahmu Kartosuro, di barat kota, kok mau nganterin ke timur. Jauh. Aku pulang sendiri aja. Santuy."

 

Aku mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana. Ternyata ada pesan masuk darimu.

 

Red: Kamu masih di kantor, Ja? Acaranya selesai jam berapa?

 

Balasan kuketik dengan cepat.

 

Langit Senja: Ini baru selesai. Sudah mau pulang.

 

Aku menunggu, kalau-kalau kamu membalas lagi.

 

Red:  Pengen ketemu kamu...

 

Langit Senja: Aku juga. Diselesein dulu tugasnya. Besok biar bisa pulang.

 

Aku kembali menunggu balasan. Tapi setelah beberapa saat, kamu tak membalas. Cepat-cepat aku membuka aplikasi ojek online dan memesan satu armada untuk menjemputku.

 

"Ja, duluan, ya?" pamit Adri yang segera berlalu setelah aku melambaikan tangan padanya.

 

Hari ini sepertinya mendung. Udara malam ini lumayan dingin. Untung hari ini aku tak setidakpeduli biasanya dan memilih memakai jaket, lumayan menghangatkan.

 

"Mau menyeberang jalan, Dik? Mari saya bantu," kata seorang laki-laki seraya menarik sebelah lenganku.

 

Aku mempertahankan diri. "Tidak, Pak. Terima kasih." Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya.

 

"Oh, ya sudah," katanya.

 

Ini bukan yang pertama. Entah sudah berapa kali saja aku bertemu orang-orang yang berusaha membantu, mendadak menarik lenganku seperti tadi. Ya, aku sadar sepenuhnya bahwa mereka hanya ingin membantu. Tapi, sungguh akan lebih baik sekali jika mereka bertanya terlebih dahulu apakah aku membutuhkan bantuan atau bantuan apa yang kubutuhkan, bukan asal menarik. Biasanya kubiarkan saja sih mereka melakukan itu. Entah mengapa malam ini aku sedang enggan menuruti. Mungkin aku hanya lelah saja.

 

"Kak Senja?" tanya seorang laki-laki dibarengi dengan suara mesin motor yang berhenti di hadapanku.

 

"Iya."

 

"Ke Margoyudan ya, Kak?"

 

"Iya."

 

"Perlu saya bantu untuk naik?"

 

Kali ini aku menggeleng. "Saya bisa sendiri, Mas. Makasih," jawabku seraya memakai helm yang dia serahkan padaku lalu segera naik ke boncengan.

 

Malam ini tidak ada obrolan sama sekali. Mungkin dia sudah lelah setelah menerima order seharian. Aku juga sedang malas berbicara. Tumpukan kekesalan hari ini sudah cukup banyak, cukup untuk menahanku dari banyak bicara, khawatir ada kata-kata tak layak yang meluncur bebas dari mulutku nanti.

 

"Rumah yang pagarnya dari tanaman teh-tehan ya, Kak?" tanya driver ojek setelah menghentikan motor dan mematikan mesin.

 

"Iya, Mas." Aku melangkah turun dari motor lalu melepaskan helm dan mengembalikannya. "Makasih."

 

"Makasih, Kak. Saya permisi," pamitnya. Dengan segera dia berlalu.

 

Yah, paling tidak malam ini hujan tak turun jadi perjalanan pulangku bisa lebih mudah dan murah.

 

Pintu pagar kudorong pelan, sesaat aku berhenti, mengecek jam di ponselku. Baru jam tujuh seperempat, aku belum harus mengunci pagar.

 

"Assalamu'alaikum," ucapku setelah meletakkan sepatu di rak yang ada di teras.

 

"Wa'alaikumsalaam," jawab beberapa suara dari dalam rumah.

 

Aku mematung di pintu, tak terlalu yakin dengan apa yang baru saja kudengar.

 

"Red?" tanyaku tak yakin. Sepertinya ada suaramu di antara suara-suara yang menjawabku tadi.

 

"Hmmm.. kebanyakan lembur mulai halu!" kata Arik dari arah sofa depan televisi.

 

Ah, iya. Aku mulai berhalusinasi mendengar suaramu. Langkahku cepat memasuki kamar, meletakkan ransel dan peralatan perangku lalu kembali keluar kamar, bersiap mandi. Tunggu, atau mungkin tidak, aku tidak berhalusinasi karena aku mencium aromamu begitu mendekati sofa. Aku lantas baru menyadari kalau Arik tak duduk sendirian di sofa.

 

"Aku nggak halu," kataku yakin sambil menghentikan langkah di depan seseorang yang duduk di sisi Arik. "Red!" panggilku.

 

Lalu aku mendengar suara pelan tawamu tepat di hadapanku.

 

"Nakal!" kataku sambil mendaratkan kecupan di puncak kepalamu.

 

"Misi, misi. Duh, mendadak mual perutku liat kalian." Arik melewatiku, dengan cepat masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan sofa hanya untuk kita berdua.

 

"Ditungguin dari tadi tuh!" seru umi dari ruang makan.

 

"Udah dari tadi? Lama nungguin aku pulang? Kok nggak ngabarin? Malah bilang nggak bisa pulang." Aku menjatuhkan diri ke sisimu.

 

"Kan ceritanya kejutan."

 

"Kapan dateng dari Jogja?" tanyaku sambil mengganti posisi duduk menghadapmu.

 

"Tadi siang. Kan hari ini aku harusnya turun jaga. Tapi karena ada presentasi, aku masuk. Cuma buat presentasi aja. Habis presentasi aku langsung pulang."

 

"Terus proposal yang buat minggu depan?"

 

"Udah tak kumpulin tadi."

 

"Oh, sudah terencana semua ternyata. Bagus."

 

Kamu tertawa. "Kan aku udah bilang aku pengen ketemu kamu."

 

Kepalaku terangguk-angguk pelan. "Ya, aku tahu."

 

"Mulai deh nyebelinnya..."

 

"Naik apa tadi pulang?"

 

"Bareng temen. Kebetulan tadi Dian lagi ada janjian sama temennya di Solo, jadi dia yang nebengin."

 

Aku kembali mengangguk-anggukkan kepala.

 

"Kenapa, Ja?"

 

"Kenapa apanya?" tanyaku.

 

"Wajahmu berubah."

 

Wajahku berubah. Aku lupa kalau kamu bisa melihat dan pasti langsung menyadari perubahan raut wajahku.

 

"Ja?" Kamu meraih tanganku. "Kamu nggak cemburu kan sama Dian?"

 

Aku menegakkan tubuh, sedikit menjauh.

 

"Ja, serius kamu cemburu sama Dian? Aku sama Dian kan cuma temen. Kebetulan kita satu kelompok terus tadi kebetulan dia emang lagi mau ke Solo."

 

Untuk kali ini, aku kehilangan kata-kata lagi. Ah, tak seharusnya aku membiarkan hal-hal seperti ini mengganggu kita, menggangguku. Bukannya aku selalu mengatakan bahwa masing-masing dari kita harus selalu saling siap untuk kehilangan? Atau selama ini sebenarnya aku hanya sedang berusaha menutupi kekhawatiranku sendiri saja? Selama ini aku hanya tak mengakui bahwa aku yang takut kehilangan kamu?

Bersambung

Browse other interesting articles in the topics of Merah Matahari (Cerita Bersambung) and karya sastra.

Contribute to Kartunet: Have a story, opinion, or interesting experience regarding disability and inclusion? We would love to publish your work! Submit your writing via email to redaksi@kartunet.com. You can read the complete guidelines on the Writing Guide page.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.