Lompat ke Konten Utama

Celoteh Cadas Bantaran Sungai

Penulis
sandza
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
1 menit baca
Jumlah pembaca
2 kali dibaca
WhatsApp X

Kategori: KARFIKSI

Wanita Pembelah Batu
Belum juga aku bercengkrama dengan embun
Tangan-tangan perkasa sudah siap dengan senjata-senjata penghancur ragaku
Ah, harusnya jemari itu lentik dengan warna kuku yang ranum
Bukan mengunyah bara sinar mentari bersamaku
Mereka bergelar hawa yang harusnya merangkai bunga yang memancarkan aroma cinta
Namun, sang peran memaksa mereka harus bercengkrama dengan setting buram
Karena lidah mereka tak mampu memproduksi sekerat kata pun yang bisa didefinisikan

Hingga embun yang kutemui di pucuk ilalang melebur bersama angin kering
Kaki-kaki kuat tak berbusana itu masih menopang raga demi sepucuk daya esok hari
Ah, tak tahukah mereka bahwa semburat jingga
dan suara pemanggil setiap raga untuk bertatap rupa dengan Tuhan
sudah bersenandung merdu di tiap menara masjid?

Namun sayang, gendang-gendang mereka tak bisa menangkap gelombang suara
Hingga mereka berucap: “Malam, jangan cepat datang. Cadas-cadas ini belum semuanya kutaklukan.”

Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik puisi.

Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.