Lompat ke Konten Utama

GULALI MERAH

Penulis
precilia
Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
12 menit baca
Jumlah pembaca
2 kali dibaca
WhatsApp X

Matahari siang ini sepertinya tidak terlalu terang. Sisa-sisa hujan tadi membuat udara menjadi sedikit lembab. Aroma hujan membuat siapa saja ingin sekali hanya duduk-duduk di teras sambil minum teh. Tetapi ada langkah kaki seorang anak remaja kini sedang menelusuri jalanan yang dipenuhi dengan genangan air. Ia melangkah dengan hati-hati agar sepatunya tidak menginjak genangan air di permukaan jalan yang tidak rata. Maka dari itu langkahnya sedikit lebih lambat. Seharusnya kemarin ia tidak mencuci sepatunya kalau tahu hari ini akan hujan. Ia berjalan dengan wajah sedikit mengkerut karena sibuk memilih jalan yang aman untuk ditapaki. Tetapi wajah itu tiba-tiba menjadi cerah ketika dari kejauhan ia melihat sosok yang selalu ia temui setiap hari.

 

“Bang Tem!” teriak Maharani kepada orang yang membawa dorongan yang berisi dagangannya. Tetapi karena sosok itu masih tidak menoleh, maka dari itu ia berteriak lebih kencang, bahkan ia tidak peduli lagi dengan niat awalnya yaitu berjalan hati-hati agar sepatunya tidak menginjak genangan air, karena kini ia telah berlari sambil berteriak.

“Bang Tem woi bang Teeemmmm!”. Sosok itu berhenti dan menoleh ke belakang. Bahkan yang menoleh bukan hanya dirinya, tetapi orang-orang yang berada di teras-teras rumah.

 

“Walah mba Rani?” sosok itu heran, ternyata tubuh mungil pelanggannya itu memiliki suara sekeras itu. Dan secara bersamaan juga ada seorang pemuda yang menghampiri bang Tem sambil menggendong seorang anak kecil berusia dua tahun.

 

“Mas” panggil pemuda itu dan bang Tem yang merasa dipanggil menoleh ke depan kembali dan melihat seorang pemuda berkulit putih telah berada di dekatnya

“Eh iya mas? Mau beli apa?” tanya bang Tem ramah.

 

Pemuda itu tersenyum dan bertanya kepada keponakannya, “Tino, kamu mau beli yang mana?”. Anak kecil itu menatap omnya lalu menatap ke atas dorongan warna-warni itu.

“Mau itu” katanya sambil menunjuk ke arah gulali yang ternyata hanya tinggal satu. Bang Tem langsung mengambil gulali itu ke Tino. Tetapi sebelum ia mengambil gulali dari tangan bang Tem, Maharani  tiba-tiba sudah berada di samping gerobak itu berseberangan dengan pemuda tadi.

 

“Bang Tem aku beli gulalinya” katanya tanpa memandang ke arah bang Tem karena ia sibuk mengatur nafas sehabis berlari. Bang Tem yang merasa tidak enak berkata dengan sedikit bersalah.

“Yah mba, gulalinya udah abis”. Maharani yang melihat hal itu mengangkat wajah dan melihat bang Tem sedang memegang gulali merah di tangannya.

“Lah yang dipegang itu apa?” katanya sambil menunjuk ke arah gulali itu.

“Ini udah dibeli sama masnya” kata bang Tem dan menyerahkan gulali itu ke Tino yang menerimanya dengan mata berbinar. Ia memeluk plastik gembung itu yang ternyata ukurannya cukup besar.

 

Maharani baru menyadari bahwa ada orang di seberangnya. Pemuda itu dan Maharani saling menatap satu sama lain. Dan saat pemuda itu tersenyum, dampak yang dirasakan Maharani begitu dahsyat. Tiba-tiba jantungnya berdetak begitu cepat. Ia mungkin sering melihat cowok ganteng, bahkan di SMA-nya pun ada beberapa cowok ganteng yang digilai oleh teman-temannya, tetapi tidak ada yang membuat jantungnya seperti ini. Senyum pemuda itu begitu manis, bahkan tatapan matanya begitu teduh.

“Maaf ya, gulalinya sudah saya beli”. Katanya meminta maaf. Dan suara bariton itu masuk ke pendengaran Maharani membuat otaknya penuh dengan ilusi. Maharani mengerjapkan matanya dan tersenyum lebar.

“Gak apa-apa” katanya sambil mengatur nafasnya yang kini sedikit bergemeruh. Bukan karena habis berlari tadi, tetapi karena kini paru-parunya yang mengembang aneh.

 

“Jadi mba Rani mau beli apa?” tanya bang Tem membuat Maharani kembali ke dunia nyata.

“Hmmmm...” Maharani yang tersedot kembali ke tubuhnnya jadi buruburu melihat ke dorongan bang Tem. Tetapi sepertinya ia tidak tertarik dengan cemilan manis yang lain. Maka dari itu ia menggelengkan kepala.

“Gak bang” sambil melirik ke arah pelukan Tino dan kembali melirik pemuda itu.

“Ya udah besok abang simpenin satu buat mba Rani” kata bang Tem dan memberikan kembalian ke arah pemuda itu. Lalu bang Tem berlalu pergi beserta dengan dorongannya.

 

Mereka masih berdiri di sana. Pemuda tadi menurunkan Tino dan membuka bungkusan gulali tadi. Maharani yang melihat hal itu kini ada perasaan sedikit tidak rela, tetapi tidak mungkin ia berebut dengan anak kecil yang berbicara saja masih belum benar. Akhirnya ia hanya menatap gulali itu dan sedikit-sedikit melirik pemuda tadi. Ia melakukan itu bukan kode bahwa ia ingin sekali diberi gulali itu walaupun kalau pemuda itu mau memberikannya, ya dengan senang hati Maharani akan menerimanya. tetapi Maharani melakukan hal itu karena entah mengapa wajah pemuda ini begitu sedap dipandang. Dan mata itu terperangkap ketika kedua mata itu menatap Maharani dengan perasaan sedikit bersalah. Pemuda itu berdeham sedikit untuk melegakan tenggorokannnya.

“Maaf ya, gulalinya sudah saya beli” katanya dan menatap Maharani lekat ingin tahu ekspresinya. Karena dari tadi ia memergoki remaja perempuan ini melirik ke arah gulali dan dirinya.

“Kalau kamu mau, kkita bisa makan bareng-bareng” tawarnya dan menggandeng Tino ke arah taman di seberang jalan. Dan Maharani menganggap bahwa ini adalah sebuah ajakan akhirnya mengikuti langkah pemuda itu.

 

“Nama kamu siapa?” tanya pemuda itu setelah membersihkan tempat duduk semen itu dengan sapu tangannya dan mendudukan Tino ke atasnya.

“Ehmmm” Maharani yang ditanya seperti itu kontan berseri-seri senang. Lalu menjulurkan tangannya.

“Nama aku Maharani” jawabnya manis. Pemuda itu menyambut tangan Maharani dan memperkenalkan diri.

“Nama saya Subangga”. Dan jabatan tangan itu terlepas. Dan perasaan Maharani begitu membungah karena tangan itu terasa hangat.

 

“Ayo duduk” perintahnnya yang langsung dituruti oleh Maharani. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan duduk bersebelahan dengan cowok ini.

“Kamu sekolahnya sudah kelas berapa?”. Lalu ia menyodorkan tangkai gulali merah yang masih utuh. Maharani menjadi heran.

“Lho... Ini...”. Subangga tersenyum geli melihat ekspresi Maharani yang lucu.

“keponakan saya tidak boleh makan gula terlalu banyak”.

“Tapi...” “Tino dikasih beberapa suap saja. Itu pun sudah terlalu banyak. Dia gak mungkin makan semuanya” katanya sambil terus menyodorkan gulali merah itu.

“Nanti dia...” Maharani menunjuk ke arah Tino yang menatapnya polos.

“Saya sudah bilang sama dia kalau gulalinya harus dibagi dua sama kamu” “Dan dia...?” “Dia setuju. Karena saya bilang laki-laki sejati itu mendahulukan perempuan” “Dan dia paham begitu?”. Subangga tertawa kecil dan mengangguk lalu menyodorkan gulali itu ke arah Maharani. Dan akhirnya ia mengambil gulali itu dan memakannya. Tetapi karena dipandangi seperti itu, sehingga ia hanya bisa memasukkan dua suap gulali ke mulutnya. Dan sepertinya mukanya terasa panas. Saat Subangga melihat bahhwa pipi Maharani merona akhirnya ia bertanya lagi untuk mengalihkan perhatiannya.

 

“Jadi kamu kelas berapa?” tanya Subangga lalu menerima sodoran gulali dari tangan Maharani.

“Aku kelas dua SMA kak” jawabnya dan membersihkan tangan dengan tisue yang ia keluarkan dari kantung seragamnya. Subangga mengangguk paham sambil melihat Tino makan gulalinya dengan gembira. Kedua kakinya yang kecil  ia gerak-gerakan. Subangga lagi-lagi tersenyum. Maharani yang melihat itu terpanah, karena yang manis kini bukan hanya gulali yang tadi dia makan, tetapi senyuman pemuda ini juga memiliki efek manis yang sama.

 

“Kalau begitu saya harus kembali, nanti kakak saya nyariin anaknya” kata Subangga dan beranjak berdiri sambil menggendong Tino yang sudah selesai makan permen gulalinya.

“Oh...” Jawab Maharani dan ia ikut berdiri di samping Subangga.

“Ehm... Kak...” panggil Maharani ragu-ragu. Subangga yang dipanggil menoleh. “Aku boleh minta nomor telepon kakak gak?” tanyanya dengan jantung sedikit berdebar karena takut ada penolakan. Subangga tertawa lalu memberikan sederet angka.

“Tapi saya jarang berada di rumah, karena saya bekerja di luar kota. Ini kebetulan saja baru pulang”. Maharani mengangguk paham tetapi tetap tersenyum.

“Kalau begitu nanti malam aku boleh telepon gak?” tanyanya berani karena mulai percaya diri. Ternyata Subangga ini orang yang baik dan ramah.

“Boleh saja” katanya dan berlalu pergi sambil menggendong Tino yang melambaikan tangan ke arahnya dengan riang.

 

Malam harinya Maharani menelepon Subangga. Pembicaraan itu tidak terlalu panjang. Dan mereka pun membuat janji untuk bertemu esok hari di tempat yang sama. Sepulang sekolah pun Maharani buru-buru keluar dari sekolah dan berjalan menuju taman. Di sana ada Subangga dengan bungkusan gulali di tangannya.

 

Mereka makan gulali bersama. Banyak obrolan tercipta di antara mereka. Dari persoalan di sekolah sampai bercerita tentang kakak perempuannya yang bekerja juga di luar kota. Dan selama empat hari berturut-turut mereka buat janji untuk bertemu di taman itu dengan gulali merah di tangan masing-masing.

 

“Dulu saya tidak begitu suka gulali merah. Tetapi sejak bertemu kamu ternyata gulali ini enak juga sebagai teman ngobrol” katanya dan mencuci tangannya dengan botol air yang ia bawa dari rumah.

(Klik next untuk baca bagian selanjutnya)

“Menurut aku gulali itu bisa membuat perasaan seseorang menjadi lebih baik”. Subangga menatap langsung ke mata Maharani.

“Jadi kalau kamu sedang bersedih kamu akan makan gulali?”. Maharani mengangguk tetapi sesaat kemudian ia menggeleng. Subangga yang melihat hal itu menjadi tak paham.

“Tadinya iya. Kalau aku sedih aku akan makan gulali ini. Dulu kalau aku nangis, pasti papa kasih aku gulali biar aku gak nangis lagi. Dan ternyata memang benar, setiap aku nangis aku pasti dikasih gulali”.

“Maka dari itu kamu nangis setiap hari”. Dan perkataan Subangga bukanlah pertanyaan melainkan pernyataan. Maharani meringis dan mengangkat bahu.

“Tadinya begitu. Tetapi entah mengapa walaupun aku gak nangis dan merasa sedih, aku jadi ingin tetap makan gulali. Karena menurut aku kesedihan itu bisa datang kapan saja. Jadi sebelum kesedihan itu datang, lebih baik aku menghimpun tenaga melalui gulali-gulali yang aku makan supaya ada tambahan energi”. Subangga mendengarkan perkataan Maharani sambil menatap ke depan dan seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Jadi aku yakin siapa pun yang makan gulali apa lagi ketika sedih maka perasaannya akan membaik”. Subangga tersenyum kecil lalu mengangguk-angguk.

“Terima kasih ya”. Maharani yang mendengar hal itu tidak paham mengapa Subangga tiba-tiba berterima kasih padanya.

“Terima kasih untuk apa?” tanyanya dan memiringkan badannya ke arah Subangga.

“Saya berterima kasih sama kamu. Karena sepertinya kamu memberikan saya sebuah filosofi kehidupan melalui gulali”. Maharani yang tidak mengerti hanya mengerjapkan matanya.

“Ya sudah kalau begitu kita balik saja. Ini sudah hampir sore, nanti kamu dicariin orang tua kamu”. Maharani tersenyum lebar.

“Tenang aja kak, aku udah bilang ke mama kalau aku pulang telat”. Subangga yang mendengar hal itu mengangguk paham.

“Tapi saya harus pulang karena besok pagi saya sudah harus kembali. Cuti saya sudah selesai.”. Saat Maharani mendengar hal itu tiba-tiba hatinya menjadi sedih karena harus berpisah dengan partner gulalinya. Bahkan sepertinya lebih dari sekedar itu. Maharani telah jatuh cinta kepada pemuda di depannya ini. Ya sepertinya ia memang sedang jatuh cinta.

 

“Kamu harus sekolah yang benar ya”. Tangan Subangga yang terasa hangat itu menepuk puncak kepalanya. “Sampai ketemu lagi ya” pamitnya.

 

Maharani hanya mengangguk sambil meremas tangannya. Saat Subangga berjalan meninggalkan taman itu, ia baru saja melihat bahwa tidak jauh dari tempat yang diduduki Subangga ada kartu pos. Maharani mengambilnya dan membaca nama pengirimnya dan kepada siapa surat ini dikirim. Dan ia melihat nama Subangga di sana. Ini pasti kartu pos Subangga. Ia berusaha mengejar Subangga yang untung saja belum terlalu jauh.

“Kak!” teriak Maharani dan mengejar Subangga. Dan karena merasa ia dipanggil, akhirnya Subangga berbalik mendapat Maharani berjalan cepat ke arahnya.

“Ada apa?” tanya Subangga ketika Maharani sudah berada di depannya.

“Ini punya kakak ada yang jatuh”. Saat Subangga menerimanya ia baru sadar ternyata kartu pos yang ia terima tadi terjatuh.

“Wah terima kasih ya”. Ucap Subangga tulus.

“Ini kartu pos dari pacar saya. Dan saya tadi belum sempat membacanya, karena takut telat bertemu dengan kamu”. Subangga kembali menepuk kepala Maharani yang tubuhnya kini menjadi kaku. Bukan karena tepukan di kepala, tetapi karena perkataan Subangga. Bahwa kartu pos itu dari pacarnya. Pa... car... nya...

 

Hal itu membuat hati Maharani yang tadi sedih karena Subangga akan pergi ke luar kota, kini hatinya menjadi hancur karena perkataan Subangga. Subangga yang tidak menyadari hal itu lalu mengatakan sesuatu yang seperti sampai jumpa lagi, tetapi tidak didengar oleh Maharani yang kini tiba-tiba dunia di kepalanya menjadi gersang karena terbakar oleh api.

 

---

 

Siang itu Maharani menelusuri jalanan menuju rumahnya. Kini ia seperti tidak ada semangat seperti hari-hari sebelumnya. Langkah kakinya pun nampak berat. Perkataan Subangga selalu terngiang-ngiang di kepala. Dan tanpa sadar ia hampir saja menabrak gerobak bang Tem yang pas sekali sedang berhenti.

“Awas mba”. Maharani langsung mengangkat kepala dan hampir saja tubuhnya menabrak dorongan bang Tem.

“Yaelah bang Tem, kenapa pakirnya di sini sih bang” kata Maharani sebal.

Lah tadi sudah saya kasih tau, eh mba Rani masih jalan sambil nunduk”. Maharani yang mendengar hal itu tidak menjawab. Matanya menelusuri barang dagangan bang Tem.

“Mau beli gulali mba? Udah dua hari ini mba Rani gak beli gulali saya”. Maharani mehat ke arah gulali merah itu dan tiba-tiba ia kembali teringat pertemuan ia dengan Subangga. Percakapan mereka selama beberapa hari. Bahkan hari terakhir sebelum Subangga pergi. Semua ingatan manis dan pahit itu berputar di kepalanya.

 

“Mba Rani mau gulali gak?”. Maharani menggeleng tidak minat. Tetapi bang Tem yang melihat wajah pelanggannya itu sedang sedih, akhirnya tetap memberikan gulali merah itu ke tangan Maharani.

“Tapi bang...” tolak Maharani. “Ini gratis. Bang Tem kasih gratis supaya mba Rani seneng lagi”. Kata bang Tem lalu begitu saja bang Tem dan barang dagangannya pergi dari sana meninggalkan Maharani yang termenung sendirian di sana.

Maharani melihat gulali merah di tangannya. Lalu langkah kkakinya membawa dirinya ke tempat duduk yang berada di taman seberang. Taman yang memiliki banyak cerita untuk dirinya. Tiba-tiba air matanya mengalir. Ia tidak berusaha menghapusnya, tetapi ia membuka bungkus gulalinya. Ia makan sedikit demi sedikit memasukan gulali itu ke dalam mulut. Rasanya manis dan jadi terasa asin di lidah karena air matanya mengalir masuk ke bibirnya yang terbuka. Tetapi Maharani terus memasukan gulali itu ke dalam mulutnya sampai rasa asin itu hilang. Sampai rasa pahit di dalam hati lenyap. Dan ternyata itu terbukti, karena kini perasaannya mulai membaik. Rasa manis di mulutnya ia resapi dengan benar sambil mengingat masa-masa bahagia di hidupnya. Dan ia jadi ingat ada satu hal yang belum ia beritahukan ke Subangga, bahwa jika kesedihan itu akan lebih cepat hilang jika kita makan gulali sambil memikirkan kejadian yang membahagiakan hati. Dan hal itu yang sebenarnya Maharani lakukan setiap kali ia bersedih. Gulali merah memang bisa membuat dirinya bahagia, tetapi untuk melupakan kesedihan itu hanya bisa dengan cara memikirkan tentang kebahagiaan yang kita alami bahkan memikirkan kebahagiaan apa yang akan kita dapatkan di hari depan.  Karena hidup ini terus berjalan. Menciptakan kebahagiaan itu adalah kunci dari kehidupan ini, karena di dalam kebahagiaan pasti ada sebuah harapan.

 

~ TAMAT

 

Download:

~gulali merah by precilia

Tentang Penulis

precilia

Bio penulis belum tersedia.

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

  • Cinta dan persahabatan

    Remaja itu kelihatan menyedihkan; Lihat tubuh yang berbalut jaket tebal itu; kecil, kurus, dan Nampak rapuh. Lihat kerutan didekat bibir ceri yang mempesona, Nampak bekas senyum senduh yang dipaksakan. Lihat airmata ddipipi tirusnya, airmata yang terus menetes semenjak dia kecil. Dan lihat mata sayu dibalik lensa kacamata itu, semua emosi terterah disana. Sedih, lukah, kesal, semuanya campur-aduk jadi satu. #Cerpen #KisahKlasikMasaLampau

    jeneferkakunsi
  • PERANG BATIN JEJAKA ANAK PAK LURAH

    Sambil senyum-senyum, Ayu mencoret-coret Kawruh Basa Jawa milik kang masnya itu. Digambarinya bagian kosong buku tebal itu dengan sketsa perawakan Bagus dengan perwujudan mirip tokoh pewayangan petruk dan ditambahi kata-kata “Jelek tapi ngangeni”. Kebiasaaan meninggalkan coretan gurauan di kertas kosong itu memang sudah jadi tabiat anak muda zaman dulu. Walau rumah mereka berdekatan, Bagus dan Ayu tak jarang juga menuliskan surat sebagai media komunikasi. Isinya hanya hal sepele, misal pantun atau rayuan gombal saja. #Cerpen #KisahKlasikMasaLampau

    abdurrahman

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.