Lompat ke Konten Utama

DIA YANG KUTUNGGU

Tanggal terbit
Estimasi waktu baca
4 menit baca
Jumlah pembaca
3 kali dibaca
WhatsApp X

Senja berganti malam. Jingga berlalu dan gelap pun menanti. Hari ini aku sangat bahagia dan perasaan itu hanya bisa aku ungkapkan melalui tulisan dalam sebuah kertas yang dihiasi dengan pena bertinta hitam. Untuk pertama kalinya dia menatapku dengan senyum manis yang terpancar dari wajahnya. Tepat dihadapanku, aku melihat sepasang mata yang selama ini ingin aku lihat dari dekat. Dia yang memiliki tubuh tinggi sehingga membuatku sedikit mengangkatkan wajah untuk melihatnya lebih jelas.  Dia adalah Hazri. Orang pertama yang aku sukai sejak kecil. Pernah sesekali saat aku dengannya berjalan bersama tanpa adanya teman yang lain, dia bertanya kabar tentangku. Saat itu aku hanya merasakan kebahagiaan sekaligus kecanggungan yang kurasa saat bersamanya.

Saat di lain hari, aku sedang berkumpul dengan teman-temanku tapi tidak dengan Hazri. Entahlah aku pun tidak tahu. Saat yang lainnya berbicara satu sama lain, tiba-tiba Erga berbicara kepadaku.

“Anaya. ada yang nanyain kamu tuh.” Erga yang tiba-tiba menghampiriku.

“Hah, aku? Siapa? Maksud kamu apa sih ga?” Aku tersontak sekaligus penasaran dengan pernyataan itu.

“Iya kamulah, yang nanyain kamu ya Hazri, siapa lagi. Dia terus aja nanyain tentang kamu”

Pernyataan itu membuatku bingung sekaligus takut. Aku takut kalau itu hanya usilan Erga saja karena dia tahu bahwa aku suka pada Hazri. Karena rasa takut itu aku tidak langsung percaya pada perkataannya.  Terlepas dari kejadian itu, seiring berjalannya waktu aku sering sekali mendengar dari temanku  yang lain bahwa Hazri selalu menanyakan tentangku. Karena hatiku dipenuhi dengan rasa takut yang nantinya akan berakhir dengan kekecewaan, aku selalu menganggap itu semua hanyalah kebohongan yang dilontarkan untuk bahan candaan. Dan aku pun selalu menganggapnya hal yang biasa. Tapi suatu hari sahabat yang sangat dekat dengan Hazri melontarkan sebuah pernyataan sama yang membuatku senang dan takut lagi.

“ Anaya. Tuh Azri nanyain kamu terus.” Handri

“ HAHA, aku gak denger” aku sedikit kesal dengan pernyataan itu, karena aku selalu mendengar bahwa Hazri ingin tahu tentang diriku dari orang lain bukan dari dirinya. Karena hanya mendengar dari orang lain aku merasa takut. Takut akan kecewa setelah berharap.

Sudah tidak aneh jika teman-teman selalu membuat pipiku menjadi memerah karena usilan mereka terhadapku selalu dikaitkan dengan Hazri. Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali bertemu dengannya dan bagiku saling memandang satu sama lain bukanlah suatu hal yang aneh lagi bagiku. Saat ini aku sedang berjalan bersama Hazri dengan tujuan yang sama tanpa sebuah kendaraan yang membuatku dengannya sangat lama untuk sampai. Jika aku didekatnya, aku selalu berfikir kenapa aku sangat menyukainya?padahal dia sendiri tidak menyukaiku.mungkin.

“Anaya, kamu kenapa?” tiba-tiba saja Hazri bertanya padaku.

“Hah? Aku? Gapapa kok. Emangnya kenapa?” mungkin Hazri bertanya seperti itu kepadaku karena aku terlihat seperti orang yang gelisah dan gugup.

“Aku kira kamu…Anaya, boleh tidak aku bercerita sedikit padamu?” setelah Hazri tertawa kecil, dia langsung bertanya serius kepadaku.

“ya bolehlah aku seneng dengernya, berarti aku salah satu orang yang kamu percaya untuk bercerita” tanpa berfikir apapun aku langsung menjawabnya sambil tersenyum kepadanya. Aku sangat penasaran sebenarnya dia mau bercerita tentang apa karena baru kali ini dia berbicara seperti ini kepadaku sampai-sampai ingin bercerita tentang sesuatu.

“Kata temanku ada perempuan yang suka padaku, tapi aku tidak tahu. Aku ragu. Tapi jika benar dia suka padaku, aku harap dia menunggu sampai aku datang kepadanya. Mungkin tidak sekarang tapi aku pasti datang kepadanya jika dia menunggu dan yakin dengan hatinya bahwa aku pasti akan datang karena aku berharap dia tahu bahwa aku juga sangat suka padanya melibihi dia suka padaku. Aku takut untuk mengatakannya karena takut dia akan menjauh dariku. Tapi baru saja dia tahu bahwa aku sangat suka padanya. Maaf aku sudah bercerita begini padamu Anaya” Hazri terlihat sangat serius.

“maksud kamu apa sih Zri? Kenapa kamu cerita itu kepadaku?” aku menghentikan langkah kaki Hazri dengan maju dan berdiri tepat dihadapannya.

“Jika yang dikatakan temanku benar, aku berharap kamu memang menyukaiku karena aku juga sangat menyukaimu dan aku ingin kamu menunggu sampai aku datang kepadamu” Hazri yang berbicara seperti itu sambil menundukkan kepalanya agar wajahnya dengan wajahku berhadapan, membuatku malu dan sangat gugup. Aku tidak tahu sekarang pipiku semerah apa karena sangat merasa malu.

“Sekarang kamu sudah tahu orang yang sangat aku sukai selama ini. Aku harap kamu bisa menungguku Anaya” lanjut Hazri dengan senyum manis sambil mengelus kepalaku.

Kemudian Hazri berjalan didepanku dengan memegang tanganku. Aku bergumam dalam hati sambil tersenyum orang yang selama ini aku sukai ternyata orang itu juga sangat menyukaiku dan sekarang dia sedang memegang tanganku. Aku memandanginya dari belakang dengan perasaan senang dan haru.

Tentang Penulis

ayusralawiah

Bio penulis belum tersedia.

Komentar (0)

Bagikan pendapat Anda lewat kolom komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

  • Cinta dan persahabatan

    Remaja itu kelihatan menyedihkan; Lihat tubuh yang berbalut jaket tebal itu; kecil, kurus, dan Nampak rapuh. Lihat kerutan didekat bibir ceri yang mempesona, Nampak bekas senyum senduh yang dipaksakan. Lihat airmata ddipipi tirusnya, airmata yang terus menetes semenjak dia kecil. Dan lihat mata sayu dibalik lensa kacamata itu, semua emosi terterah disana. Sedih, lukah, kesal, semuanya campur-aduk jadi satu. #Cerpen #KisahKlasikMasaLampau

    jeneferkakunsi
  • PERANG BATIN JEJAKA ANAK PAK LURAH

    Sambil senyum-senyum, Ayu mencoret-coret Kawruh Basa Jawa milik kang masnya itu. Digambarinya bagian kosong buku tebal itu dengan sketsa perawakan Bagus dengan perwujudan mirip tokoh pewayangan petruk dan ditambahi kata-kata “Jelek tapi ngangeni”. Kebiasaaan meninggalkan coretan gurauan di kertas kosong itu memang sudah jadi tabiat anak muda zaman dulu. Walau rumah mereka berdekatan, Bagus dan Ayu tak jarang juga menuliskan surat sebagai media komunikasi. Isinya hanya hal sepele, misal pantun atau rayuan gombal saja. #Cerpen #KisahKlasikMasaLampau

    abdurrahman

Berlangganan Newsletter

Dapatkan info terbaru dari Kartunet langsung ke email Anda.

Kami hanya mengirim informasi penting dan Anda bisa berhenti kapan saja.