Menggagas Difabel Tanggap Gempa
- Penulis
- dwityasobat
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 2 menit baca
- Jumlah pembaca
- 1 kali dibaca
Kategori: Opini
Berdasarkan data dinas pendidikan, Yogjakarta memiliki 1.733 difabel usia sekolah. Tantangan ini memerlukan suatu pemikiran yang serius dari para pendidik difabel dan para stake holders mengingat Yogyakarta merupakan daerah yang rawan gempa. Hal ini dikarenakan pengetahuan dan informasi yang relevan di sekolah khusus mengenai cara praktis pengurangan risiko bencana bagi difabel sangatlah minim. Padahal pendidikan memegang peranan penting dalam pengurangan risiko bencana.
Kebanyakan dari sekolah belum mengetahui bagaimana yang harus dilakukan ketika gempa berlangsung dalam upayanya mengurangi risiko bencana bagi difabel. Sedikit merefleksi gempa 2006 lalu, tak sedikit korban yang merupakan difabel usia sekolah. Maka untuk menjawab tantangan tersebut diperlukan adanya paradigma baru dalam proses pendidikannya. Paradigma ini antara lain diberikannya pelayanan yang mengarah pada pengembangan aksi tanggap darurat yang menitikberatkan pada kemandirian difabel saat gempa terjadi.
Untuk menumbuhkan difabel yang tanggap gempa, sekolah diharapkan menyusun strategi dan materi yang sesuai dengan kekhususan difabel. Materi yang diajarkan dapat sama, namun menggunakan media yang berbeda. Media pembelajaran bagi tunanetra dapat berupa CD materi gempa maupun penjelasan oral guru. Sedangkan untuk tunarungu, media yang digunakan lebih ditekankan pada stimulus visual. Untuk tunagrahita, lebih efektif apabila diberikan dengan melibatkan seluruh indra secara komprehensif (multisensory) dengan pendampingan yang lebih intensif. Bagi difabel tanpa kerusakan sensori (tunadaksa), media pembelajaran dapat bervariasi sesuai kekreativitasan guru.
Selain media yang sesuai dengan kekhususan anak, metode simulasi akan sangat membantu dalam menciptakan difabel yang tanggap gempa. Kegiatan yang dilakukan dapat berupa proses penyelamatan diri secara praktis dan kontekstual. Dalam kegiatan simulasi ini guru diharuskan merencanakan aksi penyelamatan (evacuation action plan) dengan menjelaskan tentang apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan difabel saat gempa terjadi, dan juga membuat peta bahaya sekolah (school hazard mapping) agar difabel dapat menghindari tempat-tempat berbahaya tersebut.
Dengan adanya pembekalan tanggap gempa, diharapkan difabel dapat memperoleh informasi dan prosedur evakuasi praktis saat gempa. Apabila difabel dapat secara mandiri menyelamatkan diri, maka risiko bencana gempa bagi difabel dapat diminimalisasi.
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
Belajar dari Certificate of Visual Impairment untuk Tata Kelola Layanan Disabilitas di Inggris
Birokrasi layanan disabilitas di Indonesia masih rumit dan sering kali salah sasaran. Pelajari bagaimana sistem Certificate of Visual Impairment (CVI) di Inggris mengintegrasikan data rumah sakit langsung ke layanan sosial, dan mengapa sistem ini penting diadopsi untuk memperbaiki pendataan disabilitas (DTKS) di Indonesia.
Pentingnya Profesi Pendamping Klinik Mata (ECLO): Menjembatani Pasien Tunanetra dari Rumah Sakit ke Layanan Sosial
Setelah didiagnosa kehilangan penglihatan, pasien kerap bingung mencari rehabilitasi. Kenali profesi Eye Clinic Liaison Officer (ECLO) dari sistem CVI Inggris yang bertugas menjembatani medis dan layanan sosial, serta pentingnya adaptasi peran ini di rumah sakit Indonesia.