Lankgkah seribu mahluk liar Haus darah serta lapar Seribu rintih dari kumpulan tercacah Iris nalar serta pandangku Itu tak bersih Pekat hitam bagai tangan sang dewa maut Nampak bak arus magnet kuat menghisap Ku dengar tangis bumi Luka menganga borok Dalam banjir serta cemar Culik seribu tawa serta canda Kutub-kutub cair bagai air mata ibu Tangisi musnahnya alam semesta. ****Menyampaikan seperti apa geliat saat ini, segala yang menjadi uang langsung dijadikan uang. Tiada lagi disebut dengan kesejukan, semuanya menjadi uang. Gedung-gedung menjulang, hutan terbabat, dan yang langka menjadi musnah. Jika alam sudah marah, kita mau berbuat apa? Kita tidaklah mampu merintang jalanya, kita hanya punya hak pakai. Jika waktunya telah habis kita akan hilang. Tetapi apa yang kita sumbangkan untuk genderasi di masa depan? Apakah iptek dapat memenuhi perut yang lapar? Hal itu tidak ada jika kita tidak punya sawah. Tetapi petani semakin terpinggirkan, karena uang semakin menjadi pemimpin semuanya.
JIKA TUAN RUMAH YANG MARAH

- Penulis
- sumertayasa
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 1 menit baca
- Jumlah pembaca
- 8 kali dibaca
Kategori: Opini
Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik puisi.
✨ Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.
