Skip to Main Content

Desember kelabu

Ilustrasi cerpen: Desember kelabu
Ilustrasi cerpen: Desember kelabu
Published date
Estimated reading time
8 min read
Views count
9 kali dibaca
WhatsApp X

Category: KARFIKSI

Lagi-lagi sibuk. Selalu saja seperti itu. Seakan aku hanyalah seorang anak yang tak pernah diinginkan kehadirannya. Yang tak berhak merasakan kasih dan kehangatan mereka. Seakan kemewahan yang selalu mereka suguhkan bisa membuatku bahagia. Sampai kapan akan seperti ini?

Seorang gadis menjatuhkan tubuhnya di sofa yang terletak di ruang keluarga. Ia mengedarkan pandangan ke sana kemari, berharap sosok yang diharapkan kehadirannya akan menyambut kepulangannya. Namun, lagi-lagi kosong. Bodoh dia masih sempat berharap demikian. Padahal dia pun tahu, itu sangat mustahil terjadi.

Kini yang tersisa hanyalah keheningan. Tak ada sambutan. Tak ada pelukan. Tak ada pertanyaan perihal bagaimana harinya. Tak ada canda tawa.

Saat ini perasaannya benar-benar tak karuan. Lelah yang dirasakannya membuatnya tak berdaya. Bahkan untuk menangis pun ia tak kuasa.

Ting.

Dering ponsel menyadarkannya dari lamunan. Tertera nama Azura yang mengirim pesan.

"Hai, Fanela. How are you today? Are you okay?"

Vanela terpaku membaca isi pesan tersebut. Mungkin bagimu biasa saja, namun amat berarti baginya. Ia tersenyum miring, membaca ulang pesan dari sahabat lamanya itu. Bahkan untuk menanyakan kabarnya saja, mereka tak sempat.

"I miss you so much, Nela. Kuharap kamu baik-baik saja di sana. Namun jika harimu terasa berat, ingatlah ada aku yang selalu bersedia mendengar keluh kesahmu. Jika kau belum mau membaginya padaku, ingatlah, sebelum pergi aku pernah memberimu diary yang mungkin bisa kau gunakan untuk menceritakan keseharianmu. Aku berjanji akan segera kembali ke Indonesia dan menemuimu setelah urusan bisnis keluargaku selesai. Dan kamu tahu, mereka juga sangat merindukanmu."

Azura kembali mengirim pesan.

"Hai, Zura. Aku juga selalu rindu kamu. Yes, I'm fine. Terima kasih sudah bertanya. Gimana denganmu? Tentu saja aku ingat dan selalu memakainya."

"Syukurlah, Nela. Aku pun baik-baik saja."

12 desember 2015

Dear Diary,

"Tak terasa, tepat hari ini aku telah beranjak dewasa. Kata orang, akan banyak hal baik yang menanti saat memasuki usia 17 tahun. Namun, apakah itu juga berlaku untukku? Semoga saja."

"Hai, sayang. Maaf ya, Mama dan Papa belum bisa pulang hari ini. Masih banyak pekerjaan yang belum selesai." Vanela membuang nafas kasar. Dia sungguh tak habis pikir dengan orang tuanya itu.

Mereka nggak lupa, kan? Semoga saja.

"Iya, Ma. It's okay. Tapi Mama ingat nggak hari ini hari apa?"

"Maaf, sayang. Udah dulu ya, Mama masih sibuk." Sambungan telepon terputus begitu saja.

"Vanela, Kakak pergi dulu ya."

"Loh, bukannya ini weekend, ya? Dan bukannya hari ini Kakak libur?"

"Iya, tapi hari ini ulang tahun kekasihku," balasnya lalu berlalu meninggalkan sang adik yang hanya diam mematung.

"Nelaaa, hari ini nggak keluar, kan?" Vanela menatap kakaknya dengan tatapan penuh tanda tanya. Dalam benaknya sudah terbayang jika sang kakak mengingat hari kelahirannya dan turut merayakannya. Meski jelas akan ada yang kurang jika hanya berdua saja, namun setidaknya itu sudah sangat cukup membuatnya bahagia.

"Nggak, Bang. Kenapa?"

"Kasihan banget sih, tiap hari jaga rumah! Yaudah, aku pergi dulu ya, udah ditunggu yang lain."

Vanela terdiam. Harapannya sirna seketika. Lidahnya terasa kelu hanya sekadar untuk mengiyakan ucapan Dariel.

"Happy birthday, diriku. Terima kasih udah bertahan sejauh ini. Maaf, lagi-lagi kamu harus merayakannya sendiri." Senyum simpul terbit dari bibirnya sebelum meniup lilin kecil yang berada di atas kue tart yang ia beli sendiri.

"Untuk apa aku dilahirkan jika terus seperti ini? Bodoh selalu menanti. Bodoh selalu mengerti. Sedang mereka, jangankan mengerti, mendengar keluh kesahku saja tak sudi. Apakah kepergianku yang mereka inginkan?" Marah, sedih, kecewa, semua bercampur menjadi satu dalam hatinya. Lagi-lagi dia harus ditampar keras oleh kenyataan. Kenyataan yang membuatnya semakin sadar bahwa dirinya memang tak berarti bagi mereka.

Dia telah lelah berharap. Dia telah lelah menanti. Dan kini, yang terbesit dalam pikirannya hanyalah pergi mencari kebahagiaannya sendiri. Kebahagiaan yang tak ia dapatkan di tempat ini. Tempat yang semestinya memberi kebahagiaan. Tempat yang semestinya memberi kenyamanan. Tempat yang semestinya memberi kehangatan.

Apakah dia akan menemukan semua itu di luar sana?

Semoga saja.

19 desember 2015.

Sudah satu minggu Vanela meninggalkan rumah mewah itu. Tak ada satu kabar pun yang diberikan. Ia benar-benar menutup semua akses komunikasinya. Segala upaya telah dilakukan orang tua serta para kakaknya untuk mencari keberadaannya. Namun, usaha tersebut tak membuahkan hasil apa pun.

"Pah, ini gimana? Udah seminggu Vanela belum juga ditemukan," Jesika membuang nafas kasar.

"Papa juga nggak tahu, Mah. Papa juga udah meminta rekan Papa untuk mengabari kalau ada yang melihat Vanela, tapi sampai sekarang belum ada kabar juga." Marvin mengacak rambutnya frustrasi.

"Kalian juga belum dapat informasi?" Marvin menatap kedua kakak Vanela. Mereka menggeleng, mengisyaratkan bahwa mereka memang belum juga mendapat informasi apa pun.

"Lagian ngapain sih itu anak pakai acara pergi segala? Nyusahin aja. Gara-gara nyari dia, jadi kacau semua," grutu Dariel.

"Tapi tunggu deh. Kenapa nggak coba priksa ke kamarnya aja? Siapa tahu kita dapat petunjuk di sana," usul Vanesa yang langsung disetujui oleh mereka.

Kamar yang sangat berantakan. Itu yang mereka dapati di dalamnya. Buku, alat tulis, laptop, bahkan seragam dan tas sekolahnya, semua berceceran di lantai. Sampai mata mereka tertuju pada sebuah buku kecil yang bertuliskan my diari di sampulnya. Sontak, Fanesa meraih dan membuka buku itu. Berharap akan ada petunjuk di dalamnya.

19 november 2015

Dear Diary.

Hari ini sekolah terasa sangat melelahkan. Bukan karena pelajarannya, tapi karena aku terlalu capek berpura-pura baik-baik aja.

Tadi teman-teman sekelasku ramai cerita soal keluarga mereka. Ada yang ngeluh kesal karena ibunya terlalu cerewet, ada yang malu setiap hari dijemput ayahnya di depan gerbang sekolah, bahkan, ada juga yang merasa risih sama kakaknya yang terlalu protektif. Lucu ya? Hal-hal yang mereka anggap menyebalkan dan memalukan justru jadi hal yang paling kuinginkan. Aku cuma diam sambil tersenyum kecil. Berusaha terlihat biasa aja. Padahal dalam hati aku iri. Aku iri sama mereka yang disambut hangat saat pulang. Yang selalu dihawatirkan. Yang ditanya udah makan atau belum. Yang dipeluk saat terlihat lelah. Sedangkan aku? Bahkan keberadaanku di rumah ini terasa kayak bayangan yang nggak punya perasaan.

Kadang aku berpikir… apa sebenarnya arti keluarga? Apakah hanya sekumpulan orang yang tinggal di bawah atap yang sama?

Mama dan papa selalu memberiku apa pun untukku. Baju mahal. Uang. Barang-barang mewah. Tapi sungguh, semua itu tetap terasa kosong.

Aku nggak butuh semua itu. Aku cuma pengen ditemani, sekali saja. Aku cuma pengen mereka ingat kalau aku juga pengen didengar. Tapi mungkin memang aku yang terlalu banyak berharap. Terima kasih udah selalu menampung ceritaku, Diary. Setidaknya saat menulis ini, aku nggak sepenuhnya sendirian.

12 desember 2015.

Dear diary. Lagi-lagi aku yang terlalu berharap. Mungkin, aku memang nggak berarti buat mereka. Sampai hari ulang tahunku aja lagi-lagi mereka nggak ingat. Entah beneran lupa atau pura-pura lupa. Tapi intinya hatiku benar-benar hancur saat ini. Nggak ada gunanya tetap bertahan di rumah ini.

Lucu, ya? Mama dan papa selalu bilang kerja keras itu demi aku. Demi kebahagiaanku. Demi masadepanku. Tapi, apa gunanya hidup berkecukupan kalau setiap hari rasanya seperti hidup sendirian?

Apa gunanya rumah sebesar ini kalau nggak pernah ada kehangatan di dalamnya?

Lagi-lagi, aku iri pada mereka yang bisa merasakan hangatnya kehadiran keluarga. Aku iri pada mereka yang selalu ditanya, are you okay?

Aku lelah. Lelah harus pura-pura selalu baik-baik aja. Lelah harus selalu mengerti mereka. Dan yang paling melelahkan… adalah terus berharap mereka akan berubah.

Vanesa menutup buku biru itu dengan kasar. Dia tak sanggup lagi membacanya. Airmatanya mengalir deras.

"Kita udah sangat keterlaluan. Harusnya kita nggak biarin Nela merasa sendiri," ucapnya lirih.

"Kita harus cepat menemukan Vanela. Vanela harus balik ke rumah ini lagi." ucap Dariel menimpali.

Penyesalan memang selalu datang di akhir. Maka dari itu, hargailah setiap orang yang hadir di hidupmu. Jangan sampai penyesalan menghantuimu.

Malam tadi, Marvin mendapat kabar dari rekannya bahwa Vanela mengalami kecelakaan dan langsung dibawa ke rumah sakit setempat. Namun Tuhan lebih menyayanginya. Vanela menghembuskan nafas terakhirnya di tengah perjalanan. Kepergiannya sungguh membuat keluarga dan para sahabatnya sangat terpukul.

Siang ini, pukul 10.30, Vanela ditempatkan ke tempat peristirahatan terakhirnya. Deras airmata mengiringi proses pemakaman. Usai melakukan pemakaman, mereka membaca doa dengan serempak, agar Vanela ditempatkan di tempat terbaik di sisi tuhan.

"Vin, sebenarnya seminggu ini Vanela bersama saya. Waktu itu, saya menemukan vanela sedang hujan-hujanan sambil menangis. Lalu, saya menawarkan dia untuk ikut saya terlebih dahulu. Awalnya dia menolak, Namun karena keadaannya tidak memungkinkan untuk gadis seusianya malam-malam sendirian, saya terus membujuknya. Sampai akhirnya, setelah berada di rumah saya, dia menceritakan semuanya kepada saya dan meminta saya untuk merahasiakannya dari kamu. Satu minggu ini, dia nekat bekerja menjadi pelayan di restoran milik adik saya. Sampai suatu ketika, saat saya tidak bisa mengantarkannya ke restoran, dia mengalami kecelakaan di jalan. Untungnya waktu itu ada salah 1 anak saya yang melihat kejadian itu dan langsung memberi tahu saya."

"Terimakasih ya, man. Sudah merawat anak kami. Ini semua memang salah kami. Kami telah membuatnya merasa terabaikan," ucap Marvin sambil menepuk bahu Arman.

"Selamat jalan, putri kecilku. Maafkan papa dan mama atas semua yang telah terjadi. Maafkan kami, yang telah gagal menjagamu dengan baik. Beristirahatlah dengan tenang, nak. Sampai bertemu di surganya Allah. Terima kasih telah hadir di hidup kami."

EASTER EGG FOUND!

Type the code ADAPTIF-BANGKIT-1750

in the Inclusive Game Menu (opens in a new tab) to claim 10 Coins!

Hurry! Only 20 quota left.

Browse other interesting articles in the topics of kesehatan mental, cerpen, parenting, curahan hati, keluarga, hubungan sosial, and psikologi anak.

Contribute to Kartunet: Have a story, opinion, or interesting experience regarding disability and inclusion? We would love to publish your work! Submit your writing via email to redaksi@kartunet.com. You can read the complete guidelines on the Writing Guide page.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.

Chat Avika