KEGAGALAN CINTA
- Penulis
- Dominggus
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 15 menit baca
- Jumlah pembaca
- 1 kali dibaca
Kategori: KARFIKSI
Tag: cerpen, #KisahKlasikMasaLampau
Nyaris setiap hari aku tak pernah kesepian karena kau selalu datang dan mewarnai hari-hariku. Aku senang sekali punya teman cantik seperti kamu. Senyuman manismu, lesung pipimu, dan tatapan bola matamu yang selalu indah di mataku menjadi bunga-bunga dihatiku. Perasaan sayangku yang tulus padamu ku ungkapkan melalui perlakuanku padamu yang penuh perhatian dan kasih sayang, tapi atas dasar itu kau telah jatuh hati padaku. Hai adikku yang ku sayang aku menganggap kau seperti adik kandungku sendiri. Aku tidak merasakan getar-getar cinta saat bersamamu seperti yang kau rasakan dan telah kau ungkapkan padaku melalui kertas putih itu. Getaran-getaran cinta itupun telah aku rasakan tapi dengan bunga yang lain, bukan dirimu. Kau Cinta Aku Tapi Aku Cinta dia. Dia adalah wanita sempurna yang tak pernah aku temukan sebelumnya. Maafkan aku adikku. Aku harus pindah kelain hati sesuai perasaan cintaku untuknya. Jangan bersedih apalagi menangis adikku, tapi resapilah perasaan itu karena cinta tak harus memiliki. Kendari 4 februari 1986 tertanda, Yobi”.Aku tersadar dari lamunan saat pembawa acara selesai membaca surat itu.” Aku terbawa suasana sedih dengan isi surat itu karena ada kesamaan dengan yang aku alami. Aku menarik nafas dalam lalu mengembuskannya. Aku membayangkan bagaimana nasip seorang gadis dalam kisah yang dibacakan tadi. Gadis itu mencintai seorang cowok karna perhatian dan kasih sayang tulus yang diperoleh dari cowok itu. “Kisah yang ini sama dengan yang aku alami saat ini, batinku lagi. Tapi kisah lain yang mungkin beda adalah cowok yang dicintainya itu jatuh cinta pada cewek lain”, batinku. “Kalau aku berada diposisi cewek itu pasti aku kecewa sekali dan akan merasa sakit hati”, desisku dalam hati. *** (Baca bagian selanjutnya dengan klik next) Beberapa hari ini aku tidak begitu bersemangat. Aku merasa kesepian. Pikiranku tidak tenang. Ditambah lagi kue yang aku jual tidak terjual semua. Sebenarnya masih bisa dijual di tempat lain tapi aku malas jualan hari ini. Aku merasa sangat mengantuk sehingga aku memutuskan pulang saja. Setiba di rumah aku melihat raut wajah Ibu yang sedikit terkejut dengan kepulanganku yang agak cepat. “Mama, besok aku mau libur jualan kue dulu”, kataku pada Ibu sambil meletakkan bungkusan di meja makan, kemudian aku duduk di depan meja makan untuk makan siang. “Ya tidak apa-apa nak, memang ada saatnya kita merasa capek”, kata Ibu yang duduk berhadapan denganku di meja makan. “Kue yang sisa sebagian bagikan ketetangga saja”, pinta Ibu dengan ekspresi tenang membuatku merasa sedikit legah namun merasa bersalah. “Maaf ya ma, kali ini aku mengecewakan Mama, kataku. “Sudahlah nak, Ibu mengerti karna ibu juga pernah mengalami”, kata Ibu penuh pengertian membuatku merasa tenang. Setelah makan siang aku memasukkan kue di kantong plastik dan memberikan ke tetangga di depan rumahku, juga membawanya ke rumah Robi. “Selamat siang”, sapaku di depan pintu. “Siang nak”, masuk, suara Ibu Robi dari dalam rumah. Akupun masuk sampai ke dapur mendapatkannya yang sedang bekerja. “Ini tante kue dari rumah”, kataku sambil meletakkannya di atas meja makan. “Kenapa ada kue nak?” Tanyanya. “Tadi ada acara kecil-kecilan di rumah sama teman-teman kelasku”, jawabku berbohong. Ibu Robi akan memberiku uang sesuai harga kueku jika seandainya aku bicara jujur karena akan merasa kesihan padaku sementara aku tidak suka dikesihani karena hal yang aku alami itu. “Robi dimana tante?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan. “Robi kerumah temannya nak”, jawabnya. “O ya tante aku pulang dulu mau istrahat. “Ia nak trimakasih kuenya”. “ sama-sama tante”. Aku berjalan keluar dari rumah itu. Namun ketika di luar rumah aku melihat tumpukan kertas di tempat pembakaran sampah. “Tidak biasanya ada banyak kertas di tempat pembakaran sampah”, batinku, “biasanya disitu yang ada dedaunan kering”. Aku mulai curiga kalau sampah kertas itu ditulisi sesuatu hal penting namun karena banyak salah tulis sehingga di remukkan lalu dibuang di tempat sampah. Aku mulai merasa ada sesuatu tulisan penting di kertas-kertas itu yang harus aku cari tahu. Aku mulai mengingat-ngingat pengalaman waktu aku menulis surat cinta untuk Robi dan meremukkan kertas-kertas jika salah tulis lalu melemparkannya ke tempat sampah. Aku mengambil semua gulungan kertas-kertas itu dan membawanya pulang. Dalam perjalanan pulang itu hatiku bergejolak. “Bagaimana kalau dugaan aku benar bahwa surat itu adalah surat cinta yang ditulis untuk cewek lain ...” “ah tidak, tidak. Mungkin saja suratnya akan ditujukan padaku, batinku bergejolak”, semakin aku paksakan surat itu ditujukan padaku, semakin aku ragu. Robi pernah menolak cintaku dan selama ini dia menganggap aku sampai sebatas adik saja, bahkan beberapa hari ini dia tidak menghargai kehadiranku. Aku merasah sedih sekali. Saat kupejamkan mataku, tak kusadari ada air mata yang menetes membasahi pipiku. Aku menarik nafas dalam lalu menghusap air mata di pipiku menggunakan ujung jari jemariku. Setibah di rumah aku memutuskan langsung tidur saja dan untuk sementara menyimpan kertas-kertas tersebut di dalam laci meja belajarku. Tapi ternyata aku tidak bisa tidur karna penasaran dengan isi tulisan di kertas-kertas sanpah itu. Akupun mengambil dari laci meja. Jantungku berdebar-debar tidak keruan. Aku menenangkan hatiku lalu membuka gulungan kertas itu ditanganku dan membacanya.
Dari Yobi. Judul surat, kau cinta aku tapi aku cinta dia.Ternyata dugaanku benar. Aku membaca isinya sampai habis dan sama persis dengan yang dibacakan penyiar radio pada acara bisikan kalbu tadi malam. Aku langsung merebahkan tubuhku di tempat tidur sambil mengenang masa-masa indah bersama Robi. Hatiku menangis karena dia akan bersama wanita lain dan bukan diriku. Aku suka caranya menyayangiku dan memperlakukanku. Dia penuh kasih sayang dan perhatian padaku. Namun baru beberapa hari ini dia terpikat dengan cewek lain yang pastinya lebih cantik dariku. Hari demi hari kulalui tanpa bersemangat. Namun tidak berhasil kusembunyikan dari Ibuku. “Ada masalah apa lagi nak?” Tanya Ibu sambil duduk disampingku sembari menghusap-husap rambutku penuh perhatian. Akupun memutuskan mengatakan yang sesungguhnya pada Ibu karna aku tidak sanggup menanggung sendirian perasaan kecewa ini. “Ma’”, seruku pada Ibu dengan suara berat, “Robi sangat sayang padaku dan memperlakukan aku seperti adiknya membuat aku jatuh hati padanya … aku sangat senang ma tapi sudah dua minggu ini dia cuek sama aku dan beberapa hari lalu aku baru tahu kalau dia ternyata jatuh cinta dengan cewek lain”, kataku sambil menunduk. Ibu terus menghusap-husap rambutku dengan tangannya membuatku merasa tenang dan tidak sendirian. “Semua masalah itu ada hikmahnya nak, kamu bersyukur nak karna masih usia segini sudah merasakan sakit gara-gara cinta. Itu artinya kamu cepat-cepat disadarkan sama Tuhan tentang apa itu cinta … disini Ibu mau bilang nak, saat ini di usia ade yang masih seumur jagung, akan lebih baik dan penuh makna dengan mencintai pekerjaanmu sekarang dan cintailah buku-buku pelajaranmu dari sekolah, karna masa depanmu ada disitu. Kalau sudah terbiasa kamu akan melupakan hal-hal yang tidak penting itu”, kata ibu penuh kasih sayang. Aku terdiam mencerna kata-kata Ibu. “Lakukan saja yang terbaik untuk diri dan masa depanmu maka orang terbaik akan mengejar-ngejar cintamu, percayalah:, kata Ibu penuh keyakinan. Akupun mengangkat kembali kepalaku dan menatap masa depan yang lebih penting aku perjuangkan. “Terimakasi ma ... Terimakasih”, Ucapku seraya memeluk tubuhnya dengan erat. (Baca bagian selanjutnya dengan klik "next") Indah POV. “Aku merasa aneh dengan cowok itu. Belum akrab tapi dia langsung mengirim surat cinta ke aku padahal dia bukan type cowok yang aku suka. Dia kuper dan kampungan. Ngobrol sama cewek saja grogi dan tidak nyambung”, kataku pada Irma. “Dia itu tinggal di daerah persawahan milik ayahnya di ujung desa”, kata Irma disampingku, “adik kelasku sewaktu aku masih SMP pernah kirim surat cinta ke dia tapi ditolak”, terang Irma. “Wah cewek kirim surat cinta ke cowok???” Tanyaku dengan nada keheranan. “Mereka sudah sangat akrab sejak kecil, mungkin itu yang bikin Wati tidak sungkan-sungkan mengungkapkan perasaannya”, ujar Irma. “Seharusnya Robi bersyukur. Menurutku kalau cewek sudah berani ungkapin cinta ke cowok pasti karna dia sangat cinta mati bahkan karena cintanya penuh ketulusan”, kataku. “Oh ya, ngomong-ngomong kamu suka cowok yang bagaimana?” Tanya Irma. “Aku tuh suka cowok yang gaul, cerdas, dan rajin”, jawabku pada Irma. Setelah ngobrol kecil kamipun pulang ke rumah masing-masing. Rumahku tidak jauh dari sekolah sehingga bisa di tempu hanya dengan berjalan kaki. Setelah makan siang aku langsung kembali ke kamar untuk membalas surat cinta dari Robi.
“Dari Indah untuk Robi selamat berapa saja!!! Aku berharap kakak tetap sehat selalu dan tetap dilindungi Tuhan yang maha kuasa. Disini aku mau menjawab surat cinta dari kakak yang aku terima kemarin. Maaf ya baru di balas! Aku harap kakak menerima isi surat ini dengan senang hati. Sebelumnya aku berterimakasih karena kakak menulis surat cinta yang indah untukku. Sebenarnya aku senang tapi mohon maaf adek tidak mau pacaran dengan siapa saja untuk saat ini. Dan kakak tidak usah dekat-dekat aku lagi karna kakak bukan type cowok yang aku suka. Pesan saya, temukanlah cewek yang mau mencintaimu karena cinta wanita itu tulus dan murni. Susah bisa mendapatkan cinta tulus dari seorang wanita. Sekian balasan surat ini aku harap kamu terima keputusan aku. Makasi. Kendari, 09 februari 1986. Tertanda, Indah”.*** Robi POV. Aku berdiri di tepi jalan sepi dimana sering dilalui wati saat kesekolah. “Aku ingin menyampaikan beribu-ribu maaf padanya”, batinku. Samar-samar aku mulai melihat dia dari jauh. “Itu pasti dia”, gumamku sambil menggayuh sepeda menuju dirinya. Aku menepikan sepeda dan berdiri berhadapan dengannya. “Wati ...”, suaraku menyebut namanya. Iapun berhenti berjalan. “Bikin apa kamu disini?” tanyanya dengan wajah sumringah. “Aku mau minta maaf karna tidak peduli sama kamu belakangan ini”, kataku. “Sebelum kamu minta maaf, aku sudah memaafkan semuanya”, kata Wati dengan ekspresi cuek. “Trimakasih Wati”, ucapku sambil kebingungan karena dia tidak ramah padaku seperti biasanya. “Aku sudah memaafkanmu, sekarang aku mau kesekolah”, kata Wati sambil berlalu dariku. Aku mengayuh sepeda berjalan mengiringinya. “Sekarang kita seperti biasa lagi ya”, kataku berupaya menjelaskan, “kamu bisa jalan-jalan kerumahku lagi seperti biasa”, lanjutku berusaha mengembalikan suasana hati Wati. Dia hanya diam dan terus berjalan. “Kamu bilang sudah memaafkanku tapi sepertinya kamu masih marah”, lanjutku seperti bertanya. “Aku memang memaafkanmu tapi aku tidak kayak dulu lagi seperti pengemis. Sekarang aku ingin lebih fokus mengisi waktu dengan belajar. Jadi aku mohon kamu jangan ganggu aku dan aku tidak akan ganggu kamu”. “Kenapa kamu marah begitu padaku Wati?” Tanyaku bingung. “Aku telah dengar surat cinta yang kamu kirim di radio yang berjudul, kau cinta aku tapi aku cinta dia, kata Wati dengan alis terangkat. “Disitu kau terangkan bahwa kamu … ah sudahlah aku tidak mau bahas itu lagi”. “Mana kutahu tentang surat itu, itu bukan suratku, bantahku. “Ah kamu memang laki-laki pembohong”, suara Wati meninggi, “aku yakin itu surat kamu karna isinya sama persis dengan isi tulisan yang aku temukan di tumpukan sampah depan rumahmu, kamu masih mau bantah?” Tegasnya. “Perasaan cinta yang tulus dari aku dulu kamu sia-siakan dan sekarang perasaan itu hilang sama sekali. Kamu tidak akan lagi dapat cinta dari aku”. Watipun berjalan dengan cepat meninggalkankku terpaku sendiri. “waduh … sulit bisa membuatnya cinta kepadaku lagi karna dia sudah terluka”, desisku penuh penyesalan.
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
Cinta dan persahabatan
Remaja itu kelihatan menyedihkan; Lihat tubuh yang berbalut jaket tebal itu; kecil, kurus, dan Nampak rapuh. Lihat kerutan didekat bibir ceri yang mempesona, Nampak bekas senyum senduh yang dipaksakan. Lihat airmata ddipipi tirusnya, airmata yang terus menetes semenjak dia kecil. Dan lihat mata sayu dibalik lensa kacamata itu, semua emosi terterah disana. Sedih, lukah, kesal, semuanya campur-aduk jadi satu. #Cerpen #KisahKlasikMasaLampau
PERANG BATIN JEJAKA ANAK PAK LURAH
Sambil senyum-senyum, Ayu mencoret-coret Kawruh Basa Jawa milik kang masnya itu. Digambarinya bagian kosong buku tebal itu dengan sketsa perawakan Bagus dengan perwujudan mirip tokoh pewayangan petruk dan ditambahi kata-kata “Jelek tapi ngangeni”. Kebiasaaan meninggalkan coretan gurauan di kertas kosong itu memang sudah jadi tabiat anak muda zaman dulu. Walau rumah mereka berdekatan, Bagus dan Ayu tak jarang juga menuliskan surat sebagai media komunikasi. Isinya hanya hal sepele, misal pantun atau rayuan gombal saja. #Cerpen #KisahKlasikMasaLampau