Cuma sebuah puisi, yang akan kuberikan pada seorang kekasih di ujung tandu matahari
Masih di riang gerimis anak-anak pelangi itu mengukir silembar Grisella
masih di kehitaman batu pualam ratu intan manikam bertahta
benang-benang jamrud melambai melingkari sabda buana taman segara Firda
jernih selaksa mata biru sepelupuk banyu
ingkarkan semesta dahaga
tak lepas ubun-ubun menerawang hingga ke istana kejora.
Rinai pelangi itu usai bercengkrama
jemari salju terhenti menyulam permadaninya
dan butir-butir yang jatuh tambahkan suasana syahdu.
Yang terkasih terpana di ayunan bulu-bulu mata
pesona sang penguasa tak hirau dipandangi jua
Bila hati tela tertambat meski dibenamkan bara
dan anak-anak pedu telah tertanam raksa panas berkerak hingga ke pembuluh azab
sementara bulir -bulir buah kerinduan ditelan tersekat di kerongkongan.
yang terkasih kulihat kau di kejauhan
menari di batas udara sakral menabur alam.
menyanjung cinta mencemburui sang mahkota gemerlapan.
owch, so sweat,