MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG MENYELENGGARAKAN PELATIHAN BACA TULIS ALQURAN BRAILLE BAGI TUNA NETRA
- Penulis
- agusjafar
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 2 menit baca
- Jumlah pembaca
- 1 kali dibaca
Kategori: Info & Peluang
Pekalongan-(Rabu/25 Juni) Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Agus Ja’far, Ahmad Khoirul Anam, Diana Wahyu K, Nazula Ulfah, dan Rasyifatus Sholikhah) menyelenggarakan pelatihan baca tulis Alquran braille bagi tuna netra Kota Pekalongan bertempat di rumah Ketua Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia (ITMI) Kota Pekalongan di Kelurahan Kradenan, Kecamatan Pekalongan Selatan. Pelatihan ini diikuti sebanyak 13 peserta tuna netra. Pelatihan ini merupakan wujud kepedulian terhadap kaum difabel, karena kaum difabel juga berhak memeroleh pendidikan.
Kegiatan pelatihan ini merupakan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) pengabdian kepada masyarakat yang didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan.
Setiap peserta memegang alat tulis riglet dan pen yang digunakan untuk menulis arab dengan huruf braille. Dari semua peserta sebagaian sudah ada yang bisa menulis dan membaca Alquran braille, namun masih banyak yang belum bisa menulis maupun membaca.
Menurut Sumarni peserta dari Kelurahan Kebulen Kecamatan Pekalongan Selatan mengatakan sudah bisa membaca Alquran braille, namun belum lancar. Ia mengaku sering mengalami kendala tidak bisa membaca titik-titik huruf braille apabila telapak tangannya berkeringat.
Agus Ja’far selaku ketua pelaksana mengatakan kepada wartawan yang meliput pelaksanaan PKM-M ini Nana (Suara Merdeka Kota Pekalongan) dan Romi (Batik TV Pekalongan) bahwa kegiatan pelatihan ini merupakan yang kedua kali menjelang puasa, dan akan diselenggarakan kembali pada pertengahan bulan Ramadan, karena pelatihan ini berkelanjutan. Diharapkan dari pelatihan ini teman-teman tuna netra di Pekalongan mampu baca tulis Alquran braille.
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
Belajar dari Certificate of Visual Impairment untuk Tata Kelola Layanan Disabilitas di Inggris
Birokrasi layanan disabilitas di Indonesia masih rumit dan sering kali salah sasaran. Pelajari bagaimana sistem Certificate of Visual Impairment (CVI) di Inggris mengintegrasikan data rumah sakit langsung ke layanan sosial, dan mengapa sistem ini penting diadopsi untuk memperbaiki pendataan disabilitas (DTKS) di Indonesia.
Pentingnya Profesi Pendamping Klinik Mata (ECLO): Menjembatani Pasien Tunanetra dari Rumah Sakit ke Layanan Sosial
Setelah didiagnosa kehilangan penglihatan, pasien kerap bingung mencari rehabilitasi. Kenali profesi Eye Clinic Liaison Officer (ECLO) dari sistem CVI Inggris yang bertugas menjembatani medis dan layanan sosial, serta pentingnya adaptasi peran ini di rumah sakit Indonesia.