Lompat ke Konten Utama

KEGAGALAN CINTA

Penulis
Dominggus
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
15 menit baca
Jumlah pembaca
1 kali dibaca
WhatsApp X
Indah POV. Aku duduk di depan cermin besar kamarku dan mengamati waja serta bentuk tubuhku di cermin. Yang paling aku syukuri adalah wajahku cantik dan akupun senang melihatnya. Rambutku bersih dan berwarna hitam kemilau berkat rajin membersihkan memakai jeruk nipis yang dicampur dengan lidah buaya, ramuan untuk kesehatan rambut yang aku baca dari sebuah buku. Teman-temankupun kagum padaku karena kecantikanku. Ya teman-temanku mengatakan kalau aku ini cewek cantik dan akupun bangga pada diriku. Temanku yang bernama Irma senang melihat alis mataku yang tebal serta bola mataku yang lentik. Sedangkan Intan senang melihat rambutku yang terurai. Tidak ketinggalan amel adik kelasku sering menemuiku dan senang mengajak aku ngobrol karena senang melihat hidungku yang mancung, bibirku dan senyumanku. Aku punya banyak teman karena aku tidak pilih-pilih teman, aku menerima siapa saja yang mau berteman denganku. Meski aku type cewek terbuka tapi aku merasa tidak nyaman berteman dengan para cowok karena mereka sering menggoda dan memuji-muji kecantikanku. Aku merasa risih dan sangat bosan sehingga aku memutuskan tidak mau berteman dengan cowok-cowok. Tapi ada juga cowok yang selalu grogi jika aku berada di dekatnya. “Apa ada yang aneh pada diriku ... atau dia yang aneh”, tanyaku dalam hati. “Dia pasti cowok aneh kalau maco pasti tidak begitu”.   Robi POV   “Kakiku terasa sedikit bergetar diiringi jantung yang  berdebar kencang tidak keruan”, desisku sembari meletakkan tangan kanan di dada sebelah kiriku dan 'merasakan debar jantungku yang masih berdebar tidak keruan. Sementara tangan kiriku kusandarkan di tembok sekolah menopang berat tubuhku. “Ya aku baru saja berada di dekat Inda, cewek yang entah kenapa aku selalu merasa grogi saat berada di dekatnya”. Aku menuju warung Bu Ita di seberang jalan depan pintu gerbang dan menemui Anto yang sedang bersama susana pacarnya. Mereka berdua adalah teman akrabku di sekolah karena kami duduk di kelas yang sama yaitu kelas III-b. Aku mengambil ubi goreng di mangkok dan memakannya. Akupun menceritakan apa yang aku alami barusan. “Wah tidak salah lagi, itu artinya kamu sudah jatuh cinta sama dia”, ujar Anto, “trus apa kamu sering mengingat dia setiap hari?” Tanya Anto penasaran. “Ia benar aku selalu mengingat dia dan membayangkan kalau seandainya dia akrab dengan aku maka aku akan bahagia sekali”, jawabku dengan wajah polos.. “Apa yang kamu alami itu sama yang aku rasakan waktu jatuh cinta sama Susana”, kata Anto. “Apa benar ini namanya jatuh cinta?” Tanyaku ragu-ragu. Susana pun angkat bicara, “dia itu cewek cantik loh, kalau kamu lambat ungkapin Cinta ke dia kamu bisa didahului cowok lain”. Jantungku mulai berdebar-debar tidak keruan lagi mendengar perkataan yang dilontarkan Susana. “Bagaimana aku bisa kalau baru dekat dia saja aku sudah gemetaran”, ujarku berharap ada jawaban yang bisa meringankan beban pikiranku. “Nih, aku punya sedikit saran”, potong Anto, “kamu pikir bagaimana cara bisa ajak dia mengobrol, lakukan itu pelan-pelan dan sedikit demi sedikit sampai kalian bisa akrab dulu”, kata Anto dengan ekspresi serius. “Wah itu tantangan berat sekali”, pungkasku. “Memang kalau dipikir itu berat tapi yakinlah kalau dilakukan dengan pelahan  tidak sesulit yang dibayangkan kok”, kata Anto meyakinkanku. Aku merasa harus mendengar sarannya karna soal ini dia sudah ada pengalaman. Dalam perjalanan pulang sekolah aku juga mengingat cewek kelas tiga SMP, namanya Wati. Aku bersahabat dengan dia sejak kecil. Rumah tempat tinggal kami tidak terlalu jauh sehingga kami bisa bertemu setiap hari. Aku sangat menyayangi dia dan menganggap dia seperti adikku sendiri karena aku memang tidak punya adik cewek. Perhatian dan kasih sayang yang aku berikan dengan tulus bikin dia juga sayang padaku. Tapi aku tidak pernah merasakan getaran seperti yang aku rasakan saat berada didekat Indah siswi kelas satu SMA adik kelasku. Aku tau Wati akan kecewa kalau tau bahwa aku jatuh cinta dengan cewek lain dan bukan dirinya karena dia mencintaiku. Setahun yang lalu dia memberanikan diri mengirim surat cinta padaku tapi suratnya aku balas dengan mengatakan bahwa kita tidak boleh pacaran karena dia masih kecil dan belum bisa pacaran. Sejak membalas suratnya dia tidak pernah menemuiku lagi. Maka suatu hari saat pulang sekolah aku berinisiatif singga di sekolahnya untuk menemui dia. Ketika melihatku datang dia bersembuny di belakang Irma temannya sambil tersipuh malu. Waktu itu aku sempat merasa aneh kenapa dia sampai sebegitunya. Sekarang aku baru tau apa yang terjadi pada  Wati itu adalah karna efek jatuh cinta pada diriku. Sama seperti yang aku rasakan saat ini tapi melainkan dengan cewek lain  bukan dengan dirinya. Aku terus menggayun sepedaku sambil mengenang saat-saat bersama Wati. Dia begitu tulus mencintaiku. Kadang diam-diam dia membawakan makanan kesukaanku yang dimasaknya sendiri. Kadang dia membawa gorengan dan melayaniku dengan baik dan terasa sangat spesial. Dia juga mengingatkanku jika pakaianku sudah saatnya di cuci dan banyak lagi perhatian lainnya, tapi ketika mengingat Indah entah kenapa aku merasa bahagia padahal dia tidak mengenal aku dan kita belum berteman sampai saat ini. hampir setiap hari Wati datang di rumah mencariku. Dia sering membahas kejadian-kejadian apa yang dialami di rumahnya dan di sekolah. Kadang aku ogah-ogahan diajak ngobrol karena sebenarnya aku lebih senang mengingat cewek cantik bernama  Indah. Hari ini pikiranku agak berat karna tantangan yang diberikan Anto. Aku bingung memikirkannya. Wati pun pulang tanpa pamit dengan wajah kesal karna aku tidak terlalu merespon pembicaraannya.   Wati POV.   “Belakangan ini Robi sering menyendiri dan ogah-ogahan diajak mengobrol”, kataku kepada Ibu yang sedang memarut kelapa. “berarti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya”, ujar Ibuku. “Pikirkan apa lagi ma, orang tuanya kan termasuk petani sukses, kebutuhan Robi selama inikan terpenuhi, biaya sekolah ada, uang jajan ada, bahkan belum lama ini dia dibelikan sepeda baru yang sering dipakai kesekolah, jadi dia pusing apa lagi ma”, sahutku sembari mengiris bawang. “Mungkin memikirkan pelajaran disekolah nak”, ujar Ibu. Aku terdiam sejenak memikirkan jawaban Ibu lalu membenarkan, “ia ya mungkin benar”, kataku sembari lanjut memikirkan jawaban masuk akal Ibu. Aku memanaskan minyak goreng di wajan lalu memasukkan adonan untuk membuat kue. Aku kembali membayangkan ekspresi Robi yang ogah-ogahan padaku sambil mengait-ngaitkan dengan jawaban Ibuku barusan. Tapi semakin dipikir-pikir aku mulai merasa kurang yakin dengan jawaban Ibuku tadi kemudian bertanya-tanya, “kalau hanya soal pelajaran kenapa dia tidak terbuka kepadaku, bukankah dia sangat terbuka padaku selama ini”, Batinku. Aku melihat jam dinding menunjukkan sudah hampir setengah delapan malam. Aku menuju kamarku. Cahaya dari lampu petromaks yang digantung di pintu dapur cukup memberi cahaya di dalam kamarku. Aku menggantung kelambu lalu menyalakan radio kecil yang selalu menemaniku setiap malam atau pada saat-saat sedang kesepian. Aku memutar tuning radio untuk mencari sebuah siaran radio yang menyiarkan acara “bisikan kalbu”. Diacara itu anak muda sering mengirim surat tentang kisah cintanya bersama sang kekasih yang diiringi lagu-lagu percintaan yang sesuai dengan kisah surat yang dibacakan pembawa acara. Kadang aku terharu, kadang aku ikut merasa bahagia, dan kadang aku menangis terbawa suasana cerita sedih tentang cinta. Surat yang berikut datang dari seorang pria bernama Yobi, kata penyiar. “Ah itu mirip nama Robi tapi yang ini namanya Yobi”, bisikku dalam hati. “Yobi menulis surat berjudul, “kau cinta aku, tapi aku cinta dia””, kata penyiar yang membaca surat tersebut. Musik sedihpun menghantar aku kesuasana sendu dan pembawa acara mulai membacakan isi surat dengan penuh penghayatan.
Nyaris setiap hari aku tak pernah kesepian karena kau selalu datang dan mewarnai hari-hariku. Aku senang sekali punya teman cantik seperti kamu. Senyuman manismu, lesung pipimu, dan tatapan bola matamu yang selalu indah di mataku menjadi bunga-bunga dihatiku. Perasaan sayangku yang tulus padamu ku ungkapkan melalui perlakuanku padamu yang penuh perhatian dan kasih sayang, tapi atas dasar itu kau telah jatuh hati padaku. Hai adikku yang ku sayang aku menganggap kau seperti adik kandungku sendiri. Aku tidak merasakan getar-getar cinta saat bersamamu seperti yang kau rasakan dan telah kau ungkapkan padaku melalui kertas putih itu. Getaran-getaran cinta itupun telah aku rasakan tapi dengan bunga yang lain, bukan dirimu. Kau Cinta Aku Tapi Aku Cinta dia. Dia adalah wanita sempurna yang tak pernah aku temukan sebelumnya. Maafkan aku adikku. Aku harus pindah kelain hati sesuai perasaan cintaku untuknya. Jangan bersedih apalagi menangis adikku, tapi resapilah perasaan itu karena cinta tak harus memiliki. Kendari 4 februari 1986 tertanda, Yobi”.
Aku tersadar dari lamunan saat pembawa acara selesai membaca surat itu.” Aku terbawa suasana sedih dengan isi surat itu karena ada kesamaan dengan yang aku alami. Aku menarik nafas dalam lalu mengembuskannya. Aku membayangkan bagaimana nasip seorang gadis dalam kisah yang dibacakan tadi. Gadis itu mencintai seorang cowok karna perhatian dan kasih sayang tulus yang diperoleh dari cowok itu. “Kisah yang ini sama dengan yang aku alami saat ini, batinku lagi. Tapi kisah lain yang mungkin beda adalah cowok yang dicintainya itu jatuh cinta pada cewek lain”, batinku. “Kalau aku berada diposisi cewek itu pasti aku kecewa sekali dan akan merasa sakit hati”, desisku dalam hati. *** (Baca bagian selanjutnya dengan klik next) Beberapa hari ini aku tidak begitu bersemangat. Aku merasa kesepian. Pikiranku tidak tenang. Ditambah lagi kue yang aku jual tidak terjual semua. Sebenarnya masih bisa dijual di tempat lain tapi aku malas jualan hari ini. Aku merasa sangat mengantuk sehingga aku memutuskan pulang saja. Setiba di rumah aku melihat raut wajah Ibu yang sedikit terkejut dengan kepulanganku yang agak cepat. “Mama, besok aku mau libur jualan kue dulu”, kataku pada Ibu sambil meletakkan bungkusan di meja makan, kemudian aku duduk di depan meja makan untuk makan siang. “Ya tidak apa-apa nak, memang ada saatnya kita merasa capek”, kata Ibu yang duduk berhadapan denganku di meja makan. “Kue yang sisa sebagian bagikan ketetangga saja”, pinta Ibu dengan ekspresi tenang membuatku merasa sedikit legah namun merasa bersalah. “Maaf ya ma, kali ini aku mengecewakan Mama, kataku. “Sudahlah nak, Ibu mengerti karna ibu juga pernah mengalami”, kata Ibu penuh pengertian membuatku merasa tenang. Setelah makan siang aku memasukkan kue di kantong plastik dan memberikan ke tetangga di depan rumahku, juga membawanya ke rumah Robi. “Selamat siang”, sapaku di depan pintu. “Siang nak”, masuk, suara Ibu Robi dari dalam rumah. Akupun masuk sampai ke dapur mendapatkannya yang sedang bekerja. “Ini tante kue dari rumah”, kataku sambil meletakkannya di atas meja makan. “Kenapa ada kue nak?” Tanyanya. “Tadi ada acara kecil-kecilan di rumah sama teman-teman kelasku”, jawabku berbohong. Ibu Robi akan memberiku uang sesuai harga kueku jika seandainya aku bicara jujur karena akan merasa kesihan padaku sementara aku tidak suka dikesihani karena hal yang aku alami itu. “Robi dimana tante?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan. “Robi kerumah temannya nak”, jawabnya. “O ya tante aku pulang dulu mau istrahat. “Ia nak trimakasih kuenya”. “ sama-sama tante”. Aku berjalan keluar dari rumah itu. Namun ketika di luar rumah aku melihat tumpukan kertas di tempat pembakaran sampah. “Tidak biasanya ada banyak kertas di tempat pembakaran sampah”, batinku, “biasanya disitu yang ada dedaunan kering”. Aku mulai curiga kalau sampah kertas itu ditulisi sesuatu hal penting  namun karena banyak salah tulis sehingga di remukkan lalu dibuang di tempat sampah. Aku mulai merasa ada sesuatu tulisan penting di kertas-kertas itu yang harus aku cari tahu. Aku mulai mengingat-ngingat pengalaman waktu aku menulis surat cinta untuk Robi dan meremukkan kertas-kertas jika salah tulis lalu melemparkannya ke tempat sampah. Aku mengambil semua gulungan kertas-kertas itu dan membawanya pulang. Dalam perjalanan pulang itu hatiku bergejolak. “Bagaimana kalau dugaan aku benar bahwa surat itu adalah surat cinta yang ditulis untuk cewek lain ...” “ah tidak, tidak. Mungkin saja suratnya akan ditujukan padaku, batinku bergejolak”, semakin aku paksakan surat itu ditujukan padaku, semakin aku ragu. Robi pernah menolak cintaku dan selama ini dia menganggap aku sampai sebatas adik saja, bahkan beberapa hari ini dia tidak menghargai kehadiranku. Aku merasah sedih sekali. Saat kupejamkan mataku, tak kusadari ada air mata yang menetes membasahi pipiku. Aku menarik nafas dalam lalu menghusap air mata di pipiku menggunakan ujung jari jemariku. Setibah di rumah aku memutuskan langsung tidur saja dan untuk sementara menyimpan kertas-kertas tersebut di dalam laci meja belajarku. Tapi ternyata aku tidak bisa tidur karna penasaran dengan isi tulisan di kertas-kertas sanpah itu. Akupun mengambil dari laci meja. Jantungku berdebar-debar tidak keruan. Aku menenangkan hatiku lalu membuka gulungan kertas itu ditanganku dan membacanya.  
Dari Yobi. Judul surat, kau cinta aku tapi aku cinta dia.
Ternyata dugaanku benar. Aku membaca isinya sampai habis dan sama persis dengan yang dibacakan penyiar radio pada acara bisikan kalbu tadi malam. Aku langsung merebahkan tubuhku di tempat tidur sambil mengenang masa-masa indah bersama Robi. Hatiku menangis karena dia akan bersama wanita lain dan bukan diriku. Aku suka caranya menyayangiku dan memperlakukanku. Dia penuh kasih sayang dan perhatian padaku. Namun baru beberapa hari ini dia terpikat dengan cewek lain yang pastinya lebih cantik dariku. Hari demi hari kulalui tanpa bersemangat. Namun tidak berhasil kusembunyikan dari Ibuku. “Ada masalah apa lagi nak?” Tanya Ibu sambil duduk disampingku sembari menghusap-husap rambutku penuh perhatian. Akupun memutuskan mengatakan yang sesungguhnya pada Ibu karna aku tidak sanggup menanggung sendirian perasaan kecewa ini. “Ma’”, seruku pada Ibu dengan suara berat, “Robi sangat sayang padaku dan memperlakukan aku seperti adiknya membuat aku jatuh hati padanya … aku sangat senang ma tapi sudah dua minggu ini dia cuek sama aku dan beberapa hari lalu aku baru tahu kalau dia ternyata jatuh cinta dengan cewek lain”, kataku sambil menunduk. Ibu terus menghusap-husap rambutku dengan tangannya membuatku merasa tenang dan tidak sendirian. “Semua masalah itu ada hikmahnya nak, kamu bersyukur nak karna masih usia segini sudah merasakan sakit gara-gara cinta. Itu artinya kamu cepat-cepat disadarkan sama Tuhan tentang apa itu cinta … disini Ibu mau bilang nak, saat ini di usia ade yang masih seumur jagung, akan lebih baik dan penuh makna dengan mencintai pekerjaanmu sekarang dan cintailah buku-buku pelajaranmu dari sekolah, karna masa depanmu ada disitu. Kalau sudah terbiasa kamu akan melupakan hal-hal yang tidak penting itu”, kata ibu penuh kasih sayang. Aku terdiam mencerna kata-kata Ibu. “Lakukan saja yang terbaik untuk diri dan masa depanmu maka orang terbaik akan mengejar-ngejar cintamu, percayalah:, kata Ibu penuh keyakinan. Akupun mengangkat kembali kepalaku dan menatap masa depan yang lebih penting aku perjuangkan. “Terimakasi ma ... Terimakasih”, Ucapku seraya memeluk tubuhnya dengan erat. (Baca bagian selanjutnya dengan klik "next") Indah POV. “Aku merasa aneh dengan cowok itu. Belum akrab tapi dia langsung mengirim surat cinta ke aku padahal dia bukan type cowok yang aku suka. Dia kuper dan kampungan. Ngobrol sama cewek saja grogi dan tidak nyambung”, kataku pada Irma. “Dia itu tinggal di daerah persawahan milik ayahnya di ujung desa”, kata Irma disampingku, “adik kelasku sewaktu aku masih SMP pernah kirim surat cinta ke dia tapi ditolak”, terang Irma. “Wah cewek kirim surat cinta ke cowok???” Tanyaku dengan nada keheranan. “Mereka sudah sangat akrab sejak kecil, mungkin itu yang bikin Wati tidak sungkan-sungkan mengungkapkan perasaannya”, ujar Irma. “Seharusnya Robi bersyukur. Menurutku kalau cewek sudah berani ungkapin cinta ke cowok pasti karna dia sangat cinta mati bahkan karena cintanya penuh ketulusan”, kataku. “Oh ya, ngomong-ngomong kamu suka cowok yang bagaimana?” Tanya Irma. “Aku tuh suka cowok yang gaul, cerdas, dan rajin”, jawabku pada Irma. Setelah ngobrol kecil kamipun pulang ke rumah masing-masing. Rumahku tidak jauh dari sekolah sehingga bisa di tempu hanya dengan berjalan kaki. Setelah makan siang aku langsung kembali ke kamar untuk membalas surat cinta dari Robi.
“Dari Indah untuk Robi selamat berapa saja!!! Aku berharap kakak tetap sehat selalu dan tetap dilindungi Tuhan yang maha kuasa. Disini aku mau menjawab surat cinta dari kakak yang aku terima kemarin. Maaf ya baru di balas! Aku harap kakak menerima isi surat ini dengan senang hati. Sebelumnya aku berterimakasih karena kakak menulis surat cinta yang indah untukku. Sebenarnya aku senang tapi mohon maaf adek tidak mau pacaran dengan siapa saja untuk saat ini. Dan kakak tidak usah dekat-dekat aku lagi karna kakak bukan type cowok yang aku suka. Pesan saya, temukanlah cewek yang mau mencintaimu karena cinta wanita itu tulus dan murni. Susah bisa mendapatkan cinta tulus dari seorang wanita. Sekian balasan surat ini aku harap kamu terima keputusan aku. Makasi. Kendari, 09 februari 1986. Tertanda, Indah”.
*** Robi POV.   Aku berdiri di tepi jalan sepi dimana sering dilalui wati saat kesekolah. “Aku ingin menyampaikan beribu-ribu maaf padanya”, batinku. Samar-samar aku mulai melihat dia dari jauh. “Itu pasti dia”, gumamku sambil menggayuh sepeda menuju dirinya. Aku menepikan sepeda dan berdiri berhadapan dengannya. “Wati ...”, suaraku menyebut namanya. Iapun berhenti berjalan. “Bikin apa kamu disini?” tanyanya dengan wajah sumringah. “Aku mau minta maaf karna tidak peduli sama kamu belakangan ini”, kataku. “Sebelum kamu minta maaf, aku sudah memaafkan semuanya”, kata Wati dengan ekspresi cuek. “Trimakasih Wati”, ucapku sambil kebingungan karena dia tidak ramah padaku seperti biasanya. “Aku sudah memaafkanmu, sekarang aku mau kesekolah”, kata Wati sambil berlalu dariku. Aku mengayuh sepeda berjalan mengiringinya. “Sekarang kita seperti biasa lagi ya”, kataku berupaya menjelaskan, “kamu bisa jalan-jalan kerumahku lagi seperti biasa”, lanjutku berusaha mengembalikan suasana hati Wati. Dia hanya diam dan terus berjalan. “Kamu bilang sudah memaafkanku tapi sepertinya kamu masih marah”, lanjutku seperti bertanya. “Aku memang memaafkanmu tapi aku tidak kayak dulu lagi seperti pengemis. Sekarang aku ingin lebih fokus mengisi waktu dengan belajar. Jadi aku mohon kamu jangan ganggu aku dan aku tidak akan ganggu kamu”. “Kenapa kamu marah begitu padaku Wati?” Tanyaku bingung. “Aku telah dengar surat cinta yang kamu kirim di radio yang berjudul, kau cinta aku tapi aku cinta dia, kata Wati dengan alis terangkat. “Disitu kau terangkan bahwa kamu … ah sudahlah aku tidak mau bahas itu lagi”. “Mana kutahu tentang surat itu, itu bukan suratku, bantahku. “Ah kamu memang laki-laki pembohong”, suara Wati meninggi, “aku yakin itu surat kamu karna isinya sama persis dengan isi tulisan yang aku temukan di tumpukan sampah depan rumahmu, kamu masih mau bantah?” Tegasnya. “Perasaan cinta yang tulus dari aku dulu kamu sia-siakan dan sekarang perasaan itu hilang sama sekali. Kamu tidak akan lagi dapat cinta dari aku”. Watipun berjalan dengan cepat meninggalkankku terpaku sendiri. “waduh … sulit bisa membuatnya cinta kepadaku lagi karna dia sudah terluka”, desisku penuh penyesalan.

Tentang Penulis

Dominggus

Bio penulis belum tersedia.

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

  • Cinta dan persahabatan

    Remaja itu kelihatan menyedihkan; Lihat tubuh yang berbalut jaket tebal itu; kecil, kurus, dan Nampak rapuh. Lihat kerutan didekat bibir ceri yang mempesona, Nampak bekas senyum senduh yang dipaksakan. Lihat airmata ddipipi tirusnya, airmata yang terus menetes semenjak dia kecil. Dan lihat mata sayu dibalik lensa kacamata itu, semua emosi terterah disana. Sedih, lukah, kesal, semuanya campur-aduk jadi satu. #Cerpen #KisahKlasikMasaLampau

    jeneferkakunsi
  • PERANG BATIN JEJAKA ANAK PAK LURAH

    Sambil senyum-senyum, Ayu mencoret-coret Kawruh Basa Jawa milik kang masnya itu. Digambarinya bagian kosong buku tebal itu dengan sketsa perawakan Bagus dengan perwujudan mirip tokoh pewayangan petruk dan ditambahi kata-kata “Jelek tapi ngangeni”. Kebiasaaan meninggalkan coretan gurauan di kertas kosong itu memang sudah jadi tabiat anak muda zaman dulu. Walau rumah mereka berdekatan, Bagus dan Ayu tak jarang juga menuliskan surat sebagai media komunikasi. Isinya hanya hal sepele, misal pantun atau rayuan gombal saja. #Cerpen #KisahKlasikMasaLampau

    abdurrahman

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.