Empat puisi dalam Lembaran Kegelisahan Hari Ini membedah dinamika batin manusia dari sudut yang berbeda. Menambang Teori menyoroti pencarian pengetahuan, Telinga yang Gelisah mempertanyakan cara memahami realitas, Paradox Berdikari mengulas ketangguhan dan kemandirian, sedangkan Menyimpan Senyumanmu merekam jejak kenangan yang memberi kekuatan dalam menjalani kehidupan.
Menambang Teori
Mendulang pasir pengetahuan dalam larik bebatuan teori.
Pasir itu kasar menempel pada dengkul akal diri.
Sedang mulut-mulut terlalu penuh menjaring embun demi embun referensi.
Kaki tidak selalu sejalan dengan tangan mencapai matangnya penggalian
tambang akademi.
Jam seakan mematikan hidup jika berpihak pada kesinambungan disiplin.
Hari membeku oleh bertubi berita-berita sidang.
Bulan tajam menatap penuh menuntut kelulusan.
Bertahan tanpa jeda adalah budaya kita?
Padahal saat fokus riset diruncingkan,
Kutipan cerdas digembalakan,
Metodologi berselancar di medan dialog yang terjal,
Niscaya semesta logika mengawani setiap diksi penuh setia.
Bantul, 9 Juni 2026
Telinga Yang Gelisah
Telingaku melayari lembaran lisan bermakna pengetahuan.
Rangkaian huruf yang membangun peradaban.
Rangkaian kalimat yang membangkitkan kemanusiaan.
Rangkaian paragraf yang menjaga nilai seiring deru mesin-mesin pabrik
berbahasa baku.
Telingaku mendengar fakta-fakta yang dibumikan.
Melalui detak setiap detik.
Satu persatu warta, gulir balada dalam runtut kata-kata.
Menghadirkan pemahaman yang hidup memanaskan akar pemikiran.
Telingaku meraba frasa pahit dari sebuah realita.
Statistik lebih meyakinkan daripada barisan aksara berbentuk cantik.
Kuitansi lebih mudah dimengerti daripada gelapnya sajak-sajak yang berpuisi.
Epilognya seperti apa?
Matahari tetap terbit dan tenggelam.
Gemintang tetap bergelombang menyala dan bersembunyi.
Planet mengorbit isi bumi.
Namun, mengapa manusia enggan keluar dari cangkang egonya?
Karanglo, 8 Juni 2026
Paradox Berdikari
Aku Adalah Riuh Di Antara Sepi Di Malam Hari.
Sementara siang menjadikanku sepi di antara ramai yang semu.
Aku merupakan air kesabaran yang hanya sepercik di sela-sela gejolak bara
amarah.
Sedangkan api amarah tidak sedikitpun mampu menangkap lincahnya air yang
mengisi rongga-rongga bebatuan sungai kehidupan.
Aku adalah kerasnya teriakan perjuangan di tengah-tengah senyap
penghianatan.
Kendatipun senyap itu pasti membunuh, teriakanku akan disambung mulut-mulut
jamur yang bertumbuhan kala musim hujan tidak menyegarkan isi bumi.
Biarpun habis gelap terbitlah terang,
Tanpa menyala nyali berdikari, niscaya hanya lebih besar tiang daripada
pasak.
Langkah ini tidak beddanya dengan mencari jarum harapan di ddalam lautan.
Setiap genggaman tangan, bisa jadi gugur sebelum berbunga.
Bahkan diibaratkan air susu dibalas air tuba.
Namun, begitu nyata genggaman tangan dan ayunan langkah itu.
Kemerdekaan beratus persen, iklas sepenuh rela dituju dengan pengorbanan.
Keabadian inspirasi sebaik balasan bagi jasa.
Kasih Tuhan senantiasa menyelimuti.
Supaya mereka lebih merdeka sepulang dari gempita perjuangan yang fana.
Bantul, 6 Juni 2026
Menyimpan Senyumanmu
Selayang pandang ku temukan tawamu bersama lampu-lampu jalanan.
Di sela-sela kemacetan, senyumanmu masih membayang nyata.
Meskipun hujan seakan berupaya menyapunya.
Meskipun dolar semaunya melemahkan asa rupiah.
Tawa dan senyummu waktu itu tidak berhenti.
Ternyata langkah kakiku membawanya.
Tas dan dompetku menyimpannya.
Bahkan saham berhargaku mencatatnya.
Kadang membuatku menangis sebab tidak berdayanya diri menjaga.
Lain masa membuatku tertawa sejenak, menjeda letih hadapi gelombang tujuan
hari-hari yang panjang.
Senyumanmu tidak seindah merekah bunga.
Jauh dari kata sejernih telaga.
Justru lebih dingin daripada hangat purnama.
Namun, setapak pemahamanku menjamah senyumanmu,
Sebagai tanah perdikan orang-orang pelarian dari jalanan keras kehidupan.
Bantul, 25 Mei 2026
