Skip to Main Content

Kisah Klasik Kakek Tua

Published date
Estimated reading time
2 min read
Views count
3 kali dibaca
WhatsApp X

Category: KARFIKSI

Tahukah kau akan kisah klasik di era modern?

Yang kisahnya piawai membawa diri ke dalam bilik nurani?
Yang kisahnya mampu mengulik harga mati akan hati?
Yang kisahnya menggetarkan sebeluk relung terdekapi?

Ingatkah kau akan suatu masa?
Saat kau beranjak merangkak, berdiri, lalu berjalan
Kedua tungkaimu kuat tak tercela
Buku-buku jemarinya terhiasi dalam naungan engsel yang apik

Tapi, cobalah kau lihat ke sampingmu!
Tepat yang ada di antaramu
Rasakan dengan hatimu
Hiasi dengan jiwamu

Tergerakkah hatimu akan kisahnya?
Kisah seorang yang tua dengan segara ketiada berdayaannya!
Kisah sang perkasa dengan hati bajanya!
Kisah sang penyabar dengan kasih sayangnya.

Kau mungkin tak mengenalnya
Tapi, aku mengenalnya jauh sedalam aku mengenangmu
Ia ada di sekitarku, kakek tua dengan nyawa ditangannya
Kakek tua dengan cangkul ditangannya

Tapi, cobalah rentangkan matamu lebih dalam
Nyalakan apinya, hingga mampu menerka apa yang ada padanya
Takkah kau lihat, jari jemarinya yang hanya tiga ruas –jempol, kelingking, dan telunjuk
Mampu memegang kokoh besi berkayu yang ada di tangannya

Bila kau telah mendapatinya, pusatkan matamu kesebelahnya.

Akan kau lihat keadaan yang tak jauh berbeda dari sebelumnya
Gundukan daging itu hanya berupa daging tanpa tulang; menghiasi telapak tangannya
Untunglah darah kerja kerasnya berdesir, hingga ia dan gundukannya bertahan

Nah, setelah itu, lihat apa yang diseretnya
Tepat di bawah kakinya
Takkah kau lihat jemarinya tak ubahnya dengan jari tangannya?
Hanya tersisa kelingking dan jempol saja

Tapi, oho, hal itu tak membuatnya lantas terdiam
Terpekuk dalam keadaan malang sangat
Dengan wajah tiara akan kesedihan, duduk meminta orang
Tidak. Kakek tua tidak begitu

Ia dengan darahnya yang berdesir tajam, mampu menggarapi lumpang
dari akar pohon nangka kokoh

Ia dan ketidaksempurnaanya hanya satu di tempatnya
Hanya tangannya yang mampu mengubah akar itu menjadi nyata

Hebat? Hebatkan!
Ialah kakek dengan segala peluh yang menetes bisa saja menjadi darah
Ialah kakek dengan tanpa keluhannya berjuang di polemik hidup
Demi apa? Demi nasi dan obat istri di rumah

Begitulah kakek tua perkasa yang aku temui, kemarin
Tepatnya, di layar televisiku, saat senja mulai menyingsih

Pertanyaanku hanya tertinggal banyak setelahnya
Jawabannya tak mampu aku terka
Maka, aku lemparkan padamu
Mengapa kakek tua mampu keras usaha, sementara yang lengkap hanya berleha di emperan sambil tengadahkan tangan?

Browse other interesting articles in the topics of puisi.

Contribute to Kartunet: Have a story, opinion, or interesting experience regarding disability and inclusion? We would love to publish your work! Submit your writing via email to redaksi@kartunet.com. You can read the complete guidelines on the Writing Guide page.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.