Bersama bait mimpi, Kutemukan kisah-kisah penuh nuansa megah, Tentang mereka yang iklas lepas dan sampai tetes darah terakhir mengabdi, Dan, berdesir sudah hati, akal, dan langkah. Sang bagaskara kemerdekaan telah terik meninggi, Seperti buih pasir di lautan, monumen ditegakan dari hilir menuju hulu sudut negeriku, Namun, terbetik sebuah tanya yang meresahkan atma, Masih lestarikah renjana perjuangan itu hari ini? Belum dan kita perlu berjuang lagi, ucapku. Aku mengerti, sang putra fajar dan sederet nama melegenda telah damai bersemayam di taman surga berbunga, Seberkas kesadaran juga menggugah, merdeka belum sepenuhnya mewujud nyata, Di bumi pertiwi ini, masih beragam dan bertumbuhan ultimatum bagi taman kemerdekaan yang baru sekuncup sekejapan, Masih perlu lahir lagi, jiwa-jiwa putra sang fajar yang asanya segemilang cahaya kasih-Nya, Agar perlayaran masa depan peradaban bangsa lebih cerah daripada angkasa yang tanpa awan. Yogyakarta, 5 Agustus 2024 Akbar AP
Bagaskara Kemerdekaan
- Penulis
- Akbar Ariantono Putra
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 1 menit baca
- Jumlah pembaca
- 7 kali dibaca
Kategori: Opini
Telusuri juga tulisan menarik lainnya dalam topik puisi dan hari peringatan.
✨ Kontribusi Tulisan: Punya gagasan, cerita, atau pengalaman inspiratif seputar disabilitas dan inklusi? Kami sangat senang mempublikasikan karya Anda! Kirimkan tulisan Anda ke email redaksi@kartunet.com. Panduan pengiriman selengkapnya dapat Anda pelajari di halaman Panduan Menulis.
