Lihatlah bulan di atas sana,
Berkilau putih di atas kanopi yang rapat,
Sinarnya menimpa wajahmu yang indah,
Berpayung rambut perak yang memikat.
Kunyanyikan kidung untukmu, Dewa,
Karena aku adalah dewimu malam ini,
Dengarlah, wahai Dewaku!
Alunan rinduku yang memanggil namamu di setiap nada.
Oh, hatiku yang berdetak karenamu di pelukku,
Oh, tubuh indah yang kubingkai dalam tanganku,
Kukecup engkau sedalam kecupan laut pada karang,
Sedalam kanopi yang membungkus hutan.
Marilah, sayang!
Kau naungku, aku pijakmu.
Catatan: puisi ini menceritakan Elu Thingol dan Melian, antara seorang Elf Teleri dan seorang Maia.
Puisi: Nyanyian Dewi Hutan
- Penulis
- nurulrahmah
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 1 menit baca
- Jumlah pembaca
- 28 kali dibaca
Kategori: KARFIKSI
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Suka artikelnya?
Bantu sebarkan agar makin banyak orang mendapatkan manfaatnya.
Artikel Terkait
Mewujudkan '7 Pilar Akomodasi Layak' Lewat Modifikasi Kurikulum di Sekolah Inklusif
Menerima siswa disabilitas saja tidak cukup! Pelajari bagaimana sekolah inklusif wajib mewujudkan 7 Pilar Akomodasi Layak melalui strategi modifikasi kurikulum seperti eskalasi, simplikasi, hingga substitusi agar pembelajaran benar-benar tepat sasaran.
Mengangkat 'Massase' dari Pekerjaan Tradisional Menjadi Profesi Tersertifikasi di Industri Formal
Lebih dari 70% tunanetra berprofesi sebagai pemijat di sektor informal. Pelajari bagaimana sinergi antara SLB, Kemendikdasmen, dan LSP Pertuni siap mensertifikasi profesi masseur agar tunanetra dapat bersaing menembus kuota tenaga kerja di industri formal dan perhotelan!