KEBAIKAN YANG DATANG DARI SAMUDRA
- Penulis
- muhdiabdillah
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 10 menit baca
- Jumlah pembaca
- 2 kali dibaca
Kategori: KARFIKSI
Tag: cerpen, #KisahKlasikMasaLampau
Sungguh teramat rindu aku mengenang kisah ini. Kisah yang pernah memberikanku kesempatan kedua untuk hidup di dunia dan menghadirkan cinta saat tak sengaja menyelamatkan seorang gadis di tengah badai yang begitu mendebarkan.
24 Desember 1891.
Di pesisir timur kepulauan jawa, merupakan awal aku dilahirkan. Aku dan keluargaku adalah mozaig dari bangsa pribumi yang tengah menghuni pesisir pantai katulistiwa. Masa itu adalah prapersatuan belum menjadi kepemilikan kami para bawahan kolonial. Kala itu, setiap bulan desember kami harus memberikan hantaran kepada tuan majikan kami para kulit putih yang mengawasi tanah garapan kami. Biasanya akan di adakan juga perayaan seperti pasar malam di lapangan dermaga desa yang di sebut pelbok. Sepulangnya aku dari mengendalikan kapal nelayan, aku di paksa ayah untuk ikut mengurus kandang kuda malam hari di rumah tuan Snorsen orang yang menjadi tuan tanah garapan bapak. Hatiku dongkol apalagi aku ingin bisa mengunjungi pasar malam seperti teman-temanku.
Di terangi sebuah lampu minyak kami berjalan menuju belantara jalan tanah yang menuntun kami ke salah satu rumah yang menjadi bingkai peradaban eropa yang megungguli kekuasaan saat itu. Berlatarkan garis pesisir yang kian menyatu biru dengan malam, berdirilah siluet sebuah gaya rumah beraksitektur romawi dengan pilar yang seakan menantang zaman untuk memperkecil kehidupan para pribumi. Pekarangan taman yang berisi rose, kamelia, dan tulit itu begitu permai menghiasi kemewahan tanah imigran itu. Di belakang rumah, terdapat bangunan yang berfungsi menjadi kandang ternah yang sekaligus memuat perkakas dan rempah-rempah. Yang paling ku suka adalah bangku taman yang Melingkar berbentuk seperti sulur bunga yang juga di bingkai dengan ukiran rumit terbuat dari besi. Di tengahnya, terdapat sebuah meja berkayu mahogani yang teramat tebal dan begitu teduh dengan kanopi ranting pohon jati di atasnya.
Tak seperti biasa, keluarga snorsen bulan ini sedang kedatangan banyak tamu. Kedatangan kami di rumah itu hanya berstatus sebagai buruh panggilan. Dan ketahuilah, penampilan kami jauh dari layak di sandingkan dengan para bangsawan kolonial itu yang mengenakan pakaian sutra dengan benang dan kancing yang paling indah. Bajuku hanyalah sebuah kain serabut kasar yang dulu di jahit ibu dari sisa sobekan layar kapal.
Suara denting sendok dan piring terdengar ramai dan begitu mengeluarkan aroma makanan banyak. Aku baru ingat sepulang dari laut aku belum sempat makan malam karena terburu mengikuti ayah untuk mengurusi titah majikan yang baginya begitu penting itu.
Selepas membersikan kandang dan memberi makan kuda jerami, aku dan ayahku bergegas ke depan rumah tuan snorsen untuk pamit. Semoga saja malam ini aku bisa cepat makan dan bisa sempat menghadiri pasar malam.
Tak butuh waktu lama bagi kami untuk menemukan sosok Tuan snorsen yang baru saja keluar dari pintu rumahnya. Ia tampak begitu gelisah dengan keberadaan awan mendung yang ditatapnya malam ini. Tak sengaja ia menoleh kepada kami berdua dan menyuruh kami untuk mendekatinya.
"Wahai Anan, ini adalah kabar yang paling buruk semenjak salah seorang keluargaku mengabarkan untuk datang ke sini melalui kapal barang."
"Memangnya ada apa sir? Bukannya keluarga anda sudah datang semua," tanya ayah dengan wajah heran.
Dengan tampang putus asa Tuan snorsen bercerita kalau sepupu jauhnya akan datang hari ini melalui dermaga surabaya. Kemdudian, selepas itu karena mereka memaksa ingin bisa sampai malam ini, Keluarganya sebagian ada yang berpisah dan memilih menyewa perahu penyebrangan menuju selat Madura namun sampai sekarang mereka belum tiba.
"Aku baru saja mendapat kabar ini dari madam maksie kalau Cucu dan menantunya sedang melalui jalur laut sore tadi.
Sebagai satu-satunya anak kecil di sana, aku memahami betapa rumitnya masalah tuan snorsen. Sedari sore hawa begitu panas menyengat dan kawanan burung pantai mulai bermigrasi membentuk rasi segi tiga di angkasa. Di antara kepercayaan keluarga pelaut, hari ini merupakan pertanda akan datangnya badai besar. Badai yang akan menimbulkan sesuatu yang mengerikan di tengah laut. Tak heran sebagian prahu dan tongkang penybrangan tak akan mau beroperasi hari ini. Hal ini di buktikan juga dengan Selubung kegelapan yang mulai memakan semua cahaya bintang dan sisa purnama malam ini.
"Apakah engkau bisa mengantarkan aku untuk menyusul perahu mereka?" Minta tuan Snorsen kepada ayah.
"Maaf sir, saya tidak akan mampu menyusul perahu mereka dengan prahu kecil saya. Apallagi Angin malah menarik kapal menuju arah badai.
"Sekarang aku memerintahkanmu untuk membantuku menyusul mereka. Datanglah ke pelabuhan untuk membawa perahu dagang milikku dan aku tak mau ada penolakan karena ini menyangkut soal jiwa seseorang di sana." Perintah tuan Snorsen dengan paksa.
Ini sungguh buruk. Bukan hanya tiada makan malam, sekarang ayah malah harus di paksa mengemudikann kapal bersama tuan snorsen untuk menerjang badai mematikan di lautan sana.
"ayolah Damar, kali ini pulanglah dan sampaikan pada ibumu ayah akan menuju laut sebentar bersama tuan Snorsen."
"tapi ini sangat gila yah. Angin dari pesisir sudah mulai tak terkendali dan apakah ayah yakin perahu dagang meyakinkan untuk bisa malalui badai?"
"Ini bukan urusan mu dan ayah ingin engkau pulang. Tiada bantahan lagi atau ayah di rumah akan memecutmu." Bentak ayahku yang mengacungkan tangannya sebelum ia berlari menuju pelabuhan.
Perasaanku cemas dan aku tak mau pulang ketika mengetahui ayah akan melalui bahaya.. Sambil menoleh menuju jalan pulang. Aku memutuskan untuk berbalik dan mengejar keberangkattan kapal tuan Snorsen di pelabuhan. Ku kencangnkan langkahku menuju pelabuhan yang semakin basah karena sedikit gerimis dan angin mulai kuat berhembus.
(Baca bagian selanjutnya dengan klik "next")
Di depan pelabuhan malam ini sebenarnya sangat indah. Terdapat sebagian hiasan dan penerangan menjelang perayaan pasar malam yang tengah berlangsung. Sebenarnya hari ini adalah awal perayaan namun, sebagian orang di pesisir memang tidak begitu mau mendekati pelabuhan karena sebagian pertanda badai sudah mereka ketahui beberapa hari yang lalu.
Di samping tepi tempat pelelangan ikan, terdapat Kapal dagang tuan Snorsen yang cukup besar sedang di tambatkan. Untaian talinya di ikat pada penyangga besi. Banyak yang hendak mencegah kepergian kapal itu.
Tuan Federic dan kaptenAlsen adalah petugas pelabuhan yang menolak memberikan izin kapal itu untuk berlayar. Namun, tuan Snorsen tetap bersih keras untuk bisa menggunakan kapalnya itu. Dengan geram ia Melempar 7 keping emas ke tangan mereka untuk menyuruh mereka menyingkir dari sana.
Akhirnya, tuan Snorsen bersama ayah, bang Mustakin buruh pelabuhan, bang Kucai dan bang Doper, nelayan sewaan tuan Snorsen mulai bersiap menaiki kapal dagang.
Selepas mereka naik menuju haluan dan membuka layar, Aku mendekati kapal itu diam-diam lalu memanjat perlahan ke buritan selagi tali belakang kapal belum di lepas.
Di atas, aku langsung bersembunyi pada bagian kargo karena bagian itulah yang jarang untuk di masuki orang.
Sayup-sayup aku mendengar tali kapal yang dinaikan, serta merasakan seisi kapal yang bergoyang-goyang menandakan bahwa perjalanan ini sudah di mulai. Dalam hati, sebenarnya aku menyesalkan apa yang sudah aku lakukan. Tapi Mengetahui bahaya pada ayah dan keluarga tuan Snorsen membuatku harus yakin untuk mengikuti kapal ini. Selama sekitar 15 menit perahu mulai sibuk dengan interaksi para awaknya. Sebenarnya aku juga tidak tau sejauh mana kapal ini sudah meninggalkan pelabuhan> Tiada cahaya bulan yang bisa menunjukan waktu ataupun rasi yang menunjukan arah. Sepertinya tuan Snorrsen hanya menggunakan kompas di haluan.
Dari kargo aku bisa mendengar tamparan angin di layar kapal begitu kencang sampai banyak bagian engsel kayunya yang berderat. Bisa di buktikan kalau serangan badai malam ini tidak main main. Di balik jendela kargo aku melihat awan bergulung-gulung hendak datang dan menerkam kehadiran kapal ini.
Taaarrrr. Taaaaaarr.." Kilatan dan Sambaran halilintar Menyinari jendela kargo dengan mendadak. Gelegarnya terdengar tak begitu jauh dari kapal. Mendengar itu aku nyaris berteriak dan pucat pasi.
"Semuanyaaa, pertahankan kapal, di sana aku sudah melihat kapal penyebrangan itu." Teriak tuan Snorsen yang sedang berdiri meneropong di haluan.
Ia menatap jauh kapal yang telah berlatar belakangkan badai di belakangnya yang telah mengamuk.
"kreeeeggggg."Layar belakang mendadak robek karena sudah tak kuat menahan derasnya angin.
Kucai, ambillah layar cadangan di kargo sekaraaang." perintah ayah yang tak bisa lepas daritangkai kemudi.
"Bruuggg," tumpukan peti kayu dan gulungan layar Berjatuhan saat bang kucai berusaha mengeluarkan gulungan layar baru.
"Aduuu," sial pekik ku reflek saat kepalaku terbentur tutup kotak.
"Heei, siapa yang ada di sana?" Tanya bang kucai kaget sambil menjatuhkan layarnya lagi.
Dengan tidak enak hati aku keluar dan menampakan diri ke depan bang kucai. Ia pun semakin kaget dan menanyaiku apakah ayah yang membawaku ke kapal ini. Ketika Bang kucai menyuruhku keluar. Aku semakin Ciut saat ayah terperanjat dan menatapku dengan murka.
"Kenapa engkau tak menaati ucapan ayah hah, anak pembangkang," Bentak ayah yang sudah kalut meremaskan tangannya di lenganku.
"Ma maaf yah," ucapku gemetar dengan kaki yang mendadak bergetar kencang.
"udah lah nan, engkau bisa baik-baik nanti. Sekarang yang lebih penting bagaimana kita selamat membawa kapal ini," Ungkap bang Kucai menenangkan.
Dengan perlahan ayah pun melonggarkan cengkramannya kemudian ia membawaku ke bilik kargo lagi.
"Jangan keluar sampai ayah bilang engkau boleh keluar dari sini, mengerti?"
"I iya, mengerti yah,"
Kapal penyebrangan itu terlihat semakin dekat menuju kapal kami. Teriakan para penumpang kapal itu sayup-sayup terdengar berteriak memanggil kapal kami untuk segera sampai. Sekitar 500 meter dari depan kapal kami terlihat sebuah puting beliung maha besar yang berpusar semakin dekat ke arah kami yang terombang-ambing.
Dengan sigap tuan Snorsen melempar simpul tali ke haluan kapal di depannya kemudian berhasil di tangnkap salah seorang awak kapal di sana.
Sudah tak ada banyak waktu lagi saat puting beliung itu mulai bergerak. Daya tarik kapal seakan sudah mulai kewalahan untuk bertahan menjaga ikatan tali yang ada di kapal sebelah.
Karena itu tuan Snorsen berteriak kepada semua penumpang kapal itu untuk meninggalkan kapal dan menyebrangi tali. Sambil berusaha mempertahankan ikatan tali. satu-persatu penumpang di kapal itu mulai berusaha menaiki tali yang terikat di haluan depan kapal tuan Snorsen. Mendadak, suara yang paling mengerikan pun terdengar saat tali di depan haluan putus.
"tidaaak," teriak tuan snorsen yang menyambar ujung tali itu dengan tangannya.
Ayah dan rekan-rekan yang lain berusaha memegangi tali menyisakan 2 awak yang menjaga kemudi sekaligus di dalam kargo. Walaupun ayah melarangku keluar, untuk kali ini aku sudah tidak tahan untuk bergiam diri. Ku sambar gulungan tali tambang di kargo, kemudian aku berlari menuju haluan.
"Tangkaaaap," sambil berusaha mengalahkan suara badai aku berusaha melempar tali yang baru.
Di sana Kembali awak kapal di seberang mengikatkan tali itu.
"Lepaskan tali itu Sir," teriak ayah yang tangannya masih bercengkraman di antara tiang dan tubuh tuan snorsen.
"Buug," sontak tuan snorsen dan yang lain terpental jatuh di lantai kapal.
Tambang yang baru sudah aku ikatkan di dasar tiang utama. Satu-persatu orang-orang mulai menyebrang melalui cela sempit kapal dengan berpegangan pada tali kembali.
Badai dan puting beliung mulai menggelegar. Dari Depan, mendadak sebuah ombak tinggi mengguncang cela kedua kapal sehingga ikatan talinya oleng sangat tajam.
"aaaaaah aaa, byur," terdengar teriakan seorang perempuan dan bunyi ceburan air di bawah. Mungkinkah perempuan itu jatuh?
Aku langsung mendekati tepi kapal dan melihat gadis itu terseret pergi. mendadak, bayangan-bayangan kelam kembali hadir dalam pikiranku. Kepedihan ketika aku kehilangan kakak dan adik-adikku saat berusaha melarikan diri dari kejaran kapal perang Nedherland.
Sontak aku pun menceburkan diri dan aku mendengar teriakan yang sangat memilukan dari ayahku.
"byuur," Dinginnya air begitu membuat aku mengerang. Sambil mengendalikan kesadaran, aku berusaha menatap ke atas air kemana anak gadis itu di seret arus. Dari jarak 7meter aku masih bisa melihat gadis itu berusaha mengapung. Akupun berusaha mengayunkan tangan dan kedua kakiku namun arus dasar sangat menyulitkanku. Gadis itu sempat melihat kedatanganku namun ia sudah hampir di ambang sadar kemudian secara perlahan ia mulai melemah. Dengan berusaha-mati-matian aku berhasil menyambar tubuh gadis itu sebelum ia tidak sadarkan diri.
Kini tenagaku juga mulai terkuras. Di depan sana kapal barang tuan Snorsen masih 8meter lagi.. Secepat mungkin aku berusaha berenang namun ternyata sudah mulai tidak memungkinkan. Semua persendianku seakan telah mati rasa dan beban tubuh gadis di dekapanku semakin berat untuk aku bawa.
"oh tuhan, apakah ini akhir dari hidupku? Ayah, aku minta maaf sudah tidak mematuhi perintahmu. sore tadi aku jadi merasa bersalah sudah tidak meminta maaf kepada ibu saat aku selalu terlambat pulang dari laut. Perlahan, cengkramanku pun mengendur dan semuanya menjadi hitam. Sepertinya sebentar lagi aku akan bisa menemui saudara-saudaraku. Beberapa detik sebelum kesadaranku menghilang, kedua tanganku seakan tak sengaja memegang sebuah benda melengkung seperti sirip yang licin namun hangat.
Apakah semua ini mimpi?
Di dalam mimpi itu aku seakan bisa melihat daratan di atas sebuah punggung yang mengendongku. Aku ingin bersuara namun kegelapan itu datang lagi.
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
Cinta dan persahabatan
Remaja itu kelihatan menyedihkan; Lihat tubuh yang berbalut jaket tebal itu; kecil, kurus, dan Nampak rapuh. Lihat kerutan didekat bibir ceri yang mempesona, Nampak bekas senyum senduh yang dipaksakan. Lihat airmata ddipipi tirusnya, airmata yang terus menetes semenjak dia kecil. Dan lihat mata sayu dibalik lensa kacamata itu, semua emosi terterah disana. Sedih, lukah, kesal, semuanya campur-aduk jadi satu. #Cerpen #KisahKlasikMasaLampau
PERANG BATIN JEJAKA ANAK PAK LURAH
Sambil senyum-senyum, Ayu mencoret-coret Kawruh Basa Jawa milik kang masnya itu. Digambarinya bagian kosong buku tebal itu dengan sketsa perawakan Bagus dengan perwujudan mirip tokoh pewayangan petruk dan ditambahi kata-kata “Jelek tapi ngangeni”. Kebiasaaan meninggalkan coretan gurauan di kertas kosong itu memang sudah jadi tabiat anak muda zaman dulu. Walau rumah mereka berdekatan, Bagus dan Ayu tak jarang juga menuliskan surat sebagai media komunikasi. Isinya hanya hal sepele, misal pantun atau rayuan gombal saja. #Cerpen #KisahKlasikMasaLampau