Dongeng Gemericik Suara Hati (32)
- Penulis
- tyaseta
- Tanggal terbit
- Estimasi waktu baca
- 3 menit baca
- Jumlah pembaca
- 1 kali dibaca
Kategori: KARFIKSI
Sampailah akhirnya si air yang terkumpul menjadi sungai, “Keciplak kecipluk” segerombolan ikan menari meloncat di atasnya. “Prajurit, tangkap ikan itu, saatnya makan.” Sambil meneteskan air liurnya “Baik yang mulia”.
Ikan-ikanpun di bakar di atas perapian, wanginya begitu menggoda, selanjutnya tinggal dimakanin, Raja dan para prajurit bergegas makan, namun ada satu orang yang menahan dirinya karena sedang memenuhi janjinya pada Raja Halla, janji untuk melarang dirinya makan dan minum selama sebulan.
Ternyata, firasatnya itu benar, semua tergelepar kesakitan setelah memakan ikan itu. “Kokhesemua pada mati ya?”, “Kokhes apa?” seru seorang pengembara yang kebetulan lewat dan mencuri dengar dan berlalu begitu saja karena harus segera menyelamatkan Istrinya yang sedang mengalami pendarahan karena digigit oleh seekor kucing hutan.
Semenjak itulah, nama Ikan Kokhes jadi tersiar kemana-mana, dan semua orang diminta berhati-hati karena bisa mematikan siapapun yang memakannya dan sama sekali tidak ada penawarnya.
“Hoi budak kemari semua kalian! Dan kamu cewek cantik satu-saunya, masak apa sayang? Xes tergiur sama ikan yang harum dan kecantikanmu, sana gih temui baginda, namun ganti baju dulu ya, khusus ke pemimpin kami, kenakan itu” sambil mengangguk Tingit mengambil baju itu dan menggantinya di rerimbunan pohon.
Berjalan perlahan ke Xes dengan baju yang diberikan oleh pengawalnya sambil membawa ikan bakar beracun dengan wajah tersenyum manis sambil melenggak lenggok karena baru pertama kali ini bisa dekat pemimpin mereka dan kami dibiarkan berdua di kamarnya. “Duh sexy banget cantik, suapin sini,aaaa” dan ketika tangan berisi dading ikan sepenuh genggaman jariku yang imut nan gemulai mau masuk ke mulutnya “Eits, cicipi dulu, kalau beracun kan kamu yang mati duluan, terus kamu bisa aku apa-apain deh, paling di buang ke Laut, hahahaha”, “Baik” sambil memasukkan tangan ke mulutku dan mengunyah dengan cepat “Lihat, budakmu ini masih hidupkan?”,”Oh iya yah…soalnya ada budak yang sering mati karena mencoba meracuniku hahaha” sambil melingkarkan badannya “Aaaaaa” tanganpun masuk ke mulutnya. “Urgh, kamu uhuk, uhuk, sialan pengawal gue suru pergi lagi, Hok”,”Haha, kena luh pemberontak, Tingit digertak, mati luh sana!”.
“Pengumuman atas nama Pangeran Huter, saya adalah Putri Tingit dari Kerajaan Bumi, pemimpin kalian telah mati ditanganku! Hahaha, dan kalian jadi pengawalku sekarang! Dua tentara diantara kalian pergi, yang satu ke Xes dan buktikanlah kebenarannya,lalu yang satu lagi setelah yang sebelumnya kembali bersama dengan 3.000 prajuritku pergilah Istana Pangeran Huter dan memintanya mengirimkan surat hantu”, “Baik, kalau kamu bohong, kalian semua mati, dan kami akan cari pemimpin baru dari kami untuk mendirikan Kerajaan baru, karena kami sebenarnya lelah dikungkung olehnya”,”Oke deh bro”.
Tentang Penulis
Bio penulis belum tersedia.
Komentar (0)
Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Artikel Terkait
Belajar dari Certificate of Visual Impairment untuk Tata Kelola Layanan Disabilitas di Inggris
Birokrasi layanan disabilitas di Indonesia masih rumit dan sering kali salah sasaran. Pelajari bagaimana sistem Certificate of Visual Impairment (CVI) di Inggris mengintegrasikan data rumah sakit langsung ke layanan sosial, dan mengapa sistem ini penting diadopsi untuk memperbaiki pendataan disabilitas (DTKS) di Indonesia.
Pentingnya Profesi Pendamping Klinik Mata (ECLO): Menjembatani Pasien Tunanetra dari Rumah Sakit ke Layanan Sosial
Setelah didiagnosa kehilangan penglihatan, pasien kerap bingung mencari rehabilitasi. Kenali profesi Eye Clinic Liaison Officer (ECLO) dari sistem CVI Inggris yang bertugas menjembatani medis dan layanan sosial, serta pentingnya adaptasi peran ini di rumah sakit Indonesia.