Silaturahmi berasal dari shilah (menghubung) dan rahim (kasih sayang/unconditional love).
Silaturahmi dilakukan dengan sesama mahkluk, baik sesama manusia (Hablumminannas), binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda mati.
Hadist Nabi dalam kalimat pendek dimana individu maupun anggota masyarakat yang bersilaturahmi akan memperpanjang umur, memperbanyak rezeki.
Sulaiman AS bersahabat dengan burung, ikan liar, binatang, angin, jin dan malaikat serta saling membantu dalam menyelesaikan masalah dan tantangan yang dihadapi.
Rabi'ah al Adawiyah yang merupakan seorang sufi wanita bersahabat dengan binatang buas dan burung liar.
Rasulullahpun bersahabat bahkan memberi nama terhadap binatang (unta, kuda) dan peralatan (cangkir, sisir). Beliau mengajarkan memberi salam ke rumah kosong dan kuburan.
Silarahmipun tidak terputus sekalipun individu sudah wafat, dalam banayak hadis menganjurkan untuk mendoakan orang yang sudah wafat.
Sumber : Khazanah Ramadhan, Republika, Jumat, 25 Juli 2014
Selain itu, orang-orang yang memutus silaturahmi karena marah, benci, malas, sakit hati atau apapun alasannya akan terkena hukum. Ada hadist yang menyatakan bahwa barang siapa yang memutus silaturahmi, maka kuburnya akan dipersempit.
Asal-Muasal Silaturahmi
- Penulis
- tyaseta
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 1 menit baca
- Jumlah pembaca
- 2 kali dibaca
Kategori: Opini
Tag: kasih sayang
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Suka artikelnya?
Bantu sebarkan agar makin banyak orang mendapatkan manfaatnya.
Artikel Terkait
Mewujudkan '7 Pilar Akomodasi Layak' Lewat Modifikasi Kurikulum di Sekolah Inklusif
Menerima siswa disabilitas saja tidak cukup! Pelajari bagaimana sekolah inklusif wajib mewujudkan 7 Pilar Akomodasi Layak melalui strategi modifikasi kurikulum seperti eskalasi, simplikasi, hingga substitusi agar pembelajaran benar-benar tepat sasaran.
Mengangkat 'Massase' dari Pekerjaan Tradisional Menjadi Profesi Tersertifikasi di Industri Formal
Lebih dari 70% tunanetra berprofesi sebagai pemijat di sektor informal. Pelajari bagaimana sinergi antara SLB, Kemendikdasmen, dan LSP Pertuni siap mensertifikasi profesi masseur agar tunanetra dapat bersaing menembus kuota tenaga kerja di industri formal dan perhotelan!