menjaga kesehatan dengan gizi seimbang untuk diabetasi
- Penulis
- tyaseta
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 1 menit baca
- Jumlah pembaca
- 0 kali dibaca
Kategori: Info & Peluang
Tag: Gizi
-hindari pola makan "1x makan banyak"
-distribusikan kebutuhan nutrisi hatian menjadi makan 6 kali sehari, "Caranya dengan 3 x makan utama dan 3 kali cemilan" Kata Widjaja. Ini berguna untuk menghasilkan kontrol gula darah yang lebih baik daripada apabila diberikan dengan frekuensi kurang dari 3 kali sehari. Hal ini dibuktikan dalam berbagai studi dimana ada keuntungan metabolik yang diraih dengan meningkatkan frekuensi makan dimana respons kadar gula darah pada tubuh akan lebih stabil bagi orang yang makan utama dan makan cemilan dengan yang hanya makan 3 kali sehari. Serum insulin, serum C peptide, trigliserida, dan asam lemak jenuh juga menjadi rendah
-perhatikan kualitas makanan
-porsi makan yang sebaiknya tidak besar dan berkualitas baik, misalnya tidak tinggi lemak, glicemic index (GI) yang rendah, serta tinggi serat
-konsumsi makanan gandum utuh, buah, biji-bijian, dan kacang-kacangan, serta konsumsi karbohidrat tanpa glikemik (makanan berserat, resistant starch, oligo-fructosaaccharide).
-frekuensi makan dianjurkan tiap pukul 08.00-13.00 dan 19.00 WIB
-makanan ringan dapat disantap antara waktu makan besar, paling tidak setiap tiga sampai tiga jam setengah ada sesuatu yang dimakan.
Sumber :
Leisure suplemen Republika, Selasa 15 April 2014 kesehatan halaman 7
Sumber :
Leisure Suplemen Republika Selasa 15 April 2014 Kesehatan halaman 7
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
Belajar dari Certificate of Visual Impairment untuk Tata Kelola Layanan Disabilitas di Inggris
Birokrasi layanan disabilitas di Indonesia masih rumit dan sering kali salah sasaran. Pelajari bagaimana sistem Certificate of Visual Impairment (CVI) di Inggris mengintegrasikan data rumah sakit langsung ke layanan sosial, dan mengapa sistem ini penting diadopsi untuk memperbaiki pendataan disabilitas (DTKS) di Indonesia.
Pentingnya Profesi Pendamping Klinik Mata (ECLO): Menjembatani Pasien Tunanetra dari Rumah Sakit ke Layanan Sosial
Setelah didiagnosa kehilangan penglihatan, pasien kerap bingung mencari rehabilitasi. Kenali profesi Eye Clinic Liaison Officer (ECLO) dari sistem CVI Inggris yang bertugas menjembatani medis dan layanan sosial, serta pentingnya adaptasi peran ini di rumah sakit Indonesia.