Lompat ke Konten Utama

JIKA TUAN RUMAH YANG MARAH

Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
1 menit baca
Jumlah pembaca
0 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: KARFIKSI

Tag: puisi

Lankgkah seribu mahluk liar

Haus darah serta lapar

Seribu rintih dari kumpulan tercacah

Iris nalar serta pandangku

 

Itu tak bersih

Pekat hitam bagai tangan sang dewa maut

Nampak bak arus magnet kuat menghisap

 

Ku dengar tangis bumi

Luka menganga borok

Dalam banjir serta cemar

Culik seribu tawa serta canda

Kutub-kutub cair bagai air mata ibu

Tangisi musnahnya alam semesta.

 

 

 

 

****Menyampaikan seperti apa geliat saat ini, segala yang menjadi uang langsung dijadikan uang. Tiada lagi disebut dengan kesejukan, semuanya menjadi uang. Gedung-gedung menjulang, hutan terbabat, dan yang langka menjadi musnah.

Jika alam sudah marah, kita mau berbuat apa? Kita tidaklah mampu merintang jalanya, kita hanya punya hak pakai. Jika waktunya telah habis kita akan hilang. Tetapi apa yang kita sumbangkan untuk genderasi di masa depan? Apakah iptek dapat memenuhi perut yang lapar? Hal itu tidak ada jika kita tidak punya sawah. Tetapi petani semakin terpinggirkan, karena uang semakin menjadi pemimpin semuanya.

Tentang Penulis

sumertayasa

Bio penulis belum tersedia.

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.